Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
17 : Pengakuan Liam


__ADS_3

Liam : Thank you! Aku bahagia banget dan kamu yang bikin aku sebahagia ini.


Pesan WA dari Liam yang sampai dihiasi emot hati merah, dan juga emot ciumm, langsung membuat Indah tersenyum. Wanita itu tersipu, kemudian membalas pesan tersebut berupa emot hati berwarna merah yang berdebar-debar, seolah hati itu memang hidup.


Menghela napas dalam, Indah yang awalnya duduk di pinggir tempat tidur berangsur menjatuhkan punggungnya ke tempat tidur. Untuk pertama kalinya, tempat tidurnya dalam keadaan sangat berantakan. Tak semata karena ia yang memang belum membereskannya, tetapi karena kini bukan hanya dirinya yang menempati tempat tidur tersebut, terlepas dari kesibukan yang terjadi dari sore kemarin di sana. Kesibukan yang membuat Indah mendadak tersipu malu hanya karena mengingatnya.


Seperti yang Liam sarankan, Indah yang merasa kelelahan sekaligus kurang tidur, akan kembali tidur. Terlebih beberapa kali, ia sudah menguap dan tubuhnya pun terasa meriang. Namun, baru juga memejamkan kedua matanya, Indah mendadak teringat kata, top up berulang-ulang. Ucapan Liam tersebut mendadak terngiang-ngiang menguasai kehidupannya dan sukses membuat Indah menahan tawa. Indah merasa sangat geli, dan benar-benar malu sendiri. Akan tetapi jika diminta jujur, Indah mengakui, dirinya menikmati sekaligus bahagia dengan hubungannya dan Liam. Liam memperlakukannya dengan sangat manis, membuatnya merasa spesial karena memang dispesialkan oleh Liam.


Di tengah kedua matanya yang perlahan terbuka sempurna menatap langit-langit di atasnya, Indah menyadari, dirinya sangat beruntung. Iya, memiliki Liam yang sempurna dari segi fisik maupun rupa. Selain Liam yang juga sangat perhatian dan tak segan meringankan kesibukannya.


Semoga Liam akan terus begini. Semoga Liam akan selalu menyayangi sekaligus mencintaiku. Dan semoga,Tuhan tak mengambilnya dariku seperti saat aku kehilangan mas Rio, batin Indah. Tiba-tiba saja Indah merasa, dirinya harus memberikan nama panggilan spesial untuk Liam terlebih kini, mereka sudah menikah.


***


Sampai di kantor, Liam yang masih bekerja di Amour Hotel, menjalani semuanya layaknya biasa. Tidak ada yang berubah selain ia yang tak lagi dikawal oleh kedua ajudan Fello. Semuanya benar-benar masih sama. Dari semua mata yang masih menatapnya penuh rasa kagum khususnya mata para karyawati. Sikap hormat sekaligus santun yang Liam dapatkan dari semua pekerja.


Sembari menuju ruang kerjanya, Liam yang baru keluar dari lift yang membawanya ke lantai atas selaku lantai keberadaan ruang kerjanya berangsur mengeluarkan ponsel dari saku sisi sebelah kanan celana bahan warna abu-abunya. Ia hanya membuka balasan pesan dari Indah walau di sana ada pesan lain dan salah satunya pesan dari kontak Fello. Ada dua puluh tujuh pesan dari Fello yang sengaja tetap tidak Liam baca. Termasuk telepon masuk dari wanita itu yang tetap Liam abaikan. Layar ponselnya yang awalnya dihiasi balasan hati bergetar dari Indah, menjadi digantikan dengan layar hitam dilengkapi kontak telepon Fello.


Sekitar jam makan siang, Liam menyempatkan diri untuk membuka bekalnya. Kali ini, untuk pertama kalinya setelah tidak diurus sang mamah, ia kembali merasakan bekal buatan orang tercinta. Sebab meski lima tahun terakhir ia menjadi suami Fello yang selalu menegaskan wanita itu sangat mencintainya, tak pernah sekalipun Fello membuatkannya bekal bahkan sekadar bekal minum.

__ADS_1


Sebelum memakan nasi goreng buatan Indah, Liam terlebih dulu memfotonya kemudian mengirimnya lewat pesan WA. Ia tidak membiarkan foto tersebut tanpa keterangan karena ia juga menuliskan kata-kata manis.


Masakan istri tercinta yang akan menjadi sumber kesehatan sekaligus kebahagiaan. Tulis Liam.


Tak disangka, Indah langsung membaca sekaligus mengetik pesan balasan. Sambil menunggu sang istri menulis pesan balasan untuknya, Liam mulai menyantap nasi goreng di kotak bekal warna kuning tersebut. Sebuah foto terpampang nyata dan langsung membuat Liam tersenyum hangat. Buket mawar putih yang begitu besar dan memenuhi nakas sebelah Liam tidur semalam.


Indah : Dari suami tercinta, terima kasih. Bangun tidur lihat ini langsung senyum.


Indah juga menyertakan emot hati merah di akhir pesannya.


Liam : Syukurlah tukang kirimnya tepat waktu. Istriku langsung senyum gara-gara buket itu.


Kemudian, Liam juga mengetik pesan lanjutan.


Indah : Nanti kamu pulang, kan?


Liam : Kalau aku enggak pulang, gimana?


Indah : Kangen ih. Aku susul! Pokoknya aku susul ke mana pun kamu pergi!

__ADS_1


Liam nyaris tersedak karena balasan dari Indah membuatnya tertawa.


Indah : Kabari aku kalau memang kamu ada dinas mendadak.


Liam tersenyum hangat karena tak lama setelah pesan tersebut, Indah juga sampai mengirimkan foto. Istrinya itu mendekap buket mawar putih pemberiannya. Suasana kamar dalam keadaan terang dan itu karena lampu menyala semua. Indah masih memakai piama panjang warna biru tua dan tampaknya wanita itu memang belum mandi karena benar-benar baru bangun.


Liam : Istriku cantik banget. Tambah kangen.


Bersamaan dengan selesainya makan siangnya, Liam dikejutkan oleh kedatangan Fello. Tak banyak perubahan berarti dari seorang Fello. Namun wajah Fello yang dipoles rias tebal tampak jauh lebih tirus dari terakhir mereka bertemu dan itu ketika Liam menjatuhkan talak.


“Sampai mati pun, kamu tidak akan pernah bisa lari dariku, Liam. Buktinya, kamu masih tetap di sini walau kamu sibuk meminta cerai,” ucap Fello.


“Kamu dan papah kamu menjebakku melalui dokumen-dokumen yang kalian selipkan di berkas penting yang harus aku tanda tangani!” Jadi, alasan Liam masih terikat di sana karena tanpa sepengetahuan Liam, dirinya telah lalai asal menandatangani surat perjanjian buatan Fello dan pak Wijaya. Kedua manusia licik itu menyelipkan perjanjian kepentingan pribadi di sederet berkas pekerjaan yang harus Liam tanda tangani. Sayangnya selama ini, Liam percaya-percaya saja dan langsung menandatangani setiap berkas yang datang kepadanya. Karena selama ini juga, semua pekerja termasuk sekretaris dan juga asisten pribadi, juga masih serba orang Fello.


Fello tersenyum geli. Ia melangkah mendekati Liam sambil bersedekap kemudian tertawa miris pada kotak bekal yang masih menghiasi meja kerja Liam. “Kamu begitu sibuk melakukan pemberontakan, padahal tanpaku, kamu langsung miskin dan makan pun sampai membekal!”


Liam cuek dan memilih meraih air minum yang juga bagian dari bekalnya. “Istriku menyiapkan semua ini penuh cinta. Kamu tahu maksudnya, kan?” Ia minum dengan santai, kemudian ia juga memamerkan jari manis tangan kanannya yang sudah bukan dihiasi cincin pernikahannya dengan Fello lagi. Karena mulai hari kemarin setelah dirinya menyelesaikan ijab kabul untuk pernikahannya dan Indah, semuanya memang sudah berubah.


Fello langsung murka. Ia mencoba meraih tangan kanan Liam dengan paksa, tapi Liam menariknya, tak mengizinkannya menyentuh apalagi sampai menggenggamnya.

__ADS_1


“Aku memang masih di sini, tapi hati dan kehidupanku sudah menjadi milik wanita lain. Kami sudah menikah, dan dia benar-benar membuat hidupku terasa sangat sempurna,” jelas Liam lirih sekaligus lembut.


Suara lembut yang malah sukses membuat hati bahkan kehidupan seorang Fello babak belur. Tubuh wanita itu seolah dipanggang, berderai air mata ia menatap pria rupawan di hadapannya yang mendadak menghancurkan kehidupannya. Tak ada peperangan apalagi bencana alam, tapi pengakuan Liam sungguh membuat dunia seorang Fello remuk redam.


__ADS_2