Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Sadar


__ADS_3

“Syam, bangun!” Syahira mencoba membangunkan Syamir. Para warga yang berkumpul ikut  membantu Syahira untuk membangunkan Syamir. Syahira diberi minyak kayu putih dari warga, ia kemudian mengoleskan minyak itu ke hidung Syamir.


Syamir belum kunjung sadarkan diri. Ia dipukul di bagian belakang kepalanya, itu membuatnya tak sadarkan diri. Dengan susah payah Syahira dan para warga membangunkan Syamir. beberapa saat kemudian, Syamir akhirnya sadarkan diri.


“Syam.” Kata Syahira.


Syamir mencoba membuka matanya, ia melirik sekitar. Ia kemudian bangkit duduk bersender pada Syahira.


“Syukurlah kamu sudah sadar Syam. Aku tadi benar-benar khawatir.” Ucap Syahira dengan haru.


“Sya, apa kamu lihat orang yang memukul Syam?” kata Syamir.


“Sya lihat, tetapi wajahnya ditutupi oleh penutup kepala, jadi Sya tak bisa mengenali wajahnya.”


“Kira-kira siapa orang itu?” Syamir menatap kosong sembari berfikir.


Seusai itu mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Mess. Syamir yang masih babak belur dibantu jalannya oleh Syahira.


“Sya, Syam punya sedikit kabar gembira. Sya mau dengar?” ucap Syamir sembari berjalan tertatih-tatih.


“Kabar apa Syam?” tanya Syahira dengan seulas senyuman.


“Besok kita pindah tempat tinggal Sya. Di kontrakannya Koh Wang, bos nya Syam. Beliau mengizinkan kita untuk tinggal di sana. Kontrakannya lebih luas dari mess kita. Tempatnya juga masih didaerah sini kok.”


“Hah? Beneran Syam? Kalau gitu Sya seneng dengernya. Jadi kamu gak usah tidur di mesjid lagi.” Syahira kini berseri-seri.


“Iya Sya, kontrakannya cukup untuk kita bertiga, ada dua kamar. Satu untuk si Mbok, dan satu lagi untuk kita berdua.” Pipi Syamir jadi merah padam saat mengatakan hal itu.


“Jadi maksud kamu kita bisa tidur bareng?” Syahira ikut tersipu malu.


“Kalau Sya izinkan.” Syamir benar-benar tak bisa mengontrol wajahnya. Ia mencoba menundukan kepalanya agar tak terlihat oleh Syahira bahwa ia kini tengah tersipu malu juga.

__ADS_1


“Ya bolehlah Syam. Kita kan udah halal. Oh, siap-siap aja ya, nanti di sana aku bakal kasih kejutan spesial buat kamu. Khusus untuk Ustadz Syamir suami Sya seorang.” Syahira mencolek hidung Syamir, membuat Syamir jadi super duper salah tingkah. Melihat reaksi Syamir, Syahira tertawa terbahak-bahak.


“aduhai, bukan main! lucu dan tampan sekali Ustadz Syamir, wkwkwk.” Syahira kini menyenderkan kepalanya di bahu Syamir.


“Bruk.” Mereka berdua terjatuh.


“Maaf Sya, kaki Syam masih sakit, jadi gak bisa menopang Syahira barusan.” Kata Syamir yang masih tersipu.


“Gak papa Syam. Aku juga salah, main nempel aja, udah tahu kamu kan lagi sakit. Im so sorry.” Syahira kini membantu Syamir berdiri.


“Gak papa. Yuk lanjut.”


“Ke mana?”


“Ya pulang lah Sya. Malam ini kita juga harus berkemas agar besok pagi kita sudah bisa pindah.” Jawab Syamir.


“Ah, ya. ke rumah. Sya pikir mau kemana.” Syahira kini malah salah tingkah.


“Ini pasti gara-gara kamu! anak saya tidak akan seperti ini jika tidak menikah dengan kamu!” ucap si Mbok sembari matanya melotot pad Syahira.


“Sya minta maaf Mnok.” Syahira tertunduk.


“Halah, wes telat. Anakku wes babak belur kayak gini. Ra usah sok-sok an mau minta maaf segala. Mending koe sekarang obatin anakku. Koe kan dokter, apa gunanya punya menantu dokter kalau raiso ngobati suaminya sendiri.” Ujar si Mbok dengan ketus.


“Iya Mbok.” Syahira lalu membuka kopernya dan mengeluarkan peralatan dokternya yang lengkap dengan obat-obatan yang selalu ia bawa. Ia lalu membersihkan luka Syamir dan mengoleskan obat padanya. Syamir berkali-kali meringis saat lukanya diobati oleh Syahira.


“Aaaah, pelan-pelan Sya.” Kata Syamir.


“Ini juga sudah pelan-pelan Syam, kamu tahan sebentar ya. Biar cepet sembuh.” Syahira perlahan mengoleskan obat dengan kapas pada luka memar di wajah Syamir.


Di tempat lain, tepatnya di kantor pribadi milik Tuan Sadavir, tampak seorang pria yang mengenakan penutup kepala tengah menghampiri Tuan Sadavir. Ia berjalan dengan cepat, nafasnya seperti diburu. Pandangannya tajam menatap ke arah Tuan Sadavir. Pria itu lalu menyerahkan segepok uang kepada Tuan Sadavir.

__ADS_1


“Kenapa kau kembalikan?” tanya Tuan Sadavir.


“Karena saya telah gagal dalam menjalankan perintah anda. Seseorang yang tak dikenal telah lebih dulu menyerang target. Ia menyerang target hingga tak sadarkan diri.” Jelas pria misterius itu.


“Apa? Ada orang lain yang mengetahui lokasi target? Siapa dia?” Tuan Sadavir tampak tak sennag mendengar penjelasan dari pria itu. Ia lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati pria itu.


“Dia mengenakan penutup kepala seperti saya. Gerakannya cukup cepat sehingga saya tak mampu mengenalinya. Tetapi Nona Syahira aman, ia hanya menyerang target.” Pria itu menatap tajam Tuan Sadavir.


“Kasihan sekali target. Padahal aku hanya berniat untuk menggertaknya saja. Walau ia telah menikahi puteriku tanpa sepengetahuanku, tetapi dia juga telah menyelamatkan puteriku. Aku rasa dia pria yang baik. Mulai hari ini kau awasi mereka berdua. Dan jika ada orang yang kembali menyerang mereka maka tugasmu adalah melindungi mereka. Pastikan mereka baik-baik saja.”


“Baik Tuan.” Pria itu membungkukkan badannya pada Tuan Sadavir.


“Bawa uang ini kembali. Aku tak membutuhkannya.” Tuan Sadavir menyerahkan uang itu pada pria itu.


“Baik Tuan, terima kasih.” Pria itu lalu mengantongi kembali uang itu. Ia kemudian beranjak pergi. Tuan Sadavir kini kembali duduk di kusri kerjanya. Ia kini menatap kosong ke arah jendela.


***


Di suatu kaffe mahal nan eksklusif di Jakarta, Tamara tampak tengah menemui seseorang. Bukan seseorang dari klub sosialitanya melainkan seseorang yang asing dan misterius. Ia nampak tengah berbincang serius dengan sosok itu.


“Untung kau berhasil memperoleh alamatnya. Kau memang bisa kuandalkan.” Tamara tersenyum licik pada orang itu.


“Tentu, Anda selalu bisa mengandalkan saya. Saya adalah orang terdekatnya Syahira, saya bisa dengan mudah mengulik berbagai informasi tentangnya tanpa dicurigai sedikitpun. ngomong-ngomong, mana bayaran saya untuk yang satu ini?” Orang itu kini memalak Tamara.


“Kau terlihat begitu serakah ya. baiklah, karena aku bukan orang yang ingkar janji maka ini, aku sudah menyiapkannya.” Tamara menyodorkan segepok uang pada orang itu.


“Jangan bercanda, ini masih kurang! Aku telah menyewa seseorang yang ahli untuk melancarkan siasatmu tadi. Aku juga perlu membayarnya.” Bentak orang itu.


“Baiklah-baiklah. Aku seorang Tamara, mana pernah aku kekurangan uang. Ini!, makanlah dasar rakus!” Tamara melemparkan segepok lagi uang pada orang itu. Orang itu mengecek isinya. Ia lalu tersenyum licik pada Tamara.


“Baguslah, aku pamit pergi sekarang. Senang bisa berbisnis dengan Anda Nyonya Tamara, Ibu kandung Nona Syahira.” Orang itu menyalami Tamara dengan kencang, ia tersenyum licik kemudian pergi begitu saja. Tamara terlihat sedikit gelisah, ia merasa seperti baru digertak. Ia meremas jari-jemarinya, matanya memancarkan amarah yang begitu besar. Ia mencoba menenangkan dirinya ang tengah dibakar amarah. Ia meraih secangkir teh yang ada di depannya kemudian meminumnya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2