Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
34 : Salah Alamat


__ADS_3

Indah langsung dirujuk ke IGD. Di sana, Liam dan sang mamah mertua juga turut serta. Indah dideteksi mengalami serangan jantung karena terlalu terkejut.


Penanganan langsung dilakukan dengan cepat karena Indah sampai pendarahan. Beruntung setelah dipastikan, Indah belum sampai mengalami pembukaan. Namun setelah luka luar diobati, Indah diboyong ke ICU untuk menjalani pengobatan intensif.


Lemas, dunia seorang Liam seolah hancur tak berupa. Pria itu terduduk di pinggir pintu tak lama setelah dokter maupun perawat yang mengurus Indah, pergi dari ruang ICU Indah dirawat. Indah belum sadar karena tekanan darahnya juga mendadak sangat tinggi. Padahal sebelumnya karena kemarin Indah baru periksa, semuanya normal karena Indah memang dinyatakan sehat.


Melihat Liam yang terlihat sangat terpukul, mamah Indah sengaja mendekat. Wanita itu agak membungkuk kemudian menepuk-nepuk bahu kanan Liam.


“Yang sabar. Yakin kita bisa lalui ini.” mamah Indah melongok keadaan Indah dari kaca pintu yang ada di atas knop pintu. Dari sana ia bisa melihat keadaan Indah yang mulutnya dihiasi selang ventilator, selain beberapa kabel yang tertempel di dada Indah. Tak kalah mengerikan, tentu suara bib bib bib dari mesin EKG yang mengontrol kinerja jantung Indah.


Semuanya sungguh terjadi sangat cepat. Indah yang awalnya sehat wal afiat kini malah menjadi terbaring lemah di ICU yang sekadar bernapas saja harus memakai alat bantu. Padahal sebelumnya, Indah sangat aktif. Semacam urusan masak dan beres-beres rumah, Indah urus sendiri, selain Indah yang juga turut merawat sang mamah mertua.


Kini, susah payah Liam menahan diri agar dirinya tidak menghubungi Fello. Liam sampai gemetaran lantaran ia sudah ingin mengamuk wanita itu setelah apa yang terjadi kepada Indah. Namun, Liam tidak akan melakukannya walau ia sudah sangat ingin memberi Fello pelajaran, bahkan parahnya menghabisii wanita itu menggunakan kedua tangannya.


Kamu akan capek sendiri, Fello. Kamu akan menuai karma dari semua kejahatan yang kamu lakulan! Dalam hatinya, Liam juga sangat ingin membawa kasus Riko ke meja hijau. Namun sayangnya, tampaknya orang tua Riko sudah mengantongi ganti rugi dengan jumlah sangat besar.


Kuat, Ndah. Kuat demi kita. Kita pasti bisa lalui ini. Kita bisa, Ndah, batin Liam.


Seharian menjaga Indah, tetap tidak mendapatkan kabat baik. Namun dini hari, sekitar pukul setengah dua pagi, suster mengabarkan Indah sadar. Indah haus dan Liam yang langsung memakai seragam APBD langsung membantu istrinya itu minum.


Menggunakan sedotan, Indah minum dengan sangat pelan.


“Pelan-pelan.” Liam berbisik lirih kemudian melepas maskernya dan mengecup sayang kening Indah.


“Aku takut,” Lirih Indah berkaca-kaca menatap Liam.

__ADS_1


Liam yang sedari awal Indah tertabrak sudah kerap menangis, kini juga kembali menangis. “Jangan takut,” yakinnya.


“Aku beneran takut enggak kuat. Yang di perut, ... Yang di perut, baik-baik saja, kan?” lirih Indah. Tak beda dengan Liam, kedua mata sayunya juga menjadi basah. Namun baru saja, Liam kembali memasukkan selang ventilatornya ke dalam mulut Indah.


“Kita bisa melewati ini. Aku yakin. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu di sini bersamamu,” bisik Liam yang memang sampai mendekap kepala Indah. Ia sampai merebahkan kepalanya di sebelah kepala Indah. Mereka sampai ada di bantal yang sama.


“S-sayang ... keringatku banyak banget,” lirih Indah.


“Bentar-bentar aku kompres. Aku ambil handuk kompresnya dulu ke mamah.”


“Jangan lama ... aku takut.” Indah benar-benar takut, kepergian Liam menjadi alasannya tidak bisa melihat pria itu selama-lamanya hanya karena sakitnya.


Liam sampai berjalan mundur agar mereka terus mengobrol dan sebisa mungkin terus bertatapan.


“Sayang, ... apakah yang menabrakku, Fello? Kenapa dia jahat sekali.”


“Percayalah, ... cepat atau lambat, dia akan menuai karmanya. Sekarang kamu fokus istirahat. Tidur lagi.”


“Aku enggak mau memejamkan mataku karena takutnya, setelah itu aku enggak bisa buka mata lagi. Pas Mas Riko pun gitu. Aku memintanya untuk istirahat, ... aku memintanya untuk tidur, tapi sampai sekarang, dia tetap enggak bangun,” lirih Indah yang kali ini sampai merengek.


Ucapan Indah barusan membuat Liam merasa sangat nelangsa. Liam sampai tak bisa berkata-kata. Di tengah air matanya yang kembali berlinang, Liam mengunci ubun-ubun Indah menggunakan ciuman dalam. “Sekarang ganti baju, ya? Yang ini basah.”


“Iya ... ini lampunya enggak boleh nyala, ya?” lirih Indah. Ada di ruang gelap pun membuatnya menjadi ketakutan. Ia tak mau pergi terlalu cepat karena ia yakin, kenyataan tersebut akan sangat menghancurkan Liam.


Seperti yang Liam yakini, di bar pribadi yang ada di kamar, Fello tengah menikmati wine. Tak ubahnya suasana sebuah diskotik, di sana suasananya juga remang lengkap degup musik kencang. Meski tangan kanan memegang gelas berkaki panjang dan isinya masih ada setengah, Fello yang tak lagi memakai pakaian syari apalagi cadar, tengah membebaskan dirinya berjoged ke sana kemari.

__ADS_1


Indah sampai masuk ICU, berarti luka wanita bisu itu parah, batin Fello yang memang tengah merayakan kemenangannya. Sungguh, parahnya luka yang harus Indah rasa menjadi kebahagiaan tersendiri bahkan kemenangan untuknya.


Andaipun dia tetap hidup, paling tidak, dia pasti akan mengalami luka fatal. Selain itu, aku juga akan mengungkap hubunganku dan Liam kepada si bisu itu! Batin Fello.


Padahal di tempat berbeda, sakitnya Indah malah menjadi pengerat hubungan kedua sejoli itu. Liam yang begitu pengertian dan mengurus segala keperluan Indah. Juga, Indah yang perlahan tidak ketakutan lagi hingga detak jantung maupun tensi darahnya tak kacau lagi.


“Sayang, ... aku pengin makan itu, lho. Duh laper banget. Tuh, perutku sampai bunyi,” rengek Indah di paginya setelah Liam menyekanya, memperlakukannya layaknya bayi lantaran pria itu sampai membedaki tubuhnya menggunakan bedak bayi setelah sebelumnya, Liam juga sampai membaluri tubuh Indah dengan minyak telon aroma sereh.


“Nanti sore katanya kamu boleh keluar dari sini. Nanti siang kamu sudah bisa di ruang rawat biasa. Ketakutan mereka kalau kamu akan kesulitan menurunkan tensi darah kamu, enggak terbukti,” lirih Liam sambil mengancing kancing piama lengan pendek warna merah permen yang ia kenakan pada Indah.


“Aku bisa karena kamu. Aku sudah enggak setakut sebelumnya. Tapi sekarang aku ngantuk banget.”


“Karena kamu enggak tidur dari kemarin. Sekarang tidur, ya? Aku bakalan selalu di sini. Aku bakalan jagain kamu,” yakin Liam.


“Tapi aku pengin makan bakso panas pakai sayur, kasih sambal sama cuka dikit,” rengek Indah.


“Sumpah, itu pasti enak banget! Serius, aku juga pengin itu. Bentar aku telepon papah kamu buat minta beliin, ya. Papah kan lagi ke sini!” sergah Liam bersemangat.


Indah yang sudah tidak memakai bantuan ventilator lagi untuk bernapasnya, langsung mesem. Suaminya itu masih menatapnya penuh cinta.


Sepertinya Fello salah alamat. Dia berharap mengirimkan luka dan juga kerapuhan dengan percobaan pembunuhan yang dia lakukan. Namun, apa yang sekarang terjadi? Kami makin mencintai dan cinta Liam kepadaku juga makin besar jika aku sedang kesakitan seperti sekarang, batin Indah. Meski jujur saja, sampai detik ini, ia belum bisa menggerakkan kedua kakinya.


“Sayang, kaki aku enggak bisa gerak, lho,” rengek Indah.


“Enggak apa-apa. Pelan-pelan. Bisa jadi tulang kaki kamu semacam trauma apalagi sepertinya, kematian Riko menjadi alasan kamu trauma, selain kamu yang menjadi sulit untuk menghindari trauma itu,” balas Liam santai kemudian memasukkan bedak dan juga minyak telonnya ke dalam ransel di sebelah kaki kanannya.

__ADS_1


__ADS_2