
Saat mendebarkan melebihi ketegangan ketika menjalani ijab kabul, akhirnya tiba. Iya, ini mengenai persalinan yang membuat calon ibu bertaruh nyawa, merasakan sakit luar biasa yang menguasai kehidupannya. Benar-benar tak hanya dari ujung kepada hingga ujung kaki. Karena hati dan pikiran juga turut berpikir keras menahan ketegangan. Liam yang terjaga di sana menjadi tidak tega, terbawa suasana. Liam turut merasakan nyeri sekaligus ngerinya ketika jabang bayi yang mereka nanti akhirnya perlahan keluar lolos dari jalan lahir.
“Wah ... perempuan. Cantik banget mirip papahnya!” ucap sang bidan sangat bersemangat seiring suara tangis bayi yang akhirnya pecah dan benar-benar berisik.
“Cantik kok mirip aku?” bisik Liam.
Indah yang mendengar protes tersebut refleks menahan tawanya. “Ya mungkin maksudnya memang cantik, tapi juga memang mirip papahnya. Ini sudah mau keluar lagi.” Rasanya sungguh luar biasa. Karena setelah semua tulang rusuknya remuk akibat kelahiran putri pertamanya, kini Indah harus kembali berjuang bersama sang bidan yang langsung siaga membimbingnya.
Karena di sana belum ada yang membantu, nyonya Nani dan ibu Dwiningsih pun turut mengurus cucu mereka yang baru lahir.
Liam yang merangkul sekaligus menahan punggung Indah dan kembali membiarkan kedua tangannya dire-mas sekuat tenaga menjadi kembali terusik atas obrolan asyik antara sang mamah dan mamah mertuanya.
“Iya bener cantik banget mirip Liam,” ucap ibu Dwiningsih berbisik-bisik.
“Beneran enggak ada yang dibuang. Dulu, pas Liam baru lahir juga gini!” ujar nyonya Nani.
Dalam hatinya, Liam yang sampai sesak napas karena proses kelahiran anak kedua tak semulus sebelumnya berkata, “Ya Tuhan, ada wanita cantik banget yang sampai mirip hamba? Jangan-jangan nanti anak anak laki-laki hamba, justru ganteng banget mirip mamahnya! Berasa rupa yang tertukar!” Namun kemudian ia menyemangati Indah. “Bismilah, Yang. Ikuti bimbingan bidannya. Tarik napas, buang, ... itu kepalanya sudah keluar.”
Mendengar bimbingan dari Liam, Indah berangsur menatap, menyimak suaminya. Ia mengangguk-angguk. Di tengah rasa sakit sekaligus bahagia yang bercampur jadi satu, ia kembali berjuang. Apalagi tangis keras dari sang putri seolah menjadi kekuatan tersendiri untuknya segera mengeluarkan yang masih berjuang di jalan lahir.
Beberapa detik setelah Indah kembali mengejan, bunyi yang kembali membuat hati Liam nyeri, pria itu sampai bergidik dan itu suara dari proses keluarnya sang jabang bayi, akhirnya terdengar. Senyap sempat menguasai untuk beberapa saat sebelum akhirnya suasana mendadak ramai oleh tangis bayi yang saling bersautan.
“Wah, langsung pada nyari, ya. Kebiasaan bareng, sekarang sendiri-sendiri. Bentar, ya, bentar lagi pasti bareng-bareng lagi, kok,” ucap sang bidan yang kemudian juga memuji putra Liam dan Indah sangat tampan mirip Indah.
__ADS_1
Indah dan Liam yang menyimak ucapan bidan barusan, refleks saling tatap. Agenda tatapan yang membuat Indah tersenyum geli apalagi setelah Liam sampai mengeluh.
“Yang perempuan, cantiknya mirip papahnya. Yang laki-laki, gantengnya mirip mamahnya,” bisik Liam yang kemudian mendekap hangat tubuh Indah yang kuyup keringat. Tubuh Indah menjadi lemas, dan napasnya terdengar lemah. Kendati demikian, detak jantung Indah masih di atas normal. Dan baru saja, ia membantu istrinya itu untuk berbaring, mengikuti prosedur setelah persalinan.
Karena kehilangan banyak energi dan juga darah cukup lantaran yang harus dilahirkan ada dua dengan bobot pun yang semuanya di atas rata-rata, Indah juga sampai di infus.
“Akhirnya Putri dan Putra Keong kita lahir dengan selamat, ya! Itu tadi si Agiel kayaknya pas mau keluar bingung, kok tinggal dia, Arla mana. Soalnya biasanya duaan terus kan sama Arla. Dan Setelah ini jadi ketahuan, siapa yang jadi kakak di antara mereka. Ini tadi mereka selisih tiga menit empat puluh lima detik!” ucap Liam yang tetap di sisi Indah walau jujur, ia sudah sangat ingin melihat sekaligus mengemban kedua anaknya.
Indah terperangah takjub menatap suaminya. “Sampai detiknya kamu tahu?” ucap Indah lirih lantaran ia benar-benar lemas. Di hadapannya, wajah tampan suaminya tersenyum semringah. Liam terlihat sangat bahagia melebihi kebahagiaan yang sebelumnya telah mereka lalui bersama. Wajah Liam sampai berseri-seri, bersih walau agak berkeringat dan membuat rambut sekitar wajahnya yang agak gondrong, basah.
“Tentu, itu kan momen langka sekaligus penting buat kita,” balas Liam mengangguk-angguk.
Demi menemani Indah, Liam sampai berlutut, membungkuk di atas wajah Indah, sementara kedua tangannya menggenggam kedua tangan Indah. Tangan yang sampai Liam rasakan gemetaran saking lemasnya. Mereka masih berucap lirih, menunggu anak mereka yang tengah dibersihkan. Anak-anak mereka akan langsung Dimandikan.
“Yang laki-laki, gantengnya mirip mamahnya!” sambung nyonya Nani.
Mendengar itu, Liam dan Indah kompak menahan tawa. Liam geleng-geleng, merasa geli sendiri.
“Mah, cepetan dong, aku juga pengin lihat sama gendong ih,” rengek Liam sambil menoleh ke belakang selaku keberadaan sang mamah yang sedang memandikan bayi-bayi mereka membantu sang bidan.
“Lihat wajah kalian saja karena anak-anak kalian beneran mirip kalian!” ujar nyonya Nani cukup mengomel.
Semuanya kompak menahan tawa termasuk Liam sendiri.
__ADS_1
“Sayang, aku laper. Aku boleh makan, kan? Tanyain coba, aku lapar banget!” rengek Indah kemudian dan Liam langsung berseru sambil menoleh, menatap sang bidan.
“Bentar yah, itu baru dimasakin,” ucap sang bidan dengan hangatnya.
“Bu bidan, istri saya boleh makannya bebas, kan? Enggak ada pantangan yang penting jangan berlebihan?” lanjut Liam.
“Iya ... iya, enggak usah puasa, ya. Apa-apa makan, asal jangan berlebihan. Makan pedes, yang berminyak, boleh tapi tetap ada aturannya. Asupan makanan wajib diperhatikan apalagi ini kan ada dua. Sehat-sehat semuanya ya!” jelas sang bidan.
Indah dan Liam kompak menyimak. “Telepon papah, bawain gurame bakar, pakai sambal kecap tapi cabenya satu aja.” Ia berbisik-bisik, tapi suaminya malah langsung menahan tawa.
“Sayang ih, aku beneran laper, kok kamu malah ngeledek!” keluh Liam.
Liam mengangguk-angguk. “Iya ... iya. Soalnya kamu ngerengek gitu yang ada akunya gemes. Nanti sekalian sayur bening sama buah-buahan juga buat camilan. Su-su juga. Seenggaknya, kita bisa sampai sore kan di sininya.”
Indah langsung mengangguk-angguk sambil tersenyum ceria. Kemudian, saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Ketika putra putri mereka sudah beres dan langsung diazani oleh Liam secara bersamaan. Kedua bayi yang awalnya masih merengek itu akhirnya diam dan hanya sesekali tersenyum. Arla dan Agiel seolah larut dengan lantunan azan dari sang papah yang juga membuat suasana di sana menjadi kidmath.
Pagi menjelang siang, ketika Liam dan Indah begitu bahagia dengan kelahiran putra dan putri keong mereka, pak Wijaya harus susah payah belajar ikhlas, melepas Fello sang putri semata wayang menjadi penghuni RSJ.
“Ini hanya sementara. Setelahnya, kita pasti akan kembali sama-sama,” ucap pak Wijaya berkaca-kaca apalagi Fello yang ia tinggal di ruangan khusus, tersenyum ceria kepadanya. Fello sedang kembali mirip bayi tak berdosa. Namun ketika emosi Fello sedang tak terkendali, wanita itu akan menga-muk tanpa jeda. Dan andaipun Fello kembali menjalani kehidupan layaknya manusia normal, wanita itu akan sibuk berkelana, mencari laki-laki yang mau kencan bahkan tidur dengannya asal Fello bisa menyalurkan has-ratnya. Parahnya, Fello tak segan menghambur-hamburkan uang. Hingga mereka yang sudah mengenal Fello tak segan memanfaatkan. Tak hanya memanfaatkan uang dan semua aset Fello, tapi juga tubuh Fello.
“Tidak ada laki-laki sebaik Liam untuk Fello. Tak ada laki-laki yang juga bisa menjadi menantu baik seperti Liam. Namun semoga, ketika akhirnya Fello sembuh, Tuhan memberinya kesempatan untuk bahagia bersama laki-laki lain yang juga tulus menyayanginya. Syukur-syukur, laki-laki itu juga baik seperti Liam.” Pak Wijaya sungguh berharap di tengah rasa sesal yang menjadi satu-satunya rasa yang tertinggal. Karena setelah ia menyia-nyiakan Liam, ia malah terus dihadapkan pada sederet cobaan. Andai, ia tidak terlalu keras kepada Liam. Andai, ia juga bisa membuat Fello jauh lebih bisa menghargai Liam. Pasti semuanya baik-baik saja dan Fello pun tak harus menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat pengobatan khusus layaknya sekarang.
***
__ADS_1