
Paginya Syahira bangun dengan kepala yang sakit seperti ditususk-tusuk jarum. Ia langsung terlonjak dari tempat tidur. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh. Gawat! Syahira kesiangan. Mana hari ini ia ada operasi. Ia kaget saat melihat dirinya di cermin ang masih mengenakan baju Dj Sky. Ia mulai mengingat-ingat lagi kejadian semalam. Ia tak bisa mengingatnya seutuhnya. Yang jelas malam itu ia minum-minum dengan sahabatnya Alma. Lalu ia pulang ke rumah, tunggu, Syahira mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana ia bisa pulang ke rumah. Ya! sang supir taksi. Supir taksi itu sepertinya pernah mengatakan sesuatu pada Syahira, astaga! Jangan-jangan, supir taksi itu adalah.... tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri, Syamir.
Syahira mulai panik, bisa habis diceramahi nanti jika ia bertemu dengan Syamir.Syahira lalu mencari cara agar tidak bertemu dengan Syamir hari ini. ya! dengan berpura-pura sakit, dengan begitu ia tak harus masuk kerja. Tapi hari ini ia ada operasi, mana mungkin hari ini ia akan mangkir dari tugasnya. Mau tak mau hari ini Syahira harus masuk kerja.
"Non." Pembantu rumah mengetuk pintu kamar Syahira.
"Iya, bentar." Syahira lalu membukakan pintu.
"Non, semalam supir yang mengantarkan Non memberikan amplop ini ke Bibi, di bilang ini amplop punya Non yang tertinggal di kursi mobil."
"Oh, iya. Ini punya Sya. Makasih ya Bi." Dengan segera Syahira mengambil amplop itu. Sang pembantu lalu meninggalkan kamar Syahira.
Syahira membuka amplop itu, benar saja. Amplop itu dari Syamir, berarti supir taksi yang mengantarkannya semalam adalah Syamir. Isi amplop itu adalah sejumlah uang. Jumlahnya tak jauh beda dari yang kemarin. Itu adalah uang nafkah Syahira. Syahira merasa makin bersalah saat memegang uang nafkah itu. Ia merasa malu atas apa yang telah ia lakukan malam itu. Pasti Syamir sangat kecewa dengan perilaku Syahira malam tadi. Syahira lalu meukul-mukul kepalanya.
"Bodoh Syahira! Kau bodoh sekali!" ucap Syahira pada dirinya sendiri. Akhinya dengan enggan Syahira pergi ke kamar mandi untuk bersiap pergi kerja.
Setelah bersiap dengan terburu-buru Syahira lalu turun untuk sarapan. Tak disangka di ruang makan ternyata semua keluarganya tengah berkumpul. Ya, semuanya. Oma, Mama, Dady, Athaya (adik pertamanya) dan Tanisya (Adik keduanya). Mereka tengah menikmati sarapan bersama. Semua orang langsung memandang ke arah Syahira tatkala Syahira turun dar tangga.
"Dad? Bukannya Dad ditahan ya?" Syahira sedikit merasa tegang.
"Dad sudah bebas sejak kemarin sayang, untuk apa Dad berlama-lama mendekam di sana? Dad hanya perlu menyodorkan uang pada mereka dan semuanya selesai. Dad tak ingin ambil pusing. Kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu tak senang jika Dad pulang?" Jawab ayahnya yang kini sedang memotong sandwich yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"No, i mean,...."
"Sudahlah Sya, yuk duduk sini. nikmati sarapanmu." Ucap Oma.
Syahira menuruti perintah Omanya. Ia lalu duduk di kursi kosong dekat ayahnya. Mungkin ayahnya sengaja mengosongkan kursi itu untuk Syahira.
"Taya baru saja memenangkan kontes kecantikan nasional Vir, Nisya juga baru-baru ini ditunjuk sebagai duta untuk konferensi bergengsi tingkat global. Aku merasa bangga pada menera." Ucap Tamara menyombongkan prestasi kedua putrinya itu.
"Really? Im proud of you guys, good job. Sebagai hadiah, Dad akan belikan mobil baru masing-masing untuk kalian berdua. Oh jangan lupakan Syahira, untuknya Dad akan belikan mobil baru juga."
"But Dad, Kak Sya gak memenangkan lomba apapun." Ucap Athaya. Sementara Tanisya hanya terdiam.
"I know. Tapi Syahira berhasil kembali dengan selamat ke sini kan? Dad dengar Sya mengalami kecelakaan saat pergi ke Jawa. Dad begitu lega saat mendengar Sya berhasil pulang dengan selamat." Dad lalu mengusap kepala Syahira.
"Dia tidak mungkin kabur jika tidak melihat pertegkaran kita! Jangan memulai kembali hal yang sudah kita tutup rapat-rapat Tamara." Dad terpancing emosi oleh tindakan Tamara.
"Mom, Dad, calm down." Athaya mencoba menenangkan kedua orang tuanya yang sama-sama tengah naik pitam.
"Kalau begitu, Sya berangkat sekarang ya. Oma, Mam, Dad, Taya, Nisya, Sya pamit ya. Bye." Dengan santainya dan tanpa merasa bersalah Syahira melangkah meninggalkan sarapan bersama keluarganya lalu berangkat kerja.
"Lihat kan? Apa pedulinya dia dengan pertengkaran kita! Dasar anak tidak bertanggung jawab!" ucap Tamara.
__ADS_1
"Stop it Tamara!" Dad kini kehilangan kesabaran. Ia memuluk meja dengan tangannya. Membuat semua orang yang ada di meja kaget. Dad lalu beranjak dari meja makannya. Ia ternyata menghampiri Syahira yang sedang menyalakan mobil.
"Syahira." Panggil Dad.
"Dad, ada apa?" tanya Syahira.
"Dad Cuma mau bertanya. Itu cincin yang kamu pake, dapat dari mana kamu?"
Syahira kaget bukan main saat ditanyai hal itu.
"Oh, Emm, Sya beli di toko antik Dad. Sya seneng aja sama modelnya." Syahira berdalih.
"Aneh, padahal kamu benci sekali barang-barang antik. Ah, sudahlah. Dad pikir itu cincin dari pacar kamu." Dad kini menggoda Syahira.
"Ya nggak lah Dad." Syahira pura-pura tersenyum kecil.
"By the way, soal pacar, Dad perhatikan si Edward itu sepertinya tidak ada keseriusan sama kamu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu saja Sya. Untuk apa terus mempertahankan hungan dengan orang yang seperti itu, buang-buang waktu saja. Dad sarankan, sudahi saja hubungan kalian. Kamu kan bukan anak SMA lagi Sya, bukan saatnya lagi untuk main-main. Kamu sudah harus mulai serius dengan kehidupanmu. Dad sudah tua, Dad tak punya waktu banyak. Mau sampai kapan kamu terus begini Sya?"
Syahira terenyuh dengan perkataan dari Ayahnya. Ternyata, begitu peduli sekali Ayahnya terhadap Syahira. Andai saja Ayahnya tahu kalau anak sulungnya kini telah dinikahi oleh seorang pria alim dari desa. Apa yang akan dikatakan oleh Ayahnya? Apakah Ayahnya akan menerimanya atau justru menolaknya? Sabar ya Dad, sebentar lagi Syahira akan berkata yang sejujurnya pada Dad, tapi bukan sekarang, tutur batin Syahira.
"Iya Dad, Sya paham. Sya pamit keja dulu ya. Love you Dad. Bye!"
__ADS_1
"Bye."
Syahira lalu menyetir mobilnya keluar dari rumah. Sementara Dad kembali masuk ke rumah. Saat tiba di pintu ternyata Tamara tengah memperhatikan pembicaraan antara Dad dan Syahira. Dengan wajah yang sangat ketus Tamara lalu kembali masuk ke dalam. Dad hanya bisa mengelus dada.