Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
16 : Top Up Berulang-Ulang


__ADS_3

Liam terbangun walau alarmnya tidak bunyi. Pria itu benar-benar memiliki kesadaran penuh. Kedua matanya langsung menatap wajah sang istri yang masih lelap di sebelahnya. Senyum di wajahnya hadir lantaran ia terlalu terpesona, ia terlalu mengagumi wajah sang istri. Wajah itu benar-benar cantik meski tak ada sedikit pun rias di wajah seorang Indah Gayatri. Malaikat dan bidadari, kedua ungkapan itu masih terlalu biasa jika dibandingkan dengan Indah Gayatri.


Di tengah suasana kamar yang remang dan hanya mengandalkan lampu meja di sebelah Liam sebagai penerang, Liam menarik selimut yang menutupi hingga bahu Indah. Ternyata wanitanya itu memakai piama lengan panjang lengkap. Sepertinya semalam, diam-diam Indah sudah sampai membersihkan diri. Padahal biasanya saat bersama Fello, istri pertamanya itu paling anti memakai pakaian meski wanita itu sudah sampai membersihkan diri setelah percintaan panas yang mereka lakukan. Namun Indah, keluguan Indah yang juga masih sangat malu kepada Liam, menjadi sumber tawa sekaligus kebahagiaan tersendiri untuk Liam.


 Liam menjadi lemas akibat tawa yang ditahan walau kedua tangannya sudah membingkai wajah Indah dan kini wanita itu terusik. Indah menyipitkan mata, menatap bingung kepadanya.


“Kamu kenapa?” lirih Indah yang langsung berusaha duduk sekaligus bangun.


Liam yang masih telanjangg dada, kesulitan menghentikan tawa yang juga pria itu tahan susah payah.


“Kamu kenapa?” Indah sampai meraih sebelah lengan Liam. “Kamu ketawa apa nangis, sih?” Ia sampai melongok wajah Liam yang memang menunduk.


Liam berangsur menatap Indah. “Kamu bukan pelawak, tapi rasanya kalau sama kamu, penginnya ketawa terus.”


Indah mengernyit heran kepada suaminya yang baginya aneh, meski ucapan Liam terdengar manis. “Aku rasa alarmku belum bunyi. Kamu bilang, kamu biasa bangun pukul lima, dan aku sengaja atur alarmku pukul setengah lima lebih seperempat. Rasanya, aku juga belum lama tidur.” Indah merasa, gara-gara Liam, malam ini dirinya menjadi kurang tidur.

__ADS_1


Liam mulai serius, menatap Indah dengan jarak yang lebih dekat. Istrinya itu tampak masih sangat mengantuk. Kenyataan Indah yang masih linglung menjadi buktinya.


“Pagi ini aku mau olahraga bareng kamu. Enggak perlu push up ratusan kali lagi karena olahraga bareng kamu pasti lebih membakar kalori sekaligus lebih sehat,” ucap Liam kembali menahan tawanya sebab Indah yang awalnya menyimak menjadi bergidik ngeri dan baru saja menggeleng.


“Kamu begitu karena kamu tahu maksud aku?” lanjut Liam masih berucap lirih dan sengaja memastikan. Di hadapannya, Indah mengangguk-angguk.


“Kemarin kan udah dari sore,” lirih Indah benar-benar heran. Ia juga sengaja mengingatkan, takut Liam lupa atau malah pria itu hanya sedang mengigau. Kini, kedua tangan Liam sudah kembali membingkai sekaligus mengunci wajahnya.


“Top up berulang-ulang, ke istri sendiri, apa salahnya?” bisik Liam tepat di depan wajah Indah yang kemudian mengecup kening Indah sangat dalam.


“Bahasamu ih,” lirih Indah di sela tawanya. Ia menggunakan tangan kanannya untuk membekap mulut sementara tangan kirinya meremas perutnya yang sudah langsung sakit karena tawa yang ditahan. Baru saja, Liam memeluknya dengan hangat. Saat sedang seperti sekarang, Indah merasa sangat beruntung sekaligus spesial lantaran memiliki sekaligus dicintai oleh seorang Liam.


Tak lama kemudian, tangan kanan Indah yang awalnya membekap mulut berangsur meraih sekaligus membingkai wajah kiri Liam. Begitupun dengan tangan kiri Indah yang berangsur membingkai wajah sebelah kanan suaminya itu. Indah terdiam cukup lama, menatap lekat wajah Liam penuh kagum di tengah suasana yang masih remang. Tatapan kagum yang kerap membuatnya tersenyum. “Ya sudah, ayo top up lagi.” Menahan tawanya, ia kemudian berkata, “Ayo top up berulang-ulang.” Masih tetap menahan tawanya, ia membenamkan wajahnya di leher Liam. Suaminya itu juga ia dengar menjadi menahan tawanya.


“Wekeend aku beneran off. Kita bisa ambil buat nyicil bulan madu. Dari Jumat malam.” Liam berbisik-bisik, kemudian mulai mengabsen kepala, telinga, leher, dan juga sekujur tubuh sang istri dengan ciumman dan memang bagian dari rutinitas top up mereka.

__ADS_1


Bersama Indah, Liam merasa sangat bebas. Tidak ada yang namanya bos dan memaksanya tunduk layaknya ketika sedang bersama Fello. Malahan di beberapa kesempatan, Indah terlihat sangat menyayangi sekaligus menghormatinya. Kini saja, meski Indah tampak sangat kelelahan bahkan jalan saja sampai sempoyongan, wanita itu tetap menyempatkan waktu untuk ke dapur. Indah akan merebus air untuk Liam mandi karena air di sana sangat dingin dan Liam belum terbiasa.


Gimana aku enggak makin sayang kamu kalau kamu saja care banget ke aku, batin Liam yang bergegas memakai piama lengan panjangnya kemudian menyusul Indah ke dapur.


“Kalau kamu berangkat pukul enam, aku enggak sempat buatin kamu bekal,” ucap Indah ketika ia memergoki kedatangan Liam. Ia menuang air dari termos ke gelas yang sudah berisi setengah air minum, kemudian memberikannya kepada Liam. Pagi ini ia benar-benar sibuk karena harusnya jika pukul enam Liam sudah harus berangkat ke kantor, harusnya ia sudah ada di dapur dan menyiapkan sarapan sekaligus bekal, sebelum pukul setengah enam. Paling tidak, pukul lima pagi ia sudah menyiapkan bahan sarapan sekaligus bekalnya.


“Sudah enggak apa-apa, nanti kamu kecapaian,” ucap Liam yang kemudian menenggak air minum pemberian Indah yang langsung menghangatkan tenggorokan, dada, bahkan lambungnya. Ia menghabiskan minuman tersebut kemudian mengecup sebelah pipi Indah sesaat setelah mengucapkan terima kasih.


“Sebenarnya ini masih keburu, sih. Tapi paling bekalnya nasi goreng. Bentar aku cek kulkas harusnya ada ayam, telur, pakai sayuran juga!” ucap Indah bersemangat yang buru-buru membuka pintu kulkasnya.


“Ini aku bantu ngapain?” sergah Liam tak mau hanya tinggal diam. Indah menyuruhnya untuk mendekat, membawa jagung manis, wortel, dan juga kacang panjang yang baru dipilih, untuk Liam cuci.


Bahagia, Liam sampai menjadi kerap tersipu dan benar-benar bersemangat. Setelah membawa air panas menggunakan ember ke kamar mandi yang keberadaannya bersebelahan dengan dapur, Liam tak membantu Indah lagi karena istrinya itu mewajibkannya untuk mandi. Sudah siang.


Liam : Mah, aku bahagia banget. Pagi ini aku dibuatin sarapan sekaligus bekal nasi goreng sama Indah. Indah pinter masak. Masakannya enak banget! Tadi, Indah juga bantuin aku seterika kemeja. Dia ngomel pas aku mau seterika baju sendiri soalnya biasanya aku juga gitu. Indah mirip banget sama mamah.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Indah, Liam memang mengabari sang mamah melalui pesan WA. Melalui kaca spion luar sebelah kanan bagian depan, ia mengawasi Indah yang masih melepas kepergiannya. Indah melakukannya seorang diri di jalan depan rumah makan yang mulai dihiasi kesibukan pekerja rumah makan.


__ADS_2