
***
Meninggalkan Ghumaisha di kamar mandi, Ardian kembali ke ruang tamu. Sejenak dia menghela napas, hingga tangannya menyentuh handle pintu lalu ditariknya ke dalam.
Di depan pintu sudah berdiri Tasya, dia menundukkan kepala tatkala Ardian menatapnya dengan pandangan penuh arti. Ujung bibir Ardian terangkat, melipat tangan dan menyandarkan punggungnya di ambang pintu. Menfokuskan perhatian hanya kepada wanita cantik berhijab syar'i itu.
"Selamat datang, Sayang? Sudah lama kita tidak bertemu. Kuharap keadaanmu baik-baik saja. Dan wajahmu semakin cantik dari terakhir kali kita bertemu," goda Ardian.
Tasya mengangkat kepala, kesal dengan panggilan Ardian tadi. "Berhenti memanggilku seperti itu, Ardian. Aku sudah bertunangan dengan Ali."
"Ouh, benarkah? Aku lupa. Maafkan aku, Sa. Maksudku Tasya. Kebiasaan lama memang sulit dirubah."
"Bisa kita biacara di dalam?" ujar Ali, jengah dengan tingkah laku Ardian kepada Tasya. Ia tak ingin mereka jadi perhatian kamar tetangga.
"Tentu! Silakan masuk ke dalam. Se-pupu." Ardian menekankan kata terakhir sambil membukakan pintu untuk keduanya. Selayaknya seperti menyambut tamu kerajaan. Meski Ali tahu Ardian tengah mengejek dirinya. Tak mau ambil pusing, Ali masuk ke dalam diikuti Tasya.
Namun langkah Tasya terhenti, ketika Ardian mengucapkan sesuatu. "Aku senang kau datang ke sini. Aku rindu."
"Tutup bibirmu, Ardian! Aku tak ingin Ali berpikiran buruk padaku," bentak Tasya pelan. Tak ingin kedengaran Ali yang sudah duduk di ruang tamu.
"Ah, dirimu masih sama Tasya. Serigala berbulu domba. Dan aku masih suka. Meskipun dirimu adalah penyebab utama sampai aku bisa menikah dengan Ghumaisha." Ardian tersenyum manis, kemudian berjalan pergi meninggalkan Tasya yang mematung di tempat.
***
Di dalam kamar, Jalal beringsut turun dari ranjang. Dari tadi anak kecil berusia empat tahun itu pura-pura tertidur. Mendengarkan ucapan Ardian kepada Ghumaisha yang berakhiran dengan bantingan pintu. Meyakini kalau pria yang membawanya ke rumah ini, mengunci tante bertubuh gempal di kamar mandi. Sedangkan dirinya menutup telinga dengan telunjuk jari, tak mau mendengar perkataan Ardian yang mengingatkannya kepada sang Ayah.
Dulu ayahnya juga seperti itu kepada Ibunya, menyiksa lalu mengunci ibunya semalan di kamar mandi. Dan Jalal, akan duduk di depan pintu kamar mandi sambil memeluk lutut. Menemani ibunya berbicara agar tak kesepian. Sepertinya dia pun akan melakukan hal sama lagi, kali ini untuk wanita yang baru ia kenal.
Tok tok tok
Tangan kanannya menggepal sambil mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali. "Tante?" pangil Jalal.
Di dalam kamar mandi, Ghumaisa mencengkram perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, tubuhnya disandarkan di pintu. Suaranya tercekat untuk menjawab panggilan Jalal dari luar.
"Tante baik-baik saja, kan?" tanya Jalal cemas. Menempelkan telinga di daun pintu.
"B-baik. Tante baik-baik saja, sayang." Ghumaisa menjawab lirih dan Jalal tahu keadaan Ghumaisa tak baik-baik saja.
Anak kecil itu panik.
"Tante, Jalal, tak bisa buka pintu!" Jalal menarik-menarik handle pintu, berharap bisa terbuka.
Ghumaisha tersenyum hambar. "Pintunnya dikuci. Kamu harus menemukan kuncinya dulu,"
"Dimana?" tanya Jalal tak sabar.
__ADS_1
Tak kuat menjawab, Ghumaisa menitikkan air-mata. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-menjadi. Menangis pun tak bisa, tak mau membuat Jalal bertambah cemas. "Coba kamu cari di laci," titah Ghumaisha, meski tak yakin ada.
Dengan segera Jalal berlari ke arah laci. Mencari benda yang dimaksud. Benda yang dicari ada, tetapi bersama dengan kunci-kunci cadangan ruangan lain. Bingung bawa yang mana, Jalal mengambil semuanya. Akan ia coba satu-persatu nanti.
***
"Dimana Jalal?"
Ali bersuara, memecah keneningan yang terjadi diantara mereka. Apalagi Ardian tak mau melepaskan tatapannya dari Tasya, membuat tunangannya merasa tak nyaman.
Beberapa kali Tasya berdehem, memberi kode kepada Ardian. Seperti biasa pria itu tak peduli. Dengan senyuman simpul, matanya masih terfokus pada dirinya. Ardian tak suka mencuri-curi pandang, dengan mengagumi wanita yang dipuja-pujanya dalam diam. Tidak. Dari dulu Tasya tahu, sahabat kecilnya yang satu ini selalu jujur dengan dirinya sendiri. Tak peduli, meski orang di sekitarnya tak suka akan sikapnya yang penting dia apa adanya.
"Ardian?!" tegur Ali. Suaranya meninggi karena belum mendapat jawaban.
Dengan malas Ardian menoleh. "Ada di dalam kamar. Sedang tidur. Kenapa?"
"Aku ingin bertemu Jalal. Memastikan selama anak itu bersamamu, kondisinya baik-baik saja."
Bibir Ardian mencibik. Tersingung. "Kau pikir? Aku tak bisa merawatnya dengan baik. Aku lebih baik daripada dirimu Ali!"
"ARDIAN!" kini Tasya yang bersuara.
"Ada apa, Tasya?" tanya Ardian lembut. Membuat Tasya menjadi jengah.
Wanita itu berdiri. "Dimana toilet?"
"Tidak. Aku bisa sendiri," jawab Tasya dingin. Tak mau melanjutkan pembicaraanya lagi, dia segera melengang pergi meninggalkan ruang tamu. Hatinya benar-benar dibuat dongkol oleh sikap Ardian. Menghindarinya adalah solusi terbaik.
"Kau tak perlu memanas-manasiku seperti tadi. Kau masih mencintai Tasya, kan?" tanya Ali mencoba tenang, setelah Tasya pergi.
Ardian menyeringai. "Kau tahu sendiri jawabannya, Ali Rifqi Mumtadz. Mau menyerahkan Tasya untukku?"
"Dia bukan barang."
"Yang kutahu dia wanita yang kucintai. Bukankah dirimu mencintai Ghumaisha? Bagaimana rasanya? Kuharap tidak menyesakkan dada."
Ali terpaku. Tangannya menggepal mencoba menahan emosi. Apalagi saat ingat kalau Ghumaisa merupakan kekasih Ardian. Sampai saat ini ia masih belum percaya, kalau wanita yang ia cintai dan dipuja-pujinya selama ini bisa meninjak status pacaran. Sebelumnya, Ghumaisa sering bilang cinta sesunguhnya hanya ada saat menikah. Sampai ia menunda pernikahan dengan Tasya. Menghiraukan desakan orang tua, dan kembali dari Mesir hanya untuk melamar Ghumaisha.
Tetapi, dia malah memakan perkataanya sendiri. Apa penilainya selama ini salah? Apa keputusannya menikahi Tasya adalah benar? Benarkah perkataan Tasya, kalau dirinya lebih baik daripada Ghumaisa. Entahllah. Ia bingung.
"Orang akan jadi gila, jika mencintai dunia berlebihan," kata Ali. Entah mengungkapkan perasaanya sendiri atau memang sedang menyindir Ardian. "Kau berhak mencintai, Tasya. Karena perasaan memang sulit dicegah. Tetapi jangan berlebihan, apalagi sampai merusak diri sendiri. Allah tak akan menyukainya."
"Simpan nasihat itu untuk dirimu sendiri. Setidaknya aku lebih baik daripada mencintai dalam diam, dan akhirnya tak mendapatkannya juga. Lucu." Ardian tertawa sinis, mengejek pemikiran Ali.
"Dia milik Allah, Ardian. Sebagai hamba, aku hanya memintanya lewat do'a."
__ADS_1
Ardian tergelak, "Do'a tanpa usaha itu percuma Ali."
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Berusaha tanpa berdo'a. Apa kau mendapatkan Tasya?" tandas Ali.
Skak Mat!
Akhirnya Ardian bungkam. Kenyataanya, kedua pria itu tak bisa memiliki yang mereka inginkan. Entah apa alasannya, hanya Allah saja yang tahu.
***
Di tempat lain, dari balik dinding. Ghumaisha mencengkram dadanya yang terasa sakit. Sedangkan tangan kanan menutup mulutnya agar tak bersuara. Mendengarkan pembicaraan mereka, sudah menjelaskan perasaan Ali dan Ardian. Tangisnya pecah, jantungnya seperti ditusuk belati berkali-kali. Semua rahasia yang disimpan Ali, akhirnya terbongkar. Kesakitannya yang ia rasakan sekarang, terasa lengkap sudah.
Selama sekolah, dialah yang selalu melindunginya dari Bullyan Ardian dan Adonia. Membantunya dalam hal apapun, dan selalu ada disituasi apapun. Sampai kabar pertunangan Ali dan Tasya terdengar. Tak lama setelah itu Ali pergi ke kairo mesir melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar University. Padahal pria itu sudah berjanji, akan tetap di indonesia bersama calon istrinya. Ia pikir, dia?
"Kau, tak boleh mencintaiku, Kak Ali. Kau hanya milik Kak Tasya. Hanya miliknya." Tubuh Ghumaisha merosot ke lantai.
Sedangkan Jalal memeluk tubuhnya. Menenangkan Ghumaisa dengan pelukan, meskipun itu tak akan berpengaruh.
"Aku benci situasi ini. Tetapi aku bersyukur kau sadar diri!"
Ghumaisha medongak, Tasya sudah berdiri di depannya. Hatinya tertohok akan perkataannya tadi. Semakin lengkap yang mengatakannya adalah wanita diidolakannya selama ini.
"K-ak Tasya?"
"Ja-di, selama ini dirimu ... " suara Ghumaisha terputus di kerongkongan.
Tasya berjongkok di depan Ghumaisha. "Ya, aku Tasya."
"Mau mendengar sya'ir, Ghumaisa?" imbuh Tasya, tersenyum tipis. "Pujangga arab bersya'ir. Wanita itu tidaklah dilahirkan dalam keadaan jahat, sesungguhnya ia menjadi jahat ketika ia cemburu. Kau paham maksud sya'ir itu, kan? Tak semuanya ini salah diriku. Andai dirimu menjaga jarak dengan Ali, tentu ini tak akan terjadi."
Mata Ghumaisha berkaca-kaca, "Kakak yang memfitnah diriku berzinah dengan Ardian?"
"Tidak, aku tak sekejam itu. Hanya sekedar memanfaatkan ke adaan Ardian yang sedang mabuk. Selebihnya kesalahan dirimu yang membantu Ardian, dan membawanya pulang ke rumah. Kau tahu? Menghasut dalam keburukan itu mudah. Dan sudah sifat sebagian manusia, lebih gampang mendengarkan keburukan daripada kebaikan." Tasya mengusap kepala Jalal, namun ditepis anak kecil itu. "Dan Ardian tahu itu semua."
Bagai ada kilatan petir yang menyambar. Ghumaisa membeku. Sungguh, tak sanggup menerima kenyataan. Kalau dirinya?
"Aku dipermainkan," lirih Ghumaisa.
Ghumaisa menyentuh kepalanya. Dalam hati berteriak dan menjerit sejadi-jadinya. Memaki setiap orang yang sudah mempermainkan hidupnya selama ini. Harapan dan cita-cintanya sudah pecah bagaikan beling. Begitupun dengan pernikahannya, harapan terakhir yang ia punya juga ikutan kandas.
Belum puas, Tasya berbisik di telinga Ghumaisha. "Kau tahu kenapa perutmu sakit? Itu. Karena. Aku memasukan obat penambah berat badan di minumanmu, Ghumaisha. Maaf."
Dunia Ghumaisha runtuh seketika.
Bersambung ....
__ADS_1
Apa yang terjadi? Tunggu part selanjutnya 😉
Jangan lupa membaca Al-Qur'an kawan 😄