ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Lima


__ADS_3

Seorang wanita berkerudung pasmina abu sedang berjalan di belakang kampus. Mencari tempat tenang untuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur'an, di kelas tak bisa fokus berisik oleh banyaknya mahluk yang bicara kesana-kemari hingga mengganggu hafalan. Membicarakan wanita bertumbuh gempal yang sering menjadi bahan bullyan, satu ucapan untuk mereka, tak ada kerjaan!


"Tolong! Apa ada orang di sana?!"


Langkahnya terhenti, samar-samar ia mendengar suara yang meminta tolong. Salah dengar, kah? Atau ada yang benar-benar minta pertolongan. Bulu kuduknya langsung berdiri. Ia memegang leher belakang. Harusnya tak boleh takut, tetap saja kalau mendengar suara tanpa wujud membuatnya begidik ngeri.


"Tolong! Aku yakin di sana ada orang. Bantu aku!" suaranya kembali terdengar, serak seperti habis menangis.


"Ya Allah!"


Rahma terlonjak, mendekap Al-Qur'an semakin erat. Pandangannya mengedar, menatap was-was sekelilingnya yang sepi. "Woy! Suara siapa itu? Manusia apa syaitan. Kalau syaitan jangan ganggu, gua gak pernah ganggu syaitan sebelumnya. Kalau kepanasan bilang aja? Nanti gua pindah dari sini," teriaknya kalang kabut, takut setengah mati.


"Tolong! Aku di kolam."


Rahma mengeryit. "Ngapain di kolam?"


"Jatuh.”


Apa sebelum meninggal dia bunuh diri dulu di kolam? Pikiran aneh-aneh mulai berkeliaran di kepala. Segala rentetan kejadian sampai membuatnya merenggang nyawa. Daripada mati penasaran, akhirnya Rahma memutuskan untuk mendekat.


Memang dia pernah mendengar kabar burung tentang angkernya kolam keramat kampus dari para mahasiswa-mahasiswi disini. Kurang jelas juga apa ceritanya, karena belum ada bukti nyata kalau itu benar-benar terjadi.


"Tolong aku ...."


Suaranya semakin melemah, bersamaan Rahma yang mengintip ke bawah kolam. Matanya membulat sempurna, ketika melihat seorang wanita yang ia kenal sebagai Ghumaisha sedang mengulurkan telapak tangan ke atas. Meminta bantuan. "Bantu aku," pintanya memelas.


Rahma menegak ludah, buru-buru menyimpan kitab suci Al-Qur'an di atas kursi yang terbuat dari besi. Tangannya terulur ke bawah mencoba menarik beban berat Ghu ke permukaan. Bismillah! Susah payah ia mengumpulkan tenaga, napasnya sampai tersengal-segal. Hingga, perlahan-lahan tubuh Ghumaisha tertarik.


"Alhamdulillah!"


Rahma ambruk ke tanah, membaringkan badan di sana. Lelah, benar-benar capek menarik tubuh Ghumaisha sampai ke atas.


Sedangkan Ghumaisha bernapas lega. “Terimakasih!" suaranya parau, air mata lagi-lagi menitik. Harapannya sempat sirna, saat tak ada yang menolong.


“Oke, tak masalah. Lu di sana pasti di kerjain Adonia, kan?" tebaknya.


"Ya,”


"Lu harus bisa melawan, jangan diem aja, takutnya mereka malah semakin melunjak. Ini Negara hukum, kalau mereka macam-macam lu bisa lapor polisi. Setiap perbuatan mereka itu termasuk tindakan pembullyan. Sangat pantas untuk mendapatkan hukuman setimpal.”


Ghu mengangguk kecil, meskipun tak yakin bisa melawan mereka. Terakhir berontak, malah berakhiran di toilet dengan mengenaskan.


Kejadian itu benar-benar tak akan pernah di lupakan Ghu seumur hidup. Bajunya, kerudung, rok, mereka gunting di sana-sini membuatnya seperti gembel. Untungnya Kamelia membantu dan dengan senang hati mau membawa bajunya di rumah. Hah, entahlah, kalau tak ada dia mungkin ia menjadi bahan gunjingan semua orang.

__ADS_1


***


"Tiap hari lu bawa baju cadangan?" tanya Rahma tak percaya.


Ghumaisha mengangguk, membenarkannya. “Yah ... setiap hari. Kejadian ini sudah biasa bagiku, jadi aku jaga-jaga saja bila mereka melakukan sesuatu."


Ia memasukan baju basah ke dalam kantung keresek kemudian di masukannya ke dalam tas. Sejujurnya ia sudah lelah dengan ini semua, ingin mengatakan kepada sang Ayah akan kondisi yang menimpanya selama ini. Namun bila di pikirkan dua kali, Ghumaisha tak ingin orang tuanya khawatir. Sudahlah, ia jalani ini semua dengan sabar. Allah pasti akan menunjukan jalan.


"Ini termasuk tindakan kekerasan, lu harus laporkan mereka ke polisi!" mendengar jawaban Ghu, membuat Rahma tersulut emosi.


"Sudahlah, Rahma. Tidak pa-pa, aku tak ingin mempersulit semuanya." Ghumaisha tersenyum tipis, memastikan kalau ia baik-baik saja.


"Tidak papa? Lu hampir mati kedinginan di kolam tadi! Bila ini terus berlanjut, gua nggak yakin apa yang akan terjadi pada lu nanti.”


"Aku bisa mengatasi semuanya, In sya Allah." Yakin Ghu menggepalkan tangan semangat di depan wajah. Rahma mengembuskan napas gusar tak tahu harus bicara apa lagi.


"Dia ini kelewat baik atau bodoh," batin Rahma, kesal dengan jalan pemikiran Ghumaisha yang pasrah saja.


***


Mereka keluar toilet, tak di sangka di sana sudah ada Adonia. Dia sendiri tak membawa entek-enteknya, cukup aneh tak seperti biasa. Mungkin ingin masuk ke toilet. Ia menatap Rahma, memberikan kode lewat mata agar segera pergi. Bukanya pergi wanita itu malah tersenyum sinis, menatapnya remeh.


"Ouh, ini dia wanita populer kampus. Ternyata lu nggak secantik yang gua dengar," tanpa dosa Rahma menelisik penampilan Adonia dari kepala sampai ujung kaki. Penilainya hanya sampai 20, dikurang 10 karena sikapnya yang menjijikan.


"Ckk, berani-beraninya lu menilai penampilan gua? Lu sendiri, udah culun, kacamata bulat, baju kelonggaran, kerudung kelebaran. Lihatnya saja mata gua jadi rusak."


Rahma tergelak. "Berarti mata lu sedikit ada masalah," tunjuknya, tepat di mata Adonia.


Oke, merasa berlebihan, Adonia menepis tangan Rahma dari depan wajahnya. "Berani-beraninya lu menunjuk tepat di depan mata gua! Lu nggak tahu siapa gua di sini, hah," semburnya geram.


"Yang gua tahu, seorang Adonia itu manusia. Kecuali kalau lu punya taring. Kemungkinan keturunan drakula." Ledeknya, membuat napas Ghu seketika tercekat. Keberanian yang barus di acungi dua jempol.


"Lu!" habis kesabaran, Adonia mengangkat tangan. Sebelum ditahan Rahma.


“Jangan sesekali berniat buat nampar gua. Orang tua gua aja nggak pernah berani ngangkat tangan. Jadi, lu nggak berhak buat lakuin itu! Dengar, gua bukan cewek yang bisa diinjak begitu mudah. Seperti yang lainnya. Negara masih berdiri, selama itu hukum masih bisa ditegakkan. Keadilan belum mati, hanya karena orang tua lu dari kalangan ningrat.”


Adonia mendelik, merasa terhina. "Awas lu!" ancamnya, tak dipedulikan Rahma.


Mendapat tontonan gratis, Ardian menyandarkan badan di tembok. Niat ingin menjemput Ghu, malah mendapat kejadian menggelikan. Mungkin merasa jengah, Adonia pergi, Rahma pun ijin pergi pada Ghumaisha karena ada kelas dan kini tinggal dia sendiri. Bersamaan ia keluar dari persembunyian.


"Gajah Eropa, kita pulang sekarang."


Ghumaisha yang tengah melamun tersentak, mendengar suara Ardian yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa yang kau lamunkan dan kenapa tasmu gendut sekali?" tanyanya, seakan-akan tak tahu apa yang sudah terjadi.


Ghu menggeleng. " Tidak papa. Aku bisa pulang sendiri, kau tak perlu mengantarku."


"Baiklah ... katakan pada Oma aku akan pulang terlambat."


"Oma akan marah,"


"Ya sudah, kau ikut saja denganku."


Ghu tampak ragu, bisa saja Ardian mengerjainya lagi.


Kelamaan berpikir Ardian berdecak. “Udahlah, ikut aja!" Ia menarik tangan Ghumaisha, membawanya keluar kampus dan memasukannya ke dalam mobil.


***


Di sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Ardian juga fokus menyetir, hanya sesekali saja dia melirik ponsel. Ini sudah dua jamnya mereka di perjalanan, entah akan kemana Ardian. Di pinggir jalan banyak pedagang ikan. Sudah jelas mereka mendekati lokasi pantai.


"Kenapa kita kesini Ardian?" wajah Ghu berubah cemas, takut Ardian akan melemparnya ke laut. Lalu mengaku-ngaku kalau istrinya mati bunuh diri.


"Kita bulan madu," jawabnya santai.


Ghu melongo. "Apa!" katakan ia tak salah dengar.


"Aku sudah menelepon Oma, kita akan di Pangandaran selama satu minggu. Menghabiskan waktu dengan jalan-jalan."


"Berdua?" tanya Ghu memastikan.


"Tidak, Adonia akan ikut bersama kita. Kau jangan mengaku-ngaku jadi istriku nanti, anggap saja kalau kita tak sengaja bertemu dan berada di hotel yang sama. Oke, Sayang."


Hatinya serasa di tikam belati. Sakit dan perih. Menyesakkan dada membuat napas Ghu rasa-rasanya mau terhenti. Tangannya menggepal, mencengkram roknya kuat-kuat mencoba menahan tangis. Tidak, jangan sakit hati. Ini hal biasa bukan? Kenapa rasanya menyakitkan? Ia merasa kalau perbuatan Adonia berasal dari perintah Ardian.


“Kau tahu? Bila seorang pria yang sudah menikah mengaku masih lajang. Secara tak langsung dia telah menjatuhkan talak 1. Berarti secara tak langsung kau telah menceraikanku, Ardian. Aku tak bisa melakukan itu.”


Ardian bergeming, sampai bisa menyimpulkan sesuatu. "Kalau begitu jangan katakan apapun tentang pernikahan. Aku juga akan melakukan hal sama. Sebisa mungkin tak akan mengelak untuk pernikahan kita.”


“Ya, begitu lebih baik.”


Ghumaisha terseyum getir.



Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2