
Pagi pertama di apartemen nyonya Nani, Indah memasak misoa sup. Sementara nasi dengan lauk bahkan sup daging lengkap, menjadikan bekal sekaligus menu makan siang hari ini. Mereka sarapan bersama sambil membahas kebiasaan Liam yang tidak tahu malu kepada sang mamah, meski kini pria itu bukan lagi bayi atau setidaknya bocah. Selain itu, baik Liam maupun nyonya Nani juga memuji masakan Indah. Kemudian, obrolan merambat pada rumah makan orang tua Indah. Nyonya Nani kepo dengan aneka menu di sana.
“Wedang rempah jadi minuman andalan di sana, Mah. Apalagi cuaca di sana kan dingin banget,” ucap Indah yang kemudian meminum supnya melalui sendok sup.
“Air di sana dingin banget Mah. Berasa lagi musim salju apalagi kalau hujan!” ucap Liam yang kemudian menyisihkan wortelnya ke mangkuk Indah.
“Kamu makin mager buat mandi karena hari-hari biasa saja, kalau urusan mandi, kamu susah banget?” tebak nyonya Nani terdengar keji bahkan di telinganya sendiri.
Tak hanya Liam yang langsung tertawa. Karena Indah yang tengah heran kenapa semua wortel di mangkuk Liam malah diungsikan ke mangkuknya, juga ikut tertawa.
“Tapi kemarin Mas Liam rajin Mah,” ucap Indah di sela tawanya.
Mas? Indah panggil aku Mas? Batin Liam makin sibuk menahan tawa.
“Rajin karena masih baru. Nanti kalau satu bulan ke depan ya—” nyonya Nani sengaja menggantung ucapannya.
“Ya makin rajin!” ucap Liam sengaja memotong ucapan sang mamah.
Nyonya Nani mencibir balasan Liam, ragu dan memang tidak percaya. Hingga Indah yang mendengarnya sampai berkaca-kaca akibat menertawakannya.
“Gimana enggak rajin, kalau setiap jadwal mandi, udah direbusin air sama istri?” ucap Liam sengaja membanggakan sang istri.
“Aku rebusin air soalnya yakin, Mas belum terbiasa mandi pakai air sana dan kata Mas dingin banget kayak air dari kulkas,” ucap Indah tak mau dianggap wah.
Nyonya Nany yang duduk di hadapan mereka makin melepaskan senyumnya.
“Wedang rempahnya beneran rekomen Mah. Enggak hanya enak di badan dan badan rasanya jadi hangat, di tenggorokan sama lambung pun rasanya lega!” lanjut Liam.
“Kalau gitu, ajak Mamah ke sana dong. Mamah juga mau coba wedang rempah. Kemarin Mamah belum sempat coba. Menu yang Mamah coba juga baru ikan gurami goreng krispi sama oseng kangkung. Rasanya juara sih. Kemarin rombongan pengantin juga bilang gitu,” ucap nyonya Nani yang langsung menerima segelas air minum pemberian dari Indah. Menantunya itu sampai memutari meja marmer kebersamaan mereka hanya untuk menghampirinya. Indah sangat peduli dan tak segan mengurusnya. Beda jauh dengan Fello yang malah sibuk berusaha menyingkirkannya hanya agar Liam. Iya, Fello tak mau berbagi Liam dengan siapa pun bahkan dirinya. Karenanya, sebenarnya nyonya Nani waswas, takut Fello nekat melukai Indah bahkan fatalnya sampai menghabiiisi.
__ADS_1
“Sayang, kamu enggak makan wortel?” bisik Indah ketika kembali dan duduk di sebelah Liam lagi.
“Aku enggak suka wortel, Sayang. Apalagi kalau yang ukuran gede begini,” jelas Liam sembari menikmati supnya.
“Jadi, ... aku salah, ya? Harus dipotong selembut mungkin?” tanya Indah. Suaminya menggeleng.
“No, enggak perlu. Aku makan tapi paling satu atau dua potong.” Liam masih menjelaskan sambil meminum tuntas supnya.
Indah yang masih balas menatap Liam menjadi mengernyit ragu. “Kemari pas kamu makan gorengan itu juga banyak wortelnya, dan aku lihat kamu oke-oke saja, makan sampai habis.”
“Gorengan sama kerupuk terus keripik, itu favoritnya Liam. Hati-hati karena dia juga gampang radang. Paling susah dibilangin kalau urusan gorengan, kerupuk, sama keripik!” ucap nyonya Nani yang sampai mengangkat mangkuk supnya untuk meminum supnya.
Indah melirik sebal Liam yang langsung menatapnya dengan tatapan menyesal.
“Kamu masak begini sehat, Ndah. Khusus Senin sampai Jumat atau kalau bisa sampai Sabtu, kita makan sehat begini. Nah kalau hari Minggu, kita makan bebas. Tapi tetap, bebasnya masih ada batas. Buat jaga-jaga,” ucap nyonya Nani yabg memamerkan mangkuknya. Benar-benar sudah bersih tanpa ada yang tersisa meski hanya irisan daun bawang yang tipis.
Indah sampai terharu lantaran sang mertua menyukai masakannya.
“Makasih banyak buat sarapan spesialnya,” ucap Liam yang kemudian menciumm kening Indah.
Indah langsung kikuk karena Liam tetap memperlakukannya dengan romantis sekaligus spesial meski mereka sedang di depan nyonya Nani.
“Sepertinya dalam waktu dekat, apartemen ini akan berisik oleh tangisan bayi!” ucap nyonya Nani bersuka cita, tapi malah membuat pengantin baru di hadapannya kikuk. “Kalau memang ada waktu, langsung ambil saja buat jalan. Syukur-syukur bisa bulan madu. Kalian enggak usah pikirin Mamah. Mamah kan ada sus Surti.”
“Kami enggak mau Mamah kesepian karena begini saja rasanya sudah seperti selalu bulan madu.” Yakin Indah.
Menahan senyum karena balasan tulus sang istri, Liam berkata, “Pokoknya nanti kalau kami ada waktu dan kami jalan-jalan, Mamah otomatis ikut!”
Mendengar itu, Indah langsung tersenyum lepas, selain ia yang juga refleks menoleh sekaligus menatap sang suami hingga mereka bertatapan.
__ADS_1
“Cara pikir kalian kembar!” gurau nyonya Nani benar-benar bahagia melihat kekompakan pasangan muda di hadapannya.
***
Hari ini, Liam benar-benar sibuk. Setumpuk dokumen yang menjulang tinggi di mejanya, membuat pria itu nyaris menghabiskan separuh lebih jam kerjanya. Di jam makan siang saja, Indah sampai harus menyuapi Liam agar pria itu tetap makan siang tepat waktu.
Terbiasa ditipu dengan dokumen pribadi yang diselipkan di berkas-berkas penting yang harus ditanda tangani memang membuat Liam lebih waspada. Kali ini, Indah yang masih menjadi istri rahasianya, datang membawa secangkir kopi hitam yang ia pesan untuk teman setumpuk pekerjaan di mejanya.
“Yang, mulai besok aku mau dibikinin minuman rempah atau semacam air minum yang ditambah irisan buah nanti dimasukin kulkas, dong. Ibaratnya hidup sehat biar pas anak-anak minta gendong nanti, aku masih kuat!” ucap Liam yang sudah berulang kali menegakkan punggungnya.
Indah menahan tawanya. “Aku baru mau bilang gitu. Besok sekalian buatin buat mamah juga. Suster Surti pun harus jaga kesehatan karena biar bagaimanapun, dia yang bantu kita jaga Mamah!”
Liam menahan senyumnya. Ia memfokuskan tatapannya kepada Indah. “Cara pikir kamu menegaskan kalau kita memang kembar persis seperti yang mamah ucapkan!” sergahnya.
Setelah meletakan kopinya di hadapan Liam, Indah menyisihkan nampannya di pinggir meja. Ia tak lantas pergi dan memilih berdiri di belakang Liam karena ia memilih memijat pundak sekaligus lengan Liam.
“Seharian ini, kamu juga capek, kan?” ucap Liam yang tentu saja menikmati pijatan sang istri.
“Enggak apa-apa. Ini sebenarnya aku lagi bingung,” ucap Indah sambil terus memijati sang suami.
“Bingung kenapa?” Liam menoleh dan menatap Indah.
“Aku dapat undangan buat ke tempat karauke pas pulang kerja. Semacam acara perusahaan dan semuanya wajib ke sana.”
“Khusus buat kamu enggak wajib. Yang ada kamu jadi bahan rebutan para pria di sana. Nanti pulang kerja kita ke rumah sakit saja. Aku sudah atur jadwal buat cek pita suara kamu.” Liam menatap sang istri penuh keseriusan karena membayangkan Indah ikut ke acara perusahaan yang baru saja istrinya itu maksud, sudah langsung membuatnya cemburu.
Indah menahan senyumnya kemudian mengangguk-angguk. “Namun kali ini aku butuh bantuan kamu. Bantu agar aku beneran enggak wajib!”
“Semua karyawan wajib ikut, tanpa terkecuali CEO dan sekretaris di perusahaan ini,” ucap Fello yang entah sejak kapan ada di sana.
__ADS_1
Berbeda dari biasanya, kini Fello memakai pakaian panjang. Celana kulot panjang dan juga jas, mirip gaya penampilan Indah. Termasuk juga, rambut Fello yang tak lagi bergelombang maupun berwarna pirang. Kini, Fello meluruskan rambut panjangnya yang juga diwarnai hitam, dan lagi-lagi mirip gaya Indah. Secara pribadi pun, Indah sampai merasa, Fello meniru gayanya. Meski dari segi sikap, wanita itu masih sangat arogan.
Dalam diamnya Liam yakin, ada maksud lain bahkan mungkin jebakan di balik rencana acara perusahaan yang dimaksud. Acara bersenang-senang di tempat karoke dan sudah terbayang apa yang akan terjadi di sana. Bisa jadi, Indah akan sengaja dijauhkan dari Liam sementara Liam ditahan oleh Fello di jajaran rombongan pimpinan perusahaan. Benar-benar acara yang tidak Liam harapkan.