Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
9 : Permintaan Maaf Dari Liam


__ADS_3

Terbangun karena takut Indah kabur, Liam yang benar-benar takut sekaligus panik, langsung mengembuskan napas lega lantaran wanita yang ia cari masih ada dalam dekapannya.


Indah terlihat sangat kelelahan. Sekitar wajah dan juga lehernya sampai berkeringat. Wanita itu meringkuk lemah dalam dekapannya. Mereka masih memakai selimut yang sama dan benar-benar tidak memakai busana. Sori Ndah, aku udah bikin kamu nyaris sekarat, batin Liam yang kemudian meraih sebelah tangan Indah. Bukan maksudku menjeratmu dan memperlakukanmu dengan keji. Aku terpaksa melakukan ini karena aku yakin, bersamamu, kita akan bahagia. Tanpa peduli apa masa lalu mereka, ayo kita sama-sama bahagia! Batinnya yang kemudian mengecup penuh sayang tangan Indah yang ia genggam lembut.


Liam melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk ketika akhirnya ia meraih ponselnya dari nakas di sebelah Indah. Ia mengabadikan genggaman tangan kanannya terhadap tangan kiri Indah, kemudian menjadikannya sebagai foto profil WA-nya.


Liam langsung tersenyum manis karena ulahnya. Mendadak ia terbucin-bucin kepada Indah yang telah sukses membuatnya kembali mengecap indahnya cinta setelah cinta tulusnya kepada Fello justru dibalas dengan sikap posesif bahkan kekejaman. Iya, Fello, sosok yang detik ini langsung sibuk meneleponnya hanya karena perubahan foto profil yang ia lakukan. Namun, Liam sama sekali tidak peduli. Karena bagi Liam, urusan mereka tinggal menunggu putusan pengadilan.


Bukannya tidur dan mengambil waktu untuk istirahat, Liam yang sengaja mengabari suster Surti dan berbagi kabar sang mamah, malah menjadi sibuk mengamati wajah Indah. Di wajah Indah yang benar-benar cantik itu benar-benar sudah tidak ada rias. Rias tipis yang sempat memperindah di sana sudah luntur oleh air mata maupun keringat. Baik itu keringat Indah, maupun sebagian keringat Liam yang sempat menerpa. Termasuk juga dengan lipstik merah bata yang sempat mengisi bibir tipis Indah. Bibir tipis yang membuat jemari kiri Liam tak tahan untuk tidak menyentuhnya, diikuti dengan bibirnya yang juga menyesapnya kuat. Indah sampai terusik, dan beruntung wanita itu hanya menggeliat kecil karena wajah Indah saja masih ada persis di sebelah bahu Liam. Liam tersenyum gemas mengamati wajah Indah.


Paginya, terbangun dalam dekapan seorang Liam, kembali mengantarkan Indah pada mimpi buruk. Mereka yang masih satu selimut dan Indah pun ingat, dirinya tak sampai sempat membersihkan diri saking lelah sekaligus tak berdayanya.


Marah, Indah buru-buru keluar dari dekapan Liam. Kali ini ia jauh lebih memiliki tenaga meski dari pinggang ke bawah, masih sakit bahkan selanggkangannya sampai gemetaran.


“Mau mandi?” Liam yang terusik memang langsung bangun.


“Bukan urusanmu!” sergah Indah cuek dan memang masih marah. Ia susah payah untuk bangun karena hubungan sekksual yang ia lakukan untuk pertama kalinya membuat kewanitaannya benar-benar sakit dan itu menegaskan bahwa dirinya sudah tak lagi perawan walau statusnya masih gadis.


“Aku bantu,” tawar Liam yang juga langsung siaga terlebih Indah juga sudah sampai duduk membelakanginya, menggunakan selimut yang sempat menyelimuti tubuh mereka untuk menutupi tubuhnya.


Indah sungguh tidak membiarkan Liam kembali melihat keindahan tubuhnya.


“Tidak perlu!” sergah Indah, tapi Liam yang masih polos, benar-benar belum memakai pakaian walau itu sekadar celana dallam, sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


“Aku mohon, pakai dulu pakaianmu!” sergah Indah panik dan memang langsung buru-buru memunggungi Liam seiring ia yang sampai memejamkan erat kedua matanya sambil menunduk.


Tak ada lagi rasa hormat dalam diri Indah kepada Liam. Dan Liam sadar, semua itu terjadi akibat cinta satu malam mereka. “Oke.” Liam sungguh sulit mengatakan itu lantaran yang ia mau, Indah juga bisa sebebas Fello dan juga wanita lainnya ketika bersamanya.


Liam meraih pakaiannya, tapi hanya kemeja dan juga jasnya yang tidak ia pakai. Bersamaan dengan itu, Indah yang masih membungkus rapat tubuhnya menggunakan selimut, berjalan dan awalnya sempat tertatih. Namun, Indah buru-buru melangkah cepat setelah Liam menawari bantuan.


“Jika kamu terus menghindar apalagi menolakku, ... aku akan semakin mencintaimu. Aku akan semakin tergila-gila kepadamu.” Liam terus mengikuti Indah, dan ia sadar, langkah Indah yang makin cepat juga kenyataan wanita itu yang terus bungkam, menegaskan bahwa wanita itu makin marah.


“Setelah dari sini kita sarapan dulu,” ucap Liam yang langsung dipotong oleh Indah.


“Aku mengundurkan diri.” Indah berucap tegas.


“Enggak apa-apa. Kamu bebas melakukan apa pun asal itu bukan untuk meninggalkanku,” jawab Liam santai. Ia melangkah cepat dan sengaja berdiri di depan Indah yang sudah akan masuk ke ruang mandi. Wanita itu sempat menatapnya dengan tatapan yang menahan kemarahan nyata, tapi Indah juga mendadak mundur.


“Kamu tahu aku sama sekali sudah tidak mabuk, kan?” ucap Liam di tengah tatapannya kepada Indah yang masih sangat dalam.


Ayolah, ini masih sangat pagi, tapi sudah jantungan begini. Yang semalam saja sudah bikin aku merasa hina sekaligus berdosa, batin Indah menepis tatapan Liam. Pria itu masih telanjjang dada dan lagi-lagi menatapnya dengan tatapan yang begitu intens. Tatapan yang begitu menjebak, dan Indah yang masih normal bisa terpana, terlepas dari apa yang sudah terjadi kepada mereka.


“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu bisa tahan—”


“Cinta itu bukan puasa yang apa-apa serba menahan. Apalagi ke orang yang dicintai, ... mana bisa,” lirih Liam yang kemudian mengecap manis bibir Indah.


Indah tidak yakin dirinya akan kembali baik-baik saja. Beruntung, pagi ini benar-benar hanya ciuman, meski Liam menghentikannya dengan helaan napas yang membuat pria itu tampak sangat frustrasi.

__ADS_1


“Mandi lah, aku akan memesankan pakaian ganti untukmu. Setelah itu kita sarapan, kita ke mamah, dan ... hari ini juga kita menikah,” ucap Liam yang kemudian mengelus ubun-ubun Indah dan yang dielus, tetap menunduk takut.


Mandi, sarapan, bertemu mamahnya, dan kemudian menikah? Memangnya menurutnya, hidup segampang itu dan bisa seenak dia? Batin Indah yang masih sangat meragukan Liam. Ia buru-buru masuk ke ruang untuk mandi karena Liam juga langsung mencuci wajahnya di wastafel tempat pria itu memenjarakan Indah dengan ciummannya.


“Maaf,” ucap Liam yang menatap pantulan bayangan punggung Indah dari cermin wastafel yang ada di hadapannya. Wanita itu langsung berhenti melangkah dan tak jadi masuk ke ruang mandi. Ia yakin, Indah menyimaknya. Namun, wanita itu masih terlalu ragu, khawatir, bahkan takut karena selain status mereka, hubungan mereka juga lebih muda dari umur jagung.


“Maaf untuk semuanya, khususnya apa yang terjadi semalam dan aku yakin, kamu menganggapnya sebagai kejahatan. Aku yakin kamu berharap itu hanya akan terjadi setelah kamu menikah. Kamu hanya ingin melakukannya dengan laki-laki yang menjadi suamimu.”


“Aku tidak akan menikah!” tegas Indah yakin.


“Hari ini kamu akan menikah!” balas Liam tak kalah yakin. Senyum di wajahnya kian lepas setelah akhirnya Indah menoleh kepadanya dan tatapan mereka bertemu di pantulan cermin wastafel.


Sambil menaruh sabun pencuci wajah ke telapak tangannya, Liam yang kembali menatap Indah berkata, “Hari ini kamu akan menikah, ... denganku. Jangan menolak karena semalam kita sudah melakukannya dan aku akan bertanggung jawab.”


“Kenapa kamu melakukan semua ini, bahkan kamu terkesan sengaja?” ucap Indah.


“Karena aku mencintaimu,” balas Liam dengan santainya sembari mengusap busa di kedua tangannya ke wajah. Dunianya menjadi terasa sangat indah karena cintanya kepada Indah.


“Kita bahkan belum kenal dan mamah kamu juga sedang sakit parah,” balas Indah yang benar-benar bingung. Ada seorang pria yang memiliki kesempurnaan dalam segala hal, tapi pria itu dengan sengaja menjebaknya, memaksanya untuk mau menikah dengannya.


“Mamahku sakit karena dia sangat ingin menantu. Mamah sudah ngebet ingin gendong cucu,” yakin Liam dan sudah memenuhi wajahnya dengan busa sabun wajah.


Indah mendengkus dan memang telanjur kesal. Semuanya terlalu tiba-tiba. Dari dulu, semuanya sungguh terus begitu, batinnya yang menjadi gamang. Setelah ia masuk ruang mandi dan juga sampai mengunci pintunya, ia tak kuasa menahan tangisnya. Bersandar lemah sekaligus pasrah pada pintu kayu bercat putih di belakangnya. Tubuh Indah yang kembali kebas, berakhir terduduk.

__ADS_1


__ADS_2