Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
15. Setelah Menikah


__ADS_3

Setelah semua tamu undangan undur, termasuk dari pihak keluarga Liam, Indah dan Liam juga melakukan hal serupa. Mereka memasuki kediaman rumah orang tua Indah, lebih tepatnya menuju kamar Indah.


Perasaan tidak nyaman itu membuncah menguasai Indah yang tentu saja masih merasa sangat canggung karena memang belum terbiasa. Terlebih sebelum sekarang, awal kebersamaan mereka merupakan atasan dan bawahan. Indah begitu segan sekaligus menghormati Liam. Meski ketika akhirnya malam naas itu terjadi, semuanya digantikan dengan benci. Namun kini, Indah harus mengubah rasa benci itu menjadi peduli. Sebab laki-laki yang sangat ia benci malah telah menjadikannya sebagai istri. Liam telah menjadi suaminya dan otomatis harus ia sayangi bahkan hormati.


“A-aku belum terbiasa,” ucap Indah tak berani menatap Liam. Ia terlalu tegang, takut jika pria itu kembali memaksanya meski jika dilihat dari cara Liam yang menjadi memperlakukannya dengan lembut, pria itu seolah tidak akan kembali menjadi pemaksa.


Kini saja, Liam sampai meraih sebelah tangannya kemudian menggandengnya dengan lembut.


“Nanti juga biasa. Ini mending enggak usah pakai heels. Takutnya kamu malah jatuh apalagi pakai jarit begini melangkah saja susah.” Liam sampai jongkok di sebelah depan Indah.


“Aku gendong, ya?” sergah Liam sembari tersenyum semringah dan menatap Indah penuh arti.


Kikuk bahkan malu, Indah nyaris tak berani menatap Liam dan yang ada, ia menjadi gelisah. “Masih ada orang ih!” lirihnya.


“Ya enggak apa-apa. Kan sudah nikah. Lagian, kamu tahu, kan, kalau aku mau langsung balas dendam sebelum aku balik sibuk kerja melebihi robot?” balas Liam masih berucap santai dan juga masih jongkok di hadapan Indah.


“Jangan sejarang, masih ada orang. Di kamarku pun ada perias yang mau bantu aku lepas riasan.” Indah masih berbisik-bisik karena memang hanya suara seperti itu yang ia bisa setelah pita suaranya bermasalah.


“Ya sudah, lepas heels kamu, daripada kamu jatuh.” Liam melepas sepatu Indah dengan hati-hati, kemudian menentengnya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan tetap menggandeng tangan Indah, membuat ruas jemari tangan mereka mengisi satu sama lain.


“Air di sini dingin banget,” ucap Liam masih mengikuti langkah Indah. Wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu masih belum mau menatapnya secara terang-terangan. Antara kesal, tapi juga malu.


“Kalau kamu memang mau mandi dan enggak terbiasa pakai air dingin, nanti aku rebusin air,” balas Indah masih cuek.


“Enggak ada tawaran lain?” sergah Liam.


Indah langsung melirik Liam sarat curiga. “Kamu kayak pengalaman banget?” todongnya sambil terus melangkah pelan. Liam langsung diam dan terlihat kebingungan. Namun tak lama setelah itu, Liam hanya berdeham. Pria itu menjadi irit bicara, hingga Indah menjadi merasa bersalah.


“Aku keterlaluan, ya?” tanya Indah karena meski dua jam telah berlalu dan mereka tengah duduk di tempat duduk yang ada di depan rumah makan, Liam masih diam.

__ADS_1


Mereka tak lagi memakai pakaian pengantin. Mereka telah memakai pakaian biasa. Sementara kini, Liam yang berangsur menatap Indah dengan tatapan yang begitu teduh, berangsur tersenyum. Liam membingkai lembut wajah Indah menggunakan kedua tangannya, memandanginya makin intens, kemudian menghela napas dalam.


Mengangguk-angguk, Liam berkata, “Iya, kamu keterlaluan. Terlalu cantik, ... terlalu lembut. Terlalu cepat bikin aku sayang bahkan cinta, hingga aku juga terlalu takut kehilangan kamu.”


Indah refleks berdeham. Pujian yang Liam lakukan langsung membuatnya kacau. “Kamu bikin aku deg-degan. “Jujur, aku enggak suka digombali.”


“Memangnya kapan aku nggombalin kamu? Yang tadi menurut kamu menggombal?” balas Liam.


Indah langsung tidak bisa menjawab. Malahan, Liam memilih merebahkan kepalanya di pangkuannya.


“Kamu enggak ingin jalan-jalan? Mumpung bukan weekend dan enggak macet banget. Kalau mau ayo,” ucap Liam yang sudah memejamkan kedua matanya.


Liam terlihat sangat lelah, sementara jika melihat jalanan di hadapannya, benar-benar macet terlebih di sana memang jalan sekitar menuju wilayah puncak.


“Kamu capek banget?” lirih Indah yang kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mengelus-elus kepala Liam.


Liam berangsur membuka kedua matanya. “Aku ingin anak.”


“Serius!” balas Liam masih berucap lirih. Kenyataan yang sudah menjadi kebiasaannya sejak awal pertemuan mereka.


Indah tak langsung menjawab, dan memang sengaja merenung. “Jadi, kalau aku enggak bisa kasih kamu anak, ... otomatis kamu jadi enggak sayang apalagi cinta lagi ke aku?”


Liam langsung menggeleng tegas. “Aku akan selalu mencintai kamu. Aku akan tetap begitu walau kamu ragu bahkan tidak percaya kepadaku!”


Hati Indah terenyuh mendengar ucapan tersebut. Tangan kanannya refleks membungkam mulut Liam agar pria itu berhenti bicara, sementara tangan kirinya sengaja menutupi mata Liam.


“Apa yang kamu katakan terlalu manis,” ucap Indah.


“Gara-gara malam itu, kamu jadi marah bahkan benci ke aku?” ucap Liam meski mulutnya masih dibungkam.

__ADS_1


Namun, Indah masih bisa mendengar suara Liam dengan jelas. “Enggak sih, aku sudah mulai goyah karena biar bagaimanapun, kamu suami aku.”


Balasan Indah yang terdengar jujur, langsung membuat Liam menahan tawanya.


“Mamah kamu sangat menyayangi kamu. Mamah sangat mengkhawatirkan kamu. Mamah sangat menyayangi kamu. Jangan banding-bandingkan kami, ya. Karena apa pun yang terjadi, aku pasti akan menjalankan peranku dengan sebaik mungkin. Istri dan ibu kan beda,” ucap Indah masih membekap mulut Liam, sekaligus menutupi kedua mata pria itu.


“Aku mau ciumm,” lirih Liam.


Indah berangsur menyibak kening Liam, kemudian mengecup sangat lama di bagian sana.


“Mengenai anak, jangan terlalu dipikirkan. Kita bisa mengadopsinya,” lirih Liam tak lama setelah Indah menarik tangan kanannya dari mulutnya.


“Aku pasti bisa memberimu anak. Jangan khawatir! Mau berapa, asal diatur biar semuanya keurus. Soalnya aku juga pengin punya banyak anak karena jadi anak tunggal beneran enggak enak!” balas Indah mengomel dan hanya menatap Liam melalui lirikan lantaran pria itu sudah sibuk menatapnya. Liam melakukannya sambil terus tersenyum lembut. Kenyataan yang jujur saja membuat Indah merasa diperlakukan dengan sangat spesial oleh Liam.


“Ayo kita mulai perencanaan anak?” lirih Liam sambil tersenyum penuh arti. Benar-benar kode keras hingga Indah yang sadar mengenai status sekaligus tugasnya sebagai istri Liam, tak kuasa menolak. Malahan, Indah merasa Liam benar-benar menganggapnya spesial. Pria itu tak lagi memaksa.


Kebersamaan mereka yang diwarnai percintaan hangat layaknya pengantin baru pada kebanyakan tak lagi disertai paksaan. Liam benar-benar memperlakukan Indah dengan lembut. Meski di beberapa kesempatan, Indah dibuat bertanya-tanya mengenai pengetahuan Liam dalam urusan ranjang yang benar-benar lihai. Liam terkesan sangat berpengalaman, terus membimbing Indah yang masih nol besar, agar mereka sama-sama menikmati percintaan mereka.


“Liam, kamu mencurigakan!”


“Aku bukan *******. Aku suamimu, jadi berhentilah mencurigaiku. Pengin aku balas dendam sampai besok?”


“Ya ampun Liam, kira-kira. Ini saja kita sudah terlalu lama di kamar. Lagian, besok kamu juga kerja, kan? Kita bahkan melewatkan makan malam. Jadi enggak enak ke mamah papah!”


Liam menertawakan rengekan Indah yang kali ini. Ia mengeratkan dekapannya pada tubuh Indah yang memang sudah ada dalam dekapannya. Istrinya itu bersembunyi di balik gulungan selimut. Malu, tak mengizinkannya melihatnya dalam keadaan polos tanpa busana. Padahal dari sore hingga kini nyaris tengah malam, mereka melakukannya dan benar-benar tanpa busana. Namun setelah selesai, Indah buru-buru mencari selimut kemudian menutup tuntas tubuhnya sambil membelakangi Liam. Alasan yang membuat Liam tidak bisa untuk tidak menertawakannya.


“Aku pesankan makanan, ya, kamu harus tetap makan,” ucap Liam di sela tawanya.


“Di dapur pasti juga ada makanan dan sudah disiapkan khusus buat kita. Tapi bentar, biarkan aku bernapas dengan lega dulu. Biar aku juga enggak begitu malu!” balas Indah.

__ADS_1


“Kamu ngapain malu, sih?” Liam kembali sibuk menahan tawanya. Kebersamaan yang benar-benar berbeda ketika ia bersama Fello.


__ADS_2