
"Bukannya aku tak percaya kepada diri sendiri, hanya saja aku merasa orang lain lebih baik daripada diriku. Walau ku tahu, bersyukur dengan diri sendiri itu penting. Tetapi mengharapkan lebih baik lagi, bolehkah?" (Ghumaisha)
***
"Jadi, kau ingin menjadi istri yang sesungguhnya?" tanya Ardian tersenyum penuh arti. Ghu tersentak, bagaimana bisa dia bangun?
Ghumaisha gelagapan, bingung harus menjawab apa. Didalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, harusnya tadi memastikan dulu Ardian pingsan atau tidak. Argh ... ceroboh!
"Kenapa diam?" mata Ardian menyipit, menatap Ghumaisha sibuk dengan pemikirannya sendiri. "HEI! Telingamu tuli, yah?!" teriak Ardian.
Ghu terhenyak, "T-tentu saja tidak!" jawabnya gugup.
Dengan sedikit lemas Ardian membenarkan posisinya menjadi duduk, punggung ia sandarkan di kepala ranjang. Lalu kembali menoleh kearah Ghumaisha, kini wajahnya tak semenyebalkan tadi malah lebih serius membuat Ghu merasa tak nyaman.
"Aku senang mendengar ucapanmu tadi ..." jujur Ardian. Tolong katakan ia sedang tak salah dengar, Ardian merasa senang? Ya Allah, hati Ghu berdebar-debar tak karuan.
"M-maksudmu?" tanya Ghu ingin mendengar lebih jelas lagi. Menunggu jawaban menyenangkan hati dari Ardian.
"Aku senang kau jatuh hati padaku. Itu artinya, aku memang benar-benar luar biasa, hingga membuat seorang Gajah Eropa pun jatuh hati. Ah, sepertinya aku ini terlalu tampan." Ardian menepuk dahi, seperti Frustasi.
Mata Ghumaisha mengerjap-ngerjap, mulutnya terbuka dengan lebarnya. " A-apa?" pekiknya antara kesal dan jengkel. Bercampur aduk menjadi adonan yang tak mengenakkan.
"Ya ... aku ini terlalu tampan Gajah Eropa. Kau bayangkan bila harus menjadi aku, dikagumi gadis-gadis sungguh membuatku kewalahan. Namun sayangnya, aku tak bisa membalas cinta mereka satu-persatu. Itu membuatku merasa bersalah ..." wajahnya dibuat merasa bersalah mungkin. Dan dimata Ghumaisha terlihat menyebalkan.
"Kau ini kepedean atau memang tak punya rasa kekurangan?" kata Ghu kesal. Sedang pusing saja rasa percaya dirinya masih tingkat tinggi.
Ardian menunjuk dirinya sendiri, "Maksudmu diriku?" kemudian tersenyum angkuh. "Tentu saja aku diberikan kelebihan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sudah tampan, kaya, pintar, Sholeh, apalagi yang kurang Gajah Eropa?"
Bibir Ghu berkedut, seumur hidup ia belum menemukan pria dengan tingkat percaya diri lebih parah melebihi suaminya, Ardian. Bolehkan ia berucap, ingin hati ia mengambil kaca dan memperlihatkan kalau dia belum apa-apa dibandingkan Hakim yang mengorbankan apapun demi orang lain.
"Kau tahu cerita Jembatan Takdir?" ucap Ghumaisha bersedekap, mencoba menyadarkan Ardian sedikit.
Kepalanya mengangguk mantap. "Tahu, yang hakim-hakim itu kan?" jawabnya tenang.
"Kau dan Hakim itu diibaratkan langit dan bumi. Hakim itu sudah tampan, kaya, Sholeh, SETIA, menghargai istri. Pokoknya paket komplit, berbeda denganmu," tukas Ghumaisha menekankan kata-kata terakhir.
Ardian tertawa. Kemudian berucap, "Dengar yah, Gajah Eropa? Aku setuju dia itu paket komplit. Tetapi sekali lagi, aku lebih unggul daripada dirinya. Istriku satu, sedangkan dia sudah punya istri dua."
__ADS_1
"Tetapi istri pertamanya sudah meninggal dan dari semenjak dulu Hakim mencintai istrinya yang sekarang." Bela Ghumaisha tak ingin idolanya Pak Hakim di injak-injak.
"Dia mencintai istrinya karena wajahnya cantik, jadi tak bisa berpaling kepada wanita lain," ejek Adrian, kesal karena Ghu terus membela Hakim yang sering muncul di TV-TV itu.
"Pokoknya dia itu tipikal pria setia, tidak seperti dirimu!" tunjuk Ghumaisha bersungut-sungut.
"Aku juga setia! Bahkan sampai sekarang aku masih mencintai Tasya!"
Mata Ghumaisha melebar, mendengar perkataan Ardian tadi.
"Tasya!" ucap Ghu ulang. Ardian menghela napas, memalingkan wajah kearah lain. "Apa maksudmu, Kak Tasya?"
"Tasya mana?" balik tanya Ardian pura-pura lupa.
"Kau tadi mengatakan mencintai Tasya. Maksudmu Kak Tasya, kah?" selidik Ghumaisha menuntut jawaban.
Ardian memegang kepalanya. "Pergilah! Kepalaku pusing. Ingin istirahat." Usirnya kembali membaringkan badan di ranjang. Selimut ia tarik menutupi seluruh tubuh.
Tidak mau bertanya lebih lanjut, Ghumaisha memilih keluar kamar dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benak kepalanya. Tasya? Apa maksud Ardian tadi. Mungkinkah Ardian mencintai Tasya? Terus bagaimana dengan Ali. Entah kenapa, Ghumaisha merasakan hatinya menjadi perih. Mengakui kalau ia belum apa-apa dibandingkan Tasya.
"Ardian, Ali dan Tasya memang sempurna. Mungkinkah aku bisa menjadi Tasya wanita cantik bertubuh langsing?" Gumam Ghu menitikkan air mata. Mengingat dietnya selalu saja gagal.
***
Cekrek
Cekrek
Senyuman tipis tercetak saat ia berhasil mengambil momen-momen indah tersebut. Kemudian melihat layar kamera, menampilkan gambar hasil jepretannya tadi. Masya Allah, sungguh indah ciptaan Allah. Hal kecil pun terasa menakjubkan, bila kita bisa membuka mata dan menyadarinya.
"Disini kau rupanya," kata seorang wanita berhijab syar'i abu, ada topi bulat di atas kepalanya membuat wajah cantiknya jadi bertambah manis.
"Kenapa kesini?" tanya Ali kembali mengarahkan kamera ke pantai.
Tasya tersenyum kecut, lagi-lagi mendapatkan jawaban tak menyenangkan.
"Kau tak senang aku di sini?"
__ADS_1
"Aku lebih senang kau dirumah dan tidak banyak keluyuran." Kata Ali menohok relung hati Tasya.
"Tidakkah kau sadar terlalu cuek kepada calon istrimu sendiri?" sindir Tasya, kesal terus diperlakukan dingin oleh Ali.
"Memang bagusnya begitu, kita belum resmi menikah. Sebelum ada kata SAH alangkah lebih baik kita menjaga jarak," nasihat Ali.
Tasya tersenyum getir, "Kalau memang begitu. Kapan kata SAH itu akan terucap, bila kau saja belum memutuskan kapan kita akan menikah. Aku lelah seperti ini terus Ali, aku butuh kepastian, bukan penungguan bertahun-tahun hanya agar bisa bersama." Katanya. Air mata sudah jatuh mengalir membasahi pipi. Penantian seperti apa lagi yang diharapkan Ali? Bukankah, ini sudah cukup.
Ali menghembuskan napas berat, berhenti memotret. "Pergilah ... bila sudah waktunya kita akan menikah. Lagian ini keinginanmu bukan aku, kau tahu sendiri untuk siapa hatiku ini Tasya," ucapnya pelan.
Merasa percuma menangis, Tasya mengusapnya dengan kasar. Menatap punggung Ali marah, "Aku tak peduli kau mencintai siapa, Ali. Hanya satu yang kutahu, jatuh cinta hanya satu obatnya dan itu MENIKAH!"
"Menikah bukan perkara gampang, Tasya. Dimana setelah menikah kita bisa langsung bahagia. Tidak seperti itu ... semua harus dipikirkan matang-matang saat kita sudah berjalan di jenjang serius. Mau tak mau kita harus menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, melupakan masa lalu dan menempuh jalan baru dan aku tak bisa ..." suara Ali memelan, merasa berat untuk melanjutkan.
"Dia hanya wanita gendut, jelek dan tak menarik. Apa bagusnya Ghumaisha? Aku lebih unggul dari pada dirinya. Aku menjaganya karena tak ingin kau dekat-dekat dengannya dan terus memperhatikannya tiap waktu. Kau pikir itu mudah!"
Ali menggeram, membalikkan badan dan melayangkan tatapan tajam." Kau wanita dan bisa-bisanya menghina saudarimu sendiri. Dia memang kurang dalam fisik, tapi tidak dengan hatinya, Tasya. Ini sebabnya aku lebih menyukai dirinya, dia tak pernah merasa dirinya unggul dimata orang-orang. Kesederhanaan dirinyalah membuatku jatuh cinta dan kau tak bisa melakukan itu. Hanya make-up dan baju yang kau pikirkan, seharusnya kau pun tahu hukum-hukum itu semua. Tidak ... kau tahu, tapi tak pernah mengamalkan untuk dirimu sendiri." Jelasnya meluapkan semua emosi yang ditahan Ali dari tadi.
Tasya menangis, rasanya hatinya bagai ditusuk pisau berkali-kali saat mendengar penjelasan Ali tadi. "Aku melakukannya untukmu Ali ... agar kamu senang melihatku dan merasa beruntung memiliki istri cantik. Bukan untuk orang lain, hanya untukmu ..."
"Tapi bukan ini yang ku mau, Tasya. Kau ingin tahu bagaimana caranya agar diriku menyukaimu, belajarlah dari Ghumaisha. Kau akan mendapatkan semuanya dari wanita itu," saran Ali lalu beranjak pergi meninggalkan Tasya yang mematung sendirian ditepi pantai.
"AKU LEBIH BAIK DARINYA ALI. AKU CANTIK! SAMPAI ARDIAN PUN RELA MATI DEMI DIRIKU. KAU AKAN MENYESAL, SETELAH SADAR AKAN HAL ITU! DENGAR ITU!" teriaknya keras, bersamaan dengan suara ombak yang menubruk batu karang. Cantik, itu dirinya dan semua orang menyukainya. Lalu kenapa Ali berbeda? Kenapa Ghumaisha bisa membuat seorang Ali tergila-gila?
***
Ghumaisha memandang jalanan dari atas balkon dengan nanar. Punggungnya disandarkan Kedinding, matanya fokus menatap jalanan sepi yang biasanya ramai digunakan pejalan kaki. Taman hotel bisa terlihat dari balkon, ingin hati ia kesana cuman merasa malu dengan tatapan orang-orang. Seakan-akan memandangnya aneh dan ia tak suka tatapan itu.
"Mereka selalu menyarankan ini dan itu agar aku bisa diet. Namun sarannya hanya sekedar ucapan saja, kenyatannya aku tak bisa kurus-kurus. Terkadang aku dijadikan bahan lelucon. Bagi mereka lucu, namun untukku terasa menyakitkan. Tidakkah mereka sadar? Aku masih mempunya hati. Mengejek-ngejek fisik seseorang bukankah tidak diperbolehkan dalam agama, terus kenapa dilakukan?" gumam Ghu.
Dia bukan wanita sempurna yang diceritakan di novel-novel. Badan langsing dan membuat semua lelaki terpesona. Ia hanya wanita sederhana dengan segala kekurangan. Bisakah orang-orang menerima dan tidak memandangnya berbeda. Sekali lagi itu menyakiti hatinya.
"Kau terus mengeluhkan badanmu yang gemuk. Itu sebabnya semua meledekmu karena kau tak punya rasa percaya diri!" kata seorang pria, memasukan tangannya ke saku celana. Senyumnya terukir tipis. Bolehkah Ghu jujur, dia terlihat tampan di bawah sinar lampu yang temaram.
Bersambung ...
Akhirnya bisa di post juga, sinyalnya susah jadi lama 😅
__ADS_1
Jangan lupa komentar dan sarannya kawan 😁
Like nya apalagi okeh 😉