
Mobil yang dikendarai Tuan Sadavir melaju dengan cepat. Terlihat beberapa mobil lain yang mengawal mobil itu. Tuan Sadavir tengah menuju suatu tempat, bersama Syahira mereka mencoba melacak keberadaan Syamir.
“Tenang Sya, Syam pasti bakal ketemu Kok.” Yuli yang ikut dalam pencarian itu kini menenangkan Syahira di tengah kegelisahannya.
“Dia dalam bahaya Yul.” Ucap Syahira sembari menangis sesegukan.
“Iya, tapi lo harus tenang dulu oke.”
“....” Syahira mengucurkan air mata semakin deras.
“Kontrol dirimu Sya, dia hanya pria yang baru kamu kenal beberapa bulan ini dan tak sengaja menikahimu.” Tuan Sadavir berbalik badan, ia menengok ke arah Syahira.
“But, Dad, he is my husband, he is more than my life. Surga Sya ada padanya, i can’t live without him.”
“Really? Sudah sesayang itukah kau padanya? Apa yang membuatmu bisa merasa demikian?”
“Syam telah mempertaruhkan hidup dan matinya untuk Sya, Syam juga telah enjaga dan membimbing Sya dengan sangat baik. Syam adalah sosok pria yang Sya cari dan butuhkan selama ini. Sya hanya butuh dia Dad, itu sudah lebih dari cukup.”
“Kalau begitu Dad merestui kalian. Menikahlah kembali secara hukum dan agama, Dad yang akan menikahkan kalian. Dad sudah lihat dengan mata Dad sendiri kalau kalian tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tapi sebelum itu, mari kita temukan dia secepatnya.” Tuan Sadavir menatap Syahira dengan penuh keyakinan.
“....” Syahira terdiam, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Maaf saya mencela Tuan, sepertinya kita telah sampai di lokasi.” Timpal Tuan Armor.
“Bagus. Kita masuk sekarang, seluruh pengawal sudah siap kan?” tanya Tuan Sadavir.
“Sudah Tuan, mereka sudah siap di posisi masing-masing.” Jawab Tuan Armor.
“Baiklah, Sya dan kamu, tunggu saja di sini. beberapa bodyguard akan menjaga kalian.” Ucap Tuan Sadavir pada Syahira dan Yuli.
“No, Sya gak bisa cuma duduk di sini, Sya harus ikut. Sya harus menyelamatkan Syam. Syam butuh Sya sekarang.” Syahira mecoba keluar dari mobil.
“Gak bisa! Di dalam berbahaya, kita tidak tahu mara bahaya apa saja yang akan menghampiri kita. Jadi lebih baik kau di sini saja.”
“No! Please, Dad, i beg you! Aku pengen ikut, kalau Dad gak ngizin maka aku akan nekat masuk sendiri.” Syahira kini benar-benar keluar dari mobil.
“Sya, dengarkan apa kata Dad!” Tuan Sadavir mencekal lengan Syahira.
“Aku harus masuk Dad.” Syahira bersikeras.
“Baiklah, tapi kau harus berjanji kau akan menuruti apa kata Dad. Jangan bertindak sembrono.”
__ADS_1
“Baik Dad.”
“Kalau begitu aku minta beberapa bodyguard untuk menjaga Nona ini. aku Sya dan kau beserta pasukan kita akan masuk sekarang.” Kata Tuan Sadavir pada Tuan Armor.
“Baik Tuan.” Tuan Armor pun menyuruh beberapa bodyguard agar berada di dekat mobil tempat Yuli berada. Sementara Tuan Sadavir, Syahira dan Tuan Armor mulai masuk.
Mereka memasuki sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai. Tak ada penerangan sedikitpun. pasukan yang berjaga bersiaga melindungi Tuan Sadavir dan Syahira. Tak lama terdengar sebuah tembakan yang hampir mengenai mereka. Dengan segera mereka melakukan tiarap. Untung pasukan sudah besiap menggunakan APD lengkap sehingga mampu membentuk benteng yang mengelilingi Tuan Sadavir dan Syahira.
Nampaknya penghuni gedung telah mengetahui kedatangan mereka. Mereka tak senang karena keberadaan mereka telah diketahui. Akhirnya ketua dari mereka keluar. Ada dua orang berbaju hitam dan mengenakana jubah hitam berdiri tak jauh dari Tuan Sadavir dan Syahira. Mereka mulai berbicara, tetapi suaranya telah disamarkan menggunakan alat perubah suara.
“Sudah kuduga kalau kau akan datang Tuan. Padahal Kami berharap kalian tidak datang.” Ucap salah satu sosok berjubah hitam itu.
“Dimana Syamir?” Tanya Tuan Sadavir dengan sangat kesal.
“Woah, tenang, dia masih hidup. Kalau kau memang benar ingin melihatnya maka baiklah. Aku akan menunjukannya pada kalian. Kalian akan bisa menyaksikan langsung kondisinya yang sudah tak berdaya.”
“Kau apakan Syam? Lepaskan dia sekarang!” Syahira menjerit keras.
“Tenanglah, kami tak melukainya, hanya sedikit memberi pelajaran padanya karena telah berani mendekatimu nona Syahira.”
“Siapa kau sebenarnya?” ucap Syahira garang.
“Jangan berani sentuh dia sedikitpun!” Syahira kini benar-benar emosi.
“aww, aku tak takut dengan gertakanmu Nona.”
“Awas kau!” Syahira mencoba menghajar sosok itu tetapi keburu dicegah oleh Tuan Armor.
“Jangan Nona, dia bisa saja melukaimu.” Tuan Armor menasihati.
“Jangan bertindak sembrono Sya.” Ucap Tuan Sadavir.
“Baiklah, tanpa perlu basa-basi lagi, saksikanlah, Syamir, si pria pecundang!” Ucap orang itu.
Tampak beberapa orang tengah mendorong sebuah meja panjang dan alat besar seukuran lemari baju dengan banyak kabel. Di atas meja itu terbaring Syamir yang sudah tak berdaya. Seuruh tubuhnya dipasangi kabel-kabel kecil yang mampu menghantarkan listrik. Syahira dan semua orang yang ada di ruangan itu kaget melihat kondisi Syamir sekarang. Seluruh tubuhnya babak belur dan hidungnya mengeluarkan darah. Bibirnya berdarah sepertinya mengalami robekan di bagian pinggir.
“Syaaaaam!” Syahira menjerit dengan sangat keras. Ia sudah tak kuasa lagi melihat kondisi Syamir. ia tak bisa melihat belahan jiwanya kini dalam kondisi yang tak berdaya.
“Bagaimana? Kau syok melihat kondisinya saat ini? padahal ini baru permulaan.” Ucap sosok misterius itu dengan puas.
“Beraninya kau mengacaukan keluargaku!” Tuan Sadavir terlihat begitu murka. Ia kemudian merangkul Syahira dan menenagkannya.
__ADS_1
“Bukan aku yang mengacaukan keluargamu, tetapi pria inilah yang telah mengacaukan keluargamu! Beraninya dia menikahi puterimu tanpa seizin dan sepengetahuanmu.” Ujar sosok itu.
“Kau tidak berhak untuk ikut campur dengan urusan keluargaku! Siapa kau hingga berani mencampuri urusan kami?” Tuan Sadavir maju sedikit.
“Siapa aku tidak penting. Sekarang, karena kalian telah dengan suka rela datang kemari, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan saja?” sosok pria itu menawarkan pilihan pada Tuan Sadavir.
“Aku tidak ingin membuat kesepakatan apapun dengan orang busuk sepertimu.” Jawab Tuan Sadavir.
“Oh, begitu ya? jadi kau ingin menyaksikan pria ini mati begitu saja di hadapanmu?” Gertak sosok itu.
“Jangan bertindak lebih jauh lagi!” kata Tuan Sadavir.
“Atau kau akan apa?”
“Aku,.... aku..... aku akan menghancurkan hidupmu!”
“Silahkan saja jika bisa.”
“Kau!” Tuan Sadavir terlihat muak.
“Jadi kita akan melanjutkan kesepakatan ini? aku tidak akan menawarkannya lagi.”
“Apa kesepakatannya?” Tuan Sadavir kini menyerah.
“Dad, don’t!” Ucap Syahira.
“Dad gak bisa menolaknya Sya.”
“Jadi apa isi kesepakatannya?” Tanya Tuan Sadavir.
“Nah, begitu dong. Kesepakatannya adalah, pria ini akan bercerai dengan puterimu dan aku akan membebaskannya.”
“Apa? Gak! Gabisa! Sampai kapanpun aku tidak akan berpisah dengan Syamir!” Syahira menolak kesepakatan itu.
“Oh, jadi kau akan memilih pria ini mati di tanganku begitu saja?” sosok itu kini mendekati Syahira.
“Jangan berani untuk mendekati puteriku atau aku akan membunuhmu saat ini juga!” Tuan Sadavir mencoba melindungi Syahira.
“Tenanglah, aku hanya ingin berbisik padanya.” Sosok itu kini semakin dekat dengan Syahira.
“Dengar baik-baik Nona, Suamimu sudah kritis, antara hidup dan mati. Tanda tangani kontrak kesepakatannya sekarang lalu aku aku akan melepaskannya. Semakin lama kau membuat keputusan semakin berkurang juga waktu hidupnya.” Bisik sosok itu ke telinga Syahira. Syahira syok dan berlinang air mata.
__ADS_1