Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Rencana Licik


__ADS_3

Sore ini Tamara pergi ke sebuah salon ternama yang ada di Jakarta. Ia bersama beberapa temannya sudah membuat janji dengan salon itu. Tamara bersama temannya dilayani dengan khusus oleh pemilik salon itu. Jelas karena mereka adalah pelanggan setia nan istimewa bagi salon kecantikan itu.


“Jadi bagaimana perkembangan hubungan Teon dengan puterimu Tamara?” salah satu teman Tamara, Nyonya Kyla kini bertanya pada Tamara sembari rambutnya tengah di krimbath oleh salah seorang pegawai salon.


“Mana aku tahu, aku tak ingin ikut campur dengan urusan percintaan anakku. Biarkan saja dia semaunya.” Ucap Tamara sembari wajahnya diolesi masker herbal.


“Kalau aku jadi kau tentu aku akan ikut campur. Dia dikejar oleh lelaki sekelas Teon Tamara! Pria terhormat berdarah ningrat.” Nyonya Disa, teman Tamara yang lain ikut menimpali.


“Aku tahu.” kata Tamara singkat.


“Jadi mulai hari ini kau akan ikut campur dengan hubungan mereka? Baguslah, kurasa memang harusnya begitu.” Ujar Nyonya Kyla.


“Tidak. Aku tidak akan ikut campur, tetapi aku akan menentukannya.” Tamara kini duduk di meja pijat.


Usai dari salon kecantikan itu ia berlanjut menemui Teon, pria itu baru saja selesai mengisi sebuah seminar bisnis di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Tamara menunggu di Kafe dekat hotel. Beberapa saat kemudian Teon datang dengan mengendarai mobil mewah keluaran Jerman yang terbaru. Ia tampak bergegas menghampiri Tamara.


“Tante sudah menunggu lama?” Teon kini bersalaman dengan Tamara.


“No, aku juga baru sampai.” Kata Tamara yang kini kembali duduk.


“Good, jadi apa yang hendak Tante bicarakan denganku?” Teon kini duduk setelah dipersilahkan oleh Tamara.


“Teon, aku ingin membicarakan soal Syahira, mungkin akan sedikit lama. Apa kau tidak keberatan?” tanya Tamara.


“Tentu tidak Tante. Untuk Syahira, aku akan lakukan apapun.” Jawab Teon.


“Baik, jadi Tante ingin memberi tahu yang sebenarnya soal Syahira padamu. Tante harap kamu mendengarkan dengan penuh kesadaran dan pengertian.”


“I will.” Teon kini membenarkan posisi duduknya dan berkonsentrasi penuh pada apa yang diucapkan Tamara.


“Teon, sebenarnya Syahira...” Tamara lalu menjelaskan semua yang sudah terjadi pada Syahira termasuk pernikahan Syahira kepada Teon. Tetapi ekspresi Teon justru malah sebaliknya. Ia tampak santai dan seolah tidak mendengar hal besar apapun.


“Aku sudah tahu itu Tan.” Ucap Teon sembari terkekeh.


“What? Kamu sudah tahu? dari mana?” Tamara justru yang dibuat kaget.


“Aku seorang Raden Bagus Fajar Teon Kertawijaya, tidak ada satu pun informasi yang luput dari pandanganku. Bahkan beberapa hari setelah Syahira dinikahkan, aku sudah tahu. Aku mengetahuinya jauh lebih dulu daripada Om dan Tante. Itulah alasan mengapa aku pulang ke Indonesia secara mendadak. Pria itu kan berada di wilayah kesultanan keluargaku, jadi sudah tentu aku tahu. apalagi soal Syahira, aku selalu mengawasinya dua puluh empat jam dengan caraku sendiri.” Jelas Teon.


“....” Tamara hanya bisa bungkam.


“Jadi, hanya itu yang mau Tante katakan padaku? Kalau begitu lebih baik aku pergi sekarang.” Teon bangkit.


“Tunggu! Teon, ada hal lain yang ingin Tante bicarakan padamu. Duduklah.” Tamara memegang lengan Teon, ia berusaha mencegah Teon Pergi.

__ADS_1


“Baiklah, kuharap itu hal yang penting.” Teon kembali duduk.


“Teon, jika kau benar-benar mencintai Syahira, maka rebut Syahira dari tangan pria kampung itu. Tante tahu kau pasti bisa, Tante sudah muak dengan pria itu.”


“Tentu, tanpa Tante suruh aku akan melakukannya.”


“Bagaimana? Apa kau punya rencana?”


“Aku sudah mempersiapkan semuanya.” Teon kini tersenyum licik. Ia memandangi Tamara denganw ajah yang puas.


Di tempat lain, Syahira baru saja pulang dari kegiatan berbelanjanya. Bukan lagi di Mall atau Supermarket melainkan di toko agen dan pasar tradisional. Hari ini adalah hari liburnya, Syahira berencana untuk menghabiskan waktu liburnya dengan belajar memasak dan mengikuti kajian di sore hari. Syahira kini tampak kelelahan dalam membawa barang beliannya. Syamir tidak bisa menolongnya karena Syamir harus bekerja di toko Koh Wang setiap hari tanpa mendapat waktu libur, kecuali jika Syamir sakit.


Syahira mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya, ia menaikkan tas belanjaanya yang beberapa kali melorot dari genggamannya. Awalnya ia berjalan biasa saja, ia fokus pada barang bawaanya dan terik matahari yang menyegat tubuhnya. Tetapi, lama kelamaan ia mulai merasa janggal. Syahira merasa ada seseorang yang tengah mengiktinya. Syahira mebalikkan abdannya, tetapi tak terlihat siapapun, akhirnya ia mencoba melancarkan taktik dengan memotong jalan. Benar saja dugaannya, ada yang mengikutinya. Ia menyusup diantara rumah warga yang sempit dan tiba-tiba muncul di hadapan orang asing itu.


“Nah, kena kamu!” ucap Syahira yang berhasil membuat kaget orang itu.


Orang itu kemudian membalikkan badannya. Ia berusaha menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Tetapi Syahira terus memaksanya untuk membuka siapa dia sebenarnya.


“Tante Fanya?” Syahira kaget saat mengetahui bahwa orang yang baru saja membuntutinya dalah Tantenya sendiri.


“Syahira.” Tante Fanya tampak sedikit ketakutan saat dirinya berhasil dikenali oleh Syahira.


“Tante ngapain di sini? bukannya Tante di LA ya? terus gimana Tante bisa tahu alamat rumahku?” Tanya Syahira dengan penuh rasa curiga.


“Panjang ceritanya Sya.” Jawab Tante Fanya.


“Okay! Tante balik ke Indonesia beberapa hari yang lalu, Tante bosen di LA. Tante dikasih tahu sama Dady mu kalau kamu keluar dari rumah.”


“Mamah yang ngusir Sya.”


“Tante tahu itu. Tante ngikutin kamu dari mulai kamu kerja sampai pulang, makanya tante bisa tahu keberadaan kamu sekarang.”


“Astaga, Tan.” Syahira langsung memeluk Tante Fanya.


“Sya kangen banget sama Tante.” Syahira kini menitikan air mata di pelukan Tantenya.


“Tante juga kangen kamu Sya. Kamu baik-baik aja kan?” Tante Fanya memeluk erat Syahira.


“I’m okay.” Syahira kini melepaskan pelukannya.


“Tante ikut prihatin dengan kondisimu sekarang Sya. Tante akan melakukan rapat keluarga malam ini, Tante dan Ayahmu akan memaksa Mamahmu agar mau memulangkanmu balik.”


“Apa? Gausah Tan, sekarang Sya udah nikah, Sya gak bisa pergi gitu aja ninggalin suami Sya. Sudah jadi kewajiban Sya untuk patuh dan mengikuti suami.”

__ADS_1


“Tentu, suamimu juga akan ikut pulang ke rumah kita.”


“Gak bisa Tan, sebagai istri, Sya harus bisa menjadi pakaian bagi suami Sya. Sya sama saja mempermalukan harga diri suami Sya jika nanti Sya pulang. Sya sudah menerima kondisi suami Sya apa adanya. Sya rela hidup di tempat seperti ini dengan suami Sya, asal suami Sya ridha dengan Sya.” Syahira kini berkaca-kaca.


“Kamu sudah benar-benar dewasa Sya.” Tante Fanya mengusap lembut kepala Syahira.


“Sya berterima kasih banget sama Tante karena Tante sudah begitu perhatian dengan Sya. Tapi Sya benar-benar tak bisa ikut, lebih baik Tante pulang sekarang ya. Di sini panas dan sumpek, tak baik Tante berlama-lama di sini. Apalagi dengan kondisi kesehatan Tante, Sya jadi semakin risau. Tante pulang sekarang ya.” Syahira membuju Tantenya agar segera Pulang.


“But, Sya. Tante Juga Khawatir dengan kondisimu. Atau begini saja, Tante belikan kalian rumah ya, rumah yang jauh lebih layak dari tempat ini. dan soal pekerjaan suamimu, Tante bisa atur itu.”


“No, its not nescessary. Aku menerima kondisi kami sekarang Tan, dan aku juga baik-baik aja. Biarkan kami mencoba melangkah dari awal bersama-sama dengan usaha kami sendiri. insyaAllah, kami juga sedang berproses, walau mungkin itu akan sedikit lebih lama.” Syahira meyakinkan Tantenya.


“Kamu benar-benar sudah berubah Sya. Kalau itu yang kamu mau, baiklah, Tante tidak akan melarang. Tetapi, Tante mohon, katakan pada Tante jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan.” Tante Fanya menggenggam erat lengan Syahira.


“InsyaAllah.” Syahira lalu melepaskan genggaman Tantenya.


“Good bye Sya.” Tante Fanya kini melangkah pergi.


“Bye Tan.” Syahira lalu melambai kepada Tante Fanya. Mereka pun berpisah.


Malam harinya, di kontrakan mungil itu, Syahira, Syamir dan si Mbok tengah makan malam. kali ini Syahira berhasil membuat menu masakan yang cukup enak, walau itu hanya sayur asem yang bumbunya sudah diracik oleh tukang sayur di pasar. Mereka tampak lahap menikmati makan malam bersama itu.


Usai makan malam, Syahira dan Syamir lalu melakukan perbincangan hangat sebelum tidur, biasanya Syahira yang lebih banyak bercerita dan Syamir hanya menjadi pednengar yang baik. Malam ini Syahira bercerita tentang pertemuannya dengan Tantenya tadi. Syamir sedikit kaget saat Syahira bercerita soal itu.


“Terus Sya suruh dia pulang, soalnya Sya gak mau ikut pulang bareng Tante.” Syahira kini mengakhiri ceritanya.


“Sya yakin Sya tidak mau ikut pulang?” Tanya Syamir.


“Yakin Syam, Sya akan setia pada Syam seorang. Syam kan suami Sya, Sya akan ikut kemanapun Syam pergi, termasuk ke kamar mandi. Besok pagi mandi bareng yuk!” Ucap Syahira dengan wajah polos.


“Astagfirullah, Sya, Syam sedang serius.”


“Sya juga sedang serius Syam. Kan Syam yang bilang kalau menatap wajah suami, memandangi dan mengagumi bentuk fisik suami itu ibadah? Masa Sya harus memandangi muka tetangga, kan dosa. Ini yang jelas-jelas halal dan berpahala masa gak boleh?” Syahira terkekeh.


“Terserah Sya saja. Kalau Sya sudah selesai bercerita, lebih baik bersegera tidur. Tidak baik tidur terlalu larut. Oh ya, jangan lupa adab-adab tidur yang diajarkan rasulullah.”


“Iya Syam, Sya tahu. Eh, malam ini Syam gak mau begadang lagi bareng Sya?” mendengar itu Syamir langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut. Ia menutupi wajahnya dengan bantal.


“Yah, malu ternyata. Ya udah, Sya tidur sekarang ya. Assalamualaikum Ustadz Syamir suami Sya yang paling ganteng.” Syahira lalu mengecup pipi Syamir. Syamir kini benar-benar tersipu malu dan salah tingkah.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Syamir dengan deg-degan.


“Kok gitu sih jawabnya? Harusnya, wa’alaikumsalam Syahira istriku yang paling cantik sedunia, gitu. Kan kata Syam juga kalau memuji dan menyenangkan hati pasangan itu berpahala juga.” Syahira tak mau kalah.

__ADS_1


“Baiklah, Wa’alaikumsalam Syahira istriku yang paling cantik dan solehah.” Syamir membenarkan jawabannya.


“Nah gitu dong.” Syahira pun tertidur pulas.


__ADS_2