
Setelah melewati proses panjang, akhirnya besok akan menjadi peresmian penginapan sekaligus resto kekinian milik Liam dan Indah. Liam dan Indah sepakat memberi nama usaha mereka A Door To Heaven, atau disingkat ADTH.
Walau sudah malam, Liam tetap mengajak Indah mengawasi penginapan sekaligus resto mereka. Dari luar apalagi dalamnya, penginapan dan resto mereka sungguh manis. Hampir semua sudut di luar dihiasi gemerlap lampu kecil berwarna putih keemasan. Termasuk di bagian jembatan gantung tali yang juga terhubung ke sana kemari, membuat taman dan juga sudut ruangan out door yang masih dihiasi sedikit taman, tetap tampak hidup walau malam membuat kehidupan berselimut kegelapan.
Jembatan tali beralas kayu kokoh di sana, terbentang dari depan setelah pintu masuk. Sementara tepat di depan lobi, jembatan talinya sengaja dibuat menyerupai anak tangga untuk turun atau naik. Melalui jembatan tali gantung tersebut, pengunjung juga bisa menuju resto bagian paling belakang yang memiliki view memukau. Panjang jembatan gantung tersebut sendiri nyaris satu kilo meter karena memang sampai perbatasan curug.
Kini, Liam tengah membawa Indah menuju perbatasan curug. Terdengar deru air terjun yang benar-benar menebarkan ketenangan. Liam nyaris ketiduran karena melihat wajah cantik istrinya saja sudah sangat membuatnya damai, ditambah dengan suasana di sana yang sungguh membuat canndu.
Indah tersenyum damai menikmati ekspresi damai dari sang suami yang tengah memejamkan kedua matanya. Ekspresi yang sudah sangat jarang ia dapatkan apalagi tiga hari terakhir, penginapan sekaligus resto mereka selalu disserang. Jika bukan llemparan batu atau telur busuuk, ada saja yang nekat menyiram menggunakan bensin kemudian berusaha membakarrnya. Beruntung, warga setempat yang memang mereka pekerjakan dengan suka rela menjaga, ronda mengamankan situasi di sana. Tentu saja sudah bisa diperkirakan siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan pak Wijaya. Indah yakin seyakin-yakinnya. Sebab setelah diabaikan Liam, kewarasan Fello sungguh terganggu. Fello bahkan dikabarkan beberapa kali menginap di RSJ.
“Sayang, pelluk dong,” rengek Indah yang kemudian mendekati Liam. Suaminya itu langsung menatapnya, menyambutnya dengan senyuman yang kian membuat ketampanannya tak ada batasan.
“Dari samping,” rengek Indah. Karena semenjak perutnya makin besar, sekadar pelukan saja menjadi sulit mereka lakukan. Namun lagi-lagi, Liam memiliki cara untuk selalu membuatnya nyaman. Pria itu akan dengan sangat sabar memanjakannya yang mulai kehilangan banyak stok kesabaran. Sebab semenjak kehamilannya makin besar, Indah menjadi pribadi sennsitif yang juga gampang menangis.
“Sayang, jujur yah ... penginapan dan resto ini beneran kayak pintu ke Surga. Indah banget apalagi kalau malam begini,” lirih Indah yang sudah didekap mesra Liam. Suaminya itu mengunci ubun-ubunnya menggunakan ciumman.
“Semua konsep kamu yang atur. Kamu luar biasa banget. Nanti semacam kebun ang-gurnya menyusul soalnya aku belum nemu petani buah angg-ur yang cocok,” balas Liam yang jika sedang memeluk Indah, menjadi hobi berbicara tepat di depan wajah wanitanya itu hingga punggung hidung mereka sampai menempel.
“Sayang, kamu enggak mau ajak aku menginap di sini juga? Tiga malam tiga hari, kayaknya seru,” rengek Indah sambil menatap manja suaminya yang malah menertawakannya.
“Sayang serius. Sepertinya ini mengidam. Kalau enggak, malam ini juga kita menginap soalnya aku lihat, yang boo-king sudah antre!” rengek Indah lagi.
__ADS_1
Kali ini Liam mengangguk-angguk sanggup. “Masih sanggup jalan, apa mau aku gendong?”
Tanpa menatap Liam, Indah yang menunduk sekaligus tersipu malu, berkata, “Gendong juga enggak apa-apa kalau kamu memang memak-ksa.”
Liam masih menahan tawanya. “Iya, aku memang gitu. Bakalan terus makksa kamu kalau kamu menolakku. Dari awal kita ada juga gitu, kan?”
Mendengar itu, Indah langsung menatap Liam sambil tertawa. Kemudian, sebelum Liam benar-benar menggendongnya, Indah sengaja mengabadikan momen kebersamaan mereka di sana melalui bidikk kamera. Dari foto maupun video, dan semua itu Indah unggah di instagrram miliknya.
“Tandai aku, terus kirim ke WA aku biar aku bisa unggah langsung juga,” ucap Liam yang berdiri di belakang Indah. Tangan kiri Liam masih mengunci di bawah perut Indah yang sudah makin besar.
Di depan Liam, Indah menjadi terdiam ragu. Terpikir olehnya, apakah suaminya itu akan mulai mempublikasikan hubungan mereka?
“Sayang, kamu yakin?” tanya Indah. “Kamu yakin, mau mempublikasikan hubungan kita?”
Tiba-tiba saja dunia seorang Indah menjadi berputar lebih lambat. Baiklah, aku siap! Batin Indah yang kemudian mengirimkan foto maupun video mereka yang Liam minta.
Bak seorang artis yang selalu ditunggu kabar terbarunya, unggahan Liam langsung diserbu banyak komentar. Banyak yang terkejut, tak sedikit pula yang memberikan selamat. Namun, Liam dan Indah kompak tidak mempermasalahkan setiap anggapan miring terhadap hubungan mereka.
“Ayo, gendong!” sergah Liam siap membopong Indah yang jalannya sudah kembali normal.
“Berat badan aku udah naik enam kilo, loh!” ujar Indah sengaja mengingatkan. Belum apa-apa, ia sudah gugup tapi ia sengaja menyembunyikannya karena andai Liam tahu, suaminya itu pasti akan menertawakannya.
__ADS_1
“Tiap malam apa subuh kan juga selalu aku gendong kamu,” balas Liam mengingatkan sekaligus meng-goda sang istri yang detik itu juga menjadi salah tingkah sekaligus tertawa.
Liam bergegas membopong Indah, tapi kali ini, ia mendadak encok. Indah yang awalnya sudah tersenyum girang, langsung khawatir.
“Sayang, serius. Jangan bercanda terus. Aku lagi hamil!” ucap Indah yang kali ini merengek tapi juga mengomel.
“Oke ... oke,” ucap Liam masih sibuk meringis.
Indah yang masih duduk menjadi menyikapi keadaan sang suami dengan serius. “Eh kamu beneran encok? Kirain pura-pura! Ya sudah, ayo kita jalan saja,” sergahnya sambil duduk dan kemudian berdiri.
“Eh, enggak ... enggak. Aku bakalan tetap gendong kamu. Tapi bentar, peregangan dulu sebentar,” ucap Liam yang sungguh langsung melakukan peregangan.
Sendi-sendi Liam silih berganti bunyi. Indah yang menyaksikannya sampai ngeri. Namun pada akhirnya, suaminya itu benar membopong Indah. Malahan, Liam tak membawa Indah pulang ke kediaman orang tua Indah. Liam membawa Indah ke area penginapan.
“Ini bau-baunya, suamiku jadi rasa jin, apa-apa langsung dikabulin!” ucap Indah yang menjadi malu-malu.
“Suamimu memang sudah ber-guru ke jin. Makanya apa yang kamu minta selalu berusaha dia kabulin. Tinggal cari panci ajaibnya saja!” balas Liam di sela senyumnya.
“Kamu mau pilih kamar yang mana?” sergah Liam kemudian dan masih membopong Indah. Mereka sudah memasuki area penginapan dan baru saja meninggalkan jembatan gantungnya.
“Ih serius bisa sampai milih? Suamiku keren banget, jin saja lewat!” Kali ini Indah sengaja memuji.
__ADS_1
Liam yang menjadi sibuk menahan tawa berkata, “Jinnya lewat soalnya lagi buru-buru. Mau boo-king penginapan sudah penuh ....”
***