Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)

Istri Rahasia Sang CEO (Penyesalan Seorang Istri)
14. Sederhana, Tapi Sakral


__ADS_3

Indah merasa sangat terganggu dengan cara Liam menatapnya. Pria itu terus fokus menatapnya di tengah senyum lembut yang juga terus terurai, membuat pria itu makin terlihat tampan. Jantung Indah menjadi berdentam lebih kencang, bahkan walau wanita itu sengaja menunduk dan sebisa mungkin tidak melihat Liam. Hanya saja, tanpa menatap pun, Indah yakin Liam terus menatapnya, termasuk itu ketika akhirnya ia duduk di sebelah Liam. Mereka yang ada di sana menjadi kerap melayangkan candaan.


“Cantik banget,” lirih Liam yang tak segan menggenggam sebelah tangan Indah.


Indah sampai merinding saking gugupnya ketika tangan kiri Liam menggenggam tangan kanannya. Benarkah Liam begitu mencintai bahkan juga mengaguminya? Atas dasar apa? Benarkah semata karena fisik? Bukankah Liam bisa mendapatkan yang lebih baik darinya karena Liam saja memiliki segalanya? Tak hanya rupa, tapi juga harta bahkan kedudukan.


Dihadapkan pada keadaan sakral layaknya sekarang ditambah semua mata juga menjadikan mereka sebagai pusat perhatian, Liam tampak santai-santai saja. Malahan, Indah yang sampai berkeringat saking tegangnya. Atau mungkin karena Liam sudah terbiasa mengurus hal penting?


“Buku nikah nyusul karena masih diurus, ya,” lirih Liam yang meski tatapannya sudah mulai mengamati sekitar, tangan kirinya tetap menggenggam tangan kanan Indah.


“Iyah.” Indah hanya menjawab lirih sekaligus kilat. Selain itu, ia juga memilih untuk tetap menunduk.


“Telapak tangan kanan kamu basah, kamu tegang banget?” lirih Liam dan kali ini sengaja menggoda Indah. Wanita itu langsung meliriknya sebal kemudian menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mencubit perutnya secara asal.


Liam hanya menahan senyum gelinya saking bahagianya. Satu tahap yang terbilang luar biasa karena akhirnya, Indah mau meresponsnya sebagai pasangan.

__ADS_1


“Liam,” lirih Indah yang mendadak serius.


Liam yang awalnya tidak bisa mengakhiri senyumnya, menjadi ikut serius. Pria itu sungguh kehilangan senyumnya saking khawatirnya ia pada Indah. Ia telanjur terbawa suasana.


Indah tetap menunduk. “Aku mengundang orang tua mantanku. Mantanku sudah meninggal dan sebelumnya, kami nyaris menikah.“ Ia berangsur melirik Liam.


Tentu saja Liam tahu mantan yang Indah maksud. Alasan yang juga membuat wajah cerahnya menjadi dihiasi mendung. Rasa bersalah itu sungguh ada, melahirkan sesak yang perlahan menguasai dada. Liam benar-benar menyesal lantaran sikap posesif Fello telah melahirkan korban fatal. Namun andai itu tidak sampai terjadi, Liam juga tidak yakin, hari ini akan seindah yang beberapa saat lalu ia rasakan. Rasa bahagia yang sampai membuatnya merasa sangat damai. Ia sampai tidak bisa berhenti tersenyum.


Guna meredam rasa bersalahnya, tangan kiri Liam yang masih menggenggam tangan kanan Indah, berangsur mengelus-elusnya. “Yang mana? Kamu mau mengenalkanku ke mereka?”


Indah mengangguk-angguk kemudian melirik Liam. “Di belakang rombongan keluargaku. Yang pakai kebaya emas sama batik keemasan. Si mamahnya pakai jilbab jingga tua,” lirihnya melirik Liam penuh arti. Pria itu langsung mencari yang bersangkutan kemudian melempar senyuman disertai anggukan yang membuat pria itu sangat santun. Kontras dari ketika pria itu memaksanya untuk melakukan cinta satu malam, malam itu.


Acara ijab kabul akhirnya dimulai. Ketegangan Indah makin tak karuan. Sedangkan Liam, pria itu tampak antusias bahkan tak sabar. Senyum hangatnya kian membuat wajah tampannya terlihat cerah. Keluarga Indah maupun para tetangga sampai sibuk melayangkan cuitan, suami Indah sangat tampan, selain menurut mereka yang beranggapan Indah dan Liam memiliki banyak kemiripan rupa. Konon, pasangan yang mirip merupakan jodoh yang sesungguhnya. Yang mana dalam diamnya, Indah yang menyimak menjadi sibuk mengaminkan. Terlebih bagi Indah, menikah hanya akan ia lakukan sekali dalam hidupnya.


Dalam satu helaan napas, Liam melafalkan ijab kabulnya. Dalam kurun waktu itu juga, Indah menahan napas sedangkan jantungnya berdentam-dentam tak karuan. Padahal, Liam tidak sampai sekacau Indah. Liam tampak sangat berwibawa sekaligus gagah. Semua wanita di sana sampai terpesona, dan lagi-lagi menciptakan cuitan yang sampai memenuhi indra pendengar Indah. Namun, Indah sama sekali tidak mempermasalahkannya. Malahan, Indah merasa sangat bangga sekaligus bersyukur. Sambil terus berdoa, Liam tidak pernah berubah. Liam akan selalu mencintai sekaligus memujanya, menjadikannya sebagai wanita paling spesial walau semua mata yang ada di hidup Liam berusaha memasuki kehidupan Liam.

__ADS_1


Setelah kata SAH terucap dari hadirin yang juga menjadi saksi, tanpa diduga, Indah merasa sangat lega. Indah bahkan refleks mengucapkan syukur. Ia berangsur menyalami tangan kanan Liam, menciumm punggung tangan tersebut dengan sangat takzim, tak lama setelah kebersamaan di sana diwarnai doa bersama.


Liam yang kembali fokus pada Indah refleks tertawa kecil. “Langsung semringah!” lirihnya dan kali ini kembali menggoda Indah yang sudah resmi menjadi istrinya. Setelah tampak kikuk, Indah nyaris kembali mencubitnya, tapi wanita itu tak jadi melakukannya dan mungkin karena orang-orang menjadi sibuk menggoda mereka.


Ya Tuhan, baru begini saja rasanya sangat bahagia. Terima kasih banyak, semoga niat baik hamba menjalani pernikahan bahagia bersama Indah, Engkau mudahkan. Walau hamba memulainya dengan kesalahan, kali ini, hamba akan melakukan yang terbaik, batin Liam.


Acara selanjutnya merupakan acara sungkeman. Dalam acara tersebut, tak hanya orang tua Indah yang menitipkan Indah kepada Liam. Karena hal yang sama juga dilakukan oleh nyonya Nani kepada Indah.


“Liam sudah terlalu menderita. Liam hanya membutuhkan perhatian sekaligus cinta yang tulus. Dia sangat mencintaimu, dan tolong balas cintanya. Mamah yakin, kamu akan mencintainya dengan sangat mudah apalagi Liam memang semanis itu. Jangankan kepada pasangan, pada Mamah saja, dia sweet banget.” Berderai air mata, nyonya Nani memberikan buket bunga di pangkuannya kepada Indah.


Indah yang juga ikut berderai air mata refleks tersipu. Ia menerima buketnya dengan perasaan sekaligus senyum hangat. “Makasih banyak, Mah. Beneran masih enggak sangka, akan secepat ini.”


Setelah acara sungkem kepada orang tua selesai, Indah membawa Liam untuk menemui orang tua Riko yang tetap duduk di kursi tamu undangan. Suasana haru kembali tercipta karena tangis haru turut menyertai doa terbaik yang lagi-lagi orang tua Riko panjatkan untuk Indah dan Liam maupun hubungan keduanya.


Ke orang lain saja kamu sebaik ini, apalagi ke pasangan kamu, Ndah. Sumpah aku beneran bersyukur banget, batin Liam makin kagum kepada Indah.

__ADS_1


Di tempat berbeda, Fello yang tengah menghabiskan waktunya di ruang gelap menyerupai bar pribadi, tak sengaja menjatuhkan gelas berkaki panjang di tangan kanannya. Gelas berisi wine dan tidak begitu penuh itu lolos begitu saja tanpa alasan. Padahal Fello baik-baik saja walau tangan kirinya juga tengah mengendalikan rokok yang ia hisap.


“Bahkan gelas saja tidak mau aku pegang, apalagi Liam!” gerutunya tetap asyik menikmati rokoknya.


__ADS_2