ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
TUJUH


__ADS_3

"Bagaimana bisa mereka ada di sini?" Ardian mematung, tak percaya kedua manusia itu ada di tempat ini juga.


Wajah Ali mengeras, tangannya menggepal kuat-kuat, sejenak matanya terpejam mencoba mengontrol emosi. Berniat ingin berlibur, malah mendapatkan kejadian tak pantas di depan matanya sendiri. Apalagi orang itu adalah bagian terpenting dalam hidupnya.


Sedangkan Ardian sudah mati kutu, tak mampu bicara lagi. Bertanya-tanya kenapa Ali dan Laila bisa ada di butik yang sama dengan mereka.


Laila adalah adik Ali. Ardian pernah mendengar kalau dia tinggal di Pangandaran. Selama ke sini tak pernah sekalipun ia bertemu dengan wanita berumur 17 tahun itu, keluarganya juga jarang bertemu dengannya.


"Apa yang kau lakukan pada GHUMAISHA TADI. HAH!" teriak Ali mendekati Ardian, menarik kerah kemejanya. Seumur hidup ia tak pernah rela bila Ghumaisha terluka, termasuk oleh sepupunya sendiri.


"Lepas!" Ardian menarik-narik tangan Ali dari kerah bajunya, namun pria itu enggan untuk melepaskan. "Lepas, ALI!"


Mata Ali melotot, hatinya sudah terbakar amarah.


"Kenapa? Lo marah karena gue nyiksa dia terus menerus! Gue malah suka melihat dia menderita, Lo paham." Ardian tersenyum sinis, lagian Ghumaisha ada di dalam jadi tak akan mendengar perkataannya tadi.


Cengkraman Ali semakin erat. "Apa katamu tadi?!"


Cukup lama mematung, Laila mendekat mencoba meleraikan keduanya. "Kak Ali, sudahlah ... lepaskan Ardian. Jangan sampai kamu terpancing rayuan syaitan." Ia membantu melepaskan tangan Kakak-nya yang mulai merambat pada leher Ardian, membuat pria itu menjinjit hampir tercekik.


"Pria ini harus di beri pelajaran, Laila!" jawab Ali geram.


Di dalam para pelayan menyibakkan tirai, mengeluarkan Ghumaisha yang sudah berganti baju sesuai dengan keinginan Ardian. Dress biru berlengan pendek dengan panjang bawahan selutut. Ghu menangis, menutup bagian bawahnya dengan melebarkan gamis untuk menutup seluruh kakinya yang terbuka. Penghinaan untuknya memakai pakaian seperti ini, sungguh tak ada yang lebih buruk daripada itu.


Laila menoleh, memekik kaget ketika melihat pakaian Ghumaisha. Ali melepaskan cengkramannya, emosinya semakin meluap melihat pakaian yang di pakai Ghu. Tanpa berpikir dua kali dia berjalan ke arah Ghumaisha. Membuka jas hitamnya, lalu memakaikan pada pundaknya.


Air mata Ghumaisha mengalir deras, menatap mata Ali yang menyiratkan kemarahan.


"Kenapa memakai pakaian ini?! Apa urat malumu sudah putus?!" tanyanya hampir membentak." Ini bukan dirimu dan aku tak menyukainya. Apa ini perbuatan Ardian?"


Ghumaisha menunduk tak bisa menjawab. Di sana Ardian memilih diam ingin mendengar jawaban Ghumaisha, menunggu-nunggu momen dimana dia akan melaporkan semuanya pada Ali. Dia pastikan setelah kembali, hidup Ghumaisha akan semakin menderita. Laila ikut mendekati Ghumaisha, matanya menatap nyalang para pelayan yang ketakutan.


"Akan ku laporkan kalian kepada, Kak Jeny!" kata Laila, dia tak pernah bermain-main dengan ucapannya dan semua pegawai di butik Jeny tahu akan hal itu.


"Ganti baju! Aku tak sudi melihat kau dengan pakaian seperti ini." Perintah Ali dingin, menyibakkan tirai menyeret tubuh Ghumaisha ke dalam.


Ghumaisha mengangguk kembali masuk ke dalam ruangan ganti.


Kini Ali menatap para pelayan. "Kalian semua, setelah jam istirahat temui aku di kantor Jeny?!


"Kenapa menyalahkan mereka! Mereka tak salah apa-apa. Aku yang meminta mereka memaksa Ghumaisha memakai pakaian ini. Apa ada masalah?"


Laila berdecak, tak percaya Ardian akan melakukan ini semua. Tangannya terangkat melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Ardian PLAKK "Aku jijik padamu! Kau pria tapi tak bisa menjaga kehormatan wanita." kekecewaannya semakin dalam kepada Adrian, bisa-bisanya dia merendahkan derajat wanita.


"Ingat Ardian! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita." peringat Laila marah.

__ADS_1


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)


Ardian mengambil napas. "Anak bocah tak usah ikut campur. Dan apa peduli kalian! Urusi saja pernikahan Ali yang akan berlangsung sebentar lagi. Gajah Eropa keluar, kita pergi dari sini!" perintah Ardian terdengar seperti teriakan.


"Aku tak akan membiarkanmu membawa Ghumaisha," ucap Ali tak akan membiarkan Ghu terluka lagi.


Ardian tersenyum kecut. "Dia kekasihku, ada masalah?" jawabnya menertawakan ucapan Ali.


"Apa maksudmu?," tanya Ali bingung.


"Tanyakan pada Ghumaisha mu!" jawabnya tak mau menjelaskan.


Tak lama Ghumaisha keluar memakai pakaiannya. Tangannya bergetar, mendapatkan tatapan penuh dari Ali dan Laila.


"Jelaskan apa yang di katakan Ardian tadi? Kau pacaran?," tanya Ali penuh penekanan.


Ghumaisha melirik Ardian yang memilih tak peduli, ia ingat Ardian mengatakan jangan membicarakan statusnya sebagai istri sah dari Ardian. Lalu pacaran? Bila ia menjawab ya, Ali dan Laila pasti akan marah dan kecewa.


Laila mendekat menyentuh tangan Ghumaisha untuk menenangkan, dia tak ingin memojokkannya. "Kau tak perlu takut kepada Ardian. Katakan padaku, benar kamu pacarnya Ardian?" tanyanya lembut.


Kepala Ghumaisha mengangguk lemah. "I-iya." jawaban yang menusuk hati Ali.


"Astagfirullah!" Ali menggeleng kecewa, tak percaya akan jawaban Ghumaisha.


***


Mereka sudah sampai, namun Ardian tak turun dari mobil. Dia memilih diam menatap kosong ke depan, pikirannya terbagi-bagi saat pertemuannya dengan Ali. Lima tahun telah berlalu dan rasa sakitnya masih terasa sama.


"Maaf!"


Kening Ghumaisha mengerut, menoleh untuk menatap Ardian. Bilang kalau ia tak salah dengar, seumur hidupnya tak pernah mendengar satu kali pun Ardian mengucapakan kata MA-AF.


"Kau minta ma-af?," Ghumaisha nampak tak percaya.


Ardian berdecih. "Lupakan! Aku tak pernah bilang apapun tadi."


"Aku memaafkan mu, Ardian!" kata Ghu, ketika Ardian ingin keluar mobil.


"Kenapa?" Ardian mengurungkan niat untuk keluar mobil. Badannya berbalik menatap istrinya penuh pertanyaan.


"Kata mamah, sebesar apapun ke salahan suami selama bisa di perbaiki kita harus memaafkan. Kau suamiku, meskipun kau sering membully tapi tak pernah sekali pun tanganmu terangkat dan aku rasa kau tak seburuk itu."


Yah, selama ini Ardian suka mengerjai Ghumaisha tapi tak pernah sekalipun menyiksanya habis-habisan. Otaknya masih berfungsi untuk tak berlebihan. Dia hanya suka mengejek Ghumaisha yang punya kelebihan berat badan.


"Jangan dekati Ali lagi, aku tak ingin kau seperti wanita itu." Ardian menatap lekat mata Ghumaisha, ada permohonan di sana.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Jangan banyak bertanya, turuti saja apa kata suamimu ini!" ucapnya tegas.


Pipi Ghumaisha merona, kata suami? Kata-kata terakhir Ardian membuat hatinya berdebar-debar. Tak perlu memuji, dengan mengatakan dia suaminya saja, terdengar romantis di telinga Ghumaisha. Sadar apa yang di ucapkannya tadi, Ardian keluar mobil, mengusap wajah gusar lalu memukul-mukul kepalanya merasa aneh dengan perkataannya tadi.


"Sepertinya otakku ini memang agak bermasalah," gerutunya mengumpat perkataanya tadi.


***


Angin malam terasa dingin, bulan sempurna tengah mengintip dari awan-awan. Ghumaisha memegang erat pembatas besi balkon kamar, bibirnya menyunggingkan senyum, memandangi langit hitam di sana.


Ingat Rahma, ia mengeluarkan handpond dari rok mencari nomor Rahmu di sana. Sebenarnya dia sudah protes jangan memberi nama Rahmu, hanya saja Ghu senang menyebutnya terdengar lucu.


"Assalamualaikum," salam Ghumaisha, setelah telepon tersambung.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa? Bukannya kalian sedang bulan madu. Kau tak kasihan padaku yang masih jomblo yah!" serobotnya dengan nada kesal.


"He he, aku ingin berkata sesuatu? Tapi kau jangan tertawa,"


"Apa?"


"Aku mau diet." terdengar suara batuk dari arah sebrang, membuat Ghumaisha memutar kedua bola matanya jengkel.


"Serius!"


"Ya ...." jawab Ghu ragu, pesimis kalau niatnya akan berhasil.


Adrian bersedekap, menyadarkan badan di ambang pintu. Mendengar perkataan Ghu tadi, membuatnya terkekeh geli.


"Yakin bisa kurus," ejeknya, mengalihkan perhatian Ghumaisha.


"Tentu saja bisa!"


Ia mendekati Ghumaisha di balkon, menelisik wajah cantik Ghumaisha tanpa makeup. Pipi bulat, mata bulat, dia seperti boneka beruang.


"Kalau di pikir-pikir kau mirip boneka," kata Ardian mengusap-usap dagu, layaknya berpikir.


"Boneka apa?" tanyanya.


"Anabelle." celetuknya meleos pergi. Tidak perduli dengan wajah cengo Ghumaisha.


Bersambung...


Apa yang terjadi selanjutnya 😉➡️

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar nya kawan hehe 😄


__ADS_2