Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
6 : Talak dan Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

 


“Tadi ada yang datang. Tiga orang dan semuanya laki-laki dewasa. Mereka pakai serba hitam. Dari jas, dasi, sarung tangan kulit, rapi banget pokoknya. Tampang mereka lebih dari galak. Menyeramkan. Tadi pas saya datang, mereka berbondong-bondong keluar, sementara pas saya lihat Ibu, ... Ibu sudah enggak sadarkan diri.” Suster Surti menceritakan dengan terbata-bata hingga suara yang dihasilkan sangat tidak jelas. Tanpa bisa menyudahi tangis sekaligus kesedihannya, ia berkata, “Salah satu dari mereka juga membawa map transparan warna kuning.”


Sepertinya memang telah terjadi serangan dari pihak Fello. Liam sampai menitikkan air mata dan tampak sangat hancur. Pria itu berdiri loyo sembari menyandarkan kepalanya pada pintu.  Dan dari semuanya, Indah Gayatri menjadi sosok yang merasa sangat bersalah. Karena andai tadi Indah tetap bertahan di sana menjaga nyonya Nani tanpa membiarkan wanita tua itu terjaga seorang diri karena biar bagaimanapun, tadi suster Surti sedang pergi, Indah yakin, semuanya tidak akan seburuk sekarang.


Liam mendadak pergi tanpa pamit. Dan kepergian Liam kali ini, Indah lepas begitu saja. Sembari melepas kepergian punggung kokoh Liam yang menjadi terlihat sangat rapuh, Indah berharap bosnya itu akan baik-baik saja, sementara ia sengaja terjaga untuk nyonya Nani di sana. Karena kali ini, ia juga akan memastikan mamah dari bosnya itu kembali baik-baik saja.


***


Setelah mengemudi penuh emosi, Liam memasuki kawasan perumahan elite. Ia menepikan laju mobilnya di depan bangunan rumah sangat megah bernuansa keemasan khas bangunan khas Timur Tengah.


Gerbang kokoh yang menjulang tinggi bercat hitam berbahan besi tua, langsung dibukakan oleh seorang satpam. Pria bertubuh tinggi tegap itu langsung sigap memperlakukan Liam layaknya bos besar. Pria tersebut sempat mengulurkan tangan kanannya dan bermaksud mengantongi kunci mobil Liam, tapi Liam yang tampak sedang dalam emosi yang tidak baik, tak sampai memasukkan mobilnya. Liam memarkir mobil di depan area gerbang dan berdalih hanya akan sebentar karena Liam akan langsung pergi.


“Jika memang diwajibkan, laporkan saja kedatangan saya kepada tuan Wijaya!” ucap Liam jengkel sembari melirik sinis sang satpam. Ia melangkah tergesa dan melalui ekor lirikannya, ia memergoki sang satpam yang sempat tampak kebingungan, langsung mengeluarkan ponsel dari saku sisi kanan seragam celana warna biru gelapnya. Bisa Liam pastikan, pria itu sungguh akan mengabarkannya kepada tuan Wijaya yang tak lain papah Fello.


Sebegitu keji memang Fello sekeluarga hingga hidup Liam dipenuhi CCTV. Awalnya, Liam masih bisa maklum. Namun setelah Felli dan tuan Wijaya sampai menjadikan keselamatan mamahnya sebagai target, Liam benar-benar tidak bisa. Persetan dengan cintanya kepada Fello. Masa bodo dengan rumah tangga mereka maupun ancaman Fello setelahnya.


Setelah menerobos masuk karena seorang ART sudah membukakan pintu dan menunggunya di sebelah pintu, Liam langsung menemukan Fello. Di pinggir kolam renang yang ada di lantai bawah, istrinya itu tampak baru menepi. Seorang ART memberi handuk piama kepada Fello, dan langsung Fello terima. Sembari menatap pada kedatangan Liam penuh terka, Fello mengenakannya.

__ADS_1


Fello yang sadar Liam sedang sangat emosional, sengaja meminta sang ART yang sampai memakai seragam khusus warna biru tua dan putih, untuk pergi. Di sana sungguh hanya tinggal dirinya dan Liam.


Setelah yakin di sana hanya ada mereka, Liam berkata, “Kamu ngadu apa lagi ke papah kamu? Kamu ngadu, kalau aku sudah bikin kamu marah?”


Fello kebingungan. “S-sayang ... aku—”


“Aku mau cerai. Aku beneran enggak tahan!” sergah Liam memotong ucapan Fello.


Fello langsung tercengang. “S-sayang ...? Apa, ... maksud kamu gimana? Kok, ... kok jadi gini?”


“Detik ini juga, aku Liam Aretas Amir dengan sadar menjatuhkan talak tiga kepada—”


“ ... Felloria Angelica Wijaya binti Abraham Darius Wijaya—”


“Liam, berani-beraninya kamu berbicara begitu!”


“Eggak tahu diri banget kamu! Kamu lupa, tanpa aku dan papah aku, tikus got saja jauh lebih menarik daripada kamu! Begini balasan kamu setelah kami mengangkat derajat kamu dan keluarga kamu?!”


“Terserah! Mulai sekarang, kita sudah enggak ada urusan apa-apa. Dan aku pun akan berhenti dari perusahaan kamu. Hari ini juga aku akan menyiapkan berkas perceraian kita agar hubungan kita resmi berakhir di mata hukum!” Liam masih sangat emosional.

__ADS_1


Fello menggeleng tegas, menepis ucapan Liam barusan. “Enggak akan. Kamu enggak mungkin melakukan itu. Kamu sayang menyayangiku. Kamu bahkan rela menungguku selama ini. Bahkan aku yakin, kamu sangat mendambakan kehadiran seorang bayi dalam hubungan kita, Liam!” ucapnya sembari berderai air mata.


Liam yang juga menjadi berlinang air mata karena biar bagaimanapun, apa yang Fello katakan memang benar, tetap menggeleng. “Keposesifan kamu dan juga caramu yang begitu memandang rendah aku, ... kamu bahkan tetap tidak bisa menghargai mamahku, ... semua itu sungguh menghancurkan semuanya termasuk rasa sayang dan juga cintaku kepadamu, Fel.”


Fello makin sibuk menggeleng. Gelengan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Berderai air mata ia mendekati Liam. Kedua tangan berkuteks maroon-nya terulur membingkai wajah Liam. Belaiian lembut ia lakukan di sana. Belaiian lembut yang makin lama berubah menjadi agresif lantaran bukannya menatapnya, sang pemilik wajah yang juga terus berderai air mata malah menunduk.


“I love you ...,” bisik Fello lembut, tapi Liam yang masih berderai air mata langsung menggeleng bersama tatapan pria itu yang akhirnya kembali menatapnya. “Aku benar-benar minta maaf. Ayolah Liam, kamu tahu, semua yang aku lakukan, semata karena aku sangat mencintai kamu!”


Liam tetap menggeleng bersama rasa sesak yang memenuhi dadanya hingga tubuhnya juga menjadi tidak berdaya. “Aku benar-benar enggak bisa. Semuanya sungguh sudah berakhir. Selama ini kamu enggak pernah sayang apalagi cinta ke aku. Selama ini, kamu dan papah kamu menganggapku tidak lebih dari boneka.”


Felo sibuk menggeleng. Ia menarik wajah Liam, membuat wajah mereka tak berjarak. Dengan memaksa sekaligus agresif, ia sudah berhasil membuat bibir mereka menempel, tapi tenaga Liam jauh lebih kuat utuk membuat keadaan itu berakhir.


“Mulai sekarang kamu juga enggak bisa menyentuhku apalagi memiliki tubuhku. Semuanya benar-benar sudah berakhir Fello!” lirih Liam yakin. “Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia dengan cara hidupmu. Tidak perlu mengingat apalagi merindukan boneka sepertiku yang tidak lebih menarik dari tikus got!” Liam mengakhiri ucapannya dengan air mata yang berlinang.


Apa yang Liam lakukan barusan membuat seorang Fello makin kacau. Wanita itu kembali sibuk menggeleng di tengah air matanya yang berlinang.


“Satu hal yang perlu kamu tahu, ... dari awal kita mengenal hingga akhirnya aku berani mengatakan bahwa aku mencintaimu, aku benar-benar tulus. Namun setelah kamu tega berusaha membunuh mamahku, lihatlah, aku akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari kamu. Aku akan bahagia bersama wanita yang juga tulus mencintaiku! SELAMAT TINGGAL!”


Kali ini Liam benar-benar pergi meski Fello meraung-raung sekaligus berteriak menahannya tak ubahnya orang gila. Semua pekerja di rumah mereka berdatangan menyaksikan drama perpisahan mereka. Termasuk dua ajudan yang sempat menjaga Liam. Mereka semua membantu Fello menahan Liam hingga depan gerbang. Fello makin histeris lantaran Liam tetap memilih pergi daripada bertahan.

__ADS_1


Dalam hatinya yang juga tak kalah histeris dari kenyataan, Fello yang sampai lari mengejar mobil Liam tanpa memakai alas kaki bertanya-tanya. Benarkah semuanya telah berakhir? Benarkah kisah mereka hanya sampai di sini?


__ADS_2