
“Tunggu tiga tahun lagi,” ucap Indah masih menyikapi Liam dengan dingin.
“Kalau itu yang terjadi, ... anak kita sudah keburu lahir.” Liam yang masih berucap lirih sekaligus menyikapi keadaan dengan tenang, malah mendapat tatapan marah dari Indah. Lebih tepatnya, wanita itu akan selalu begitu, marah sekaligus kecewa di setiap teringat apa yang sudah terjadi di antara mereka. Tentu, ini mengenai Liam yang telah merenggutt kehormatan Indah dengan paksa dan itu Liam lakukan di luar ikatan pernikahan.
“Biarkan aku tanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Karena aku yakin, tanpa aku melakukannya, kamu akan terus menolakku,” lanjut Liam yang kemudian berlutut di hadapan Indah sembari menyodorkan cepuk sepasang cincin emasnya.
Indah menggeleng dan perlahan mundur. “Cinta enggak begini ....”
“Dalam sebuah rumah tangga, cinta bukan satu-satunya alasan untuk tetap bersama, Ndah. Namun bersama kamu, aku memiliki alasan untuk terus bahagia sekaligus bersama-sama,” ucap Liam. “Kamu, ... aku menemukan semua yang kucari dari kamu. Semua yang aku cari benar-benar ada di diri kamu.”
“Berlutut begitu sampai besok!” sergah Indah mengomel.
“Oke!” sanggup Liam. “Kamu yakin, berani kurang ajar pada bosmu sendiri?” lanjutnya sengaja memanfaatkan kekuasaan lantaran Indah malah meninggalkannya. Indah membawa nampan berisi teh yang tadi sempat membuat wanita cantik itu sibuk.
“Aku sudah mengundurkan diri sejak hari itu juga.” Indah tetap berlalu.
“Belum ada pengunduran secara resmi, kan?” lanjut Liam masih menoleh sekaligus menatap kepergian Indah sambil terus berlutut.
“Tetap saja kamu sudah bukan bosku lagi!” kesal Indah sampai berhenti melangkah sekaligus menoleh ke belakang untuk menatap Liam.
“Oke. Mulai sekarang, kamu yang bosku karena kamu akan menikah denganku!” ucap Liam sambil tersenyum manis. Ia mengulum bibirnya sambil mengangguk-angguk.
Indah nyaris berteriak memaki Liam, tapi yang ada, senyum sekaligus tingkah manis Liam malah membuatnya gugup. Karenanya, ia buru-buru pergi dari sana sebelum ia malah bermasalah dengan kewarasannya.
Suasana di ruang keluarga kediaman orang tua Indah yang sederhana sekaligus minimalis, tapi sangat hangat, menjadi makin hangat atas obrolan yang tengah berlangsung. Senyum bahkan gelak tawa mewarnai kebersamaan di sana. Yang mana, kehadiran Indah juga langsung disambut hangat oleh mereka. Pihak keluarga Liam tampak langsung akrab dengan orang tua Indah. Meski tentu saja, mereka menanyakan keberadaan Liam yang tak kunjung datang. Hingga sepuluh menit berselang lantaran Liam tetap tak kunjung datang, ibu Dwiningsih meminta Indah untuk memastikan.
__ADS_1
Ketika Indah akhirnya melangkahkan kaki memasuki dapur, di sana Liam masih berlutut seperti yang ia titahkan. Posisi Liam masih sama persis seperti kebersamaan terakhir mereka. Pria itu langsung mengumbar senyum setelah Indah menoleh ke belakang dan membuat tatapan mereka bertemu. Kali ini, Indah sengaja menutup pintu dapurnya. Ia bergegas menghampiri Liam.
“Jangan menikah denganku karena aku tidak mencintaimu, Liam. Aku mohon, hentikan semuanya!” tegas Indah lirih.
“Cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan, Ndah. Kamu tidak percaya, aku bisa membuatmu mencintaiku? Yakin, sama sekali tidak ada rasa walau hanya sedikit darimu untukku?” balas Liam masih menyikapi kebersamaan dengan tenang.
“Pikirkan anak kita.” Liam mengingatkan, menyebut kartu AS yang juga menjadi senjata pamungkas hubungan mereka. Senjata yang juga mengharuskan hubungan mereka harus segera ada.
“Andaipun aku benar-benar hamil, aku bisa membesarkannya tanpa kamu!” Indah tetap dengan keputusannya.
Liam agak merangkak hanya untuk mendekati Indah. Ia terus mengajak wanita itu mengobrol, kemudian meraih tangan kanannya, dan tanpa wanita itu sadari, ia telah berhasil menyematkan cincin emas milik Indah, di jemari tangan kanan wanita itu.
Indah kebingungan pada ulah Liam yang begitu cekatan padahal awalnya, mereka sedang berdebat panas.
“Terima kasih banyak!” ucap Liam sambil menahan senyumnya dan menatap Indah dengan tatapan tulus yang dipenuhi cinta. Ia menganggap Indah sudah menerima lamarannya.
Ya ampun orang ini, ... kenapa dia begitu cepat mencintaiku dan semuanya benar-benar serba cepat? Batin Indah tetap tidak mau membalas dekapan Liam walau ketika ia mendapati cincin emas di jari manis tangan kanannya, perasaannya menjadi campur aduk.
Indah terus diam. Dalam diamnya, ia terus berpikir keras sebab andai ia mundur, akan ada konsekwensi yang harus ia hadapi. Namun andai ia maju, ia akan mengorbankan dirinya sendiri. Hanya saja, jika melihat cara Liam yang begitu menginginkannya ditambah apa yang telah terjadi di antara mereka, Indah merasa maju menjadi pilihan teraman.
“Liam, ... aku punya syarat!” ucap Indah akhirnya yang berangsur menunduk hanya untuk menatap Liam. Pria itu langsung menengadah menatapnya.
“Katakan,” ucap Liam lembut.
Setelah sampai menggigit kuat bibir bawahnya cukup lama, Indah yang sulit untuk memulai, malah dikejutkan oleh jemari tangan kanan Liam yang perlahan mencoba menyudahi ulahnya menggigitt bibir.
__ADS_1
“Kamu bisa melukai bibirmu sendiri,” lirih Liam pada Indah yang tampak kikuk sekaligus gugup kepadanya.
Sambil melirik sebal Liam, Indah berkata, “Sekali saja kamu membuat kesalahan besar, aku akan menghilang dan aku pastikan, kamu tidak akan pernah menemukanku!”
“Namun kemana pun kamu pergi, aku akan tetap bisa menemukanmu!” sergah Liam menepis syarat dari Indah.
Indah tak menanggapi karena memang telanjur tenggelam dalam pikiran buruknya sendiri. Menikah dengan pria yang sama sekali belum ia kenal latar belakangnya? Liam memang bosnya. Pria itu bahkan memiliki kesempurnaan fisik maupun rupa. Liam selalu bisa menarik perhatian hanya karena visualnya. Belum lagi, dalam urusan pekerjaan, Liam juga sudah tidak diragukan. Masalahnya, kenapa orang sesempurna Liam harus memilihnya yang terlalu biasa?
Liam berangsur berdiri. Pria tampan itu sengaja menunduk hanya untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Indah. Perlahan tapi pasti, Liam sengaja menempelkan kening dan juga hidung mereka.
“I love you ...,” lirih Liam sambil tersenyum lembut, menatap Indah dengan tatapan yang begitu sendu. Selain itu, kedua tangannya juga sudah sampai menggenggam kedua tangan Indah di bawah sana.
Namun, Indah buru-buru menggeleng. “Tapi aku belum ....”
“Kamu masih saja ragu aku tidak bisa membahagiakan kamu apalagi membuatmu mencintaiku?” sergah Liam masih berucap lirih sekaligus frustrasi. Di hadapannya, Indah yang menatapnya dengan tatapan tak kalah frustrasi, mengangguk-angguk. Malahan, mata Indah perlahan basah.
Liam yang tidak tega, berangsur menyudahi genggaman tangan mereka, kemudian menggantinya dengan mendekap Indah dengan sangat hangat sekaligus erat. Tak lama kemudian, isak tangis lirih terdengar bersama tubuh semampai Indah yang perlahan terguncang.
“Aku janji, aku akan membahagiakan kamu. Kita akan saling mencintai, dan pernikahan kita sungguh akan menjadi awal kebahagiaan kita,” yakin Liam berbisik sambil sesekali mengecup lembut kepala dan juga kening Indah.
Indah tidak tahu, kenapa hatinya terus meragu dan sangat sulit percaya kepada Liam. Seolah memang ada yang tidak beres. Jauh di lubuk hatinya, Indah malah merasa rasa ragunya ini tak ubahnya firasat.
“Jangan lupa syaratku,” ucap Indah di tengah isaknya.
Liam yang masih memeluk erat Indah, mengangguk-angguk. “Baik!” ucapnya yang kemudian mengunci ubun-ubun Indah dengan ciumman dalam.
__ADS_1
“Berhenti memaksaku dan biarkan semuanya, hadir dengan sendirinya,” lanjut Indah masih berucap lirih tapi kali ini, ia tak sampai sesenggukkan lagi.
Liam yang masih mengunci ubun-ubun Indah dengan ciumman dalam, berangsur mengangguk-angguk. “Baik!”