
Indah masih harus bed rest, tapi wanita itu melakukannya di rumah orang tuanya. Selain itu, kedua kakinya juga masih bermasalah. Ia sampai harus dibantu untuk semacam ke kamar mandi dan semua aktivitas lain yang membutuhkan tindakan berarti. Jadi, semacam memasak dan beres-beres rumah, belum bisa Indah lakukan.
Di pagi yang indah kini dan terbilang hangat akibat sinar mentari yang telah menyinari, Indah yang duduk di kursi dan tengah berjemur, membiarkan tukang urut mengurut kedua kakinya.
Sepanjang diurut, kedua kaki Indah terasa sakit. Menandakan dugaan Indah akan lumpuh, terbantahkan.
“Tulang kaki kamu memang mengalami trauma. Tiga hari lagi, kita cek rutin ke rumah sakit, ya,” ucap Liam yang sampai jongkok di sebelah kiri Indah.
Indah yang sadar keuangan suaminya sedang jauh dari kata baik, langsung menolak dengan halus. “Enggak usah, Mas. Dipijat saja pasti sembuh. Dua kali pijat pasti hasilnya sudah ada.” Indah terus meyakinkan agar sang suami berhenti mengkhawatirkannya.
“Pijat ya iya, tapi kontrol rutin ke rumah sakit juga wajib,” balas Liam. Ia mengelus gemas kepala Indah kemudian membenamkan gemas wajahnya di sebelah pipi Indah. Kali ini, istrinya itu menggerai rambut panjang lurusnya. Satu hal yang menjadi terlihat mencolok dari istrinya. Wanita itu menjadi terlihat jauh lebih kurus.
***
“Bangunan yang sudah ada akan sayang kalau langsung dirobohkan begitu saja,” ucap Liam sambil mengurut kaki Indah dan sudah menjadi bagian rutinitas malamnya. Sebab semenjak hamil, Indah sering mengeluh pegal-pegal khususnya di kedua kaki dan juga tangannya.
Di tengah suasana kamar yang remang karena mereka memang sudah bersiap untuk tidur, Indah melongok wajah Liam. “Ya jangan dihancurkan. Dilanjut saja. Ada berapa, tetap bisa jadi penginapan, kan? Kan jadinya makin unik. Apalagi kalau kita juga bisa mengundang orang penting buat menginap.”
“Aku juga mikirnya gitu. Namun kalau tetap dijadikan penginapan, buat restonya kecil banget, dong?” balas Liam.
“Ya enggak apa-apa. Pelan-pelan, nanti kalau sudah ada waktunya juga dikasih rezeki, dikasih lahan tambahan.” Setelah berucap demikian, Indah kembali menatap Liam. “Hitungannya sudah pakai tanah papah, belum, sih?”
“Janganlah, ah. Enggak enak. Kita pakai punya sendiri saja.”
“Sayang, enggak apa-apa. Nanti aku yang ngomong. Daripada nganggur juga kan lahannya,” balas Indah.
__ADS_1
“Enggak, seadanya dulu, pelan-pelan seperti kata kamu. Nanti kalau sudah ada rezeki, baru kita beli tanah orang tua kamu,” balas Liam.
Tak mau memaksa dan ditakutkan menjadi perkara di antara mereka, Indah menyerah. Ia mengangguk-angguk paham, kemudian meminta suaminya untuk berhenti memijatnya.
“Sini, sudah malam. Tidur,” ucap Indah. Kedua tangannya terulur, mencoba meraih kedua tangan Liam.
“Ini aku puasa sampai kapan?” tanya Liam sambil merangkak mengungkung tubuh Indah. Ia memasang wajah frustrasi, tapi malah ditertawakan oleh sang istri.
“Aku serius,” lirih Liam cenderung protes sambil mendekap erat tubuh Indah. Ia menyandarkan sebelah wajahnya di sebah wajah Indah.
“Bed rest-nya kan wajib dua Minggu, tapi ini baru satu minggu. Berarti masih harus satu minggu lagi. Itu pun belum pasti, kan? Semoga sih yang di perut tetap aman dan enggak sampai ada bed rest tambahan,” jelas Indah yang masih menertawakan suaminya.
“Jangan ada bed rest tambahan lah. Kalian wajib sehat, sakitnya cukup buat aku saja,” sergah Liam.
Indah mendekap erat tubuh suaminya. “Papahnya pun, jangan sampai sakit. Papahnya juga harus selalu sehat.”
Paginya, Liam kembali dengan kesibukannya. Merebus air untuknya dan Indah mandi, kemudian kesibukannya berlanjut di dapur dan menyiapkan sarapan untuk semuanya khususnya untuknya dan Indah.
Sakit begini, kami malah tambah romantis. Liam juga makin perhatian. Jarang-jarangkan, ada CEO yang di tempat kerja saja sibuk, masih mau mengurus istrinya yang sakit begini. Dari mandiin, mijitiin, bahkan masakin, batin Indah yang memang memuji suaminya sendiri.
“Ya ampun, Sayang ... telur mata sapinya gosong. Duh, ini gimana dong?” Liam ketar-ketir sembari menunjukkan telur mata sapi gosongnya di taflon.
“Itu telur mata sapinya kena katarak!” Indah langsung menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut. Ia tidak bisa untuk tidak tertawa.
Liam menahan tawanya sambil memandangi pasrah sang istri yang duduk di dekat meja makan.
__ADS_1
“Ya sudah, kamu makan telur mata sapi punyaku saja,” sergah Liam yang kemudian mengangkat telur mata sapi gosongnya, menaruhnya di calon burger buatannya. Dini hari tadi, Indah tiba-tiba membangunkannya, merengek minta dibelikan burger. Tiga burger ukuran terbesar langsung Indah habiskan, tapi setelah kembali bangun di paginya, Indah minta dibuatkan burger. Sungguh burger buatan Liam, bukan buatan orang lain apalagi beli.
“Itu buat aku saja, enggak usah ditukar. Enggak apa-apa, itu masih enak kok. Cuman pasti agak over kriuk sama pahit dikit,” ucap Indah, tapi sang suami langsung menggeleng.
“Apaan buat kamu. Yang ada, yang di perut ikut gosong!” keluh Liam sambil memasang roti burger bagian tutupnya.
Jawaban mencibirr Liam dalam berkeluh kesah, sukses membuat Indah makin kesulitan menghentikan tawanya. “Gosong gimana sih, Sayang? Pabriknya saja enggak ada yang gosong.”
Liam juga menjadi menahan tawanya. Ia kembali menatap Indah. “Amit-amit ih, Sayang. Takutnya mirip orang lewat. Ya sudah yah, kita jangan bahas yang aneh-aneh. Takutnya si utun malah ....”
Termasuk itu alasan mereka yang sengaja menjaga jarak dari Fello dan pak Wijaya. Juga mereka yang sebisa mungkin mengontrol kebencian mereka kepada keduanya apa pun yang telah keduanya lakukan kepada mereka dan memang fatal. Semua itu semata karena mereka tidak mau calon anak mereka mirip dengan orang yang mereka perlakukan dengan berlebihan apalagi jika itu menyangkut benci dan dendam.
Liam dan Indah percaya, bayi akan lahir membawa apa yang sang mamah bahkan orang tua rasakan. Mereka mempelajarinya dari masukan tetangga khususnya mereka yang sudah berpengalaman. Termasuk itu masukan dari dokter yang mengatakan pentingnya menjaga emosi seorang ibu hamil. Sebab emosi ibu hamil juga akan sangat mempengaruhi emosi janin maupun saat akhirnya janin itu lahir.
“Sayang, burger buatan kamu lebih enak. Terus ini, telur mata sapi kataraknya,” ucap Indah, yang belum apa-apa sudah membuat Liam terbahak hanya karena ia menyebut telur mata sapi katarak. Sebagian burger yang suaminya makan memenuhi mulut, sampai muncrat.
Demi adil, Indah sengaja membagi burger mereka. Separuh burger waras dipadukan dengan separuh burger dengan telur mata sapi spesial karena katarak.
“Menu burger spesial dengan telur mata sapi katarak, bisa kita jadikan list menu unik, lho,” ucap Indah kemudian sambil melahap nikmat burgernya, tapi lagi-lagi, sang suami tidak bisa berhenti tertawa di setiap ia membahasnya.
“Sayang, nanti aku mau lihat ke resto sekaligus penginapan kamu,” ucap Indah sambil terus mengunyah.
Di sebelahnya, Liam yang balas menatap dan memang sampai menghadap kepadanya, mengelusnya pipinya penuh sayang menggunakan tangan kiri yang tidak memegang burger.
“Nanti kita gendong, ya. Kamu kalian ikut kontrol. Siapa tahu kita jadi nemu menu baru, apa inovasi baru. Soalnya sejauh ini, kamu kok nemu ide unik-unik mulu!” ucap Liam yang sampai mencubiit gemas pipi Indah yang awalnya ia elus penuh sayang.
__ADS_1
Indah terkikik geli. “Berarti nanti kan aku otomatis kerja, jadi aku boleh minta burger spesial dengan telur mata sapi katarak, dong?” tanyanya, dan lagi-lagi langsung membuat Liam terbahak.
Sekitar satu jam kemudian, Liam sungguh membopong Indah, meninjau lokasi yang awalnya hanya akan menjadi penginapan, tapi kini malah dibuat menjadi restoran kecil dengan konsep anti mainstream. Ada wahana bahkan aneka spot foto yang menjadikan alam semacam sungai dan curug sebagai bagiannya. Malahan Liam yakin, tempat usahanya akan sangat memukau. Dan seperti kata Indah, penginapan maupun resto yang instragameble milik mereka, bisa menjadi salah satu tempat wisata di tempat sana. Terlebih, Liam juga sudah sampai mengantongi kerja sama dengan pihak curug.