
Tasya berdiri, dalam hati ada setitik kebahagian dengan kehancuran Ghumaisha sekarang. Kepuasan melihat orang yang dibenci terpuruk, menderita, tersungkur sampai ke tanah. Ia tak merasa dirinya jahat, hanya puas melihat kehancurannya. Menyadarkan wanita bertubuh gempal itu, kalau dia belum apa-apa dibandingkan dirinya.
"Kau tahu Ghumaisha? Kau adalah wanita terbodoh di dunia. Menutup mata dan telinga, dan masih mau bersama pria yang terang-terangan mencintai wanita lain. Aku yakin, Ardian pernah mengatakan padamu kalau dia masih mencintaiku dan menyuruhmu untuk tidak mencintainya karena ia tak mampu membalas. Benar? "
Ingatan Ghumaisha melambung saat mereka ada di balkon, untuk pertama kali Ardian memeluknya, menangis dalam diam, mengungkapkan perasaanya: kalau cintanya kepada Tasya belumlah berkurang sedikit pun. Dan bagaimana kejujuran suaminya, saat dia sedang terbaring sakit di atas ranjang, tak sengaja mengatakan kalau sampai ini masih mencintai Tasya.
Sekuat apa hatinya, sampai masih bertahan disisinya, tak peduli dengan hinaaan dan ejekan yang dilontarkan Adrian. Memilih berulang kali memaafkan. Bukankah itu tugas seorang istri atau ia memang bodoh, mudah dipermainkan orang?
Biarlah sekarang memakan hati, hidup tanpa cinta pun tak apa, semuanya sudah hancur dalam beberapa menit.
Tasya menyeringai. "Kediamanmu kuanggap, YA, Ghumaisha."
Ghumaisha terpuruk. Kesempatan itu Tasya gunakan untuk menghasut pikirannya yang sedang mengambang.
"Dengar Adik, sebagai seorang Kakak aku memberi nasihat padamu. Sebelum semuanya terlambat dan cintamu kepada Ardian semakin dalam. Lebih baik kamu tinggalkan dia, kau tak akan mampu bertahan sendirian dengan keadaanmu yang serba kekurangan. Kau buka typenya, bahkan aku yakin, bagi Ardian memilikimu hanya seperti musibah. Dengarkan aku, ini bukan nasihat yang menyesatkan. Keputusan ada di tanganmu. Karena bunga mawar berduri lebih disukai dibandingkan bunga melati. Kau paham maksudku, kan?" ucap Tasya, halus dan tajam di pendengaran Ghumaisha.
Bunga mawar meski sering menyakiti, selalu di puja-puja. Kecantikan dan keelokannya membuat setiap orang lupa akan durinya. Berbanding terbalik dengan melati, seandainya saja harum di kelopaknya tak tercium, maka orang tak akan memetik sang bunga karena sederhana.
Bibir Ghumaisha terbuka, bergetar, "A-ku, A-aku," tak mampu Ghumaisha melanjutkan ucapannya, perkataanya berhenti di kata aku.
Seakan menegaskan, Ghumaisha tak bisa mengelak dari kebenaran yang ada.
Ghumaisha lemah dalam Fisik, tetapi ia punya belas kasih besar untuk orang lain. Ucapan Ardian kembali ia ingat: tak peduli cantik atau biasa saja, manusia mempunyai dua sipat. Baik dan Buruk.
Lalu apakah yang harus ia unggulkan dari dirinya? Jika sikap Tasya buruk, mungkin dia juga lebih buruk dari dirinya. Cantiknya wajah Tasya, menutup setiap kejahatannya. Berbeda dengan dirinya, hanya punya hati, namun siapakah yang bisa menebak isi hati, kecuali Allah saja.
"Aku bunga mawar, Ghumaisha. Meski berduri tetap dipuja, sedangkan dirimu hanya melati. Jika harummu sirna, maka tak akan pernah dilirik. Inilah dunia sesungguhnya, kejam, bukan?"
Tasya menghela napas,"Jadi jangan berharap banyak kepada Ardian dan Ali. Apalagi mencoba membandingkan diriku dengan dirimu, tentu kita berbeda tingkatan, Adik."
Ghumaisa kembali menangis, memeluk lutut. Setiap perkataan Tasya bagaikan tamparan keras untuknya, menjatuhkan dirinya sampai ke dasar, tak membiarkan dirinya bangkit lagi.
Ya Rabb, hancur sudah hatinya ini.
Hingga sekelilingnya berubah menghitam.
"Tante!"
Samar-samar teriakan Jalal terdengar, sampai semuanya hening.
Sedangkan Tasya merasa getir. Ada sedikit iba di hati melihat keadaan wanita malang itu, namun segera ditepisnya agar tak menghalangi rencana yang sudah dia buat. Telanjur basah, mandi sekalian. Mengorbankan dua orang tak akan membuat bumi hancur.
Sejurus kemudian, Tasya berteriak, "ALI! ARDIAN!"
Teriak Tasya berkali-kali menarik Ali dan Ardian di ruang tamu. Khawatir dengan keadaan Tasya, mereka mendatangi sumber suara. Sesampainya di sana Ali lebih dulu tercengang berbeda dengan Ardian di serang cemas. Ghumaisha terbaring di lantai, kepalanya berada di pangkuan Tasya.
"Ada apa dengannya?" Ardian panik, berjongkok, memegang tangan Ghumaisha, memeriksa denyut nadinya memastikan kalau dia masih hidup.
"Aku tak tahu, saat mengobrol tadi dia pingsan," jawab Tasya, setengah jujur.
"Bawa ke rumah sakit!" perintah Ali tegas, tak peduli dengan kebingungannya. Yang penting Ghumaisha selamat dulu.
__ADS_1
Tasya mengangguk.
***
"Kenapa Ghumaisha bisa ada di rumahmu?!" tanya Ali, setelah Ghumaisha di masukan ke ruang UGD. "Jangan bilang kalian tinggal satu rumah. Jika itu benar, aku tak akan memafkanmu kali ini Ardian!"
Koridor rumah sakit sepi.
Tasya berada di belakang Ali, mewanti-wanti jika saja Ali mau menghajar Ardian dan mereka bisa diusir dari rumah sakit. Sedangkan Jalal memeluk kaki Ardian, tak mungkin bersama Ali karena ada Tasya di sana. Di mata anak kecil itu, Tasya terlihat kejam dan mengerikan.
Ardian menoleh, tatapannya tajam, "Itu urusanku, kau tak perlu ikut campur!"
Ali mendekati Ardian, menarik kerah bajunya ke depan. "Aku butuh jawaban! Cepat, jelaskan, Ardian! Kau tahu aku tak pernah tinggal diam jika sesuatu hal buruk menimpa Ghumaisha,"
"Kau siapanya, menghawatirkan kondisi Ghumaisha. Kekasihnya? Temannya? Kakaknya? Bukan, 'kan? Jadi berhenti mencemasinya. Aku tak suka! Urusi saja calon istrimu! Serigala berbulu domba."
Tasya tersentak, tak menyangka Ardian bisa menghinanya di depan Ali. Pria itu jika sudah emosi, sulit sekali menjaga kata-katanya.
"Kau sebut Tasya apa tadi?!" ulang Ali, tak percaya dia bisa menghina Tasya, mengingat Ardian masih mencintai tunangannya itu.
"Kau mengataiku serigala berbulu domba, Ardian? Apa salahku?" Tasya mendekati Ardian, matanya sudah menguratkan kekecewaan. Ardian memalingkan muka, kebiasaannya kalau emosi sulit sekali menjaga rahasia.
"Maaf, keluarga Ghumaisha?" kata Dokter, melihat keadaan koridor masih tegang. Tak ada yang menjawab, mereka masih cek-cok dan saling adu mulut.
"Ada yang mau menjawab pertanyaanku atau kalian ingin saya suntik rabies agar tenang?" sambung Dokter Arya, sukses mencairkan kondisi tegang saat itu.
Rabies? Kening Ali mengerut, Ardian cengo, Tasya kebingungan.
Dokter muda Arya memang paling terkenal di rumah sakit, selain disebut tangan ajaib, juga ucapannya sering membuat orang-orang jadi berpikir keras. Tajam namun bermakna.
Ali menghela napas, ingin mendekati Dokter dan sayangnya sudah didahului Ardian. Merasa dia paling berhak, bukan Ali.
"Kalian pergi saja, Ghumaisha jadi urusanku saat ini," titah Ardian dingin. Lalu melihat Dokter, "Bagaimana keadaanya, Dok?"
"Dia masih pingsan, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk saat ini pasien tak bisa ditemui, biarkan dia istirahat. Kehadiran kalian di dalam, hanya akan membuat keadaannya semakin memburuk," terang Dokter.
"Apa kata lo tadi?!" pekik Ardian tak terima.
"Sampai kapan dia akan pingsan?" sahut Ali tak peduli respon Ardian tadi.
"Insya Allah sebentar lagi dia bangun. Ya sudah, saya pergi dulu. Tolong jangan buat keributan di sini, apalagi sampai baku hantam. Kamar mayat sudah penuh, jadi tak bisa menampung satu mayat lagi," ucap Dokter tenang, membuat mereka tercengang. Setelahnya Dokter muda itu berlalu pergi, menghiraukan tatapan kesal mereka.
"Dokter gila!" umpat Ardian.
"Kau lebih gila," timpal Ali.
"Lebih baik kau pergi saja dari sini!" usir Ardian geram.
Baru saja Ali ingin menjawab, perkataanya telanjur dipotong Tasya. "Sudahlah Ali, kita pergi saja. Nanti kita datang lagi setelah Ghumaisha sadar, biarkan dia istirahat dulu."
"Baiklah," untuk kali ini Ali setuju. Apalagi kehadirannya pasti akan membuat keributan, daripada salah satu dari mereka jadi mayat, lebih baik menghindar. "Ardian, aku masih membutuhkan penjelasanmu. Akan kutanya setelah Ghumaisha sadar," imbuhnya dibalas senyuman kecut Ardian.
__ADS_1
***
Perlahan mata Ghumaisha terbuka, langit-langit putih menjadi perhatiannya. Kemudian mengangkat tangan, jarum infus sudah menancap di sana. Jelas, dia ada di rumah sakit.
Wajah Tasya melintas di pikirannya, air-matanya langsung menetes di ujung mata. Terpukul. Menangis dalam hati. Menjerit kesakitan. Ghumaisha merasa tenggelam dan terkurung di ruangan gelap, duduk sendirian. Semua orang membiarkannya. Setiap kenangan-kenangan buruk yang dialaminya berputar-putar di benak kepalanya: Ejekkan, hinaan, cacian, tawa puas mereka, senyuman sinis.
Ghumaisha memegang kepala, mencoba menyingkirkan semuanya.
"ARRRRRRGGHHHH!"
"Kau tahu Ghumaisha? Kau adalah wanita terbodoh di dunia."
"ARRRRRRGGHHHH!"
"Dengar Adik, sebagai seorang Kakak aku memberi nasihat padamu. Sebelum semuanya terlambat dan cintamu kepada Ardian semakin dalam. Lebih baik kamu tinggalkan dia, kau tak akan mampu bertahan sendirian dengan keadaanmu yang serba kekurangan. Kau buka typenya, bahkan aku yakin, bagi Ardian memilikimu hanya seperti musibah.
"ARRRRRRGGHHHH!"
"Dengarkan aku, ini bukan nasihat yang menyesatkan. Keputusan ada di tanganmu. Karena bunga mawar berduri lebih disukai dibandingkan bunga melati. Kau paham maksudku, kan?
"ARRRRRRGGHHHH!"
(Aku menyerah,
Tak ada yang bisa kupertahankan,
Tak ada yang bisa kuperjuangkan,
Cinta itu sudah musnah, tergantikan benci yang mendalam.
Senyuman itu telah memudar, tergatikan duka yang terpendam.
Aku kalah .... "
Aku ingin pergi, berlari, menjauh dari mereka yang meremehkan diriku)
"Ghumaisha! kau baik-baik saja?" Ardian membuka pintu ruang rawat inap, saat mendengar teriakan Ghumaisha.
Ghumaisha tak lagi berteriak, suara Ardian bagaikan pecut untuk dirinya. Menyakitkan.
"Pergi dari kamarku, kumohon ... kalian menyakitiku terlalu lama. Biarkan aku sendiri," Ghumaisha membalikkan badan, membelakangi Ardian.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ardian cemas, mendekati ranjang Ghumaisha.
"PERGI KUBILANG! PERGI! JANGAN DEKATI AKU!" teriak Ghumaisha, menutup telinga, suara-suara Tasya terus mengganggu gendang telinga.
Ardian terkejut. "ADA APA DENGANMU?!"
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komentarnya kawan 😁
__ADS_1
Saran dan kritik ditunggu 😉