
Hari peresmian benar-benar tiba. Liam dan Indah didampingi orang tua mereka lengkap dengan karyawan mereka, siap menjalani gunting pita. Liam dan Indah tampak serasi dengan nuansa putih.
Indah yang menyanggul modern rambut panjangnya, memakai kebaya lengan panjang warna putih dan bawahan jarit warna hitam keemasan. Sedangkan Liam memakai kemeja slim fit lengan panjang warna putih dipadukan dengan celana panjang chino warna cokelat tua. Tak kalah rapi, karyawan mereka yang jumlahnya ada dua puluh lima orang lengkap dengan koki, kompak memakai seragam warna hitam keemasan aksen warna putih di beberapa bagian. Selain tampak mewah, semuanya termasuk seragam karyawan juga tampak kekinian.
Liam memberikan guntingnya kepada Indah, tapi Indah menolak jika menggunting pitanya sendiri. Jadi, keduanya bersama-sama melakukannya. Kemudian, masih bersama-sama, keduanya memotong tumpeng nasi kuning berukuran besar. Potongan pertama mereka berikan untuk diri mereka. Liam dan Indah menyuapi satu sama lain, kemudian memberikan potongan berikutnya kepada orang tua mereka. Tak sampai di situ karena mereka juga bersama-sama menyuapi karyawan mereka yang sudah seperti keluarga mereka, sebelum akhirnya mereka makan bersama menggunakan tumpeng tersebut. Yang dengan kata lain, penginapan sekaligus resto mereka resmi dibuka. Namun, penginapan dan resto tersebut baru akan beroperasi di sore menjelang petangnya.
Sebagian dari orang Amour datang menyaksikan pembukaan. Namun kebanyakan dari mereka hanya ingin memastikan. Baik itu memastikan keadaan penginapan dan resto milik Liam yang langsung mencuri banyak perhatian. Juga memastikan hubungan Indah dan Liam. Tentunya, kenyataan perut Indah yang sudah besar tak kalah mencuri perhatian. Apalagi ketika Liam yang terlihat sangat bahagia, dengan bangga mengabarkan, Indah tengah mengandung anak kembar.
“Wah, ini beneran kembar? Pantas gede banget! Cewek apa cowok?” sergah salah satu petinggi sekaligus pemegang saham terbesar di Amour hotel. Sebab Liam memang mengundang semua kenalannya termasuk itu pak Wijaya dan Fello yang sampai detik ini belum Liam ketahu kabarnya, walau kedua orang itu juga begitu sibuk mengganggunya.
“Belum tahu ini,” ucap Liam sambil mengelus-elus perut besar istrinya. “Soalnya di setiap USG, beneran enggak mau diam. Tapi alhamdullilahnya, semuanya sehat, dan posisinya pun kepalanya sudah masuk ke pinggul!”
“Memangnya Ibu Indah mau melahirkan normal? Dua loh!” ucap si pria tua yang jujur saja sempat mengincar Indah. Entah dijadikan istri muda, atau sekadar simpanan untuk bersenang-senang. Namun nyatanya, ia malah keduluan Liam.
Indah yang membawa gelas berisi air kelapa hijau, mengangguk-angguk. “Maunya normal, dan Insya Alloh, bisa karena selain dokter juga yakin saya bisa, suami dan semuanya juga kasih dukungan penuh.”
“Berarti sebentar lagi memang lahiran, ya?” sergah si pria tua bernama pak Ahsan tersebut.
“HPL sih satu bulan lagi. Namun kan HPL hanya hari perkiraan, jadi bisa tepat, bisa maju, atau malah mundur!” balas Liam.
__ADS_1
“Wajib makin siaga!” sergah pak Ahsan yang sampai menepuk gemas punggung Liam. Ia berbisik-bisik tepat di depan wajah Liam.
“Pasti, ... langsung dikasih dua! Ibaratnya, saya harus lebih serba bisa dari jin pengabul!” balas Liam sambil menahan senyumnya apalagi setelah itu, sang istri yang awalnya anteng, langsung menatapnya penuh cinta sambil menahan senyum juga.
Di mata pak Ahsan, Liam yang sekarang ia dapati sangat bahagia. Segala sesuatunya pria itu lakukan dengan santai dan tidak sedinas sekaligus sadiss layaknya ketika pria itu masih menjadi CEO Amour Hotel. Liam yang sekarang benar-benar menjadi pribadi yang sangat ekspresif. Karena kini, pria itu juga tak segan bercanda kepadanya.
“Saya mau di sini sampai besok. Mau meninjau karena kalau memang rame terus, penginnya ikut tanam saham,” ucap pak Ahsan.
Liam yang masih merangkul Indah, makin tersipu. Tak beda dengan Liam, Indah juga turut tersipu. Bahagia rasanya usaha mereka yang penuh perjuangan dan bahkan sampai memakan waktu dari prediksi yang ditargetkan, akhirnya disambut dengan sangat hangat. Padahal sebelumnya, semua permohonan kerja sama, kompak ditolak. Liam bahkan merugi, kehilangan modal lebih dari separuh yang pria itu punya. Karenanya, Liam sampai menjual apartemen mamahnya. Sejak itu pula Liam dan sang mamah menumpang di rumah orang tua Indah. Sebab ketika Liam akan menjual mobil, orang tua Indah melarang. Bagi orang tua Indah, mobil Liam ibarat nyawa Liam. Tak sekadar untuk transportasi, tapi juga untuk menegaskan status sekaligus kemampuan Liam.
“Namun maaf, ini, Pak. Untuk penginapannya, sudah penuh sampai dua minggu ke depan. Banyak yang sewa untuk nikahan sama tunangan khususnya di weekend. Ini saja, sore nanti akan langsung ada yang mau kemah di halaman depan,” jelas Liam. Kini, mereka bertiga tengah ada di jembatan tali gantung di sebelah penginapan lantai dua.
Liam dan Indah kompak menahan tawa mereka. “Iya, bener memang ada api unggunnya, pak Ahsan. Tuh, kayu bakarnya baru dikirim!” ucapnya bersemangat menunjuk mobil pick up pengangkut kayu bakar dan kini baru saja memasuki pintu masuk di depan sana.
Lagi-lagi pak Ahsan yang gemas dengan ide cemerlang Liam, memukull gemas yang bersangkutan. “Kamu, ya, dapat ide ini dari mana? Kenapa pas di Amour, kamu enggak bikin ini?”
Liam mengangguk-angguk sambil menahan senyumnya. “Saya sudah beberapa kali mengajukan, tapi kata pimpinan, ide saya kam-pungan. Namun karena sekarang murni usaha saya, saya ingin memakai ide ini. Kebetulan pas cerita kepada istri, istri langsung mendukung dan kasih banyak masukan harus ini itunya, dan jadilah ini.” Meski tatapannya cenderung fokus kepada kedua mata pak Ahsan, sesekali Liam masih aktif mengamati sekitar. Semua karyawannya sudah sibuk bersiap-siap. Sebagian tengah merapikan bekas acara gunting pita yang sampai diliput oleh awak media lokal sekaligus artis internet yang kerap membagikan informasi terkini mengenai hal-hal yang mencuri perhatian.
Dari apa yang Liam alami, pak Ahsan menyimpulkan. Ide-ide yang dianggap gagal hanya karena dicetuskan oleh orang yang dianggap tidak lebih baik, malah menjadi trobosan baru yang benar-benar memukau karena adanya sebuah kesempatan. Ditambah dukungan dari Indah, Liam sungguh membuktikan ide yang awalnya malah dihinaa habis-habisan.
__ADS_1
“Gigitt jari lah mantan mertuamu kalau lihat ini!” ujar pak Ahsan yang jujur saja, prihatin dengan nasib Liam saat pria itu masih menjadi bagian dari Fello. Namun setelah melihat Liam yang kini, ia hanya berkata, “Enggak ada hasil yang akan mengkhianati usaha. Lihat, dapat istri lebih cantik, langsung dikasih bonus kembar, dan sekarang ... Insya Alloh usaha kamu bakalan mengangkat derajat kamu sekeluarga. Ibaratnya ini balasan dari kerja keras kamu. Rezeki istri sama anak-anak kamu!”
Tentu, Liam tidak menampik anggapan pak Ahsan barusan. Sebab seberapa pun keras pihak sebelah menggagalkan rencananya, Tuhan selalu memberi Liam jalan untuk bangkit dan terus bangkit agar dirinya mampu membuktikan. Tentunya, peran orang-orang terdekat yang terus memberinya dukungan khususnya Indah, juga menjadi kunci ajaib. Apalagi ketika Liam ingat dirinya akan memiliki anak kembar, Liam yang awalnya merasa sangat lelah bahkan nyaris menyerah, mendadak seperti memiliki nyawa tambahan.
Sore menjelang petang, semburat jingga yang menciptakan lembayung senja benar-benar sayang dilewatkan. Indah begitu betah di sana, di jembatan gantung menuju curug. Kini, seperti hari-hari sebelumnya setelah jembatan di sana jadi, Indah kembali meminta sang suami untuk menemani. Mereka duduk selonjor dan benar-benar bersantai, menikmati nuansa jingga yang selalu Indah dambakan.
Karena penginapan dan resto sudah dibuka, tak lama dari kebersamaan mereka, beberapa orang berdatangan. Indah dan Liam kompak tersenyum menyapa mereka. Liam membimbing sang istri untuk berdiri karena mereka yang datang mau lewat. Oh iya, meski jembatan di sana terbuka untuk setiap pengunjung, yang boleh lewat juga dibatasi demi keamanan bersama. Di sana juga memang sengaja dijaga oleh seorang satpam untuk mengamankannya.
“Sayang, itu ikannya gede! Ih, itu pasti enak kalau dibakar!” sergah Indah ketika ia melihat ke sungai di bawah jembatan dan airnya yang jernih hanya semata kaki orang dewasa.
“Waduh, ... ini mengidam?” Liam langsung panik dan juga kehilangan senyumnya. Apalagi setelah memasang wajah manja andalan dan wajib membuat Liam menuruti kemauan Indah, istrinya itu juga mengajak Liam turun. Mereka lewat anak tangga menuju bawah dan membuat sebagian pengunjung yang melihat, buru-buru ikut serta.
“Sayang, semangat tangkap ikannya, ya!” seru Indah sambil menenteng kedua sepatu pantofel milik sang suami. Liam memintanya duduk di batu besar bersama beberapa pengunjung. Sementara di tengah sungai sana, Liam tengah susah payah menangkap ikan gabus.
“Demi kamu sama anak-anak, aku rela jadi nelayan!” ucap Liam ketika akhirnya satu ikan gabus berukuran lumayan, akhirnya ia dapatkan. Biasanya di sana yang juga bersebelahan dengan sawah memang menjadi sumber pencarian ikan oleh anak-anak. Awalnya, Liam yang memang baru mengetahui kebiasaan tersebut langsung kepo dan mendadak menjadi bolang tua. Hingga kini, setelah delapan bulan menjadi masyarakat di desa Indah dilahirkan, Liam juga sudah terbiasa dengan kehidupan rakyat di sana. Tak hanya melulu bisnis di depan laptop dan mengunjungi tempat-tempat wah, tapi juga kebiasaan masyarakat setempat semacam menangkap ikan dan menjadi petani. Liam sungguh sudah tahu proses menanam padi dari awal hingga akhirnya padi dipanen. Karena selama delapan bulan di sana, sawah di belakang rumah mertuanya sudah mengalami dua kali panen. Kini saja, sawah di sebelah belum lama ditanami.
“Asyikkk! Ayo kita bakar ikan!” Indah sangat bersemangat. Tak peduli walau karena menangkap ikan, suaminya sampai kuyup dan bahkan amis.
Jadi, siapa yang mau ke penginapan sekaligus resto milik Liam dan Indah?
__ADS_1