Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
12 : Perbedaan Indah dan Fello


__ADS_3

“Sana pulang sudah malam!” Indah sengaja mengusir Liam yang memang belum pulang meski rombongan yang pria itu bawa sudah pulang dari sebelum pukul enam sore. Juga, meski kini sudah nyaris pukul sembilan malam.


“Masih betah, Ndah!” balas Liam yang masih duduk santai di kursi ujung dapur rumah makan milik orang tua Indah.


Liam tengah mengamati suasana luar yang memang sangat asri terlebih di sana merupakan wilayah pegunungan di sekitar puncak. Ia bersedekap sambil meletakan kaki kirinya di lutut kanannya. Sadar Indah masih berdiri mengawasinya dengan tanggapan sebal sekaligus mengusir, Liam berangsur menatap wanita itu. “Kalaupun aku enggak pulang juga enggak apa-apa. Besok pagi kan, kita nikah di sini.”


Indah nyaris kembali marah, tapi setelah ia merenung, baginya sikap Liam yang akan sangat posesif sekaligus manja kepadanya, malah mirip sebuah kelainan. Indah merasa ada yang tidak beres dengan pria itu. Ia berangsur duduk di kursi sebelah. Mereka hanya dipisahkan oleh meja bundar berukuran mungil. Di meja tersebut sudah dihiasi satu gelas besar berisi wedang rempah selaku salah satu minuman andalan di sana. Liam nyaris menandaskan isinya.


“Kamu ada masalah?” tanya Indah sambil menunduk, menatap kedua jemari tangannya yang ada di pangkuan. Cincin emas di jari manis tangan kanannya sukses mencuri perhatian. Cincin yang juga membuatnya memastikan tangan kanan Liam. Di sana, di jari manis tangan Liam yang masih bersedekap, juga dihiasi cincin emas polos karena cincin mereka memang sepasang.


Menahan senyum, Liam berangsur menatap Indah. “Kalau diceritakan, sampai tahun depan tetap belum kelar.”


“Termasuk, ... urusan kamu sama Fello?”


Tebakan dari Indah sukses menampar Liam pada kenyataan. Fello dan semua yang berkaitan dengan wanita itu. “Boleh peluk, enggak?” ucap Liam.


“Enggak,” jawab Indah cepat kemudian menatap Liam. “Kamu sudah mengambil porsi terlalu banyak.”


Liam memasang wajah frustrasi. Ia menghela napas pelan kemudian berkata, “Berarti besok kalau kita sudah nikah, aku akan langsung balas dendam.”


Indah mendengkus pelan, merasa tak habis pikir dengan cara pikir Liam.


“Aku kangen kamu yang perhatian,” ucap Liam tanpa sedikit pun melirik Indah.


Berarti nih orang memang kurang perhatian, pikir Indah sambil melirik Liam. Melihat Liam yang melamun seperti sekarang, ia menjadi kasihan. Pria itu seolah tengah memiliki banyak beban. Seperti yang beberapa saat lalu pria itu katakan. Bahwa andai Liam menceritakan masalahnya, sampai tahun depan, tetap belum selesai diceritakan.

__ADS_1


Tanpa menatap Liam dan hanya sesekali meliriknya, Indah berkata, “Baiklah. Aku akan memelukmu, tapi setelah itu kamu pulang. Jangan mengemudi malam-malam. Kamu juga jangan ke club lagi.”


Liam langsung mesem. Pada kenyataannya, Indag memang wanita berhati lembut. Setulus itu Indah jika sudah menyayangi apalagi mencintai.


Tersenyum semringah, Liam langsung berdiri kemudian menghampiri Indah. Ia jongkok, kemudian menjadikan kedua lututnya sebagai penopang tubuh. Ia berangsur memeluk Indah. Cukup lama pelukan itu berlangsung, disusul Liam yang juga sampai merebahkan kepalanya di pangkuan Indah.


“Omong-omong club malam. Kamu, bayar minumanku pakai apa? Harusnya minuman yang aku habiskan banyak,” ujar Liam sambil menengadah, menatap Indah yang tetap tidak mau menatapnya.


“Ya uang lah, masa iya tusuk sate!” balas Indah ketus, masih belum mau menatap Liam.


Bukannya tersinggung apalagi marah, balasan Indah malah membuat Liam tertawa. Pria itu sampai menahannya disertai jemari tangan kanannya yang mengelus-elus bibir Indah. “Pukul sepuluh nanti aku ada janji, kamu mau ikut? Ini untuk urusan pekerjaan.”


Indah yang belum menatap Liam langsung menggeleng tanpa balasan berarti karena ia sadar, tanpa harus melakukannya secara berlebihan, Liam yang sibuk menatapnya pasti paham.


“Kemarin pakai uang siapa?” tanya Liam lembut karena Indah masih belum jujur mengenai uang yang dipakai untuk membayar minuman.


“Pakai tabunganku. Karena saat aku menguras isi dompetmu, jumlahnya masih kurang banyak, sementara meski dompetmu penuh kartu kredit maupun ATM, aku enggak tahu PIN-nya.”


Menyimak itu, Liam mengangguk-angguk. Ia mengeluarkan dompetnya kemudian memberikan tika kartu ajaib dari sana kepada Indah.


“Enggak. Transfer sesuai nominal saja.” Indah menolak.


“Transfer sendiri,” ucap Liam santai. Ia beranjak dan berdiri setelah meletakan ketiga kartu ajaib yang ia ambil dari dompetnya, di meja sebelah Indah.


“Atur sendiri. Mana yang untuk tabungan, mana yang untuk bersenang-senang, dan mana yang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku pergi dulu, mau langsung ke tempat pertemuan.” Meski masih bertutur lembut, kali ini Liam melakukannya dengan cepat. Di hadapannya, Indah yang panik sekaligus kebingungan, langsung buru-buru mengambil ketiga kartu ajaib yang ia berikan. Bisa ia pastikan, wanita itu akan mengembalikannya.

__ADS_1


“Simpan!” lirih Liam penuh peringatan.


Indah terpaksa menerima dan menyusul kepergian Liam. Pria itu langsung menghampiri orang tuanya yang duduk di dekat meja kasir. Liam pamit dengan santun dan sampai menitipkannya kepada mereka.


“Kamu enggak mau melarangku pergi?” tanya Liam. Ia berangsur balik badan sekaligus menghadap Indah. “Kamu enggak cemburu?”


Indah yang masih di anak tangga terakhir selaku pintu masuk di rumah makan orang tuanya yang berkonsep lesehan berkata, “Cemburu yang bagaimana? Jika aku menghabiskan waktuku untuk cemburu, itu hanya akan melukai diriku. Apalagi bersama kamu, ini sudah beda cerita lagi. Semua wanita di kantor saja, sangat tergila-gila kepadamu. Aku benar-benar bisa gila jika aku harus terus berburuk sangka yang menjadi bagian dari kecemburuanku.”


“Jadi?” balas Liam menunggu kesimpulan jawaban Indah.


“Aku doakan, kamu bakalan sengsara seumur hidupmu kalau kamu berani jajan apalagi menyelingkuhiku!” tegas Indah marah.


Detik itu juga, guntur menggelegar disertai angin kencang. Liam menatap ngeri kenyataan tersebut. Namun pria itu merasa jauh lebih ngeri jika tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencuri ciuman dari Indah yang ia pergoki tak kalah merasa ngeri juga darinya.


Indah syok sekaligus merasa kecolongan lantaran Liam melayangkan kecupan di pipi kirinya. Namun meski ia langsung menatap marah yang bersangkutan, Liam tetap menatapnya dengan santai.


“Aku akan mengabarimu setelah sampai di tempat pertemuan. Dan aku juga akan menghubungimu setelah aku sampai rumah,” ujar Liam sambil melangkah cepat dan memang melarikan diri dari Indah. Ia menuju mobilnya yang terparkir di tempat parkir depan bagian ujung kanan.


“Hati-hati. Jangan mengemudi sambil bermain ponsel. Kalaupun menyetel musik juga jangan keras-keras. Jalanan sini sampai jalan raya licin dan banyak tikungan. Hati-hati.” Indah mendadak menjadi cerewet.


Liam menjadi sibuk tersipu. Ia memasuki mobilnya sambil tetap menatap Indah.


“Jalanan sekitar juga berkabut, apalagi ini juga habis hujan dan mau hujan lagi. Pokoknya hati-hati,” lanjut Indah lagi.


“Hatiku sudah dipenuhi kamu, tentu aku akan baik-baik saja.” Liam mengakhiri kebersamaan mereka dengan senyum hangat. Indah dan Fello, ... Keduanya sangat berbeda. Jauh. Karena ketika Indah mementingkan keselamatan Liam, tidak dengan Fello yang mewajibkan Liam membatasi kehidupannya dari dunia luar terlebih semua hal yang berurusan dengan wanita lain selain Fello.

__ADS_1


__ADS_2