
Indah tersentak lantaran dari dalam ruang kerja Liam, terdengar suara pecahan dan sebelumnya seperti disapu dengan kasar sekaligus brutal menggunakan tangan.
Berdiri, Indah menatap khawatir pintu kaca ruang kerja Liam. Ia mendekat di tengah jantungnya yang sudah langsung berdetak sangat cepat. Ketika akhirnya ia masuk, ternyata dugaannya benar. Fello yang sebelumnya sampai menabraknya merupakan pelakunya. Wanita itu tampak sangat emosional, napasnya terengah-engah dan dadanya yang padat bahkan kelebihan muatan, naik turun secara cepat.
“Tega, kamu!” kecam Fello yang masih menatap marah Liam, sebelumnya menjadikan Indah Gayatri sebagai tujuan.
Liam sampai berdiri kemudian buru-buru berlari menyusul Fello yang sudah lebih dulu menghampiri Indah.
“Berani kamu menyentuhnya!” tegas Liam meski ia masih jauh dari kebersamaan. Ia terus setengah berlari.
Seperti biasa, yang namanya Fello tetap tidak kenal aturan. Malahan, Fello sudah langsung mencoba meraih dagu Indah, tapi selain Indah yang langsung mundur, Liam juga sudah meraih sebelah tangan Indah. Liam menyembunyikan Indah di balik punggungnya.
“Kamu tahu konsekuensinya, Liam. Kamu benar-benar tahu!” ucap Fello emosional. Ia mengakhiri ucapannya dengan menjerit.
Liam tidak menggubris Fello karena sekadar melirik saja tidak. Bahkan meski kedua tangan Fello yang mengepal, berulang kali meninju dadanya. Sementara Indah yang mendengar bunyi tinjuan Fello, hendak memastikan. Namun Liam tidak mengizinkannya, menahannya untuk tetap di belakang punggung Liam. Liam sampai menggunakan kedua tangannya untuk menahan Indah bertahan di balik punggungnya.
Sebenarnya wanita bernama Fello ini siapa? Dia sampai berani meninju Liam. Apakah Liam sudah menolaknya dan membuat harga dirinya hancur? Pikir Indah. Ia juga yakin, wanita bernama Fello itu juga mengetahui hubungannya dan Liam. Buktinya, Liam sampai mengunci tubuhnya menggunakan kedua tangan agar ia bertahan di balik punggungnya.
***
“Aku ingin tahu,” rengek Indah memohon, di malamnya ketika mereka pulang dan sampai satu mobil.
Sesuai kesepakatan, saat di kantor, mereka tetap profesional. Bahkan meski ada agenda saling melindungi, hanya sebatas itu tanpa interaksi lebih. Mereka bahkan hanya akan bertukar kabar melalui pesan WA, meski mereka sedang di tempat yang sama.
“Dia anak pemilik perusahaan.” Liam meyakinkan.
“Kenapa dia sampai begitu ke kamu? Kamu ada salah apa ke dia? Apa, kamu menolak cintanya?” Indah menebak-nebak.
“Dia cantik. Dia berkuasa, ... tapi auranya tidak baik. Aku sampai merinding di setiap lihat dia apalagi kalau sampai bertatapan dengan dia.” Indah terus bicara, begitulah wanita. Selalu ingin banyak tahu, padahal mereka tahu, terlalu banyak tahu juga akan membuat luka yang didapat tak kalah banyak.
__ADS_1
“Siapa pun dia, kamu cukup percaya bahwa aku hanya mencintaimu!” tegas Liam sambil terus fokus mengemudi.
“Aku enggak meragukan cinta kamu. Aku hanya ingin tahu, dia kok gitu. Apa dia cinta ke kamu, dia kasih kamu semuanya, ibaratnya dia yang menemani kamu hingga sesukses sekarang, makanya dia kecewa berat pas tahu kamu malah nikah sama aku?” Indah masih bertanya.
Tangan kiri Liam meraih punggung kepala Indah, mengelusnya penuh sayang. Tak ada jawaban karena apa yang Indah tebak juga tidak sepenuhnya salah.
“Aku enggak marah kalau kamu jujur. Malahan aku lebih senang kamu jujur daripada aku justru tahu dari orang lain, Sayang. Kalaupun kamu salah, ya sudah. Yang penting jangan diulangi,” yakin Indah sambil menghadap Liam, menatapnya dengan memohon.
Tangan kiri Liam yang masih menahan punggung kepala Indah, kembali membelai di sana. “Andai aku enggak dijebak, aku juga udah enggak ada di sana.” Ia berangsur menatap Indah. “Tiga tahun lagi, aku masih terikat kontrak di sana. Kasusnya masih sama. Karena aku enggak teliti, aku asal tanda tangan.”
“Kamu yakin hanya itu? Jangan-jangan ada yang lebih parah?” Indah makin khawatir.
“Yang kemarin menyerang mamah, itu juga mereka,” balas Liam. “Namun kamu enggak usah takut.”
“Aku enggak takut, aku hanya khawatir dan itu pun karena kamu. Aku khawatir ke kamu,” jelas Indah.
“Ya beda, kalau khawatir cenderung karena sayang,” ucap Indah.
“Terus kalau takut?” lanjut Liam.
Indah menatap sebal Liam. “Balik fokus yang tadi saja. Yang Fello dan kamu yang dijebak.”
“Ya sudah tinggal dijalani. Kalaupun mau lepas, aku wajib punya surat perjanjian yang tanpa aku sadari telah aku tanda tangani,” balas Liam.
“Kenapa sebelumnya kamu ceroboh banget dan asal tanda tangan? Apakah sebelumnya, hubungan kalian memang sangat baik, hingga kamu percaya seratus persen kepada mereka?” balas Indah kembali menebak-nebak. Malahan ia mulai curiga, sebelumnya Liam dan Fello juga sampai memiliki hubungan terbilang dekat sekaligus spesial.
“Indah ... sudah jangan dibahas lagi. Jalani saja, tapi sambil mulai bikin usaha sendiri. Soalnya kalau pun tetap ikut mereka, cara mereka enggak manusiawi.” Liam meyakinkan.
Walau masih sangat penasaran, Indah yang tak mau Liam makin tertekan, sengaja mengakhirinya. “Namun andai ada apa-apa, kamu jangan lupa mengabarkannya ke aku. Kamu jangan berjuang sendiri. Kamu wajib cerita. Aku bakalan marah kalau kamu sampai berjuang sendiri.”
__ADS_1
Liam tersipu. Tangan kirinya kembali mengelus punggung kepala Indah. “Sabar, ya. Tunggu sampai kontrakku habis. Sabar juga kalau Fello ngamuk lagi.”
“Dia tahu kalau aku istri kamu?” tebak Indah.
“Tentu. Malahan dia insecure banget ke kamu.” Liam masih mengelus punggung kepala Indah penuh sayang.
“Kenapa begitu?” lanjut Indah.
Liam menahan senyumnya kemudian menatap Indah. “Masih dilanjut?” Ia menatap Indah sambil memberi wanita itu kode keras melalui tatapannya.
Indah mengangguk-angguk paham. “Baiklah,” ucapnya pasrah kemudian memilih fokus mengamati jalan. Mereka tak pulang ke rumah orang tuanya, melainkan akan pulang ke apartemen mamah Liam. Rencananya, mereka akan tinggal di sana dan tak sampai membeli apartemen pribadi.
“Sayang ...?” lirih Liam sengaja menggantung ucapannya. Namun, Indah yang bergumam sampai meraih tangan kirinya dari dada wanita itu.
“Masih di jalan, fokus ke setir dulu. Kamu ya,” tegur Indah.
Liam langsung kikuk, mengemudi dengan kedua tangan seiring ia yang menjadi mengullum bibirnya. Baru ia sadari, ketika di pernikahannya dan Fello, Fello yang terus menyerang dan memang sangat bernafsu. Kini di pernikahannya dan Indah, ia ada di posisi Fello.
“Mungkin ini yang selama ini Fello rasakan. Selalu berhasrat kepada pasangan sendiri tanpa kenal waktu. Tentunya, aku enggak kasar seperti Fello!” batin Liam.
Sampai di apartemen, mereka memarkir mobil di lantai bawah tanah. Suasana di saja terbilang sepi tapi tempat parkir sudah penuh mobil mewah. Liam mengambil alih kedua tasnya maupun tas sang istri. Ia membawanya menggunakan tangan kanan karen tangan kirinya menggandeng tangan sang istri.
“Tempat tinggal baru, kehidupan baru,” ucap Indah bersemangat.
Liam langsung tersipu. “Sudah ada gambaran weekend besok mau ke mana?” Tak tahan, ia menaut lembut bibir bawah Indah hingga wanita itu tak langsung menjawab.
“Memangnya kamu mau bawa aku ke mana? Bisa jadi, di kamar terus sepanjang weekend jauh lebih membuat kamu bahagia karena itu juga yang kamu inginkan. Daripada pergi ke tempat yang malah bikin kita terjebak macet dan waktu kita malah terbuang sia-sia,” balas Indah merasa sudah bisa membaca isi pikiran suaminya. Lihat saja, Liam sudah langsung sibuk menahan tawanya sebelum akhirnya melanjutkan rutinitasnya dengan menciumm lembut bibirnya terlebih di sana tidak ada orang lain.
Sampai akhirnya mereka di depan lift, ciumann penuh kenikmatan mereka harus berakhir lantaran dari dalam lift yang terbuka, malah ada Fello. Wanita itu menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Tatapan yang seolah akan selalu mereka dapatkan di setiap mereka bersama.
__ADS_1