
“Jadi, sebelum persalinan, kamu mau jalan-jalan ke mana?” tanya Liam yang menghampiri Indah.
Indah yang masih berdiri menghadap kepergian Fello langsung menoleh ke sumber suara. Ia menatap Liam sambil tersenyum tanpa berniat membagi kisah pertemuannya dengan Fello kepada Liam.
“Mau pergi ke mana? Yang lain saja kompak ke tempat kita,” ucap Indah seiring ia yang membiarkan Liam merangkulnya gemas dari samping.
“Belanja keperluan bayi lagi, yuk?” ajak Liam bersemangat. Rasanya, tak ada alasan untuk tidak membahagiakan wanita dalam rangkulannya. Indah selalu mencintainya dengan tulus bahkan walau ia sedang dalam keadaan paling bu-ruk sekalipun.
“Bayi yang mana? Kita kan sudah beli semuanya. Termasuk ranjang bayi pun sudah ada dua. Belanja keperluan bayi tua, berarti, ya?” sergah Indah mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil.
Liam langsung sibuk menahan tawanya.
“Keliling dulu, yuk? Tapi serius, sebenarnya aku pengin santai di jembatan.” Indah cemberut manja.
“Ya sudah, ayo aku jagain,” sigap Liam.
“Enggak, ah. Aku segede ini. Takutnya ambruk jembatannya,” balas Indah merengek. Lihatlah, Liam malah menertawakannya. Suaminya itu tertawa geli dan menggunakan tangan kanan untuk membekap mulut.
“Gini loh, Yang. Menampung banyak orang saja, kuat. Masa iya kamu enggak. Berat badan kamu kan hanya tambah dua puluh kilo, kan?” balas Liam serius.
“Dua puluh kilo apa? Yang bener itu tambah dua puluh kilo koma empat ons! Segitu kok hanya,” balas Indah mengoreksi ucapan Liam.
Liam kembali menahan tawanya. “Ya sudah, aku jagain.” Liam menuntun Indah untuk menaiki anak tangga menuju jembatan gantung.
“Takut ambruk, Mas ....” Indah ragu dan sampai mogok tidak mau naik. Mereka yang baru datang sampai kebingungan dan membuat Indah minggir hingga Liam turut mengikuti.
“Kamu enggak segendut itu, Sayang. Ih kamu ... ayo ... ayo. Lihat anak-anak lagi cari tutut lagi buat kamu. Semalam kamu bilang pengin makan tutut lagi, kan?” Liam masih sibuk membujuk.
“S-serius mereka lagi cari tutut buat aku?” Indah langsung bersemangat apalagi ketika Liam mengangguk sambil tersenyum kepadanya. “Ya sudah, aku sekalian minta keong. Pengin sate keong lagi!”
“Anak kita memang putri sama putra mahkota keong apa gimana, sih? Kok kamu demen banget makan keong?” balas Liam yang kemudian berkata, “Anak-anak bilang, keongnya biasa buat pakan bebek sama lele dumbo loh, Yang!” ucap Liam terheran-heran.
Indah langsung tak bisa berkata-kata saking syoknya lantaran sang suami menyamakannya dengan bebek dan lele dumbo. “Ih Sayang, tega banget. Masa iya kamu nyamain aku sama bebek, lele dumbo juga!”
Liam terkikik geli. Tak mau berdebat lagi, ia membopong Indah kemudian membawa Indah naik ke jembatan gantung.
“Sayang, hati-hati,” lirih Indah mengingatkan. Ia benar-benar takut jembatan mereka ambruk lantaran ia sadar, hamil kembar dan bobot bayi juga normal, membuat berat badannya membengkak jauh dari normal.
“Eh goyang-goyang!” Liam sengaja menjaili Indah dengan mengguncang-guncang kedua tangannya yang membopong Indah. Indah yang langsung panik menjadi sibuk mengomel kepadanya, selain kedua tangan Indah yang mencengkeram erat kemeja bagian pundak dan dadanya.
Liam membawa Indah ke jembatan yang ada di belakang rumah orang tua Indah.
“Nanti kalau sudah ada rezeki, aku jadi bayar tanah papah mamah kamu,” ucap Liam.
Indah yang sudah tak lagi dibopong tapi tetap digandeng erat oleh Liam, langsung menatap Liam. Kemudian, ia mengamati pekarangan belakang rumah orang tuanya. “Nanti, ya ...,” ucapnya sambil merenung keras.
“Bagaimana? Kamu mau kasih saran?” ucap Liam.
__ADS_1
Indah menatap Liam. “Gini, nanti di sana dibikin penginapan konsepnya rumah pohon, tapi wajib ada WC-nya!”
Liam mengernyit serius, menatap Indah dengan lebih dekat lagi walau sebenarnya mereka sudah bersebelahan. Di tengah beberapa lalu lalang pengunjung yang lewat di belakang mereka, ia bertanya, “Kamu lagi pengin rumah pohon?”
Indah langsung mengangguk dan berkata, “Iya ... ini diam-diam aku pengin tidur di rumah pohon. Masalahnya aku sadar diri. Gini loh, Yang. Kalau ada orang lain yang lewat saja, sekitar kita jadi goyang-goyang. Berasa diayun gini, kan!”
Balasan terakhir Indah yang sampai berbisik-bisik, membuat Liam makin gemas kepada tingkah istrinya itu. Ia langsung memeluk Indah dari belakang.
“Kalau gitu, aku enggak perlu bangun rumah mewah-mewah buat kamu karena kasih kamu rumah pohon saja sudah cukup, kan?” ucap Liam sambil memben-tur-ben-turkan dagunya pelan di ubun-ubun Indah.
Indah langsung menengadah, tersenyum menge-jek Liam. “Yakin? Kamu, kasih barang atau makan biasa ke aku saja, kamu sudah sangat sedih, kamu merasa bersalah banget. Mana mungkin kamu tega kasih aku dan anak-anak tempat tinggal yang biasa saja.”
Liam langsung menahan tawanya. “Tahu banget.”
“Eh, aku sering mergokin kamu nangis malam-malam setelah merhatiin aku pas aku pura-pura tidur,” sergah Indah.
Pengakuan Indah kali ini benar-benar membuat seorang Liam bingung.
“Nahkan bingung!” Indah tertawa bahagia. Ia berangsur balik badan kemudian meraih kedua sisi wajah Liam menggunakan kedua tangannya. Bibirnya nyaris menempel di bibir Liam, tapi karena perutnya yang sangat besar, ia tak bisa melanjutkan dan detik itu juga, giliran Liam yang menertawakannya.
Liam langsung melipir, meraih wajah Indah dari samping kemudian melanjutkan ciu-man yang sempat tertunda gara-gara perut besar Indah yang membuat mereka terbatas melakukan segala sesuatunya.
“Kita ke toko perhiasan, yuk? Gelang Arla dan Agiel sudah jadi,” ucap Liam.
“Kamu pesan gelang buat anak-anak? Kok kamu enggak bilang-bilang?” sergah Indah.
Setelah sebelumnya sempat mampir ke sebuah mal, Indah dan Liam juga sampai membeli pompa ASI. Kemudian Indah mendadak memiliki ide untuk membeli keperluan ASIP lainnya termasuk itu sebuah kulkas kecil. Rencananya, Indah ingin memberi putra dan putrinya ASI secara ekslusif minimal hingga keduanya berusia satu tahun. Namun andaipun tidak bisa, Indah akan tetap melakukan yang terbaik.
Kemudian, kebersamaan mereka berlanjut ke toko perhiasan yang keberadaannya memang masih ada di dalam mal tersebut. Ternyata Liam tak hanya memesan gelang untuk Agiel dan Arla, maupun Indah. Karena Liam juga membeli untuk dirinya. Gelang mereka berupa gelang emas polos, dan di masing-masing gelang ada nama mereka sebagai pemiliknya. Tampak simpel tapi berkelas.
“Sayang, aku mau gelang yang bisa bunyi,” lirih Indah setelah membiarkan Liam langsung memasangkan gelang miliknya kepadanya.
Liam langsung kebingungan. “Hah, gelang yang bisa bunyi bagaimana? Gelang kan enggak ada baterainya?”
Indah menahan tawanya. “Itu, yang ada mainannya. Kerincing-kerincing bunyinya. Itu yang itu, cantik. Yang emas jangan yang putih.”
“Oke ... oke, sekalian saja,” sergah Liam langsung meminta diambilkan kepada petugasnya.
“Tapi Sayang, memangnya muat?” sergah Indah mendadak panik. Ia memang menjadi sangat sensitif dengan berat badan sekaligus bentuk tubuhnya.
“M-muat, Yang. Kamu masih langsing, kok. Cuma perut, tangan sama kaki kamu saja yang lagi mengikuti proses pelebaran.” Liam meyakinkan, tak mau istrinya stres. Karena meski Indah sampai tertawa layaknya sekarang, sebentar lagi Indah pasti kembali panik mempermasalahkan bentuk tubuh sekaligus berat badannya.
“Mau langsung dipakai?” tawar Liam ketika gelang rante pilihan Indah, sudah ia terima dari karyawan yang membantu mereka. Indah tersenyum ceria sambil mengangguk. Kenyataan yang juga langsung membuat Liam merasa tak kalah bahagia.
“Sayang, semuanya sudah dibayar, ya? Transaksinya sudah beres semua?” sergah Indah kemudian karena dari tadi, Liam juga sudah langsung mengurus pembayaran perhiasan mereka.
“Kenapa?” tanya Liam menatap serius Indah setelah ia juga meraih setiap nota sekaligus surat perhiasan yang dibeli.
__ADS_1
“Kamu masih punya rezeki?” lanjut Indah kali ini berbisik-bisik.
Tetap menatap serius Indah mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, mereka pulang dengan penuh senyuman. Senyum yang langsung bertambah ketika mereka melihat tanggapan bahagia dari mamah mereka ketika mereka menghadiahi keduanya cincin.
“Memangnya kalian punya uang lebih?” ucap ibu Dwiningsih yang duduk bersebelahan di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.
Nyonya Nani menyikut sinis sang besan hingga yang bersangkutan langsung menatapnya. “Ini bentuk sogokan karena mereka akan punya banyak anak, dan sebagai oma, kita harus bantu-bantu!”
Mendengar itu, tak hanya Liam dan Indah yang tertawa. Karena ibu Dwiningsih termasuk nyonya Nani yang mengatakannya pun, sampai terbahak.
“Kalian pinter, yah, asal suap begini!” ujar ibu Dwiningsih yang tentu saja hanya bercanda. Liam dan Indah yang duduk bersebelahan di sofa tunggal tampak kesulitan mengakhiri tawa mereka.
“Serius, ini murni ide Indah, Mah!” ujar Liam mencoba lepas tangan.
“Ya iya ini rencana Indah, memangnya siapa lagi kalau bukan Indah? Yang selalu memikirkan semuanya dengan baik dan juga sangat rinci memang Indah, kan?” sergah nyonya Nani. “Kamu? Ya enggak mungkin kamu sampai mikirin yang lain, kalau pikiranmu saja sudah penuh sama Indah. Itu harusnya di kepala kamu diadakan transmigrasi apa urbanisasi sekalian.”
Candaan lanjutan dari nyonya Nani, makin membuat kebersamaan diselimuti tawa hangat. Seperti yang Indah duga, walau cincin emas yang mereka belikan untuk mamah mereka bukanlah cincin emas yang berharga fantastis, tetapi kenyataan tersebut sukses membuat mamah mereka merasa sangat dihargai.
Semuanya termasuk menjaga hubungan memang dimulai dari hal-hal kecil, semacam hadiah kecil yang kadang dianggap tidak penting. Indah dan Liam sungguh belajar dari pengalaman mereka termasuk apa yang tengah terjadi.
“Sudah dekat HPL, kan? Biasanya anak-anak nurut sama omongan orang tuanya. Semua persiapan sudah siap, termasuk kalian yang sudah sangat siap jadi orang tua. Ya sudah, pelan-pelan ajak ngobrol Arla sama Agielnya. Bilang, kalau mau keluar, ya sudah keluar karena semua persiapan sudah beres. Mereka suruh keluar yang lancar dan selamat sehat sama mamah-mamahnya,” ucap nyonya Nani santai tapi serius.
Liam yang menyimak serius, langsung mempraktikkannya. Ia mendekap perut Indah dari samping, kemudian mengelusnya cukup lama. Melihat itu, ketika wanita di sana langsung tersentuh. Mereka kompak tersenyum bersama hati mereka yang diselimuti rasa hangat.
Dini hari, Indah terbangun dan berniat ke kamar mandi. Liam yang memang belum tidur karena masih mengerjakan beberapa pekerjaan menggunakan laptop, langsung siaga menemani, walau Indah menolah.
“Yang, aku pipisnya ada darahnya,” ujar Indah dari dalam kamar mandi yang juga tidak tertutup rapat. Liam yang tengah minum di depan dispenser nyaris tersedak hanya karena mendengar ucapan Indah barusan. Terhitung, dari sejak tidur sampai sekarang, Indah memang jauh lebih sering pipis.
“Sakit, enggak?” sergah Liam setelah sampai langsung meletakan gelas minumnya di meja makan mengingat kamar mandi di kediaman orang tua Indah memang bersebelahan dengan dapur.
Indah yang akan mengguyur lantai bekas pipisnya menggeleng. Termasuk kenyataannya yang memang tidak mules apalagi sampai sakit berlebihan. Namun, Liam yang sadar tidak begitu berpengalaman dalam menangani wanita akan melahirkan, sengaja membangunkan mamah mereka. Keputusan pun segera diambil karena perlahan, Indah mulai mules.
Ditemani mamah mereka, Liam memboyong Indah ke bidan terdekat untuk semacam memastikan keadaan Indah. Kendati demikian, mereka sudah membawa persiapan lengkap. Dan ternyata, Indah sudah pembukaan ke Lima. Karena di bidan tersebut biasa untuk persalinan ditambah Indah juga terlihat sangat sehat, mereka melanjutkan persalinan di sana.
“Aku seneng banget! Akhirnya!” ucap Indah langsung mengajak Liam keliling di sana guna menambah pembukaannya.
Nyonya Nani dan ibu Dwiningsih sampai tak habis pikir kepada Indah. Keduanya yang kompak memakai baju hangat mengingat dini hari layaknya sekarang, di sekitar puncak kebersamaan mereka benar-benar dingin, kompak geleng-geleng. Sebab Indah yang akan melahirkan dan itu dua sekaligus malah makin ceria ketika tahu bayinya akan lahir. Sama sekali tidak ada tanda-tanda wanita itu kesakitan. Kalaupun ada, masih dalam tahap wajar. Malahan, Liam yang terlihat tegang.
“Padahal kalau dilihat dari Indah yang lemah lembut, feminin gitu, harusnya Indah ini ya yang manja dan wajib diperlakukan layaknya tuan putri, kan?” ujar nyonya Nani. Bersama ibu Dwiningsih, ia tengah menggibahkan Indah.
“Saya juga iri kenapa meski hamil besar, itu anak tetap cantik! Serius ini si Liam beneran hoki dapat Indah!” lanjut nyonya Nani lagi.
Ibu Dwiningsih makin terpingkal-pingkal mendengarkan komentar sang besan. Komentar yang terdengar pedas, tapi rasa pujian.
“Masih semangat, Ndah?” seru nyonya Nani kemudian. Ia masih bertahan berdiri di depan teras bersama ibu Dwiningsih. Sementara di halaman sebelah gerbang rumah yang sudah kembali di tutup sana, Indah yang menoleh dan masih digandeng sekaligus dirangkul Liam, langsung tersenyum ceria.
“Aku beneran enggak sabar, Mah. Enggak kebayang ini anak-anak langsung ikutin saran Mamah!” seru Indah.
__ADS_1
“Sayang, jangan ikut teriak-teriak kayak Mamah. Enggak enak ke tetangga ini masih sangat pagi,” bisik Liam sengaja menegur lantaran Indah mendadak berisik layaknya nyonya Nani yang sekarang tak memakai jasa suster lagi. Sebab semenjak memiliki menantu Indah, bahkan walau Indah juga sempat sakit, kesehatan nyonya Nani kembali prima. Malahan, kini nyonya Nani yang kerap memasak untuk mereka.