
Pernikahan, hari spesial dimana dua insan akan merubah statusnya dari lajang menjadi menikah. Jadi tak salah, banyak orang merayakannya begitu meriah.
Ah ... sepertinya itu tak berlaku bagi wanita bernama Ghumaisha, pernikahan yang didambakan dari dulu harus kandas saat berat badannya menjadi suatu masalah.
Percayalah, seribu cara sudah dilakukannya untuk menguruskan badan. Dari mulai puasa sunah, makan teratur, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai Oma menyarankan agar ia melakukan operasi pengangkatan lemak. Gila! Sekadar memikirkanya saja membuat dirinya begidik ngeri.
Jadi, jangan harap ia akan berkata setuju. Tidak mungkin!
Sekarang … entah sudah ke-berapa kali Ghu harus menahan napas, hanya untuk mencoba baju pengantin yang terus silih berganti. Semuanya sia-sia, tak ada yang muat, sempit dan pengap. Ia pikir, memakai sepatu boot akan bagus meski tak cocok. Untuk satu ini ia berkata serius.
"Apa ada baju lain lagi?" Oma memijit-mijit keningnya pusing.
Pelayan menggeleng takut. "Ttt-tidak ada, Nyonya. Ini koleksi baju pengantin kami yang terakhir."
Mata Oma berkilat tajam. "Kalian ini desainer andalan kami! Kenapa semua baju pengantin yang kalian jahitkan tak ada yang pas untuk dipakai cucuku. Pokoknya, aku tak mau tahu. Kalian harus mencari baju pengantinnya, sekarang juga!"
Ghu menegak saliva. Sedang, Klara kelimpungan tak tahu harus berbuat apa. Wanita bertubuh gempal itu paham betul ukurannya memang jarang di temukan dimanapun. Kecuali dijahitkan, tetapi itu tak mungkin. Karena dalam waktu kurang dari dua jam, akad pernikahan akan segera berlangsung.
"Rasanya aku mau pingsan."
Oma memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Dengan segera Ghumaisha memegang pundak Oma Ardian, khawatir dia akan pingsan. Akan semakin repot urusannya nanti.
"Bagaimana? Tidak mungkin kita memundurkan pernikahan," kata Oma melirik Ghumaisha.
Ghu menggelengkan kepala, tak bisa berpikir apapun. Selain memikirkan, apa badannya sebesar itu? Sampai tidak ada baju yang muat satu pun.
"Apa tidak sebaiknya aku menggunakan baju biasa saja?" cicitnya, langsung mendapatkan pelototan tajam.
"Mana ada pengantin memakai baju biasa!" protesnya tak setuju.
Ghumaisha tersenyum, mendudukkan Oma di kursi lalu ikut duduk di sebelahnya. Secara perlahan menjelaskan ia tak masalah meski harus memakai baju biasa, sejatinya menikah adalah terikatnya dua pasangan dengan kata sah. Bukan persoalan baju. Apalagi resepsi. Perkataannya lantas membuat mata Klara berbinar-binar.
Sejenak Oma terdiam menimang-nimang perkataan Ghumaisha tadi. Klara menatapnya penuh harap, semoga mau menyetujui usulan Ghumaisha. Ia tak ingin dimarahi bossnya karena tak becus mengukur baju dan menjahit.
__ADS_1
Wanita yang tak lagi muda itu tampak sedang bergelut dengan pikiran. Ini menyangkut pernikahan cucunya, apalagi ia termasuk golongan orang ningrat. Tidak mungkin merelakan Ghu berpakaian gamis. Namun, situasinya sekarang juga tak memungkinkan untuk dipaksakan. Hingga ....
"Baiklah ... Oma setuju. Baju pengantin tidak termasuk persyaratan nikah. Terpenting halal.”
Oma tersenyum lebar mencubit pipi Ghu gemas.
"Alhamdulillah ..." Klara bernapas lega, bebannya serasa terangkat seketika. Saat mendengar ucapan Oma tadi.
Sungguh, ini untuk pertama kalinya, ia mendapatkan pelanggan sebesar Ghu. Dia melebihi wanita hamil, menghabiskan beberapa meter kain agar bisa membungkus tubuh gempalnya. Sampai Klara berpikir, mungkin satu hari berat badannya bertambah 1 Kg. Dia yakin, Minggu lalu sudah mengukur tubuh Ghu dengan benar.
***
"Kenapa harus Gajah Eropa?"
Seorang pria berpeci dengan stelan jas hitam berbisik pelan pada sang Ayah yang tengah duduk di sebelah. Pria tua itu menoleh. Melotot tajam. Sampai, Ardian berpikir matanya bisa saja keluar dari tempatnya.
“A-aw! Sakit, Yah!”
"Ayah sudah bilang, berhenti memanggilnya Gajah Eropa! Dia manusia, bukan hewan! Dia juga calon Istrimu sekarang, jadi jangan berbuat ulah." Jimi menunjuk putranya dan berkata penuh penegasan, suaranya agak dipelankan takut kedengaran orang-orang.
Ardian berdecak. Dengan entengnya berucap, "Tetap saja tak akan berubah menjadi Kimberly Ryder." Pria itu menggerutu, tak peduli dengan tatapan nyalang darinya.
Pernikahan Ardian dilangsungkan di rumah Ghumaisha dengan dihadiri beberapa anggota keluarga saja. Beralasan, karena Ghu dan Ardian sepakat tidak akan menggembar-gemborkan pernikahan mereka didepan khalayak. Sampai Ardian bisa lulus tes di kantor Ayahnya dan bisa menghidupi keluarganya sendiri.
Alasan lain, Ardian tak ingin teman-temannya tahu kalau ia menikahi Gajah Eropa yang tak lain adik kelas yang selalu ia bully habis-habisan. Parahnya, sekarang malah jadi calon istri, menyebutnya saja membuat bibir gatal.
"Dimana pengantin wanitanya?" tanya penghulu, ini sudah waktunya akad berlangsung.
Ayah tersenyum kemudian berbisik di telinga penghulu. Ardian mengerutkan kening, agak curiga dengan tingkahnya. Bolehkan ia berprasangka, akan ada kejadian buruk yang menimpanya setelah ini. Ia mencium aroma-aroma tak mengenakkan.
Penghulu memangut-mangut, ujung bibirnya terangkat membuat Ardian bertambah curiga. Harusnya ia mempunyai ilmu batin, agar bisa menebak jalan pikiran picik sang Ayah.
"Silakan di mulai, Pak."
__ADS_1
Pak Jimi tersenyum, mempersilahkan penghulu dan Pak Yudan ayahnya Ghumaisha untuk memulai acara ijab qobul. Sebelum anaknya kabur dan mencoreng wajahnya dengan tinta hitam.
Pak Yudan mengangguk, menyodorkan tangannya kepada Ardian. Setengah ragu, ia membalas uluran tangannya. "Ananda Ardian Jaya Kusuma bin Jimi Kusuma, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ghumaisha Binti Yudan Pratama maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan uang senilai dua puluh juta, tunai!"
Dengan mantap, Ardian menjawab dengan lancar layaknya jalan tol Cipularang.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ghumaisha binti Yudan Pratama dengan
maskawinnya yang tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi sah?" Penghulu meliririk saksi.
"SAH!"
"Alhamdulillah .... "
Penghulu tersenyum, mengadahkan tangannya untuk berdoa. Begitu pula semua orang ikut mengaminkan doa penghulu. Dalam hati Ardian berdoa, semoga istrinya bisa berubah menjadi langsing. Setidaknya turun satu kilo.
"Ya, Allah, Istriku 100 Kg.”
Ardian menangis, sesegukan meratapi nasibnya yang malang. Orang malah menganggapnya tengah terharu.
***
“Kamu tak papa pakai baju biasa?”
Perbincangan tadi masih tergiang-giang di telinga, Ghumaisa. Ia tersenyum miris tatkala melihat pantulan dirinya di cermin. Buruk.
Riasan ini tampak tak cocok dengan dirinya sekarang. Sama sekali tidak. Mau di dandani sedemikian rupa juga tak akan berubah. Di mata calon suaminya ia tetap sama.
Gendut.
"Aku pikir ini akan menjadi momen terbaik dalam hidupku, Bu. Nyatanya pernikahan ini hanyalah keputusan terburuk yang pernah diambil."
__ADS_1