
Keesokan paginya, Syamir tengah disibukksn dengan antrian para pelanggan toko yang hendak protes. Hampir semua mengeluhkan tentang kualitas genting yang mereka beli. Toko Koh Wang sebenarnya menyediakan hampir semua barang dengan kualitas terbaik, tetapi untuk genting mungkin bisa dikecualikan. Sampai sekarang koh Wang masih dipusingkan dengan para suplier genting yang semuanya memiliki kualitas buruk. Kini ditambah dengan protes yang membeludak dari pelanggan, Koh Wang dibuat putus asa. Akhirnya Syamir yang berusaha menangani kericuhan yang terjadi di toko.
“Sabar ibu-ibu, bapak-bapak, kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Ucap Syamir mencoba menenangkan amukan orang-orang.
“Sabar, sabar, gak ada! Pokoknya kami mau ganti rugi sekarang juga. Kami merasa ditipu dengan barang yang kami beli.” Kata salah satu pembeli dengan bersungut-sungut.
“Bagaimana ini Koh?” Syamir kini melirik ke arah Koh Wang.
“Haya, Menyerah saja Syam, kita ganti rugi saja ha.” Koh Wang kini berjalan mendekati meja kasir dan mengeluarkan beberapa gepok uang dari mesin kasir.
“Yul, ini tolong diberikan kepada mereka. Bukti transakinya ada di kamu kan? Oe sudah pusing ha.” Koh Wang lalu melangkah pergi.
“Baik Koh.” Yuli lalu berjalan ke arah kerumunan orang.
“Nah Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, sekarang baris yang rapi ye, mau dapet BLT nih,wkwkwk.” Ujar Yuli. Orang-orang seketika berbaris rapi menuriti apa kata Yuli.
“Nih, uangnye udah ada di gue. Kalian semua udah pada bawa bukti struk belanjaanya kan?” tanya Yuli.
“Udah.” Jawab mereka serentak.
“Bagus, nih gue panggil atu-atu ye, dari mulai Ibu Jubaedah.” Teriak Yuli. Salah seorang wanita pun maju menghampiri Yuli. Yuli menyerahkan uang pada wanita itu. Proses ganti rugi pun berlangsung.
Setelah proses ganti rugi selesai Syamir, Koh Wang dan Yuli pun berkumpul di dekat meja kasir. Mereka tampak tengah mendiskusikan yangbaru saja terjadi. Wajah mereka tampak kecewa dan murung.
“Memang semua supliernya mengirim genting dengan kualitas seperti itu Koh?” tanya Syamir.
“Iya Syam, ada sih yang bagus, tapi oe gak sanggup bayar ongkirnya, kemahalan. Oe bingung harus jual berapa.” Jawab Koh Wang.
“Wah sayang sekali ya Koh, padahal waktu di desa Syam bersama para santri suka membuat genting dari tanah liat. Tapi kami juga bisa membuat genting dari bahan lain. Tergantung pesanan. Sekarang muungkin para santri sudah menghentikan kegiatan produksi karena Syam sudah merantau. Padahal kulitas genting hasil produksi mereka bagus-bagus.”
“Haya, Kamu bisa bikin genting Syam?” Koh Wang tampak terkejut.
“Bisa Koh, Syam sudah membuat genting sejak maish duduk di bangku tsanawiyah atau tingkat SMP. Dulu Syam diajarkan mebuat genting oleh Almarhum Kakek Syam, beliau punya rumah produksi genting secara tradisional.”
“Kalau begitu bikin lagi genting ha, sayang, sekarang genting yang bagus sudah langka ha.”
“Gak bisa Koh, Syam tidak punya modal lagi.”
“Kalau soal modal gampang ha, oe punya uang. Begini saja, lu orang bikin sebuah rancangan produksi genting secara masal dan oe bakal jadi investor pertama lu orang. Oe punya banyak relasi ha bauat memasarkan genting produksi kalian, bukan Cuma di toko oe saja ha.”
“Yang bener Koh? Yuli kok agak ragu ya.” timpal Yuli.
“Bener ha, oe siap menyuntikan modal, asal lu orang sudah punya gambaran jelas tentang calon perusahaan genting yang akan kalian buat.”
“Tapi apakah saya bisa?” Syamir tampak ragu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Bisa Syam, gue percaya sama lu.” Ucap Yuli meyakinkan.
“Lu kontek lagi orang-orang di pesantren lu, suruh mereka buat mempersiapkan produksi genting lagi ha, nanti kalau sudah siap oe akan survey langsung sama lu Syam.”
“Benarkah Koh? Syam begitu antusias mendengarnya.”
“Beneran ha, oe sudah muak dengan kualitas genting di pasaran, sekarang giliran kita ha yang menguasai pasaran. Lu orang siap?” Koh Wang kini mengulurkan tangannya.
“Siap Koh! Lu Syam?” Yuli kini berjabat tangan dengan Koh Wang.
“Bismillah, siap!” Syamir ikut menjabat tangan.
Usai bekerja, Syamir kini pergi untuk menjemput Syahira di pinggir jalan. Sepanjang jalan, Syamir tampak begitu sumringah dan tak sabar ingin segera memberi tahu kabar bahagia soal rencana bisnisnya dengan Koh Wang dan Yuli pada Syahira dan si Mbok. Syamir tak sabar dibuatnya.
Syamir terus berjalan menuju jalan raya, tiba-tiba muncul beberapa sosok pria misterius yang mengikuti Syamir dari belakang. Gerombolan pria itu menyumbat mulut Syamir dengan kain. Tak lama Syamir pun jatuh pingsan. Mereka kemudian menyeret Syamir yang tengah tak sadarkan diri menuju sebuah mobil box yang terparkir tak jah dari situ. Syamir pun dibawa pergi oleh gerombolan pria misterius itu.
Syahira tak lama pulang, ia turun dari mobil Alma. Syahira melirik ke arah sekitar, ia mencari-cari Syamir. padahal pagi tadi Syamir sudah berjanji akan menjempunya hari ini. Apa mungkin hari ini Syamir pulang telat? Syahira akhirnya memutuskan untuk menunggu Syamir di pinggir jalan. Lama sekali Syahira menunggu kedatangan Syamir tetapi tak sedikitpun Syahira nampak tanda-tanda kemunculan Syamir. Apa mungkin Syamir sudah pulang duluan? Syahira lalu bergegas pulang ke kontrakan.
Sesampainya di kontrakan Syahira juga tak melihat Syamir. si Mbok bilang kalau Syamir belum pulang dari tadi. Si Mbok malah menyalahkan Syahira karena ia tak sabar menungu kepulangan Syamir dan malah pulang lebih dulu. Syahira kini benar-benar panik, ia lalu pergi ke rumahnya Yuli yang letaknya tak jauh dari sini.
“Assalamu’alaikum, Yul.” Syahira mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Yuli lalu mebuka pintu.
“Eh, ada dokter Syahira, tumben malem-malem ke sini?”
“Hah? Emang si Syam belum nyampe rumah? Perasaan tadi dia pulang lebih dulu deh.”
“Jadi dia sudah pulang?”
“Heem, gue yakin kok, tanya aja sama Koh Wang kalau gak percaya.”
“Iya aku percaya Yul, tapi sampai sekarang Syam belum pulang.”
“Astaga! Kemana tu anak ya. Yaudah, Yuli bantu cari ya. bentar, Yuli ambil kunci motor dulu.”
“Baik Yul.”
Tak lama Yuli pun mengeluarkan motornya. Syahira lalu naik ke motor diboncengi Yuli. Mereka lalu pergi mencari Syamir. Mereka mencari Syamir ke mesjid, ke seluruh penjuru kampung dan ke tempat-tempat lain. Tetapi Syamir tak nampak batang hidungnya sedikitpun. Syahira semakin cemas.
“Apa kite ke rumah sakit aja ye? Siapa tahu dia nyusulin dokter ke rumah sakit.” Saran Yuli.
“Boleh deh Yul.” Jawab Syahira.
“Yaudah, brangkaaaat!” Ucap Yuli. Mereka pun melesat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Di rumah sakit pun nihil, Syamir juga tidak ada di sana. Syahira dan Yuli kembali berfikir keras menerka-nerka kemungkinan keberadaan Syamir.
“Mungkin si Syam ke rumah orang tuanya dokter kali, atau ke rumah neneknya dokter.” Yuli kembali menerka.
“Bisa jadi.” Ucap Syahira tak yakin.
“Yaudah kita ke sana sekarang.” Mereka pun meluncur menuju kediaman Syahira.
Mereka pun sampai di kediaman neneknya Syahira, tetapi sama juga. Syamir tidak ada di sana. Nenek Syahira malah jadi ikut cemas mendengar kabar hilangnya Syamir. tetapi Syahira berkali-kali meyakinkan pada neneknya kalau Syamir baik-baik saja dan mungkin sedang ke suatu tempat untuk urusan tertentu. Syahira pun pergi dengan hati yang tidak enak pada neneknya.
Kemudian, di kediaman orang tua Syahira, tampak ayah Syahira, tuan Sadavir yang tengah berbincang dengan kliennya di serambi rumah. Mereka tampak tengah menikmati secangkir kopi dan mengobrol soal bisnis. Obrolan mereka terhenti saat melihat kemunculan Syahira.
“Assalamu’alaikum Dad.” Syahira mencoba mencium lengan Tuan Sadavir tetapi Tuan Sadavir menolaknya.
“Wa’alaikumsalam. Ada gerangan apa kamu kemari? Apa kamu sudah berubah pikiran?” Tanya Tuan Sadavir.
“Dad, Sya ke sini hanya mau menanyakan soal suami Sya, apa dia tadi datang ke sini?”
“Tidak, untuk apa dia datang ke sini. Dia pasti tak berani mennginjakkan kakinya lagi ke sini setelah malam itu.” Ucap Tuan Sadavir dengan ketus.
“Dad, tolong jangan begitu. Syam belum pulang hingga saat ini. Sya khawatir.”
“Halah, paling dia lagi keluyuran cari wanita lain.”
“Astagfirullah, jangan suudzon Dad.”
“Kriing.” Tiba-tiba handphone Syahira berbunyi. Ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal, Syahira langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum?” Ucap Syahira.
“Tak usah basa basi, aku hanya ingin memberi tahu kalau suamimu kini dalam kendali kami.”
Syahira kaget saat mendengar suara yang berasal dari telpon itu, suaranya dingin dan meneyeramkan. Ia kemudian tak sengaja menekan tombol loud speaker di hanphonenya.
“Jangan lagi mencari suamimu. Tinggalkan dia mulai hari ini karena dia akan habis di tangan kami esok hari. Jadi bersiaplah.” Suara itu mengancam Syahira, membuat bulu kuduk Syahira berdiri dan tubh Syahira bergetar ketakutan. Semua orang yang ada di dekat Syahira tampak Syok saat mendengar suara itu. Tak terkecuali dengan Tuan Sadavir, ia lalu meraih handphoNE Syahira dan berbicara dengan penelpon misterius itu.
“Siapa kau sebenarnya? Jangan macam-macam dengan keluargaku atau kau akan menyesalinya. Kau sudah berhadapan dengan orang yang salah.” Tuan Sadavir tampak begitu geram dan emosi.
“Oh begitukah? Kami tidak takut dengan ancamanmu Tuan Sadavir.”
“Tuuut.” Telpon pun terputus.
“Syaaaam!” Syahira berteriak memanggil nama Syamir, ia menangis sejadi-jadinya. Ia kemudian bersimpuh dan menangis. Ia tak kuasa menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya. Suaminya kini dalam bahaya, harus berbuat apa ia sekarang.
“Tuan Armor!” Tuan Sadavir tiba-tiba berteriak.
__ADS_1
“Iya Tuan.” Tiba-tiba muncul sesosok pria bertubuh kekar dan berwajah sangar di hadapan tuan Sadavir.
“Siapkan semua pasukan kita. Aku juga butuh hacker paling ahli untuk melacak dari mana panggilan ini berasal. Kita akan menghadapi musuh yang cukup berat.” Kata Tuan Sadavir dengan wajah sangar dan berapi-api.