
Lengan Syahira kini memegang bahu Syamir, sementara tubuhnya ditopang oleh lengan Syamir. Syahira yanng merasa malu lalu melepaskan dirinya dari pangkuan Syamir. itu membuatnya kini terjatuh beneran.
“Aduh.” Syahira meringis kesakitan.
“Sya gak papa kan?” Syamir kini mengulurkan tangannya. Syahira langsung meraihnya.
“Nggak, aku baik-baik aja kok.” Syahira kini bangkit berdiri.
“Tadi kenapa kita lari Sya?” tanya Syamir.
“Karena ada Alma.” Jawab Syahira.
“Lalu kenapa jika ada dia?”
“Alma belum tahu soal pernikahan kita Syam.”
“Lalu kenapa kamu tidak memberitahunya?” ucap Syamir dengan polos.
“What? Kamu gila ya? ya gak bisa lah Syam. Nanti kalo aku cerita sama Alma maka semua orang di rumah sakit akan tahu.”
“Kalau mereka tahu kenapa? Tidak ada yang salah kan? Kita tidak sedang melakukan suatu kejahatan atau semacamnya kan.”
“Syam, jika seluruh rumah sakit tahu maka kedua orang tuaku akan tahu.”
Syamir langsung tertunduk saat mendengar penjelasan dari Syahira.
“Sya, Syam janji akan segera memberi tahu soal pernikahan kita kepada kedua orang tua Sya. Besok si Mbok sudah boleh pulang, lusa Syam akan mendatangi kedua orang tua Sya.”
“It’s okay kok Syam. Don’t be rush. Aku siap kapanpun kamu mau bilang ke orang tuaku soal pernikahan kita.” Syahira kini mengusap pundak Syamir.
“Terima kasih Sya.” Kini Syamir memegang lengan Syahira.
“Untuk?”
“Untuk rela menerima Syam dan bersabar atas apa yang telah menimpa kita.”
“....” Syahira terdiam, bola matanya berkaca-kaca. Ia menatap Syamir dengan haru. Pria itu menatap wajah Syahira dengan mata yang teduh. Selalu saja, Syamir selalu bisa membuat hati Syahira menjadi tenang.
“Sya belum makan kan?” kini Syamir bertanya.
“Hehe, keliatan banget ya?” Syahira tersipu malu.
“Ya sudah, yuk!” Giliran Syamir yang menarik lengan Syahira.
“Kita mau kemana Syam?” Syahira tampak bingung.
“Kita mau beli makan ke luar Sya.”
Syahira lalu mengikuti Syamir. Tibalah mereka di luar rumah sakit. Syamir tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Kenapa Syam?” tanya Syahira.
“Sya, maafkan Syam yang belum mampu mengajak Sya untuk pergi dengan kendaraan. Padahal Sya pulang pergi selalu naik kendaraan, kali ini kita berjalan dulu, gak papa kan Sya?” Syamir merasa tidak enak.
“Kamu ngomong apa sih Syam? Orang waktu itu aja aku mau kok diajak kamu ke Jakarta sambil jalan kaki, masa kali ini jalan cuma bentar doang gak mau. Yaudah, yuk!” Syahira gantian menarik lengan Syamir.
__ADS_1
Syamir kini tampak antusias kembali, ia bersama Syahira lalu kembali berjalan berduaan. Tujuan mereka kali ini adalah ketoprak. Syahira terlihat begitu senang saat mendapatkan sepiring ketoprak yang diberikan oleh Syamir. Syahira lalu memakannya dengan lahap.
“Minum dulu Sya.” Syam kini menyodorkan air minum pada Syahira.
“Uhuk-uhuk.” Syahira keselek karena makan terlalu cepat.
“Pelan-pelan Sya.” Ucap Syamir. Ia lalu membersihkan bibir Syahira yang belepotan.
“Kamu gak makan Syam?” tanya Syahira.
“Gak Sya, Syam masih kenyang kok.” Syamir sebenarnya sangat lapar, ia berbohong pada Syahira. Tiba-tiba perut Syamir berbunyi sangat keras, Syamir kini tidak bisa berbohong lagi.
“Gak usah bohong Syam. Yaudah aku suapin ya.” Syahira lalu menendok ketoprak yang ada di piringnya.
“Gak usah Sya, Gak,...” belum sempat Syamir menampik Sesendok penuh ketoprak sudah mendarat dengan selamat di mulutnya. Syahira menjejalkan ketoprak itu secara paksa ke mulut Syamir. Syamir lalu menelannya.
“Nah, gitu dong. Coba buka lagi mulutnya, bu dokter mau kasih obat lapar untuk pasien bandel yang satu ini.” Syahira tertawa cekikikan sembari kembali menyendok ketoprak itu.
“Sya, Sya...” kata-kata Syamir kembali dibungkam dengan sesuap ketoprak.
“Uhuk-uhuk. Udah, cukup Sya. Syam kenyang.” Syamir kini menolak suapan ketoprak yang diberikan oleh Syahira.
“Bener?” Syahira menatap curiga ke arah Syamir.
“Iya Sya, Syam kenyang.”
“Yaudah, nih minum.” Syahira lalu menyodorkan segelas minuman kepada Syamir.
“Yang ini Syam bisa sendiri Sya, makasih.” Syamir terlihat sedikit ketakutan.
Setelah kenyang makan ketoprak sepiring berdua, mereka pun kembali ke rumah sakit.
“Syam, waktu istrirahatku masih tiga puluh menit lagi. Anter aku ke rooftop rumah sakit yuk!” Ujar Syahira.
“Ke mana?” Syamir kurang mendengar perkataan Syahira barusan.
“Ke rooftop Syam.” Syahira menegaskan kembali ucapannya.
“Kita mau ngapain ke sana?”
“Ya duduk aja sambil liatin pemandangan. Dari rooftop kita bisa liat pemandangan Jakarta dari ketinggian, pokoknya Viewnya baguus banget. Kamu mau kan anter aku?”
“Baiklah.”
“Yes! thank you.” Syahira lalu mengecup pipi Syamir. Ia lalu berlari dengan sangat antusias.
Wajah Syamir berubah mera padam setelah dikecup oleh Syahira. Ia kaget, ia tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Syamir lalu terdiam untuk beberapa saat.
“Syam, come on.” Syahira melambai dari kejauhan. Syamir lalu menghampirinya.
Berhubung rooftop adalah tempat tertinggi dari rumah sakit ini, jadi mereka harus naik lift ke lantai paling atas. Setelah lift berhenti di lantai paling atas mereka ternyata harus naik lagi sebanyak lima lantai.
“Kok liftnya tidak sampai atas Sya?” Syamir agak heran.
“Dulu lift ini memang dioperasikan sampai atas. Tetapi karena lima lantai ini adalah gudang dan sisanya ruang yang terbengkalai jadi lift tidak difungsikan untuk lima lantai terakhir ini. dan ada rumor kalau dua puluh enam tahun lalu ada kasus percobaan bunuh diri oleh seorang pasien di atas rooftop sana. Makanya lima lantai ini tak banyak dikunjungi oleh orang-orang.” Jelas Syahira.
__ADS_1
“Lalu kenapa Sya ingin sekali ke rooftop?”
“Karena rofftop itu udah jadi ruang pribadiku selama beberapa tahun ini untuk melepas penat. Jika aku stress karena pekerjaan aku biasanya naik ke rooftop untuk sekedar berteriak kencang dan melepas semua rasa stressku.” Syahira kini menaiki tangga.
“Syam, aku capek. Tangganya masih banyak.” Keluh Syahira.
“Ya sudah Syam gendong ya?”
“Hah? Kamu yakin?” Syahira kaget.
“Iya, ayo, naik ke pundak Syam.”
Syahira dengan sedikit malu dan tak yakin lalu naik ke pundak Syamir. dengan semangat, Syamir lalu menggendong Syahira menaiki tangga sebanyak lima lantai itu. Syamir tidak merasa lelah sedikitpun.
“Syam, kalo kamu capek bilang ya, nanti aku turun.” Syahira merasa kasihan pada Syamir.
“Tenang Sya, Syam sudah terbiasa memangku semen seberat lima puluh kilogram dari gudang ke toko. Jadi ini tidak ada apa-apanya, hehe.” Ujar Syamir.
“Tega sekali kamu menyamakanku dengan semen Syam.” Syahira merasa sedikit tersinggung.
“Bukan begitu Sya, maksud Syam,...”
“Syam, lihat di sebelah kirimu!”
Syamir lalu menengok ke sebelah kirin.
“Kena.” Syahira mencubit pipi sebelah kanan Syamir.
“Sya, jangan begitu, nanti kalau kita jatuh gimana?” Syamir kini tersipu malu.
“I’m fine jika harus jatuh dipangkuanmu Syam, wkwkwk.” Ledek Syahira.
“Sya.” Kini Syamir benar-benar dibuat malu.
Mereka lalu tiba di rooftop, karena hari tengah siang bolong udara di rooftop begitu panas bukan main. Ditambah karena ini di Jakarta, jadilah sudah rooftop itu bagaikan pemanggang besar.
“Kenapa Sya tidak bilang kalau rooftop ini panas.” Syamir lalu mengela nafas.
“Hehe, aku lupa kalau ini tengah siang bolong Syam.” Syahira kini malu sendiri.
Syamir tiba-tiba melepas jaketnya. Ia kini hanya mengenakan t-shirt putih polos dan celana panjang. Syamir lalu menutupi kepala Syahira dengan jaket yang dibentangkannya. Syahira begitu terharu dengan perhatian yang ditunjukan oleh Syamir.
“Syam, nanti kamu malah ang kepanasan. Kamu aja yang pake jaket kamu buat nutupin kepala kamu.”
“Gausah, sejak kecil Syam sudah tebiasa panas-panasan. Dulu di siang bolong yang terik seperti ini Syam malah menerbangkan layang-layang di pematang sawah yang kering bersama teman-teman Syam. Habis itu Syam dimarahi oleh si Mbok, malamnya Syam sakit panas. Tapi itu tak membuat Syam kapok untuk kembali menerbangkan layang-layang di keesokan harinya.” Jelas Syamir sambil tertawa kecil.
“Kamu memang pria yang unik Syam.” Jawab Syahira.
Syahira lalu berlari ke arah depan hingga ke bibir rooftop. Syamir panik saat Syahira berdiri terlalu pinggir. Ia takut jika Syahira terjatuh.
“Lihat Syam, indah kan pemandangannya.” Kata Syahira sambil menatap wajah Syamir.
“Pemandangannya ada di belakangmu Sya, bukan di depan sini.” Syamir mengoreksi.
“Tapi menurutku pemandangan terindah memang ada di depan sini.” Jawab Syahira berseri-seri sambil masih mengagumi wajah Syamir. bukan main malunya Syamir saat dibilang seperti itu oleh Syahira.
__ADS_1