
***
(Dzonantu qolbi qowiyyun ma yahuzzuu ghiyabaki, tholaβa mitslu warokun yarjuffu min biaadika. Aku kira hatiku sudah kuat untuk menahan guncangan atas kepergianmu. Tapi nyatanya hati ini seperti daun kering tatkala jauh darimu. Pujangga Arab.)
***
"Kamu Ghumaisha?" tanya Ardian.
Ada ruang di antara mereka, tetapi cukup untuk bisa mendengar perkataan masing-masing. Tak mereka hiraukan orang-orang di sekitar atau suara-suara kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Kenyataanya Ghumaisha malah tenggelam dalam debaran yang berpacu cepat di dada, sungguh, perhatian-nya hanya terfokus ke arah suaminya saja.
"Jawablah. Apa kau Ghumaisha?"
Ghumaisha tak mampu menjawab. Matanya terasa panas ingin melelehkan air mata, mengungkapkan betapa ia bahagia Ardian memanggilnya sekarang. Mengharu biru, ingin berlari memeluk suami yang begitu ia rindukan. Sempat putus asa saat dia tak mengenalinya sama sekali.
"Nona? Apa kau Ghumaisha? Jawablah!"
Sekali lagi Ardian melayangkan pertanyaan sama. Meminta jawaban dari wanita yang beberapa hari ini mengganggu pikiran. Bukan karena kecantikannya, melainkan suara yang menyerupai sang istri membuat ia tak bisa tidur siang dan malam.
Setetes air mata jatuh di pipinya. Perlahan kepala Ghumaisa mengangguk, "Ya ... aku istrimu Ardian. Aku Ghumaisha." Dia berucap mantap.
Hening. Sampai Ardian menghembuskan napas berat.
Entah apa yang dia pikirkan, namun detik berikutnya berkata, "Kita bicara di apartemenku. Di sini banyak orang, tak baik rasanya membicarakan hal pribadi dihadapan umum."
Tanpa ragu Ghumaisha menganggukan kepala.
"Ya."
"Kau duluan?" Ardian menyingkir membiarkan Ghumaisha berjalan lebih dulu. "Aku mengikutimu dari belakang."
"Baiklah."
Ardian memegang dada, seperti mencoba mengontrol degup jantungnya di dalam sana. Mengambil napas panjang, agar bisa bersikap sewajarnya untuk memastikan dia istrinya atau bukan. Penuh harap kalau wanita yang berjalan di depannya bukanlah Ghumaisha, istri yang tiba-tiba datang dan menjadi kurus secara mendadak.
***
Ghumaisha menundukkan kepala, tangannya saling bertautan gugup menunggu kedatangan Ardian yang tadi langsung pergi ke kamar Jalal lalu ke dapur dan belum kembali sampai saat ini. Sampai ia berpikir, kalau pria itu tak kalah geroginya berbicara dengan dirinya sekarang. Hingga menggunakan seribu alasan untuk menyiapkan diri agar bisa bersuara.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." Ardian kembali sambil membawa dua gelas air putir kemudian dia simpan di atas meja. "Minumlah!"
Sedangkan Ghumaisha tersenyum kecil, cuman bisa menganggukan kepala. "Tak apa. Kau lebih banyak menunggu dibandingkan diriku."
Ardian tersenyun simpul, duduk di kursi yang ada di hadapan Ghumaisha.
Wanita itu merasa tegang, hanya saja mencoba bersikap senatural mungkin dengan rasa percaya dirinya karena telah kembali membawa banyak perubahan. Meyakinkan diri kalau sang suami akan senang dengan ia yang sekarang.
"Baiklah ... sejujurnya, aku tak percaya kalau kau adalah Ghumaisha. Meskipun suaramu mirip, dan juga mengetahui setiap apa yang aku katakan kepada istiriku. Bisa saja, dia banyak bercerita padamu hingga kau mengetahui itu semua," kata Ardian lantas membuat Ghumaisha terkejut.
"A-pa maksudmu?"
__ADS_1
"Sudahlah! Aku ingin kau mengatakan dimana istriku sekarang? Aku tahu kau mengetahui keberadaanya, iya kan?" imbuh Ardian penuh tuntutan.
"Aku Ghumaisha. Istrimu! Seperti yang aku katakan tadi di luar. Mungkin kau merasa heran dengan diriku yang sekarang, tetapi kau harus tahu? Selama empat bulan aku pergi untuk mengobati trauma sekaligus ke dokter memeriksakan diri dan menjalani diet. Itu kulakukan semata-mata agar kau merasa bahagia." Ia menatap suaminya penuh harap dengan nada bersungguh-sungguh.
"Istriku seperti boneka beruang, matanya bulat. Kau kurus, bagaimana bisa aku percaya?" timpal Ardian. "Kalau kau mencoba mengaku-ngaku sebagai istriku karena tahu silsilah keluargaku, sebaiknya hentikan saja. Percuma. Tak ada satu pun wanita yang bisa menyamainya." katanya tajam.
"Mataku juga bulat, kau lihat?" sambil menunjuk matanya sendiri. "Hanya saja badanku yang kurus."
"Aku tak percaya. Setiap orang bisa saja punya mata bulat dan kau salah satunya!"
Tak kalah akal Ghumaisha mengeluarkan KTP dalam tas-nya memperlihatkan kepada suaminya, tetapi masih saja tak membuat dia percaya. Menuduh, kalau ia mencuri semua barang-barang milik istrinya, sampai mengancam melaporkannya ke penjara karena kasus penipuan dan penculikan.
"Sekali lagi aku tanya. Kau kemanakan istriku?" Ardian kembali menanyakan hal sama. "Aku benar-benar akan melaporkanmu ke polisi, jika saja kalau kau masih tak mau mengaku!" tambahnya mengancam.
Ghumaisha gemas sendiri, "Sudah berapa kali kubilang! Aku ini istrimu. KTP sudah aku tunjukkan, bahkan barang-barang milikku di tas sudah aku keluarkan. Aku Ghumaisha, istrimu. Gajah Eropa. Apa kau masih belum percaya?" ujarnya jengkel. Ingin rasanya membuka mata suaminya lebar-lebar, agar segera sadar ini adalah istrinya.
Mata Ardian menyipit, "Aku semakin percaya kalau kau bukan Ghumaisha. Karena istriku akan marah kalau aku menyebutnya Gajah Eropa. Sudah jujur saja jangan berkelit."
"Aku Ghumaisha! Bukti apalagi yang harus aku tunjukkan?" Ghumaisha menangis, "Apa aku harus menggemukkan badanku lagi. Agar kau percaya ini aku?"
"Intinya aku masih belum percaya."
Kesal, Ghumaisha beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil tas di kursi. Hendak meninggalkan apartemen Ardian, lebih membiarkan air matanya beranak sungai. Hatinya terasa teriris-iris, menyayangkan kalau perubahannya sama sekali tak membuat dia bahagia.
Ia membuka kenop pintu, sebelum seseorang memeluknya dari belakang. Bahunya basah oleh air mata, tangisan getir terdengar pilu di telinga. Hati Ghumaisa tertohok seketika.
"Aku sudah curiga, kalau ini adalah dirimu dari semejak pertama kali kita bertemu. Perasaan seorang suami tak akan salah, rasa bersalahku telah membawamu kembali. Tolong maafkan aku."
"Kau tak perlu berubah untuk membuatku bahagia, Ghumaisa. Aku mencintaimu apa adanya, tak memandang rupa ataupun fisik. Kau mungkin menganggap ucapanku ini omong kosong, tetapi bukankah dari dulu sudah aku katakan, sejelek apapun istriku tak akan pernah aku mengatakan cerai." Ardian semakin erat memeluk Ghumaisha, takut dia meninggalkannya lagi.
"Tapi kau menginginkan wanita seperti Kak Tasya." lirihnya, langsung ditepis Ardian.
"Itulah dirimu Ghumaisha, selalu tak percaya diri! Kau tak tahu, aku lebih takut kalau kau meninggalkanku. Pikirkanlah, kapan aku berpacaran dengan seorang wanita atau jalan sambil berpegangan tangan, apalagi sampai berpelukan. Akan kukatakan lagi, aku tak pernah memeluk wanita manapun selain kau dan Ibuku saja."
Ghumaisha membalikkan badan, melihat wajah Ardian sudah dipenuhi air mata. Dia benar-benar menderita. Tanganya terangkat, mengusap air mata suaminya. Senyum terlukis dari balik cadarnya, merasa terenyuh dengan perkataan Ardian.
"Aku tak tahu harus percaya atau tidak ...,"
"Jangan dengarkan perkataan orang, Ghumaisha. Mereka hanya melihat tanpa mencari kebenaran, aku sering menggoda wanita-wanita tetapi tak pernah berniat menjalankan hubungan serius. Kau tahu, jika aku sudah mencintai seseorang maka tak ada satu pun yang bisa menggantikannya."
"Seperti Kak Tasya?"
"Ya. Dia cinta pertamaku, tetapi kau istriku. Kau tak pantas membandingkan dirimu dengannya, dia hanya teman kecilku saja. Walaupun aku cinta mati padanya, kau lebih punya tempat yang pasti dalam kehidupanku. Kau istriku, berapa kali aku harus mengatakan itu?" Ardian mencium pungggung tangan istrinya, kembali memeluk tubuhnya. Melepaskan rasa rindu yang tertahan berbulan-bulan.
Ia membalas pelukan Ardian, "Aku merindukanmu Ardian." Untuk pertama kalinya Ghumaisha mengungkapkan perasaanya.
"Aku lebih merindukanmu Gajah Eropa."
Ghumaisha memukul bahu Ardian, membuat pria itu terkekeh disela-sela tangisnya. "Aku sudah kurus!" protesnya, melepaskan pelukannya. Hingga kembali tersenyum karena Ardian mencium keningnya lembut.
__ADS_1
"Kau Gajah Eropaku tak akan berubah meski sudah kurus sekalipun."
"Aku senang medengarnya." Ghumaisha tersenyum tulus, mencium pipi kanan Ardian.
Bukannya terkejut, Ardian malah menunjuk pipi kirinya langsung mendapat cubitan keras dari Ghumaisha. Mereka tertawa, melupakan setiap duka yang melanda bulan-bulan kemarin. Menjadikannya sebagai pelajaran untuk menempuh masa depan yang lebih baik. Tahu kalau hidup tak akan selamanya bahagia, tetapi juga tak akan selamanya menderita.
**
("Seorang laki-laki selalu mengidam-idamkan seorang wanita yang sempurana dan wanita pun begitu selalu mengidam-idamkan laki-laki sempurna. Padahal mereka tidak faham bahwa Alloh menciptakan mereka untuk saling melengkapi satu sama lain. Pujangga Arab.")
"Mereka sudah bertemu sekarang. Bagaimana perasaanmu?" seorang wanita berjas Dokter, melirik pria di sampingnya yang tengah menyandarkan badan di mobil.
"Baik." Tanpa mengalihkan perhatian dari pantai di bawah langit senja. "Ini yang kuharapkan dari dulu melihat Ghumaisha bahagia, walaupun tak bisa menjadi istriku setidaknya dia bisa menjadi adikku. Itu cukup."
Coco berdesis, "Kau tak sakit hati?"
"Untuk apa?" Ali kembali melihat Coco.
"Aku pikir kau akan menangis lalu menjerit-jerit di tengah jalan seperti orang gila. Kebalikannya kau malah bahagia seperti sudah mendapatkan lotre, ajaib sekali. Aku tak bisa sepertimu," timpal Coco bersedekap, menatap heran pria di depannya ini.
"Kau seorang psikolog bisa merasakan sakit hati juga rupanya. " ejek Ali tertawa.
"Lihatlah sekarang kau menertawakanku? Aku sumpahkan besok kau merasakan sakit hati sama sepertiku." Coco menyipitkan mata hanya dibalas gelak tawa Ali.
"Begini saja, besok aku berniat membawa orang tuaku untuk ke rumahmu. Apa kau ada waktu?" tanya Ali.
"Untuk apa?"
"Melamar."
Pipi Coco langsung memanas seketika. Dia memang sudah lama mengenal Ali, tepatnya tak sengaja bertemu di Mesir. Mengetahui juga bagaimana pria itu menjaga batasan-batasan serta selalalu ingin menggali ilmu agama.
Mereka tak sengaja bertemu di pantai, karena sampai kelinci beranak harimau dia tak akan mengajak wanita yang bukan mahramnya berjalan berduaan atau hanya sekadar pendekatan, apalagi tanpa alasan jelas. Karena dia sering berkata kalau ketiganya adalah syaitan. Entah bercanda atau serius.
Dari tempat lain seorang wanita menjatuhkan cincin yang sedari tadi di genggamnya. Air matanya menetes, hatinya terasa di tusuk pisau berkali-kali. Mendengar perkataan Ali tadi, seakan dia melupakan sebelumnya telah bertunangan dengan seseorang. Dan ia masih menunggu sampai sekarang.
(Aku pernah mendengar, orang baik untuk orang baik juga. Sebaliknya orang buruk untuk yang buruk pula.
Lalu bagaimana dengan diriku yang mencoba berubah menjadi lebih baik, namun mengharapkan pria terbaik. Apa itu salah?
Aku hanya menginkan dia saja, kenapa dia malah menjauh.
Sedangkan yang tak menunggunya bertahun-tahun, dengan mudah mendapatkannya.
Apa itu adil?)
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya π
__ADS_1
Kritik dan saran di tunggu okhe π