Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
43 : Rahasia Fello


__ADS_3

“Ternyata benar, kamu bahagia di atas penderita-anku. Kamu bahagia di atas kehancu-ran hubunganku dan Liam!”


Suara berat agak serak dari seorang wanita, teramat Indah hafal. Karena meski suara tersebut jarang Indah dengar, bagi wanita cantik itu, suara tersebut sangat keramat. Fello, pemilik suara itu sungguh Fello. Sosok yang langsung membuat Indah bergidik. Indah bahkan langsung panas dingin.


Bagaimana bisa seorang Fello malah ada di hadapannya, padahal kabar yang berembus, wanita itu ada di RSJ?


“Jangan menatapku seperti itu! Kamu pikir aku enggak waras dan harusnya di RSJ?” sinis Fello.


Indah refleks menghela napas pelan lantaran Fello seolah bisa membaca isi pikirannya.


Di resto miliknya kini, Indah mencoba setenang mungkin. Meski berhadapan dengan Fello terus saja membuatnya panas dingin. Karena meski di sana banyak orang dan resto tersebut merupakan miliknya, Indah tetap takut, Fello melakukan tindakan nekat apalagi kini, Indah tengah hamil besar.


“Kamu enggak menawariku duduk?” lanjut Fello ke-tus, padahal ia saja sudah duduk di depan Indah setelah sebelumnya menarik kursi kayu di sana dengan ka-sar. Ulahnya sampai menimbulkan derit suara yang memekak. Hingga pengunjung di sekitar kompak menjadikannya sebagai fokus perhatian walau itu hanya beberapa saat.


Tak mau menunjukkan rasa takutnya, Indah yang memang duduk di kursi dekat teras depan restonya, sengaja mendorong tenang buku menu restonya kepada Fello.


Fello yang masih tetap berpenampilan sekksi walau kulit dan kecantikannya tak sememukau awal Indah melihat wanita itu, malah sibuk menengadah. Fello mengamati suasana resto sekaligus penginapan di sana dengan saksama. Kemudian, mata tajamnya yang mirip mata elang juga mengawasi suasana jembatan gantung yang dihiasi beberapa pengunjung.


Selain tampak tidak secantik ketika masih menjadi istri Liam, kulit Fello yang sekarang juga tampak jauh gelap. Wanita itu seolah telah menghabiskan banyak waktunya di alam bebas yang panas. Namun di leher, tengkuk, lengan, bahkan dada dekat dua gunungan kembar Fello, Indah menemukan segel cinta.


“Enggak usah sibuk menilai penampilanku karena bagaimanapun keadaanku, yang Liam mau tetap kamu!” ucap Fello dengan nada suara yang masih tidak enak didengar bahkan olehnya sendiri.


Fello tahu banget kalau aku lagi merhatiin dia, batin Indah.


“Akhir-akhir ini, aku suka bercin-ta dengan bule. Mereka bikin aku puas banget ....”


Apa yang tengah Fello ceritakan sukses membuat Indah panas dingin. Indah benar-benar tak percaya, ada wanita tak beraturan seperti Fello yang bahkan tak segan mengumbar rahasia hubungan in-timnya kepada orang lain, dan itu kepada istri dari mantan suaminya?


“Bule sukanya yang gelap-gelap kayak kulitku yang sekarang. Ya daripada aku di RSJ, mendingan menggilla sekalian, kan?”


“Kamu ngomong apa, sih?” Akhirnya Indah mampu bersuara. Kedua tangannya yang menahan perut, sibuk mengelus di sana.


Fello langsung menatap heran Indah dan kenyataan tersebut sukses membuat nyali seorang Indah menciut. Apalagi, Fello sampai mengawasi penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Perut kamu sebesar itu,” ucap Fello fokus menatap perut Indah yang memang sangat besar. Ia sampai berpikir, isi perut Indah lebih dari satu bayi.


Indah yang takut diserang Fello, buru-buru berdiri. Namun belum juga apa-apa, Fello dengan tegas memintanya untuk kembali duduk.

__ADS_1


“Duduk!” ulang Fello.


“Mau ngapain?” tanya Indah malas. Namun, kali ini Fello tersenyum jail kepadanya. Wanita itu menatapnya melalui lirikan dan bagi Indah sangat mengerikan. “Mau ngapain?” lanjut Indah lantaran Fello tak kunjung melanjutkan. Namun jika melihat tingkah Fello, Indah merasa mantan istri dari suaminya itu memang kurang waras.


“Aku mau tanya-tanya!” kali ini Fello merengek. Kedua tangannya sibuk-sibuk menepuk meja, mirip anak kecil yang tak sabar menunggu hadiah.


Perubahan emosi Fello benar-benar drastis. Membuat Indah makin waspada karena sampai detik ini, ia belum boleh pergi. Indah kembali duduk sambil terus memegangi perutnya menggunakan kedua tangan. Namun baru saja, ia refleks mundur lantaran Fello mendadak mencondongkan kepala sambil terus maju mendekati wajahnya.


“Sini, ini beneran rahasia. Aku beneran pengin tahu!” kali ini, Fello berbisik-bisik.


Indah menggeleng ngeri. “Sudah, kamu mau tanya apa? Kalau kamu mau tanya, tanya saja. Aku janji bakalan jawab semua pertanyaan kamu, asal kamu duduknya yang bener.”


“Oh, berarti kalau aku duduknya enggak bener, kamu enggak bakalan cerita?” tanya Fello waswas. Namun belum juga mendapat jawaban, ia langsung duduk dengan benar. Ia melipat kedua tangannya di pinggir meja, mirip anak SD yang begitu patuh kepada gurunya.


“Aku mau tahu, aku kan enggak pernah hamil apalagi sampai segede perut kamu sekarang. Terus aku penasaran kan, gimana rasanya pas kita ... pas kita ... hubungan. Ada sensasi beda, enggak?” lanjut Fello.


Tampang dan sikap Fello memang menjadi manis mirip anak SD. Namun tidak dengan pikiran wanita itu yang hanya se-ks, dan se-ks. Indah makin sulit memahami keadaan. Mulutnya terbuka tapi ia tak bisa berkata-kata, bahkan walau tatapannya lurus menatap Fello.


“Kalau kamu bingung, kamu boleh panggil suami kamu. Liam ada di sini, kan? Ke mana, dia?” tanya Fello sambil kembali mengamati sekitar termasuk itu ke bagian atas. Ia melakukannya tanpa bisa mengakhiri senyumnya.


Tidak akan. Indah sungguh tidak akan membiarkan Liam melihat Fello seperti sekarang. Sebab Indah yang tidak memiliki hubungan spesial dengan Fello saja merasa sangat sedih hanya karena melihat Fello yang sekarang. Apalagi Liam yang pernah sangat mencintai Fello.


“Gimana-gimana? Kamu mau kasih tahu aku, kan?” bisik Fello tak sabar.


Indah mengangguk-angguk santai. “Iya, aku akan memberitahu kamu. Namun, agar kamu benar-benar bisa merasakannya, alangkah baiknya kamu juga harus mengalaminya secara langsung. Soalnya yang begini kan memang enggak bisa dijelaskan, kan?”


“Masalahnya aku enggak bisa hamil, Ndah. Sebelum menikah dengan Liam, aku pernah pendarahan, Ndah. Tapi kamu jangan bilang-bilang karena ini rahasia. Sebenarnya sebelum sama Liam, aku punya pacar bule pas aku kuliah di Inggris. Kami sudah tinggal bersama dan aku sampai hamil. Tapi buleku selingkuh, dan setelah aku telusuri, ternyata aku selingkuhannya karena dia sudah punya istri! Bangs-sat banget tuh bule, Ndah! Dia memanfaatkan tubuh dan juga uangku! Habis-habisan aku buat dia! Bahkan setelah ketahuan, bukannya minta maaf, dia malah playing victim! Aku pendarahan, dan rahimku sampai diangkat! Bang-sat banget pokoknya tuh bule!” Emosional, Fello sampai berlinang air mata. Begitu juga dengan Indah yang ada di hadapannya dan sampai sekarang masih menjadi penyimak baik.


“Untung satu tahun kemudian aku ketemu Liam. Tapi sekarang Liam sudah nikah sama kamu. Mungkin ini karmaku yang sudah terlalu sering membohonginya mentah-mentah. TAPI JUJUR AKU SAYANG BANGET KE LIAM, NDAH! DARI SEMUA LAKI-LAKI YANG AKU KENAL, DIA PALING PENYAYANG. AKU SAMPAI ENGGAK BISA JAUH, BERBAGI, APALAGI KEHILANGAN DIA!” Kali ini, Fello sampai menggebrak-gebrak meja.


Pengunjung yang duduk di sekitar mereka sampai heran sekaligus ngeri.


“EH, SEKARANG AKU MALAH BALIK LAGI KE BULE! TAPI AKU NYAMAN SIH KE SI BULE INI. COCOK GITU MAKSUDNYA. KAMI NYAMBUNG!”


“Bulenya enggak punya istri lagi, kan? Awas nanti kamu dimanfaatin lagi,” balas Indah terisak sedih. Ia menggunakan tisu kering yang ia tarik dari kotak di depannya, untuk menyeka sekitar matanya yang basah.


“Kalau dia berani nipu aku, Ndah. Aku PENG-GAL kepala sekalian anunya sampai tuntas!” ucap Fello yang sampai menghan-tamkan tangan kanannya ke meja ketika ia berdalih akan memeng-gal.

__ADS_1


Setah emosinya naik-turun, Indah berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam.


“Oh, iya ... tempat ini harganya berapa? Aku mau beli!” ucap Fello sambil mengamati sekitar.


“Enggak dijual,” balas Indah lembut sambil menggeleng pelan.


Fello langsung menatap serius Indah. “SOMBONG BANGET KAMU! Memangnya kamu enggak doyan duit?”


Indah langsung menggeleng. “Enggak ... aku enggak doyan duit. Bahaya kalau sampai doyan duit soalnya duit beracun!” Ia sengaja menakut-nakuti Fello.


“Oh, iya, Ndah? Memangnya benar kalau duit beracun? Ih ... tasku penuh duit, Ndah! Duh, gimana ini, nanti aku keracunan!” Fello benar-benar panik. Ia langsung menurunkan tas abu-abu dari bahu kanannya, kemudian membuka ritsletingnya. Buru-buru ia menuang isi tasnya yang penuh gepokan dolar!


“Wah ...?” Indah langsung tak bisa berkata-kata.


“Aku harus membuang semua ini biar enggak keracunan!” Fello sibuk hendak membuang dolar-dolarnya hingga Indah juga menjadi sibuk menghentikan wanita itu.


Berbincang dengan Fello yang sekarang dan sampai menyerahkan semua dolarnya kepada Indah, Indah menjadi yakin, bahwa karma memang ada. Sudah tak terhitung luka sekaligus tipu daya yang Fello lakukan kepada Liam. Namun tak kalah banyak pula luka dan tipu daya yang harus Fello rasakan dari pihak lain walau Liam maupun Indah, tidak pernah membalasnya.


Jodoh memang cerminan dari diri, sih ya. Seperti apa sikap kita, begitulah jodoh kita. Namun jujur, aku beneran enggak sangka, Fello setega itu ke Liam. Syukurlah Liam sudah lepas dari Fello dan sekarang pun, Liam sudah bahagia walau tidak mendapat ganti rugi dari Fello, batin Indah. Ia menatap sedih Fello yang sudah disusul pak Wijaya. Pria itu tak hanya datang sendiri. Pria itu dikawal oleh empat pria sangar berpakaian serba hitam. Sementara tadi, Indah sudah menyerahkan dolar Fello yang ia masukan ke dalam kantong karena Fello tidak mau membawanya lagi. Fello telanjur percaya uang bisa membuat keracunan seperti apa yang Indah katakan.


“Ndah, sebelum aku pergi, aku juga memiliki rahasia. Ini ... ini menyangkut Rico. Siapa sih namanya, Ricko, apa Rico? Pokoknya itu. Dia, calon suami kamu, kan? Aku loh, yang nabrak dia dan bikin kalian enggak jadi nikah!” cerita Fello dengan jujurnya.


Indah langsung mengernyit serius. Rahasia yang Fello sampaikan benar-benar membuatnya syok.


“Kok kamu kelihatan syok begitu? Memangnya Liam enggak cerita?” lanjut Fello walau sang papah sudah menyum-pal mulutnya menggunakan sapu tangan.


“Kami permisi!” ucap pak Wijaya buru-buru pamit.


Fello yang mulutnya masih disum-pal, juga tersenyum ceria mengakhiri pertemuannya dengan Indah. Namun sebelum Fello benar-benar pergi, Indah berseru memanggil Fello yang sibuk pecicilan mirip bocah.


“Aku hanya ingin bilang, ... bagaimanapun masa lalu Liam, aku tetap menerimanya. Aku tetap mencintainya karena Liam juga mencintaiku dengan masa laluku,” ucap Indah lembut sekaligus penuh pengertian. Ia meyakinkan Fello, apa pun yang terjadi dengan Liam di masa lalu, bagaimanapun keadaan Liam di masa lalu, itu sama sekali tidak akan menggoyahkan rasa cintanya kepada suaminya itu.


Fello tak lagi pecicilan dan mendadak melow. “Kenapa begitu, Ndah? Kamu enggak marah padahal dia sudah membohongi kamu?” tanyanya lembut sekaligus tak mengerti.


Indah menggeleng sekaligus mengurai senyum ramah. “Kadang, kita memang perlu memilih hal-hal yang perlu ada atau tidak ada dalam hubungan kita. Karena terkadang, lebih baik kita memang membuang hal-hal yang hanya membuat kita dan pasangan kita terluka.”


“Itulah yang membuat hubunganku dan Liam baik-baik saja. Karena kami sama-sama belajar menghargai. Kami tetap memberi pasangan ruang untuk menjadi diri sendiri,” tambah Indah. Ia memang tersenyum, tapi ucapan tulusnya tersebut memang mewakili hubungannya dan Liam juga tidak mudah, membuatnya berkaca-kaca.

__ADS_1


Kali ini Fello tak lagi berkomentar apalagi pecicilan maupun emosional. Wanita itu menatap Indah penuh kesedihan dan terus begitu walau ia sudah duduk di tempat duduk tengah sedan hitam, setelah didudukkan pak-sa oleh sang papah.


Yang membuat Fello terkejut, tak lain ketika tatapannya tak sengaja menengadah ke atas lantai Indah berdiri. Tak disangka di sana ada Liam! Liam dengan pesonanya yang tidak pernah pudar walau hanya memakai kemeja lengan pendek warna hitam, diam-diam tengah mengamati punggung Indah. Kedua tangan Liam tersimpan di saku sisi celana jeans panjang hitam yang menyempurnakan penampilannya. Liam tersenyum sepanjang pria itu mengawasi Indah.


__ADS_2