Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
37 : Masa Depan Baru


__ADS_3

“Jika aku menemuinya, itu sama saja aku melukaimu dengan sengaja.” Liam masih tidak bersemangat.


Indah menatap pedih suaminya itu. Liam tidak baik-baik saja, dan ia bisa merasakannya.


“Lima tahun. Aku sudah menunggunya selama itu. Memberinya waktu, kesempatan, aku benar-benar memberinya semuanya. Terakhir, dia malah mencoba menyingkirkan mamahku hanya agar dia bisa memilikiku seutuhnya.” Liam menunduk lemas.


“Pada kenyataannya kami sudah berakhir, sejak hari itu. Hari di mana dia menyerangg mamah, dan aku memilihmu.”


“Dia yang memulai, dia juga yang terus berulah. Sekarang yang kubisa hanyalah mendoakannya. Semoga dia segera menemukan sekaligus berjodoh dengan laki-laki yang memang layak bersanding dengannya. Laki-laki yang sederajat dan juga jauh lebih baik dariku, dalam segala sisi.” Liam berangsur menatap Indah. “Jangan pikirkan yang lain karena jika kita melakukannya, kita hanya akan membuang-buang waktu apalagi jika itu untuk berurusan dengan orang seperti mereka.”


“Apa pun yang mereka lakukan aku tetap diam.” Liam menahan napas kemudian menghela napas pelan. Ia mendadak merasa sangat sesak hanya karena apa yang akan ia katakan.


Indah menggunakan kedua tangannya untuk meraih kedua tangan Liam, menggenggamnya erat sebagai wujud dari dukungan sekaligus rasa sayangnya. Matanya yang makin lama makin basah, terus menatap Liam, meyakinkan.


“Hari ini saja, semua janji dibatalkan. Awalnya aku memohon, mengemmis kepada mereka. Namun setelah aku tahu, pak Wijaya penyebabnya dan semuanya malah bekerja sama dengan pak Wijaya, ... sejahat itu mereka. Mereka terus menghinakuu, tapi mereka terus saja menyerangkuu dan tidak rela jika aku bahagia apalagi sukses. Padahal mereka tahu, aku memulai semuanya dari nol dengan modal yang juga aku kumpulkan dengan segala cara. Namun hari ini, karena ulahnya, dia menguras lima puluh persen lebih dari modal yang kumiliki.”


“Yang makin bikin aku enggak habis pikir, anaknya juga masih saja sibuk menyerang kamu!” Kali ini, Liam tidak bisa menahan emosinya. Indah yang terus menangis, berangsur mengangguk-angguk kemudian memeluknya. Indah memeluknya sangat sambil terisak-isak.

__ADS_1


“Sayang, kalau membuat penginapan membuatmu harus memiliki banyak modal sekaligus relasi, kenapa kamu enggak udahan saja? Kenapa kamu enggak bikin yang lain saja? Bikin semacam restoran yang ada wahananya, contohnya. Nanti sungai di belakang, termasuk curugnya, tetap kepakai. Nanti kita kerja sama dengan pihak pengelola curugnya juga,” ucap Indah yang kemudian buru-buru membingkai wajah suaminya menggunakan kedua tangan.


“Jalan menuju sukses enggak hanya satu. Banyak jalan menuju roma, kan? Nanti kita bikin konsep resto yang anti mainstream. Kita kasih wahana maupun spot-spot foto yang kekinian. Kebanyakan dari orang kan sekarang suka yang gitu. Apalagi di dekat sana banyak tempat wisata. Resto kita pun bisa jadi salah satu wisata juga!” Indah terus meyakinkan. Tak terbayang betapa ruginya sang suami telah kehilangan lima puluh persen lebih modal yang dimiliki.


“Kamu itu berbakat, ... kamu punya potensi bahkan kamu spesial. Makanya mereka enggak rela dan memang enggak bisa lepas kamu!” lanjut Indah yang kemudian juga berkata, “Sudah yah, mulai sekarang kita enggak usah mikirin mereka lagi. Sempat berpikir aku yang jahat, tapi nyatanya mereka yang jahaanam. Mulai sekarang kita fokus ke kita saja, sudah, mereka biarin saja. Namun jika kamu butuh bukti kejahatann Fello kepadaku hari ini, aku punya rekamannya. Termasuk saat dia mengakui bahwa yang kemarin menabrakku adalah orang kirimannya.”


Liam mengangguk-angguk, kedua tangannya balas membingkai wajah Indah. Ia mengunci kening Indah dengan ciumman dalam yang juga berlangsung lama.


Bermalamm di rumah sakit yang sama dengan Fello, membuat pak Wijaya beberapa kali datang, meminta Liam untuk menjenguk Fello. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah apalagi malu setelah apa yang dilakukan.


“Urus saja sendiri, cari laki-laki hebat yang jauh lebih pantas dariku,” cibir Liam malas. Ia sungguh tidak peduli, walau pak Wijaya dan kedua ajudannya sudah berdiri garang di hadapannya.


“Aku sudah menceraikannya. Dan Anda juga yang mengatakan, Fello terlalu berharga untuk laki-laki rendahan sepertiku!” sergah Liam. Ia yang sudah ikut berbaring di ranjang rawat Indah, terpaksa duduk. Juga, Indah yang menjadi tidak bisa tidur gara-gara pak Wijaya yang tidak mau diam.


“Kita benar-benar sudah tidak memiliki hubungan. Kita sudah masing-masing. Jadi tolong, berhenti. Jangan mengganggu hidupku lagi.” Kali ini Liam menyikapi mantan mertuanya itu dengan sangat dingin. “Masalah perceraian, pengadilan sudah mulai mengurus meski Fello tidak mau tanggung jawab.”


“Putri saya sakit gara-gara kamu, kamu sudah menghancurkannya, dan kini kamu dengan seenaknya bilang begitu?!” tegas pria kurus bertubuh tinggi di hadapan Liam.

__ADS_1


“Dia begitu gara-gara didikan kamu. Berhenti menghakimiku karena semua yang kalian permasalahkan memang bersumber dari kalian!” tegas Liam.


Di ruang rawatnya, Fello sudah berulang kali berusaha melarikan diri. Namun, kenyataan kedua tangan dan juga kedua kakinya yang diikat, membuatnya kesulitan melakukannya. Mau berteriak pun, ia tak lagi bisa melakukannya dengan leluasa. Sebab mulutnya disumpal dengan kain.


Fello memang ada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit Indah dirawat, tapi karena keadaan Fello yang sering mengamuk dan tak segan menghancurkan apa yang ada di sekitarnya, Fello sengaja diamankan. Kaca jendela sebelah ranjang Fello saja sudah pecah, dan pihak rumah sakit sudah meminta pak Wijaya untuk memindahkan Fello ke RSJ karena yang Fello butuhkan memang pengobatan mental sekaligus jiwa, bukan sakit biasa layaknya manusia normal pada umumnya.


Kini, ditemani Indah yang terus memaksa agar tetap menyempatkan diri melihat keadaan Fello, Liam menyaksikannya. Hanya saja, efek yang terlalu muak karena selalu diperlakukan layaknya budaak membuat Liam hanya sekadar kasihan. Tak ada lagi rasa peduli apalagi sayang. Rasa ke Fello hanya kasihan karena kini, semua rasa sayang Liam hanya untuk Indah.


“Dulu aku memang pernah sangat menyayangi Fello. Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Fello. Tanpa peduli apa kata orang yang menganggap cintaku kepada Fello keterlaluan, aku sungguh mendewikan Fello. Namun setelah semua yang terjadi dan dia pun tak segan menyerrang mamahku berulang kali, ... semua rasa sayang apalagi cintaku kepada Fello, sudah langsung kadaluwarsa,” ucap Liam yang kemudian menatap prihatin pak Wijaya yang berdiri di sebelahnya, di depan pintu kaca selaku ruangan Fello berada.


“Aku sudah melihat Fello, tapi apa pun itu tidak akan mengubah keputusanku,” ucap Liam sambil menatap sekaligus menghadap pak Wijaya penuh keseriusan


“Katakan semua yang kamu mau, ... aku akan mengabulkannya untukmu. Kamu mau apa? Kamu mau saham? Kamu mau uang? Kamu mau rumah? Hotel ...? Kamu mau bangun penginapan? Semuanya akan kamu dapatkan asal kamu kembali kepada putriku,” lirih pak Wijaya benar-benar memohon.


Indah yang hanya diam menjadi gelisah. Ia takut Liam tergiur, meski kemungkinan itu hanya sebatas kemungkinan kecil. Liam pria yang memiliki pendirian, dan kini, pria itu membuktikannya.


Setelah menggeleng, Liam berkata, “Aku tidak butuh semua itu apalagi tanpa bantuanmu pun, aku bisa mendapatkannya.” Liam menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia masih menyikapi keadaan dengan setenang mungkin. “Sekarang, aku hanya akan melanjutkan kehidupan baruku. Kehidupan baru yang jauh lebih membuatku bahagia walau Anda dan putri Anda juga terus berusaha menghancuurkannya.”

__ADS_1


Tanpa kembali memedulikan pak Wijaya maupun masa lalu yang terus menyakitinya, Liam pergi membawa Indah. Karena seperti niatnya, kini ia hanya ingin melanjutkan kehidupan barunya. Ia akan menyelesaikan setiap semua yang ia mulai. Ia akan menjalani apa yang sudah menjadi pilihannya. Namun Liam yakin seyakin-yakinnya, bersama Indah dirinya akan jauh lebih bahagia. Meski yakin masa lalunya akan terus berusaha menyerang, Liam yakin, asal bersama Indah, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Kini saja, berkat Indah dirinya sudah memiliki impian baru. Masa depan lain yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.


__ADS_2