
Keesokan Paginya, Syamir, Syahira dan si Mbok tengah disibukkan dengan kemas-kemas. Banyak barang yang harus mereka kemas karena pagi ini mereka akan pindah tempat tinggal. Syamir dan Syahira tampak begitu antusias, mereka mengemasi barang-barang dengan cepat dan gesit.
“Ini Sya, tolong masukkan ke kotak yang itu ya.” Syamir menyerahkan beberapa tumpuk baju kepada Syahira.
“Baik Syam.” Syahira memasukkan tumpukan baju itu ke dalam kotak dus.
Usai berkemas, mereka kembali mengecek semua barang bawaan mereka takut ada yang tertinggal.
“Koe cek yang bener, awas kalau ada yang tertinggal!” Gertak si Mbok pada Syahira.
“Sudah Mbok, semuanya sudah dikemas rapi.” Timpal Syahira.
“Yo wes, meh Syam, kita jalan sekarang.” Kata Si Mbok.
“Ayo. Bismillah.” Mereka pun berjalan menuju kontrakan baru.
Letak kontrakan baru itu tak jauh dari mess. Cukup berjalan beberapa langkah saja, mereka sudah sampai. Syamir lalu mengeluarkan kunci kontrakan dari sakunya, ia kemudian membuka pintu.
“Assalamualaikum.” Ucap Syamir sembari masuk.
Mereka lalu masuk ke kontrakan itu. Kontrakan itu cukup luas, hanya saja masih kotor karena sudah lama tak ditinggali. Kini tugas mereka adalah membersihkan kontrakan, mereka bahu membahu dalam membersihkan kontrakan. Akhirnya kontrakan pun bersih.
“Mbok, ini kamar Mbok. Mbok suka?” Syamir menunjukkan letak kamar si Mbok.
“Iya Syam, Mbok suka. Matur suwun yo le.” Si Mbok lalu masuk ke kamar itu.
“Enjeh, sami-sami Mbok.” Syamir lalu menghampiri Syahira.
“Nah, Sya, itu kamar kita.” Syamir membawa Syahira menuju kamar mereka.
“...” Syahira terdiam sambil memandangi kamar itu.
“Sya tidak suka?” Syamir bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Syahira.
“No, i like it. But, Sya lagi mikir aja. Kamar ini tuh masih kayak gudang, Sya gak sabar banget buat ngehias kamar ini. Sya nanti bakal beli perabotan buat rumah baru kita, Syam bantu ya.” kata Syahira.
“Tentu Sya.” Jawab Syamir.
Usai beres-beres, Syamir dan Syahira kemudian berangkat kerja. Seperti biasa si Mbok mereka tinggal sendiri di kontrakan. Untungnya, kali ini si Mbok sudah sehat, jadi si Mbok sering jalan-jalan ke luar dan bertemu dengan warga sekitar untuk sekedar mengusir rasa jenuh tatkala ditinggal oleh Syamir dan Syahira kerja. Si Mbok juga mulai rutin ikut pengajian di masjid kampung ini.
“Mbok, kami pamit kerja dulu ya.” Ucap Syahira. Ia kemudian mencium lengan si Mbok.
“Wes rausah cium tangan segala. Sana cepat kerja.” Bentak si Mbok.
“Mbok, Sya kan sedang menjalankan kewajibannya sebagai menantu Mbok. Yaitu menghormati Mbok.” Ujar Syamir.
“Mbok tahu. Wes sana, nanti kalian telat lagi.”
__ADS_1
Syamir dan Syahira pun beranjak pergi. Seperti biasa, Syamir akan mengantar Syahira sampai naik angkot. Tetapi kali ini, di pinggir jalan sudah ada teman Syahira yang menunggu. Alma kini terlihat tengah memarkir mobilnya di pinggir jalan. Ia lalu melambaikan tangannya kepada Syahira.
“Itu Dokter Alma ya Sya?” tanya Syamir.
“Iya Syam.” Jawab Syahira.
“Sya, tolong jangan terlalu dekat dengannya ya. Syam hanya punya perasaan tidak enak saja padanya. Syam pernah liat Sya pergi mabuk-mabuk dengannya. Sya jangan lakukan itu lagi ya, apalagi tanpa sepengetahuan Syam. Sya kan kini sudah jadi istri Syam.”
“Emang kenapa sih? Alma itu sebenernya baik tau. Dia sahabatku sejak masih SMA Syam. Lagian kalo soal mabuk-mabuk itu emang Sya yang mau. Tapi, karena sekarang Sya dilarang mabuk-mabuk lagi sama Syam ya Sya akan nurut. Tapi jangan larang Sya untuk tetap berhubungan dengan Alma ya. She is my best friend Syam. You know that.”
“Huft, baiklah. Lagi pula Syam juga salah, sudah bersuuzon terhadap orang lain. Tolong ucapkan permitaan maaf Syam kepada dokter Alma ya.”
“Iya Syam, kalau begitu Sya izin ke kantor bareng Alma ya?”
“Iya Sya. Eh, satu hal lagi. Sebelum Sya pergi, Syam mau minta maaf sama Sya karena Syam belum bisa mengantarkan Sya ke tempat kerja. Syam belum bisa membelikan Sya kendaraan yang layak.”
“SSSSSSTTT. Stop saying that. I’m okay Syam. Aku bahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Yang terpenting kita masih memiliki satu sama lain.”
“Syam bahagia mendengarnya.”
“Yaudah, aku pamit ya. Assalamualaikum.” Syahira mencium tangan Syamir.
“Waalaikumsalam.” Syahira lalu pergi menghampiri Alma.
Usai Syahira berangkat, Syamir lalu berjalan menuju toko Koh Wang.
***
“So, Tante, di mana Syahira sekarang?” tanya Pria itu pada Tamara.
“Ah, biasa. Dia sibuk dengan pekerjaan konyolnya. Anak itu selalu bandel, sudah ditawari posisi paling bergengsi di kantor Kakeknya malah ia tolak. Ia malah memilih kerja di bawah telunjuk orang lain. Ya walau masih di rumah sakit dengan saham milik keluarga. Tetapi ia hanya sebagai dokter bedah. Bukan kepala dokter.” Keluh Tamara.
“Ah, tak apa lah Tan. Lagi pula pekerjaanya mulia. Tante harusnya bangga. Eh, by the way, apakah dia masih single ?”
“Uhuk.” Tamara terbatuk. Ia kaget saat mendengar pertanyaan dari pria itu.
“Kenapa Tan?”
“Engga Teon. Tante hanya keselek. Ya, dia masih single.” Tamara beralibi.
“Yes, i’m happy to hear that. Jadi, masih bolehkah aku mendekatinya?”
“Oh, emm, ya, tentu. Jika kau bisa merayunya.” Tamara tampak panik.
“Aku cemburu padamu Tamara. Kau memiliki puteri yang cantik. Banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan hati puterimu, contohnya Teon. Ia pria dari keluarga terpandang, tampan, lulusan universitas bergengsi di dunia. Kau tak perlu menghawatirkan apapun lagi.” Kata salah seorang wanita yang duduk di dekat Tamara.
“Ku harap kenyataannya juga begitu.” Ucap Tamara datar. Ia lalu menyeruput teh yang tengah ia pegang.
__ADS_1
***
Malam harinya, Syahira pulang sedikit lebih awal. Ia sengaja tak memberi tahu Syamir soal kepulangannya. Ia berniat ingin memberi kejutan untuk suaminya. Usai sampai di kontrakan, Syhira menyajikan makanan yang telah ia beli untuk makan malam Syamir, si Mbok dan dirinya. Ia juga mandi dan mengenakan wewangian yang sangat harum. sehingga membuat siapapun yang menciumnya akan jatuh terpikat. Syahira makan dengan si Mbok telebih dahulu karena ternyata Syamir pulang lebih malam.
“Koe kenapa? Malam-malam kok pake weangian. Mau kemana koe?” tanya si Mbok tampak curiga.
“Nggak kok Mbok. Sya gak kemana-mana kok. Sya pengen aja pake wewangian.” Jawab Syahira.
“Oh.” Si Mbok melanjutkan makannya.
Usai malan malam Syahira lau berdiam diri di kamar. Sementara si Mbok sudah tidur lebih dulu. Syahira menunggu Syamir cukup lama. Akhirnya saat hampir tengah malam Syamir pulang. Syahira menyambut Syamir dengan antusias.
“Assalamualaikmum.” Syamir mengetuk pintu. Syahira lalu membukakan pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Syahira mencium lengan Syamir.
“Sya, kenapa tidak bilang kalau Sya sudah pulang lebih dulu? Syam lama sekali menunggu Sya di pinggir jalan.” Ucap Syamir.
“Astaga, maaf Syam. Sya tak tahu kalau Syam akan menunggu Sya.”
“Syam kan sudah bilang kalau Syam akan menunggu Sya.”
“Maaf Syam.” Syahira menundukkan kepalanya.
“Gak papa kok.”
Mereka pun masuk. Syamir lalu membersihkan dirinya lalu makan malam. Syahira menemani Syamir makan malam. Seusai itu Syamir pergi ke Masjid untuk shalat witir.
“Syam, nanti kamu bakal pulang lagi ke sini kan?” tanya Syahira.
“Iya Sya, Syam cuma mau shalat witir dan tadarus sebentar. Habis itu Syam pulang.”
“okay. Sya tunggu Syam ya. Syam harus cepet-cepet pulang, malam hari kan waktu untuk pasangan suami istri.” Goda Syahira. Syamir keringat dingin mendengarnya.
“I..ii.i...iya Sya. Syam pamit ya. Assalamualaikum.” Syam beranjak pergi.
“Wa’alaikumsalam.” Syahira tampak kecewa.
“Yah, gagal deh. Eh, jangan dulu menyerah Sya, nanti pas Syam pulang kamu harus bersiap. Oke jadi aku gak akan tidur sampai Syam pulang.” Tutur Syahira dalam hatinya.
Tak lama Syamir pulang dari shalat witirnya. Syamir mengetuk pintu rumah. Lama sekali tak ada jawaban. Tak lama terdengar pintu dibuka.
“Syam, masuk aja. Pintunya gak dikunci kok.” Ucap Syahira.
“Tumben Sya tidak keluar untuk membukakan pintu.” Kata Syamir dalam hati. Syamir pun masuk ke rumah.
“Astagfirullah.” Syamir kaget saat meilhat Syahira di depan pintu kamar. Wanita itu kini hanya mengenakan gaun satin putih pendek. Lengan dan kakinya terbuka. gaun itu hanya menutupi bagian tubuhnya saja. Syamir langsung keringat dingin. Ia seperti sedang bukan melihat Syahira. Ia seperti tengah melihat marline monroe yang kini berdiri di hadapannya. Kini Syahira duduk di atas ranjang sembari menepuk-nepuk bantal.
__ADS_1
“Syam, Sya cantik kan malam ini?” Syahira kini mengusap rambutnya yang digerai. Ia memiringkan sedikit kepalanya, lalu mengedipkan matanya pada Syamir.
Syamir mencoba untuk tetap tenang, tetapi pikiran Syamir terus berkata kalau Syahira memang istrinya, Syahira istrinya yang halal. Sekuat apapun Syamir beristigfar, Syamir tetaplah seorang pria normal. Ia berjalan mendekati Syahira dengan ragu. Malam itu, Syahira benar-benar milik Syamir seutuhnya.