Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Ada Yang Sudah Membayar


__ADS_3

Syamir lalu tiba di rumah sakit, ia langsung menghampiri meja kasir. Dengan perasaan yang gusar Syamir memberanikan dirinya untuk datang ke kasir. Ia lalu menyodorkan uang yang dimilikinya itu pada petugas kasir. Tapi petugas kasir itu langsung menolak uang pemberian Syamir. Syamir merasa heran, apakah kasir itu meolak uang pemberian darinya karena jumlahnya kecil?


“Kenapa Mba? Saya tidak memiliki uang lagi, hanya itu yang saya punya. Untuk sisanya inysa Allah akan segera saya lunasi.” Kata Syamir.


“Bukan begitu Pak, tagihan Anda sudah lunas.” Ucap petugas itu.


“Apa? Yang benar Mba? Mba nya ndak sedang bercanda kan?”


“Betul Pak, tagihan Anda sudah lunas.”


“Alhamdulillah Ya Allah.” Syamir tak percaya atas apa yang baru di dengarnya.


“Memangnya siapa yang telah membayarkan semua tagihan saya Mba?”


“Kalau untuk itu saya tidak bisa memberitahunya. Orangnya meminta pada kami agar identitasnya dirahasiakan.”


“Masya Allah, mulia betul orang ini. Mudah-mudahan kebaikannya dibalas berkali-kali lipat oleh Allah SWT.” Ucap Syamir.


Syamir lalu kembali ke kamar Syahira, dengan wajah yang berseri-seri Syamir menghampiri Syahira. Syahira sendiri tengah tertidur, Syamir merasa tak tega jika harus membangunkan Syahira sekarang. Tetapi saat Syamir duduk di sebelah kasur Syahira, Syahira membuka matanya.


“Sudah pulang kamu? Kamu dari mana aja seharian ini? tunggu, itu kaki kamu kenapa lagi?” Syahira langsung mencerca Syamir dengan semua pertanyaannya.


“Satu-satu Sya. Jadi begini, saya pergi keluar untuk mencari kerja agar bisa membayar tunggakan rumah sakit karena saya tidak memiliki cukup uang untuk membayar semuanya. Lalu saya mendapat kerja sebagai kuli di salah satu bangunan yang tak jauh dari rumah sakit ini. Tetapi saat saya sedang bekerja sesuatu terjadi, salah satu pekerja hampir saja ketiban kayu yang jatuh, tapi untungnya saya segera mendorongnya agar kayu itu tidak mengenainya. Tetapi karena tak melihat kayu yang sedang dipaku saya menginjak salah satu paku yang mencuat dari kayu itu jadi kaki saya terluka. Saat saya kembali untuk membayar biaya rumah sakit ternyata sudah lunas, entah siapa yang sudah melunasinya. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah supaya kebaikan orang itu dibalas berkali-kali lipat oleh Allah.” Jelas Syamir.


“Apa? Kamu gak tahu gitu siapa yang udah melunasinya? Eh, btw sini kaki kamu.” Ucap Sya.


“Sya mau ngapain kaki Syam?”


“Ya diobatilah, masa mau aku telan.”


“Oh.”


“Kamu udah suntik vaksin tetanus sebelumnya?”


“Coba Syam ingat-ingat lagi. Eemmm, oh sudah.”


“Syukurlah kalo udah.”

__ADS_1


Syahira lalu membersihkan luka Syamir, Syamir meringis kesakitan saat lukanya dibersihkan oleh alkohol dan dikeluarkan darahnya agar tidak timbul infeksi. Sya lalu mengolesi luka itu dengan obat merah dan menutupnya dengan kain kasa.


“Aku sebenarnya juga gak ada niatan mau ngebebanin kamu, sebenarnya aku juga mampu membayar biaya rumah sakit ini, tapi karena semua uang, ATM, dan kartu identitasku ada di mobil itu jadi aku gak bisa apa-apa sekarang. Thanks ya kamu udah mau ngebantu aku sejauh ini.” Syahira menatap wajah Syamir dengan sangat dalam.


“Sya bicara apa sih, sekarang Sya kan istri Syam, Sya tanggung jawab Syam. Jadi Sya tidak usah merasa tidak enak, ini sudah menjadi kewajiban Syam sebagai suami Sya.”


Syahira lalu tertegun saat mendengar ucapan dari Syamir barusan. Kini Syamir juga menatap Syahira dengan dalam. Syamir lalu kembali memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Sya, sudah shalat maghrib belum?” ucap Syamir.


“Oh, come on. Kamu mau maksa aku lagi? Aku sakit Syam!” jawab Syahira.


“Iya, Syamir tahu Sya, Syamir tidak harus bilang lagi kepada Sya kalau ibadah shalat itu wajib ya. sekarang Syamir akan bantu Sya mengambil wudhu, setelah itu mari kita shalat berjamaah.”


“Arggghhhh, Syammm, i hate you!”


“Syam tidak peduli.” Sya lalu dibantu Syamir untuk mengambil wudhu, setelah itu giliran Syamir untu mengambil wudhu.


Dengan kaki yang masih sakit, Syamir memimpin shalat bersama Syahira. Syahira yang masih mengenakan alat infus mengikuti gerakan dan bacaan shalat Syamir. Selepas shalat seperti biasa Syahira harus mencium tangan Syamir, tapi kini tanpa dipaksa Syahira mencium tangan Syamir sebagai bentuk hormatnya pada Syamir suaminya.


Keesokan paginya Syamir mengemasi barang-barang karena kini Syahira boleh meninggalkan rumah sakit. Setelah semuanya beres mereka pun pergi dari rumah sakit. Tujuan mereka saat ini adalah mencari angkutan umum yang bisa mengantarkan mereka ke terminal kabupaten. Dengan bermodalkan uang seratus ribu Syamir memberanikan diri untuk mengantarkan Syahira pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta. Ia percaya meski dengan keterbatasan biaya ia akan bisa mengantarkan Syahira sampai ke rumahnya.


“Sya kita berhenti dulu di sini ya. Sya kan belum makan sejak pagi.”


“Oke.”


Syamir lalu memilihkan tempat duduk untuk mereka berdua, ia kemudian memesankan seporsi nasi beserta lauk pauknya, ya hanya seporsi. Ia kembali ke mejanya dengan membawa pesanannya. Syamir lalu menyerahkan sepiring nasi itu pada Syahira.


“Makasih, punya kamu mana?” tanya Syahira.


“Kamu makan saja Sya, hari ini Syam sedang berpuasa, jadi Syam tidak makan.”


“Alah gak usah alesan deh, nih aku bagi dua ya, kamu juga harus makan. Aku gak akan makan kalo kamu nggak makan.”


“Gak udah Sya, Syam memang benar-benar sedang puasa. Ini hari Kamis, Syam sedang berpuasa Senin-Kamis Sya.”


“Beneran? Tapi kan itu gak wajib. Aku aja puasa wajib masih banyak bolongnya.”

__ADS_1


“Nanti Sya ganti ya puasa Sya yang bolong, soalnya itu hutang. Puasa di bulan ramadhan itu wajib dan bila tidak dilaksanakan karena suatu halangan maka harus diganti dengan melaksanakan puasa di hari lain atau jika tak mampu harus membayar kafarat. Puasa Senin-Kamis memang sunnah, tapi Syam sedang berusaha untuk melaksanakannya karena pahalanya besar. Jika hari pengadilan tiba dan ternyata pahala Syam kurang maka Syam berharap pahala ibadah sunnah Syam bisa menolong kekurangan itu. Lagi pula merutinkan ibadah puasa Senin-Kamis juga bagus untuk kesehatan.”


“Up to yo.”


Setelah Syahira menyelesaikan makannya Syamir lalu mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tak lama berjalan meyusuri jalan akhirnya angkutan umum berupa mobil elf pun lewat. Syamir lalu menghentikan mobil itu, mereka berdua lalu duduk.


Dalam mobil itu mereka berdua berdesakan dengan penumpang lainnya. Kebetulan mereka berdua duduk dekat dengan seorang pria yang tengah merokok dan seorang ibu hamil. Syahira mulai geram dengan pria perokok itu, ia lalu menegur pria itu.


“Woy Pak! Nggak bisa ditahan dulu apa ngerokoknya nanti kalo udah turun. Egois banget sih jadi orang.” Ucap Syahira, ia begitu kesal dengan kelakuan pria itu.


“Eh, Mbaknya kenapa to? Ndak suka? Asal Mba tahu ya ini angkutan umum! Kalau Mbaknya mau nyaman dan ndak merasa terganggu ya ndak usah naik angkutan umum.” Jawab pria itu sembari masih menghisap rokoknya.


“Eh, kamu yang gak ngerti. Justru ini angkutan umum jangan seenaknya sendiri dong.” Syahira mulai naik pitam.


“Sya, sudahlah. Kita tidak perlu mencari ribut dengannya.” Syamir melerai Syahira.


“Maaf ya Pak, istri saya baru saja keluar dari rumah sakit. Kondisinya belum pulih sepenuhnya, jadi saya mohon kemaklumannya dari Bapak. Saya berharap Bapaknya bisa meghentikan dulu merokoknya. Itu juga di samping Bapak ada wanita hamil, saya hanya takut saja Ibunya nanti menghirup asap rokoknya sehingga bisa membahayakan janin yang ada di dalamnya.” Bujuk Syamir pada pria itu.


“Dia istri saya. Sampean siapa? Dokter? ndak usah sok menasihati.”


“Eh, justru itu istri kamu! Kamu mau apa anak kamu terlahir cacat cuma gara-gara rokok sialan itu hah? Dokter? Iya aku dokter! Puas kamu?” kini Syahira benar-benar emosi.


Pria itu hendak memarahi Syahira balik tapi berhasil dicegah oleh istrinya. Pria itu lalu mematikan rokoknya. Syahira menjadi lebih tenang saat ini. suasana di angkutan umum pun kembali sepi. Tak lama sebuah radio lalu diputar untuk mengusir rasa jenuh para penumpang. Radio itu mengeluarkan suara yang cempreng dan rek-rekan karena sinyal yang timbul hilang. Sekarang radio itu tengah menyiarkan sebuah berita setempat. Isi berita itu adalah Bupati yang baru saja dikaruniai seorang putra setelah sepuluh tahun perkawinan. Para penumpang mobil merasa ikut gembira saat mendengar berita itu karena kabar baik yang datang dari Bupati mereka. Suasana angkutan umum pun kembali ramai dengan perbincangan warga soal Bupati mereka.


“Pasti Pak Bupati seneng tenan to, wes dapat anak setelah penantian sepuluh tahun lebih-lebih anake lanang. Aku jadi melu seneng.” Ucap salah seorang penumpang wanita yang duduk tak jauh dari Syamir dan Syahira.


“Yo iyo, aku denger lahiranne tadi malam di Rumah Sakit xxx. Pak Bupati sendiri loh yang nganterin bojone nang rumah sakit.”


“Iyo? Walah-walah. Lahiranne tengah malem to.”


Syamir merasa janggal dengan apa yang baru saja ia dengar. Rumah sakit tempat lahirnya anak bupati itu sama dengan rumah sakit tempat Syahira di rawat semalam. Dan waktu Bupati itu mengantar istrinya sama dengan waktu saat Syamir menolong seorang pria yang mobilnya terjebak di kubangan lumpur semalam. Jangan-jangan pria yang Syamir tolong itu adalah Bupati yang sedang orang-orang itu bicarakan.


“Permisi Bu, apa Ibu punya fotone Pak Bupati?” Syamir menanyai wanita yang tadi berbicara.


“Oh punya. Iki nang Hp.” Wanita itu memperlihatkan foto Pak Bupati pada Syamir.


Syamir terperanjat saat melihat foto itu, ternyata benar dugaan Syamir kalau pria yang ia tolong adalah Pak Bupati. Apa jangan-jangan Pak Bupati jugalah yang telah membayarkan biaya rumah sakitnya Syahira. Syamir lalu menepuk Syahira yang tengah terdiam menatapi pemandangan luar lewat kaca mobil. Syamir lalu membisiki Syahira sesuatu.

__ADS_1


“Sya, kurasa aku tahu siapa yang telah membayarkan biaya rumah sakit Sya.”


“Siapa?” Sya keheranan.


__ADS_2