Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
47 : Kerikil Hubungan


__ADS_3

Suasana memang akan menjadi berbeda jika pegawai Amour Hotel datang. Kebahagiaan yang awalnya menyelimuti kebersamaan, perlahan menjadi berkurang. Menyisakan kecanggungan di antara Liam khususnya Indah, seolah adanya mereka karena sebuah kesalahan. Padahal sebelum memulai dengan Indah, Liam sudah lebih dulu mengakhiri hubungannya dan Fello. Masalahnya, Fello yang tidak mau Liam ceraikan.


Masalahnya, terkadang yang namanya manusia sangat sulit ditebak. Kadang mereka baik, tapi tak jarang akan menusuk kita di belakang. Layak halnya yang Indah alami. Mereka yang begitu baik bahkan santun kepadanya dan kebanyakan wanita dengan teganya mengabarkan bahwa sebelum menjadi istri resmi Liam, Indah merupakan pelakor, istri rahasia seorang CEO hingga membuat istri resmi yaitu Fello, berakhir tragis menjadi penghuni RSJ. Sempat kenyataan tersebut membuat mental Indah down karena biar bagaimanapun, Indah wanita biasa. Kesabarannya memiliki batas.


“Aku sudah sesukses ini, dan kamu bukan siluman seperti Fello yang saat itu sampai membuat semua wanita takut. Ya sudah, yang penting aku enggak urusin atau sekadar kasih mereka kesempatan. Kalaupun kami sampai ada urusan, itu karena memang urusan pekerjaan dan kamu selalu ikut ke mana pun aku pergi,” bisik Liam sambil merangkul sang istri dari samping.


“Wah, ... ganteng banget mirip papah yah,” ucap ibu-ibu sosialita di depan sana. Ibu-ibu menor bin sek-si melebihi Fello karena tubuhnya dipenuhi lipatan lemak itu tengah berusaha merayu Agiel yang sayangnya cuek bin dingin.


Indah menatap Liam. “Jangan kerja sama dengan yang bisa jadi bibit penyakit. Kalau kamu berani kerja sama dengan yang macam itu, aku enggak mau promil!” lirihnya sengaja mengancam. Di hadapannya, Liam yang masih mendekapnya langsung gelagapan. “Kamu sendiri yang selalu menolak kerja sama dari tua bangka miliyader hanya karena mereka terus mengejarku!” lanjut Indah sengaja mengingatkan. Dan kali ini, suaminya langsung mengangguk-angguk patuh.


Pada kenyataannya, hubungan mereka memang tak pernah luput dari batu kerikil hubungan. Andai bukan Liam yang diincar para wanita, tanpa kenal usia karena yang antre ke Liam dan usianya sebaya nyonya Nani juga ada, layaknya sekarang yang sedang menggoda Agiel, yang mengincar Indah juga tak kalah banyak.


“Prinsipnya, mending pelan-pelan tapi pasti dan rumah tangga kita pun aman, daripada ambil risiko dan kita terancam bubar!” Kali ini, Indah menatap kesal Liam. Ia sengaja maju lebih dulu dan melalui lirikannya, ia mendapati sang suami menyusul.


“Mamah ...,” seru Agiel sambil berlari menghampiri sang mamah.


“Wah, ternyata mamahnya masih muda, pantas Mas Liam tergoda,” ucap si ibu-ibu sosialita dan kerap dipanggil mami Anne oleh orang-orang.


Mereka tengah ada di ruang kerja Indah yang memang menjadi tempat pertemuan tamu penting. Ruang kerja Indah sendiri sebenarnya hanya bersebelahan dengan ruang kerja Liam.


“Istri saya tidak hanya menggoda, Bu. Karena istri saya juga sangat berharga. Tanpanya, saya belum tentu punya semua ini. Punya anak kembar dan sekarang lagi program lagi.” Liam sengaja membangga-banggakan Indah. Ia yang awalnya merangkul Indah, menjadi membungkuk demi mengemban Arla yang mendadak minta diemban setelah gadis kecil itu melihatnya. Padahal awalnya, Arla tengah sibuk mencoret-coret papan tulis khusus yang sengaja disiapkan seluas dinding di sebelah pintu. Sebab berbeda dari Ageil yang cenderung hobi mendengarkan khususnya mendengarkan dongeng dari orang tuanya, Arla cenderung sibuk corat-coret, menciptakan banyak desain unik.


“Ah kata siapa?” ucap mami Anne sambil berangsur berdiri. Ia sengaja menggoda Liam di hadapan sang istri. “Enggak apa-apa, ya, dulu saja kamu dapat dia gara-gara nyomot dari Fello.” Ia jelas sengaja izin kepada Indah. Izin memiliki suaminya. “Karma kan memang ada, ya harus terima kalau suamimu juga diambil wanita lain juga. Untungnya si Fello sudah resign dari ODGJ. Kalau enggak, kasihan banget tuh anak.”


Indah menggeleng tak habis pikir sambil menahan senyumnya, saking kesalnya. Ia men-cium pipi Agiel penuh sayang.

__ADS_1


“Ibu ini maksudnya apa, ya? Ibu jangan ngomong sembarangan, ya. Malahan tanpa istri saya, justru saya yang jadi ODGJ gara-gara Fello dan papahnya!” Kali ini, Liam benar-benar marah. “Kalau Ibu memang tidak tahu duduk perkaranya, please, enggak usah bahas-bahas, takutnya jatuhnya fitnah!”


Anggapan mantan pelakor, maupun perebut suami orang, memang menjadi anggapan tak terelakan yang harus Indah rasakan. Entah gosip apa yang sudah disebarkan, tapi Liam benar-benar marah di setiap ada yang berani mengusik istrinya, apalagi dengan sebutan semacam pelakor bahkan perebut suami orang.


“Kalau Ibu tidak ada kepentingan dan malah mau menyakiti istri saya apalagi mengobrak-abrik rumah tangga saya, lebih baik sekarang Ibu pergi,” tegas Liam.


Mami Anne menghela napas tak habis pikir kepada Liam, tapi ia juga sampai melirik sinis Indah. “Saya mau mengajak kerja sama, Mas Liam.”


“Kerja sama apa? Saya sudah enggak buka proyek!” balas Liam setengah mengomel.


Mami Anne mengumbar senyumnya. Ia menenteng tas mahalnya seiring tatapan penuh senyumnya yang terus tertuju kepada Liam. “Nanti cek WA saya saja. Hubungi saya segera pasti cocok.”


Melangkah ganjen, Mami Anne mengibaskan rambutnya yang panjang bergelombang warna pirang. Rambut yang tampak sangat memukau tapi bisa dipastikan itu hanya rambut palsu.


Liam waswas. “Bentar,” ucapnya yang sengaja menjauh karena ingin memastikannya lebih dulu, sendiri tanpa Indah. Sebab sesabar apa pun, kesabaran Indah tetap ada batasnya.


“Sayang, berani kamu nutup-nutupin, nanti malam kamu tidur di kamar mandi, ya!” kesal Indah walau tentu saja, ia masih bertutur lembut.


Liam yang baru akan menjauh langsung menatap serba salah cenderung sedih, kepada Indah. Pasrah, ia memberikan ponselnya kepada Indah. Tak lama kemudian, istrinya itu langsung istigfar.


“Kurang-ajar banget tuh nenek-nenek. Apanya yang bagus coba, berani-beraninya kirim foto bu-gil begini. Macam enggak punya harga diri saja. Kurang-ajar banget dikiranya suamiku kurang asupan apa gimana. Meren-dahkan banget ini namanya.” Indah sampai menghela napas kesal.


“Sudah ... sudah, diblokir saja. Tanpa kamu lihat, aku sudah paham foto macam apa yang dia kirimkan,” ujar Liam sambil membawa pergi Arla dari sana. Ia membawanya duduk di sofa panjang yang ada di ruangan Indah. Sofa yang juga sempat menjadi tempat mami Anna menunggu.


Indah menatap bingung suaminya. Ia menyusul Liam. “Kamu sudah terbiasa dapat gini, ya? Ih mereka stress banget!” Kemudian ia juga sengaja bertanya, “Ini mami punya suami enggak sih?”

__ADS_1


“Kayaknya sih enggak. Kurang tahu juga. Kenapa?” Liam langsung bengong menatap sang istri yang baru saja duduk di sebelahnya.


“Mau aku kirimin nih foto ke suaminya. Mau aku kasih tahu tuh suami, kelakuan istrinya kayak gimana,” balas Indah sewot.


Liam mendengkus sambil merebahkan punggungnya pada sandaran sofa mereka duduk. “Biasanya kalau istri gitu, suaminya juga enggak beda loh. Sudah langsung hapus saja. Takutnya Arla apa Agiel lihat. Apalagi mereka kan juga suka main ponselku buka-buka galeri.”


Indah menghela napas dalam. Memiliki suami good looking sungguh menjadi cobaan besar dalam hidupnya. Apalagi walau mereka kompak menjaga hati, kerikil hubungan tetap berdatangan silih berganti.


Indah yang menghapus isi ruang obrolan WA Liam dengan mami Anne, dikejutkan dengan elusan tangan Liam yang menyapa kepalanya. “Apa?” lirihnya sambil menatap Liam.


“Cek rumah, yuk. Sudah sampai mana pengerjaannya. Ya meski kita baru bisa menempatinya sekitar dua tahunan lagi,” ujar Liam.


Tak jauh dari sana, Liam dan Indah memang tengah membangun istana untuk keluarga kecil mereka. Indah mengangguk-angguk karena daripada Liam, ia memang jauh lebih cerewet jika itu menyangkut rumah mereka.


“Ayo, ayo ... kita ke rumah kita dulu. Habis itu, baru kita,” ucap Indah yang langsung dipotong Liam. Suaminya itu sudah lebih dulu mengabarkan, sepulang dari melihat proses pembangunan rumah, mereka akan langsung jalan-jalan.


“Jalan-jalan ke mana?” tanya Indah.


“Ke mal dong, nanti sekalian nonton. Mamah mau nonton apa?” ucap Liam sambil menahan senyumnya. Di sebelahnya, Indah langsung tersipu.


“Bilang saja mau ngajak kencan,” sindir Indah dan langsung membuat Liam tertawa.


“Anak-anak sudah mau tiga tahun dan kita sepakat promil. Promil kalau hanya asal bikin tanpa perasaan apalagi keromantisan, ya kurang greget. Yang sudah diromanatis-romantiskan saja, hasilnya flat macam Agiel. Apa kabar kalau hubungan kita isinya perdebatan sama kecemburuan?” balas Liam sengaja memperbaiki hubungan mereka dari kerikil rumah tangga yang terus saja menghampiri hubungan mereka.


Indah menatap Liam sambil mengangguk-angguk paham. “Susah emang, tapi aku yakin, kita bisa lalui semuanya,” ucap Indah yang kemudian tersenyum. Senyum yang juga langsung dibalas oleh Liam dengan senyum tak kalah lepas sekaligus hangat.

__ADS_1


__ADS_2