Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
31 : Kehamilan Indah dan Kehancuran Fello


__ADS_3

Sorenya, Indah turut serta memantau jalannya pembangunan penginapan mereka. Indah mendekap sebelah lengan Liam menggunakan kedua tangannya. Mereka ada di sisi pekarangan bagian depan, dan memang dekat jalan sebelah rumah makan milik orang tua Indah.


“Thank you banget, udah nemenin aku mulai dari nol,” ucap Liam yang kemudian menatap Indah. Tak lama setelah itu, istrinya itu juga balas menatapnya. Indah menatapnya heran.


“Dari nol bagaimana? Kamu kan punya semuanya. Kamu punya modal, ... kamu punya kemampuan,” balas Indah.


“Ya maksudnya. Demi penginapan ini, kita sampai hidup lebih hemat, kan?” balas Liam dan kali ini, istrinya langsung menahan senyumnya.


“Biasanya sesuatu yang spesial memang setimpal dengan pengorbanan sekaligus perjuangan yang harus dilakukan,” ucap Indah.


Liam tersenyum lembut kemudian mencubit gemas pipi kiri istrinya.


“Ini sebentar lagu udahan, kan, di lanjut besok? Udah gelap gini suasananya,” ucap Indah masih mengawasi sekitar lima belas pekerja yang ada di depan sana.


“Iya, ini kayaknya lusa sudah mulai ngecor,” balas Liam.


“Wah, cepat ...,” lirih Indah yang kemudian mengangguk-angguk masih fokus mengamati suasana di hadapannya.


Liam terusik dengan tanggapan sang istri. Ia menatap wajah wanitanya itu dengan sangat serius. “Memangnya kamu tahu, ngecor itu apa?” ujarnya.


Indah berangsur menatap Liam. “Enggak sih,” ucapnya jujur dan malah membuat Liam menertawakannya.


“Kalian lagi ngidam?” tanya nyonya Nani ketika akhirnya, Liam dan Indah pulang sambil terus bergandengan.

__ADS_1


Di todong dengan pertanyaan tersebut, Indah dan Liam yang baru akan menginjakkan kaki mereka di teras, langsung kebingungan.


“Kalian enggak nunda, kan?” lanjut nyonya Nani yang kali ini duduk di kursi roda.


Di belakang nyonya Nani, sang suster yang juga menyimak, menjadi kerap tersipu. Ia dapati, Liam dan Indah yang kompak menoleh kemudian bertatapan.


“Sekarang juga aku beli test pack, ya? Buat cek?” sergah Liam tak sabar dan memang langsung antusias.


Tak kalah antusias, Indah yang detik itu juga refleks mengelus-elus perutnya yang masih rata menggunakan kedua tangannya, buru-buru mengangguk. “Eh, aku ikut!” Ia menyusul Liam yang memang sudah langsung pergi dengan buru-buru.


“Kamu di rumah saja. Aku cuma sebentar pakai motor,” ujar Liam.


“Eh, jangan pakai motor, licin!” sergah Indah masih menyusul.


Seperti yang Liam katakan, demi membangun penginapan, mereka memang menjadi hidup hemat. Liam saja sampai menjual satu mobilnya hingga kini pria itu hanya memiliki satu mobil. Karenanya bukan hal yang salah, jika seorang nyonya Nani khawatir, Liam yang pernah menjadi CEO muda dan sangat disegani, kini sampai tidak membawa uang. Keekonomian Liam benar-benar sedang dipres, tentu saja sebagai seorang mamah, nyonya Nani juga melakukan segala cara untuk meringankan beban putranya.


Kendati demikian, menjalani hidup pas-pasan layaknya sekarang, sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan seorang Liam. Hadirnya Indah menjadi alasannya. Apalagi jika dugaan nyonya Nani, Indah sedang mengidam benar. Tentunya, kebahagiaan putranya akan menjadi berkali lipat dari sebelumnya.


Sekitar satu jam kemudian, Liam sudah ikut kepo melakukan pemeriksaan menggunakan test pack yang mereka beli dengan uang pemberian nyonya Nani. Demi jaga-jaga, mereka sengaja memberi dua alat tes kehamilan yang juga langsung mereka pakai semua. Betapa bahaginya pasangan pengantin baru itu ketika semua garis terisi sekaligus menyala dengan warna merah.


Sumpah warna merah semua? Indah benar-benar hamil? Berarti aku juga enggak mandul, dong? Batin Liam. Dadanya bergemuruh menahan kebahagiaan yang seolah nyaris membuncah dari sana. Tak sabar, ia meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk Indah sangat erat. Kata terima kasih tak kuasa ia hentikan terucap dari bibirnya kepada wanita yang akan memberinya keturunan. Sambil memeluknya erat, Indah yang ia pergoki sampai berkaca-kaca, mengatakan bahwa istrinya itu juga sangat bahagia.


“Seneng banget! Alhamdullilah banget!” lirih Indah yang sampai jingkrak-jingkrak kecil.

__ADS_1


Hal yang langsung Indah dan Liam lakukan adalah mengabarkan kehamilan Indah. Mereka memakai test pack hasil pemeriksaannya sebagai bukti. Kebahagiaan yang benar-benar hangat, membuncah menguasai kediaman orang tua Indah. Semuanya mengucapkan selamat, memanjatkan doa terbaik untuk calon bayi dan juga calon ibunya.


Tentunya, Liam juga tak lupa membagikan kabar bahagianya itu di status WA-nya. Sederet pesan WA masuk langsung membuat ponsel Liam berisik akibat status WA ucapan syukur buatannya yang juga dihiasi foto test pack.


Akhirnya aku sampai di titik ini juga. Satu persatu anggapan Fello dan papahnya berhasil aku patahkan. Anggapan mereka bahwa aku tak berguna, anggapan bahwa aku mandul, ... akhirnya! Terima kasih banyak ya Tuhan! Batin Liam masih menatap puas layar ponselnya yang terus dihiasi pesan ucapan selamat. Kebanyakan dari mereka merupakan karyawan di Amour Hotel. Liam yakin, kabarnya yang akan menjadi seorang papah atas kehamilan sang istri, juga akan segera sampai kepada Fello maupun pak Wijaya.


“Selamat, ya, sebentar lagi jadi mamah,” lirih Liam yang sampai mengelus pinggang sekaligus perut Indah penuh cinta.


“Berarti mulai sekarang enggak lagi pinjem anak pembeli atau anak tetangga.” Indah langsung tersipu, menatap sang suami penuh cinta. Tangan kanannya bertumpu pada dada Liam, sementara tangan kiri menggenggam tangan Liam yang masih bertahan di perutnya.


“Mau minta hadiah apa? Bentar, aku mikir dulu,” ucap Liam yang memang langsung berpikir keras. Hadiah apa yang harus ia berikan kepada Indah.


Di hadapan Liam dan Indah, nyonya Nani yang mengamati kebersamaan Indah dan Liam dengan lebih intens karena ia tahu betul perkara Fello dalam hidup Liam, merasa sangat puas. Terlebih nyonya Nani sadar, kebahagiaan Liam dan Indah merupakan luka bahkan kekalahan dari seorang Fello.


“Sekali lagi selamat! Selamat karena kalian akan menjadi orang tua dan otomatis, Mamah juga akan menjadi seorang oma!” berkaca-kaca nyonya Nani tersenyum meluapkan kebahagiaan. Ia tak hanya menatap wajah Liam dan Indah, silih berganti. Sebab ia juga turut menatap wajah orang tua Indah yang duduk di seberangnya, silih berganti. Tak beda dengannya, wajah bersahaja orang tua Indah juga tampak sangat bahagia. Keduanya sibuk mengucapkan syukur sekaligus selamat kepada mereka semua. Sebab hamilnya Indah juga menjadi kebahagiaan mereka bersama.


Di tempat berbeda, keheningan seorang Fello yang tengah menikmati wine di bar pribadi dan memang ada di tempatnya, menjadi terusik karena sederet pesan WA masuk dari banyak nomor dan kebanyakan sampai disertai foto.


Nada : Selamat yah, kesayanganku! Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Akhirnya sebentar lagi jadi mamah. Tapi kok kamu sepi aja padahal Liam saja sudah serame itu?


Gemetaran Fello membaca pesan tersebut. Jantungnya berdetak sangat kencang sekaligus cepat di tengah suasana kafenya yang memang remang. Fello tak berani melihat foto di bawahnya dan tampaknya merupakan kabar ramai dari Liam. Namun, Fello tetaplah Fello yang selalu ingin tahu. Meski kenyataan wanita itu melihat status WA Liam yang tak lagi bisa ia lihat selama tiga minggu terakhir, sukses meremukkan hati bahkan kehidupannya yang lagi-lagi hancur karena penyebab yang masih sama.


Gelas berkaki panjang dan isinya masih seperempat yang awalnya Fello pegang menggunakan tangan kanan, berakhir jatuh, pecah di lantai marmer berwarna putih gading di sana. Kemudian tak beda dengan gelasnya, tubuh Fello juga berakhir terjatuh. Wanita itu terduduk lemas, sedangkan tatapannya yang langsung kosong juga perlahan basah.

__ADS_1


__ADS_2