
“Sabar ... ini ujian hubunganku dan Liam,” batin Indah.
Jauh di lubuk hatinya, Indah terus meyakinkan, menguatkan dirinya untuk lebih bersabar. Sebab di situasi sekarang, ia wajib menjadi orang waras. Ia harus bisa menilai karena biar bagaimanpun, Liam sangat membutuhkannya. Fello dan semua kekuasaan yang wanita itu miliki bisa mennghajar Liam sampai ke akar, bahkan akar paling lembut sekalipun. Tentunya, Indah juga harus setegar karang yang tetap bertahan walau terus diterjang ombak.
Menjadi bagian bahkan istri seorang Liam, Indah harus sekuat baja. Nyonya Nani yang merupakan mamah Liam saja nyaris mmeregang nyawa karena Fello. Apa kabar Indah yang malah menjadi istri baru Liam?
“Jadi, ini mau bagaimana, Bu?” tanya si dokter. “Orang ini sengaja kami biius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun saran saya, jika keluarganya tidak sanggup mengurus, serahkan saja kepada pihak yang berwajib.”
“Kalau boleh tahu, efek biusnya berfungsi berapa lama, Dok?” tanya Indah.
“Tentu saja tidak lama. Maka dari itu, kita wajib melakukan tindakan,” balas dokter.
Satu hal yang langsung menguasai benak Indah. Haruskah ia mengabarkan keadaan ini kepada Liam? Namun belum apa-apa, rasa khawatir, cemburu, bahkan takut itu seketika muncul menguasai kehidupan seorang Indah. Fello dan Liam, juga semua kisah keduanya. Keduanya pernah saling sangat mencintai karena di sederet foto yang Fello jadikan bukti saja, Liam tampak begitu mencintai Fello. Tatapan, senyum juga setiap sikap apalagi sentuhan seorang Liam kepada Fello tidak bisa berbohong.
“Justru kalau kamu enggak ngabarin, kamu salah, Ndah.” Hati kecil Indah berbisik, dan kenyataan tersebut malah membuat batin Indah menjerit. Karena jujur saja, Indah tidak mau kehilangan Liam. Bahkan sekadar berbagi, Indah juga tidak bisa melakukannya.
“Apa pun yang terjadi nanti, itu pasti menjadi yang terbaik. Mau Liam memilihmu atau malah memilih Fello, kamu tetap menjadi Indah Gayatri yang pernah sangat Liam cintai.” Lagi, hati kecil Indah kembali berbisik dan karena itu juga, Indah yang merasa gamang menjadi terisak pedih.
Tangis Indah makin lama makin kencang. Tubuhnya terguncang pelan, dan isak pilu yang keluar dari bibir tipisnya terdengar sangat menyakitkan. Ibu Dwiningsih yang sebenarnya belum baik-baik saja, sengaja menghampiri Indah walau keputusannya itu membuatnya tertatih-tatih. Ibu Dwiningsih merengkuh, memeluk tubuh Indah yang mendadak menjadi rapuh.
__ADS_1
“Yang sabar, Ndah. Ingat janin kamu. Kandungan kamu sedang lemah. Fokus ke kesehatan kalian saja. Mengenai Liam, seperti yang kamu katakan tadi kepada wanita itu. Ini sudah menjadi risiko kamu. Kuat jalani, enggak ya bukan masalah karena andai kamu jadi orang tua tunggal pun, Mamah percaya kamu akan melakukan sekaligus menjadi yang terbaik.”
Apa yang sang mamah katakan memang benar. Namun kenyataan itu malah terdengar sangat menyakitkan bagi Indah. Hatinya seolah direemas, kemudian dibubuhi perasan air jeruk nipis. Benar-benar pedih.
***
Liam pulang tepat pukul tujuh malam karena Indah tidak langsung mengabarkan kasus Fello. Indah hanya meminta Liam untuk secepatnya menyelesaikan urusan pria itu karena ada hal serius yang ingin Indah katakan. Itu pun Indah kabarkan sekitar satu jam lalu. Indah tidak mau mengganggu Liam karena pria itu memang sedang sangat sibuk sedangkan modal mereka sangat pas-pasan.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” selain terlihat sangat khawatir, kini Liam juga terlihat kelelahan. Kenyataan tersebut ditegaskan dengan kesibukan Liam dalam menghela napas. Juga, detak jantung Liam yang berpacu sangat cepat dan terdengar keras. Indah bisa merasakannya karena Liam langsung mendekapnya erat. Dekapan yang malah membuat Indah merasa nelangsa dan berakhir menangis.
Liam menatap sedih Indah dengan tatapan yang terbilang memanjakan istrinya itu. Ia membuka maskernya kemudian menciumii setiap air mata yang mengalir dari kedua sudut mata Indah.
Indah mengangguk-angguk, kemudian memeluk Liam penuh kemanjaan. Kedua tangan Indah mendekap tengkuk Liam, sementara tak lama setelah itu, wanita cantik itu juga menjadi sibuk mengabsen wajah suaminya melalui kecuupan.
Sebenarnya Indah kenapa? Tadi, mamah Dwi juga langsung buru-buru pergi padahal aku belum sempat menyapa. Sepertinya memang ada masalah dan itu berkaitan denganku, pikir Liam lantaran perginya sang mamah mertua yang entah ke mana, juga dibarengi tatapan wanita bersahaja itu yang tampak sangat kecewa kepadanya.
Sambil berangsur membingkai wajah Indah, Liam yang menatap lekat kedua mata sang istri berbisik, “Ada masalah apa? Ayo, cerita. Anak kita, baik-baik saja, kan? Kaki kamu juga sudah kamu konsultasikan ke dokter kan? Please, jangan bikin aku takut.”
“Aku mohon, tolong ceritakan. Pelan-pelan,” lanjut Liam masih berbisik-bisik. Di hadapannya, Indah langsung mengangguk-angguk, tapi wanita itu tampak sangat sedih. Air mata Indah terus berlinang membasahi pipi. “Atau memang aku salah?” tebak Liam lagi.
__ADS_1
“Sebenarnya ... tadi Fello ke sini,” cerita Indah, yang langsung mendapati keterkejutan di wajah seorang Liam. Gelisahnya Liam ia yakini karena pria itu langsung sibuk menduga.
Iya, seperti yang Liam duga, semuanya memang tidak baik-baik saja. Malahan Liam langsung berpikir, bahwa sebenarnya, Fello sudah mengabarkan semuanya. Termasuk itu mengenai pernikahan mereka. Bisa jadi, Fello juga sampai melebih-lebihkan hanya untuk menghaancurkan Indah, memaksa Indah mundur meninggalkan Liam.
“Dia cerita apa saja?” tanya Liam lembut sesaat setelah menghela napas pelan. “Apakah dia juga mengabarkan mengenai aku yang sudah mencoba menceraikannya, tapi dia tetap tidak mau?” lanjut Liam.
Indah langsung terkesiap, tapi ia berangsur menggeleng. Kemudian, makin membuatnya penasaran, Liam malah menghela napas pelan. Pria itu makin loyo dan tak kunjung menceritakan segala sesuatunya.
“Biarkan aku bernapas dulu karena lepas darinya benar-benar sulit. Semuanya terlalu menyakitkan sebelum akhirnya aku bertemu kamu,” lirih Liam yang juga sampai memunggungi Indah. Namun tak lama kemudian, ia meraih tasnya dari meja di sebelah, kemudian membukanya. Ia meraih satu map mika warna biru, dan memberikannya kepada Indah.
“Aku sudah melayangkan surat gugatan perceraian, tapi dia mengabaikannya. Dia tidak mau bercerai, meski dia terus mengiiinjak-injak kehidupanku. Hari di mana mamah nyaris mereegang nyawa, aku menjatuhkan talak kepadanya. Aku bahkan langsung mengurus perceraian kami hari itu juga, tapi sampai saat ini, dia tidak mau diproses,” ucap Liam sementara Indah sudah langsung sibuk membaca setiap berkas yang ada di dalam map mika biru miliknya.
“Tadi aku sudah berkonsultasi ke pengacara maupun pihak kepolisian karena biar bagaimanapun, apa yang Fello lakukan sudah sangat membahaayakan,” lanjut Liam.
“Tadi, dia juga mmenyerangku lagi. Namun dokter yang kebetulan datang, melumpuhkannya dengan menyuntikkan biius kepadanya,” ucap Indah dan suaminya langsung terkejut.
“Kenapa kamu baru cerita? Kenapa kamu enggak menghubungiku kalau situasinya separah itu?” sergah Liam.
“Coba temui dia. Dia ada di ruangan sebelah, jika memang belum dipindahkan ke ... RSJ. Namun papahnya bilang akan mencari pengobatan terbaik,” ucap Indah yang mengatakannya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Dalam diamnya Liam berpikir, jika keadaannya sampai separah itu, bisa jadi Fello memang sampai tidak waras. Liam mendadak sulit berpikir. Otaknya menjadi buntu.