Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Rumah Mertua


__ADS_3

“Endak Koh, Syam gak papa. Mungkin tadi Syam hanya sedang melamun.”


“Lu jangan bohong ha, oe tahu lu gak pernah ngelamun kalau bukan karena lagi ada masalah. Haya, kalo lu ada masalah, cerita ha, cerita sama oe. Oe sudah mengganggap kalian lebih dari sekedar pegawai oe ha, sudah seperti keluarga ha.” Koh Wang menepuk pudak Syamir.


“Huft, sebenarnya Syam malu untuk menceritakannya. Ini terkait masalah pribadi Syam. Maaf sebelumnya Syam belum pernah cerita sama kalian semua soal masalah pribadi Syam. Sebenarnya, Syam sudah menikah.” Syamir tertunduk malu.


“Hah?” Koh Wang dan Yuli kaget bukan main.


“Yang bener lu Syam?” Yuli tampak tak yakin.


“Benar Yul. Syam sudah menikah dengan seorang wanita, namanya Syahira.”


“Bentar, gue kaya pernah dengar nama tu cewek deh...., aha! Dia kan Syahira anaknya mantan Mentri Sadavir yang sempat diberitakan hilang itu kan? Astaga! Lu beneran nihakin anak orang kaya dan terpandang Syam? Kalo bener Spill dong tutorialnya. Gue juga mau.”


“Hush, jangan ngomong kayak gitu ha.” Ucap Koh Wang.


“Apa yang dikatakan oleh Yuli benar Koh. Saya memang telah menikahi Syahira anak dari Tuan Sadavir. Sebetulnya pernikahan kami tidak direncana sama sekali. Waktu itu saya.....” Syamir lalu menceritakan kepada Koh Wang dan Yuli terkait kronologi pernikahannya dengan Syahira dan bagaimana mereka bisa bertemu hingga sampai saat ini.


“Gue specless banget. Kisah penikahan lu kayak diluar nalar Syam.” Ujar Yuli.


“Haya, emangnya kisah pernikahan Syam itu Goib ha? Sampe diluar nalar segala. Lu ada-ada aja ha.” Koh Wang menepuk Yuli.


“Hehe, sorry Koh.”


“Dan malam ini Syam harus menemui kedua orang tua Sya. Syam harus memberitahu soal pernikahan kami kepada mereka sekaligus meminta restu pada mereka.” Syamir semakin tertekuk.


“Apa? Malam ini? Lu yang bener dah.” Yuli terkaget.


“Benar Yul. Syam sudah berjanji pada Syahira. Syam hanya sedang bingung, bagaimana caranya agar kedua orang tua Syahira mau menerima pernikahan kami.”


“Haya, Syam, lu nggak usah khawatir ha. Dulu, oe juga sama kaya lu. Oe berangkat dari orang kecil, sementara istri oe anaknya saudagar kain dari Sumatera. Oe bahkan ditolak mentah-mentah oleh keluarganya. Tetapi oe tidak menyerah ha. Oe terus berusaha hingga berhasil meluluhkan hati kedua orang tua istri oe ha. Oe juga bekerja keras untuk membuktikan pada keluarga istri oe bahwa oe juga sanggup untuk menghidupi istri oe dengan layak. Kini oe sudah punya segalanya, tetapi Tuhan mengambil istri oe. Tapi oe selalu mensyukuri setiap detik yang oe habiskan bersama istri oe ha.” Koh Wang kini berlinag air mata.


“Uuuh, so sweet banget sih Koh.” Yuli menimpali.


“Haya, Yuli, lu kenapa ha? Eh, Syam. Lu harus yakin. Kalau lu benar-benar cinta sama istri lu, buktikan, tunjukan pada keluarganya bahwa lu juga mampu membahagiakannya. Lu harus berusaha dengan gigih ha.” Koh Wang menyemangati Syamir.


Mendengar kata-kata yang terlontar dari Koh Wang, Syamir kini merasa lebih tenang dan yakin. Wajah Syamir kini terlihat lebih sumringah. Ia seperti baru saja mendapatkan dua ratus persen kekuatannya.


“Terima kasih Koh, Syam jadi lebih tenang dan yakin. Malam ini, Syam akan menemui kedua orang tua Sya. Bismillah!”


“Nah, begitu dong. Ah, gimana kalau nanti malam kita ikut mengantarkan lu ha. Biar lu gak usah naik angkutan umum dan lebih cepat ha. Nanti biar Yuli yang jadi supirnya ha, lu bisa kan Yul?” ucap Koh Wang.

__ADS_1


“Don’t worry be happy Koh. Yuli siap kapanpun Koh Wang suruh.”


“Bagus, nah oe juga mau bantu sedikit. Oe mau kasih lu hantaran buat dikasih ke mertua lu. Gak baik ha datang ke rumah mertua dengan tangan kosong. lu jangan tolak bantuan dari oe ha, ini sebagai bonus buat lu karena sudah bekerja dengan giat.” Jelas Koh Wang.


Syamir semakin berseri-seri. Tak sangka, ia akan mendapat banyak pertolongan. Syamir kini semakin mantap untuk pergi menemui mertuanya.


“Terima kasih banyak Koh. Syamir sangat berterima kasih untuk segala bantuan yang telah Koh Wang berikan untuk Syamir.” Syamir kini menyalami tangan Koh Wang dengan semangat.


“Iya, Syam. Sama-sama ha.”


“Gue enggak Syam?” ujar Yuli.


“Oh iya, terima kasih juga ya Yul.”


“Sama-sama Bro.”


Malam itu Syamir pergi ke kediaman keluarga Syahira dengan Koh Wang dan Yuli. Sementara si Mbok tidak bisa menemaninya karena masih dalam kondisi pemulihan. Si Mbok Syamir titipkan pada tetangga sekitar. Untungnya mereka dengan senang hati bersedia menjaga si Mbok untuk sementara waktu. Syamir pun tiba di kediaman keluarga Syahira.


“Gilee, gede bener di gedong.” Yuli terkesima melihat kediaman keluarga Syahira.


“Haya, lu kaya belum pernah liat rumah orang kaya ha.” Ucap Koh Wang pada Yuli.


“Haya, ya saudah ha, ayo masuk.” Ajak Koh Wang pada Syamir dan Yuli. Kali ini Koh Wang dan Yuli bertindak sebagai wakil dari keluarga Syamir. berhubung si Mbok masih sakit jadi Koh Wang dan Yuli lah yang mewakili. Mereka bertiga lalu masuk ke kediaman setelah memencet bel dan dipersilahkan masuk oleh salah satu pembantu rumah.


“Kalian tunggu di sini ya, saya akan panggilkan Tuan dan Nyonya dulu.” Ucap salah satu pembantu rumah itu. Mereka lalu menunggu di depan pintu rumah. Tak lama terdengar kembali langkah kaki yang menghampiri mereka bertiga. Ternyata Ayah Syahira, Tuan Sadavir lah yang pertamaka kali keluar.


“Ada gerangan apa kalian mengunjungi rumah saya?” Ucap Tuan Sadavir dengan wajah dingin. Tuan Sadavir lalu menatap pada barang bawaan mereka.


“Saya hendak menemui Bapak dan istri Bapak. Ada yang hendak saya sampaikan.” Ucap Syamir dengan yakin.


“Baiklah, kalu begitu silahkan masuk. Bi, tolong siapkan minuman untuk mereka.” Tuan Sadavir mempersilahkan masuk tamu yang ada di hadapannya.


Mereka bertiga lalu masuk ke dalam rumah. Mereka dibawa masuk ke ruang tamu. Tuan Sadavir lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.


“Sebentar, istri saya sedang keluar. Sebentar lagi pasti akan pulang. Kalian tidak apa-apa kan jika menunggu sebentar?” Ujar Tuan Sadavir.


“Tidak apa-apa Tuan, kami bersedia menunggu ha.” Ucap Koh Wang.


Mereka lalu menunggu untuk beberapa saat. Selama menunggu, suasana benar-benar menjadi tenang, terlebih bagi Syamir. Tetapi ia selalu mencoba menenangkan hatinya dan meyakinkan dirinya. Tak lama pintu terbuka, datang dua orang wanita, yang tak lain dan tak bukan adalah Syahira dan Ibunya, Tamara. Mereka terlihat tengah berseteru.


“Mam, stop ikut campur urusan Sya. Kalo aja tadi Alma gak ngasih tau ke Sya kalau Mama ngebuntutin Sya maka Sya gak akan pernah tahu. Sya kecewa sama Mama.” Syahira tengah mengomel pada ibunya.

__ADS_1


“Kamu yang harusnya tahu diri. Kamu itu udah salah, keluyuran malam-malam begini. Memangnya Mama gak tahu apa kalau kamu lagi godain cowok baru hah? Awas aja kalo sampe Mama denger kamu main-main lagi sama cowok gak jelas maka Mama akan usir kamu dari rumah ini. Biar kamu tahu rasa!” Tamara kini mengomeli anaknya.


“Ehem.” Tuan Sadavir mencoba memberi kode pada kedua wanita itu bahwa di hadapannya sedang ada tamu.


“Tamara, Syahira. Bersikaplah sopan. Kita sedang kedatangan tamu.” Ucap Tuan Sadavir.


“Tamu? Kenapa ada tamu yang datang ke rumah kita malam-malam begini?” Tamara penasaran.


“Syam?” Sontak Syahira kaget saat melihat bahwa tamu yang Dady nya maksud adalah Syamir, suaminya.


“Kamu kenal dengan orang ini Sya?” Tanya Tuan Sadavir.


“...” Syahira hanya bungkam.


“Baiklah, Tamara kemari sebentar. Ada yang ingin kita bahas dengan tamu kita ini.” Kata Tuan Sadavir.


Tamara mengikuti perintah dari suaminya, ia lalu duduk di samping suamninya.


“Sya, kamu boleh masuk ke kamarmu sekarang.”


“But, Dad,” Syahira tak mau menuruti perintah Dady nya.


“Masuk!” Ucap Tuan Sadavir dengan tegas. Akhirnya Syahira menuruti perintah Dady nya.


Perbincangan pun dimulai.


“Haya, sebelumnya, ini oe bawakan hantaran untuk kalian ha, mohon diterima.” Koh Wang lalu menyodorkan hantaran itu kepada Tuan Sadavir.


“Terima kasih sebelumnya.” Kata Tuan Sadavir.


“Tidak usah basa-basi. Jadi siapa sebenarnya kalian dan apa maksud kalian datang kemari?” Tamara nampaknya telah hilang kesabaran.


“Tamara, jaga sikapmu.” Kata Tuan Sadavir. Tamara hanya mendelik.


“Jadi begini Pak, Bu. Sebelumnya saya izin memperkenalkan diri. Saya Syamir Rafif Airlangga dan ini Koh Wang dan yang sebelah lagi Yuli. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminta restu pada Bapak dan Ibu untuk pernikahan saya dengan Syahira.” Kata Syamir dengan mantap.


“What? Pernikahan apa? Aku gak salah denger kan?” Tamara begitu kaget.


“Kamu jangan main-main. Jika kedatangan kalian hanya sekedar main-main maka keluar sekarang juga.” Tuan Sadavir tampak tegang.


Mendengar teriakandari Ibunya, Syahira keluar dari kamarnya dan menguping dari balik tembok.

__ADS_1


__ADS_2