Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
30 : Mi Rebus dan Mengidam


__ADS_3

Liam, di tengah kesibukannya dengan pekerjaan di laptop, diam-diam membuka WA yang juga sudah menjadi salah satu jendela kerja di layar laptopnya. Ia melihat pesan-pesan WA dari Fello sudah langsung dibaca. Ia lirik Indah yang masih meringkuk membelakanginya di tempat tidur sana, kemudian dengan cekatan ia memblokir kontak WA Fello dari laptop.


Masalahnya, dari ruang obrolan tersebut, ada bukti foto tangkap layar Indah sudah menghubungi Fello. Indah mengajak Fello bertemu.


“Sayang ...?” Indah menatap Liam penuh ketegangan.


“Jangan pernah berurusan dengannya. Dia sangat berbahaya karena keinginan terbesarnya saja membunuh kamu sekaligus mamah aku.” Liam berucap tegas dan sama sekali tidak melirik Indah yang ia yakini menatapnya penuh rasa bersalah. Namun setelah fakta yang ia katakan barusan, ia juga yakin istrinya itu menjadi khawatir.


“Kalau kamu beneran cinta aku, blokir juga nomor dia dari kontak kami!” lanjut Liam lagi.


“Biarkan dia dan jangan berurusan dengannya, itu menjadi satu-satunya cara agar semuanya baik-baik saja. Dia akan berhenti setelah dia lelah karena kita enggak memedulikan ulahnya.” Liam masih berucap tegas.


“Aku sungguh hanya meminta itu. Karena aku saja menyesal kenapa aku sampai berurusan dengannya.” Kali ini Liam menoleh, menatap Indah dan juga mengakhiri kesibukan jemari tangannya dalam mengetik di laptopnya. Di sana, Indah yang sudah duduk berangsur menunduk, tapi jemari tangan Indah tampak sibuk di layar ponsel.


“Aku sudah memblokir nomornya.” Indah berangsur menatap wajah Liam penuh sesal. Pria itu menjadi menatapnya dengan tatapan yang begitu teduh. Tak ada lagi tatapan tegas yang juga diwarnai peringatan dari kedua mata Liam.


“Berikan ponselmu kepadaku karena memblokir tidak akan membuatnya melepaskan kamu begitu saja. Dia masih bisa menghubungimu menggunakan nomor yang lain,” lanjut Liam masih berucap tenang. Meski tampak berat, Indah berangsur turun dari tempat tidur. Wanita itu benar-benar menghampirinya kemudian menyerahkan ponselnya.


Liam sungguh menyita ponsel Indah, meletakannya di sebelah tangan kanannya. Kemudian, tangan kirinya merangkul mesra punggung Indah, menarik wanita itu ke dalam pangkuannya.


“Kamu tahu, terlalu banyak tahu akan membuat kemungkinan kamu terluka, semakin besar?” ujar Liam.


Indah hanya menunduk dalam, menyesali perbuatannya hingga kenyataan tersebut membuatnya bungkam.


Liam menggunakan tangan kanannya untuk membingkai wajah kiri Indah. “Apa lagi?”


Indah yang balas menatap Liam berangsur menggeleng. Kemudian, yang ia lakukan adalah mendekap tengkuk suaminya itu menggunakan kedua tangan kemudian menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Liam.

__ADS_1


“Percaya kepadaku, ... mendiamkannya dan membuatnya lelah akan menjadi cara mujarab dia meninggalkan kita,” ucap Liam meyakinkan sambil mengelus penuh sayang punggung Indah. Indah memang tak sampai berkomentar bahkan sekadar merespons, tapi Liam yakin, Indah mau mengikuti arahannya. Wanita itu hanya terlalu takut Fello melukainya.


“Aku tahu, kamu sangat menyayangiku. Aku tahu kamu sangat mencintaiku, walau kita masih hitungan minggu,” lanjut Liam yang masih aktif meyakinkan. Kedua mata Indah menjadi berkaca-kaca sekaligus merah. “Kamu merasa bersalah?” Lanjut Liam yang menjadi panik sendiri lantaran Indah sampai menangis. “Jangan menangis. Aku sama sekali enggak marah.”


“Aku tahu maksud kamu menghubungi Fello karena kamu terlalu khawatir. Sementara alasanku mendadak cerewet begini juga karena aku terlalu khawatir. Sudah, jangan dibahas lagi, ya. Sudah lupakan Fello. Biarkan dia dengan segala ambisinya. Yakinlah, ambisi-ambisinya akan menjadi alasannya terluka kemudian berhenti mengganggu kita.”


***


Tak terasa sudah satu bulan satu minggu hubungan Indah dan Liam berjalan. Keduanya masih sibuk dengan proyek baru Liam. Karena lokasinya bersebelahan dengan rumah orang tua Indah, Liam dan Indah juga kerap menjadi menghabiskan waktu mereka di sana. Liam dan Indah menjadi kerap menginap di rumah orang tua Indah begitu pun dengan nyonya Nani.


“Sudah lama tinggal di sini, Liam tetap gampang flu,” ucap nyonya Nani mendadak mengkhawatirkan kesehatan putranya.


“Mas Liam enggak mau pakai jaket, tetap saja pakai kaus pendek kayak gitu, Mah.” Indah yang tak kalah khawatir, meyakinkan.


Di sebelah, di pekarangan yang sudah Liam beli, pria itu tengah memantau jalannya pembangunan yang baru dimulai dua hari lalu. Tanah di sekitar jalan mulai digali dan tampaknya akan mulai difandasi.


Tiga minggu lebih telah berlalu, dan selama itu, nyonya Nani yang juga diurus oleh Indah, mulai bisa berjalan walau masih harus menggunakan tongkat bantu jalan berkaki tiga.


Suara bersin Liam terdengar memasuki dapur ketika Indah masih sibuk membuatkan mi rebus pesanan dadakan pria itu. Sekitar lima menit lalu, Indah yang tengah membuat teh herbal mendapat telepon dari Liam. Pria itu sampai menelepon hanya karena ingin cepat-cepat dibuatkan mi rebus. Mi rebus dengan telur, sayuran, dan pastinya potongan cabai.


“Yang, udah ...?” ujar Liam yang akhirnya sampai di dapur.


“Ini bentar lagi, tapi kamu minum tehnya dulu,” sergah Indah mempercepat gerak tangannya.


Liam mengambil satu cangkir besar berwarna hitam di meja makan, kemudian membuka tutup cangkirnya. Pria tampan itu menghirupnya dan sukses membuat hidungnya plong, tak lagi mampat efek semriwing dari herbal masuk angin yang Indah campurkan di teh manis panasnya.


“Dua mangkuk?” ucap Liam di sela kesibukannya menyesap teh yang memang masih panas, tapi baginya, itu jauh lebih menyegarkan selain tenggorokannya yang juga menjadi jauh lebih hangat.

__ADS_1


Membawa nampan berisi dua mangkuk mi rebus, Indah tersenyum ceria. “Aku juga mau. Suasananya mendukung!”


Indah meletakan dua mangkuknya di kursi Liam baru duduk karena ia juga langsung duduk di sebelah Liam.


“Wah ... belum apa-apa sudah menggoda begini dan makin bikin ngiler.” Liam menahan senyumnya.


Indah mesem. “Kamu enggak mau pakai saus atau kecap?” ucapnya sambil mengaduk mi di mangkuknya. Liam juga ia pergoki tak sabar memakan mi buatannya.


Sambil melahap suapan pertamanya, Liam menggeleng. “Aku tim penyuka mi rebus tanpa saus dan cukup tambah sayur, telur, sama cabai begini.”


“Berarti kita satu tim!” sergah Indah yang menjadi menahan tawanya. Di sebelahnya, Liam yang sempat menertawakannya juga langsung mengucapkan terima kasih. Sebuah kecupan sayang dari pria itu, mampir di pipi kirinya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


“Ini rasanya beneran pas banget!” Liam tidak bisa berhenti memuji masakan Indah.


“Yang, ... menurut kamu, kenapa mi buatan orang lain, selalu lebih enak?” sergah Indah yang memang selalu menjadi teman baik untuk Liam, begitu juga dengan Liam kepada Indah.


“Karena memang tinggal makan, kan?” sergah Liam dengan jujurnya. Di sebelahnya, Indah menjadi makin sibuk menahan tawa.


“Masa iya, begitu? Ini mengenai rasanya,” ujar Indah.


“Kalau menurut aku pribadi, kalau aku masak buat orang lain apalagi orang yang kita sayang, pasti berusaha menghasilkan yang paling spesial. Namun terlepas dari itu, kadang aroma pas kita masak, malah bikin kita kenyang walau belum makan,” jelas Liam, dan kali ini Indah langsung setuju. “Ya sudah, kalau Sayang enggak mau mi itu, sini buat aku saja!” sergahnya yang lagi-lagi membuat Indah sibuk menahan tawa.


“Memangnya segitu masih kurang?” tanya Indah setelah berhasil mengendalikan tawanya.


“Masih ... lihat, ini saja sudah mau habis,” balas Liam.


“Oke ... oke, kalau gitu aku buatin lagi. Tapi bentar, aku habisin punyaku dulu karena aku juga lapar,” ujar Indah sengaja meledek suaminya. Ia sampai mengangkat mangkuknya kemudian memunggungi Liam. Tak beda dengannya, suaminya itu juga menjadi sibuk tertawa. Malahan tak lama kemudian, dengan jailnya Liam mencoba mengambil sisa mi rebus di mangkuknya hanya karena mi rebus suaminya itu sudah habis.

__ADS_1


Mereka kenapa? Lagi ngidam apa bagaimana? Pikir nyonya Nani merasa heran, anak dan menantunya sibuk berebut mi rebus sambil cekikikan.


__ADS_2