ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

***


Satu tahun telah berlalu, banyak perubahan yang terjadi pada keluarga kecil mereka, terutama dalam sikap Ardian. Dia lebih mencoba memahami dan mengerti, meskipun cuman sesekali. Setelahnya mereka akan kembali bertengkar karena hal sepele. Apalagi ia baru tahu, Ghumaisha sangat cerewet kalau urusan kebersihan rumah.


Walaupun begitu, inilah penikahan dan mereka menikmati itu semua.


Seperti sekarang, pernikahan Ali yang di tunggu-tunggu oleh mereka akhirnya tiba, tentu ini kebahagiaan luar biasa terutama bagi Ardian. Dengan begitu, ia tak perlu merasa khawatir lagi jika istrinya akan kabur bersama pria itu karena dia sudah memiliki istri.


"Yang! Udah siap belum?" teriak Ardian dari lantai bawah, menunggu istrinya selesai dandan, walaupun pada akhirnya dia pakai cadar juga. Aneh.


Sedangkan Jalal tanpak terkantuk-kantuk, dibangunkan pukul empat subuh oleh Ghumaisha membuat anak kecil itu seperti kucing yang dilempar ke kamar mandi lalu diguyur air dingin. Terkadang Bundanya memang agak gila dalam masalah waktu, padahal berangkat ke kondangan masih lama.


"Ayah ... Jalal ngantuk." Anak itu mengeluh, memeluk kaki Ardian dan menempelkan kepalanya di sana. Matanya sudah terpejam, membuat Ardian merasa iba.


"Yasudah, kamu tidur di kursi dulu! Nanti, Ayah bangunin kalau Bundamu sudah turun."


Kepalanya mengangguk. Dengan langkah gontai ia mendekati kursi lalu membaringkan tubuhnya di sana, tak peduli meskipun bajunya jadi kusut. Rasa kantuknya tak bisa ditahan.


Tak berselang lama, Ghumaisha turun dengan langkah tergesa-gesa. Semenjak tadi ia sibuk mencari handphone yang hilang entah kemana. Sampai ia menemukannya di kolong ranjang.


Tentu itu membuat dirinya naik pitam, menggertutu tak jelas. Ingat semalam suaminya meminjam handphone miliknya, dan parah-nya lagi dia tak bertanggung jawab malah menyimpannya dimana saja.


"Lama bener. Ngapain aja, sih?" tanya Ardian.


"Aku nyariin ponsel, ketemu-ketemu pas di kolong ranjang. Semalam kamu ketiduran, yah! Kok handphone aku bisa ada di sana? Dari subuh aku nyariin tahu. Mau nelepon Dokter Coco membahas soal pernikahan mereka," cerocos Ghumaisa kesal. "Lain kali! Kalau udah pinjem ponselku, kamu simpen di atas nakas! Awas saja kalau ...,"


Ardian langsung membekap mulut istrinya dengan tangan, sontak membuat Ghumaisha berontak.


"Udah Yang! Cukup. Jangan bicara lagi, kupingku jadi panas!" titah Ardian mendapat delikan tajam darinya. "Lagian aku nanya dikit, kamu menjelaskannya panjang lebar kayak kereta. Semalam itu tiba-tiba ada singa betina nyerang, gimana aku bisa nolak coba? Akhirnya ya gitu ...,"


"Aw!" Ardian meringis karena telapak tangannya di gigit Ghumaisha. "Kejam dih! Gimana kalau nanti rabies!"


Dengan kesal Ghumaisha memukul tubuh suaminya pakai Tas. Bug! "Kamu jadi suami nggak ada sopan-sopanya sama istri! Masalah pribadi nggak usah dibawa-bawa. Gimana kalau ada orang yang denger!"


"Paling Jalal. Romantis-romantisan dalam hubungan suami istri itu baik, Yang. Lagian aku cuman jawab pertanyaan kamu tadi aja. Trus salahnya dimana?" bela Ardian tak mau disalahkan.


"Terserah kamu! Aku capek kalau terus debat!" timpal Ghumaisha angkat tangan. Menyerah.


"Pundungan!" ejek Ardian dibalas dengusan sebal Ghumaisha.


"Jalal mana?" tanyanya kemudian, tak menemukan sang putra hingga tatapannya tertuju ke arah kursi.


Matanya membulat sempurna, ketika melihat baju yang semalaman dia setrika bersusah payah, rela begadangan. Harus lecek, dalam hitungan beberapa detik hanya gara-gara dipakai tidur. Sedangkan Ardian menutup telinga dengan telunjuk jarinya, tahu, apa yang akan dilakukan istrinya setelah ini.


"Astagfirullah, Nak! Itu baju semalaman Bunda setrika, kenapa dipakai tidur?" teriak Ghumaisha Frustrasi. Suaranya menggema di ruangan tamu, dan Jalal masih terbuai alam mimpi.


Pada akhirnya, Ardian dan Jalal setia menunggu sambil menopang dagu di kursi. Melihat Ghumaisha sibuk menyetrika.


Mereka sesekali berbincang-bincang, mengejek sikap Ghumaisha yang selalu berlebihan dalam sesuatu, meski dalam hati ia selalu mengucapkan syukur memiliki istri yang sudah cukup sempurna bagi ia dan Jalal.


"Bundamu memang terkadang aneh!" ledek Ardian mecibikkan bibir.


"Ayah lebih aneh," jawab Jalal polos.


Mata Ardian memicing, "Apa katamu tadi?" sudah bersiap-siap ingin mengkelitiki pinggang putranya.

__ADS_1


"Bunda lebih aneh lagi!" imbuh Jalal mantap.


"Pandai sekali kau mengelak." Ardian mengacak-acak rambut putranya gemas, Ghumaisha yang melihatnya melayangkan tatapan membunuh. "Akan aku rapihkan, Yang ...," ucapnya kembali membenarkan rambut Jalal sambil terkekeh. Merasa lucu sendiri. Sejak kapan ia menjadi susis?


***


Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di gedung yang dimaksud. Pernikahan Coco dilangsungkan meriah, ruangan putih dengan kombinasi dinding daun dan karpet rose petal, serta warna bunga putih-hijau menjadikan suasana pelaminan sejuk dan elegan.


"Yang? kamu mau represi pernikahan lagi nggak?" bisik Ardian, melingkarkan tangannya di pinggang Ghumaisa. Langsung saja dia tepis, merasa tak nyaman dengan banyaknya orang.


"Jangan mulai!" sahutnya menatap Ardian tajam.


Ardian berdecak kesal. "Kau memang sulit di ajak romantis. Lihat tuh? Banyak yang lebih dari kita. Kalau kita enak sudah halal, mereka belum jelas, iya'kan?"


Ardian menggerak-gerak'kan dagunya, menunjuk pasangan kekasih di hadapan mereka sedang berpegangan tangan berjalan memasuki gedung. Ada juga saling merangkul tanpa malu. Sedangkan pasangan suami istri, lebih memilih menggandeng tangan anak mereka daripada pasangannya sendiri. Sungguh aneh.


"Romantis itu tak perlu di tunjukan di hadapan umum, di rumah saja sudah cukup! Paham." Ghumaisha berucap penuh penekanan hanya dibalas helaan napas panjang Ardian.


"Iya terserah katamu, Yang. Suami nurut kata istri aja. Jalal? kita tinggalin Bunda sendirian, yu. Mendingan kita cari makanan di dalam," ajak Ardian menggandeng tangan sang putra membawanya ke dalam. Dia benar-benar meninggalkannya sendirian.


"Ayah dan anak sama aja!" gerutu Ghumaisha, mengekori mereka dari belakang.


***


Akad nikah sudah terlaksana dengan lancar, di akhiri foto buku nikah kedua mempelai. Coco tampak cantik dengan balutan pengantin syar'i. Wajah masih ada titisan dari cina berpadu dari indonesia membuatnya tampak sangat menawan, sangat mengherankan kalau dulu dia pernah ditinggalkan calon suami.


"Sekarang cium kening istrimu!" suruh penghulu sambil mesem-mesem.


Coco kelabakan, pipinya langsung terasa panas. Bukannya mencium kening istri, Ali malah menyodorkan tangan, tersenyum menatap wajah sang istri yang sudah seperti kepiting rebus.


"Sama-sama mencium."


Semua orang tertawa melihat tingkah keduanya, bertepuk tangan meriah sampai Ghumaisha pun dibuatnya baper. Mengeluh, kalau suaminya tak akan bisa seperti itu. Tentu Ardian protes, bahkan memangku istrinya saja dia berani.


Seperti biasa Ghumaisha akan menjawab, terserah.


Diantara tepukan tangan yang menyambut status baru kedua pasangan yang sudah berjalan menuju kursi pelaminan. Dari arah lain, seorang wanita hanya bisa tersenyum simpul. Menekan rasa sakit dalam dada ketika melihat kenyataanya kalu pria yang telah dia perjuangkan mati-matian sudah bersanding dengan orang lain.


Ia memberanikan diri melangkah mendekati kedua pasangan bahagia itu di sana, sebagian orang menjadikan dirinya pusat perhatian. Baju rumah sakit lusuh, keruduk kusut, mata yang sembab sudah menjelaskan betapa ia menderita di tinggalkan Ali. Berapa kalipun dia mencoba ikhlas namun itu sulit.


Kedatangan Tasya tak lepas dari perhatian Ghumaisa, ia tak kalah terkejutnya dari kedua mempelai. Khawatir istrinya akan seperti dulu, Ardian menggenggam tangan sang istri. Tak membiarkanya mengingat masa lalu.


"Kau baik-baik saja?" Ardian menatap Ghumaisha cemas. "Kita bisa pulang kalau kau mau?"


"Aku baik-baik saja, Ardian. Aku hanya mengkhawatirkan Kak Tasya, dia pasti sangat kecewa." Ghumaisha menatap iba Tasya, dia terlihat sangat hancur sekarang.


"Semua ada akibatnya, Yang," jawab Ardian. "Kau tak perlu memikirkannya, dia sudah hampir membuat keluarga kita ruksak."


"Dia sahabatmu! Kau jangan berkata seperti itu!" tegur Ghumaisha. Dirinya sudah benar-benar memaafkan kesalahan Tasya dulu. Berbeda dengan Ardian, dia cuman menganggukkan kepala setelahnya diam tak bicara.


"Tasya ...," napas Ali terasa tercekat. "Bagaimana kau bisa di si-ni?"


"Kau bahagia?" Tasya memaksakan senyum, lalu beralih melihat Coco. Dia tak kalah melihatnya prihatin. Ya, memang seharusnya begitu. "Aku tanya, apa kau bahagia?" tanyanya kembali menatap Ali.


"Ya," jawab Ali lirih.

__ADS_1


Perlahan ujung bibir Tasya terangkat. "Aku kabur dari rumah sakit sekadar untuk melihatmu menikah dengan dia. Membuktikan, aku tak main-main dengan perasaanku meski sekarang aku akan menjadi gunjingan beberapa orang. Sebagian mungkin sudah mengangkat handpond untuk mengambil gambar dan vidio. Dalam hitungan beberapa detik vidioku akan menjadi viral. Apa wajahku nanti akan terlihat menyedihkan?"


Ghumaisha yang tersadar, segera memberi peringatan kepada semua orang agar tak ada yang mengambil video atau foto. Ardian masih diam, tak mempedulikan tingkah istrinya, rasa dongkolnya masih terasa dalam hati.


Coco mendekati Tasya, memegang pundaknya mencoba menabahkan. Pernah ada di posisi-nya membuat ia mengerti bagaimana rasanya di tinggalkan orang yang dicintai. "Tasya, aku akan memberikan Ali padamu asal kau jangan seperti ini!"


Ali terperangah, tak percaya ucapan istrinya tadi.


"Ali tak mencintaiku, bagaimana kau bisa memberikannya padaku?"


"Tidak! Ali mencintaimu!" Coco berucap pasti.


Tasya menggeleng pelan. Tersenyum tulus untuk pertama kali, "Aku hanya ingin melihat pernikahan kalian bukan ingin merebut Ali darimu. Pantangan untukku, mengganggu lelaki yang sudah menikah dan itu prinsipku dari dulu, meski aku mencintainya setengah mati. Setidaknya aku pernah berjuang untuknya, memperlihatkan sebesar apa cintaku padanya. Tetapi dia lebih memilihmu, mungkin kau memang yang terbaik."


"Tasya, maafkan aku ...," Coco semakin merasa bersalah.


"Kau tak perlu meminta maaf! Aku bisa menjalani semuanya. Ali dan Ardian adalah sahabatku dari kecil. Karena kata 'cinta' persahabatan kami hancur. Itu semua dimulai karena diriku. Aku tak ingin mengatakan semua dosaku padamu, biar Allah yang mengetahui semuanya. Namun kau harus tahu? Diantara Ardian dan Ali hanya pria disebelahmu yang paling waras." Tasya terkekeh, ini curhatan seorang sahabat bukanlah wanita tengah pecemburu.


"Aku tak seburuk itu, Tasya!" sela Ardian bersedekap, memicingkan mata ke arah sahabatnya. "Setidaknya setengah perkataanmu itu tak benar, selebihnya aku setuju." Lanjutnya tersenyum.


"Aku sudah mengatakannya tadi, dia paling gila diantara kami!" ujar Tasya menunjuk Ardian, namun air matanya tak mampu dibendung lagi.


"Sebenarnya Tasya paling cengeng, kau perlu tahu itu? Dia pura-pura tegar saja!" timpal Ali melirik Tasya. Mencoba membuka kembali lembaran baru, menerima Tasya sebagai sahabatnya seperti dahulu. Karena persahabatan hanya korban dari cinta.


Hati Tasya semakin terenyuh, tak percaya Ali juga masih mau menerima dirinya yang sudah dilumuri dosa. Sedangkan Ghumaisa dan Coco tak bisa berkata apa-apa selain melemparkan senyuman. Menitikkan air mata, menyadari masih ada persahabatan walaupun badai telah menerjang mereka berkali-kali.


"Maafkan aku!" Mereka bertiga berucap bersamaan.


Ketiganya terdiam kemudian tertawa.


Tawa Tasya terhenti kemudian melihat Ghumaisha di sebelah Ardian. Merasa bersalah, "Tolong maafkan aku, Ghumaisha ... kau banyak menderita karena diriku, hingga badanmu bisa kurus begitu."


"Tak papa, Kak Tasya. Gendut atau kurus dia masih menyebutku Gajah Eropa," cibirnya ke arah Ardian.


"My Big Wife 100 Kg," ucap Ardian disambut tawa semua orang.


Kesal, Ghumaisha mencubit pinggang sang suami.


"Kau harus banyak bercerita padaku, Yang! Bagaimana bisa jadi kurus seperti ini?" kata Ardian, karena dia pun belum mendapatkan jawaban.


"Hanya Dokter Coco yang tahu, pastinya bukan sedot lemak atau oprasi. Benar Dok?"


"Tentu saja. Kucinya hanya sabar dan berusaha." Coco menaik turunkan alis, membuat Ali gemas untuk mencubit pipi sang istri.


***


(Hidup itu tak selamanya bahagia, juga tak selamanya menderita.


Selama kita bersyukur dengan nikmat yang maha kuasa, maka kita tak akan merasakan kekurangan.


Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan, namun sebagian manusia lebih banyak memungkiri,


Maka bersyukurlah!


Jika belum puas, maka memintalah kepada-Nya agar semua keinginan baik bisa terpenuhi. Aamiin.)

__ADS_1


Dari: Gumaisha dan Ardian


__ADS_2