ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Episode 2


__ADS_3

Di depan kamar, tampak dua orang sedang berdebat, Ardian disuruh sang Oma untuk menemui Ghu di dalam. Walau awalnya sempat menolak mentah-mentah sebab tidak mau sekamar. Bukanya mengerti, wanita tua itu malah mengancam akan mencabut semua fasilitas yang dimilikinya. Terkadang dia akan sangat kejam dalam masalah uang.


Kata Bang Roma irama, ter-la-lu!


Lelaki itu mendorong pintu lalu menyembulkan kepala ke dalam memastikan Istrinya ada atau tidak. "Assalamualaikum. Gajah Eropa?"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabnya lirih.


Ruangan gelap. Pandangannya mengedar, dan menemukan sosok hitam tengah berdiri di depan jendela. Susah payah pemuda itu menegak saliva. Mempertanyakan apa dia istrinya atau bukan? Baru saja hendak mendekat kala sosok besar itu perlahan membalikkan badan.


"Allahu Akbar!"


Takbir menggema. Mata lelaki itu membulat sempurna. Terlonjak ke belakang, ketika mendapati wajah Ghu seputih pupur, lipstik semerah darah, dan eyeliner tampak luntur membuat bagian bawah matanya menghitam. Persis hantu penunggu pohon asem Jawa.


"Lu ini apa-apaan! Mau buat gua mati di malam pertama!" teriak Ardian, memegang dadanya yang berdetak tak karuan.


Kening Ghu mengerut. "Kok nggak takut, sih?" gumamnya heran. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Padahal tadi sudah memastikan, ia berpenampilan semengerikan mungkin hingga siapapun yang melihat pasti akan ketakutan. Kenapa Ardian langsung tahu ini dirinya? Balas dendamnya tak berhasil. Harusnya dia lari terbirit-birit.


"Kau tak takut? Hahh!" Ghumaisha mengangkat kedua tangan, mencoba menakuti Ardian.


Ardian mengembuskan napas, mengusap wajah gusar. Astagfirullah ... Gajah Eropa macam apa Istrinya ini?


Sampai selintas ide jahil muncul di otaknya. Dengan bibir menyeringai, ia mendekati Ghu, tangannya mengusap-usap bibir, membuat wanita bertubuh gempal itu melangkah mundur.


"Ke-kenapa mendekat? Hush, hush, menjauhlah!”


Ghumaisha ketakutan karena Ardian terus saja mendekat, sampai-sampai memojokkan tubuhnya di dinding. Niat menjahili kenapa malah kena imbas. Hingga sekarang, ia terkurung oleh kedua tangan pria di hadapan.


"B-bisakah kau menyingkir," suara wanita itu terdengar gugup.


Bukanya menyingkir, Ardian malah meneliti penampilan Ghumaisha dari kepala sampai ujung kaki. Mencoba memberikan penilaian, sebagus apa istrinya ini? Sehingga membuat sang Oma selalu membelanya. Sungguh, Ghumaisha tidak menarik sama sekali. Memakai gamis hitam, kerudung lebar. Kalau saja ada perlombaan pakaian pengantin terburuk, maka dia sudah menjadi juara satu.


"Kau ini sudah pendek, buntat lagi. Untung cantik."


Seketika hati Ghumaisha mencelos. "Apa katamu tadi?" ia langsung mendorong tubuh Ardian agar menjauh.


Untuk kesekian kali dia menghina. Ardian memang sempurna, tetapi bukan berarti bebas mengejeknya kapan saja. Sedangkan lelaki kurang ajar itu masih menampangkan ekspresi tak bersalah dan itu membuatnya bertambah kesal.


"Bisakah kau sedikit menghargai orang lain? Ya, aku memang gemuk. Setidaknya sehat, daripada kau sama sekali tak memiliki daging apalagi lemak. Persis seperti penggaris!”


Ardian bersedekap, memundurkan langkah untuk menjaga jarak dari Ghumaisha. Takut wanita itu akan menyerangnya tiba-tiba dengan tinjuan. Itu pasti menyakitkan.


"Dengar, kegemukan atau obsetitas meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit. Khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis dan asma. Kurasa kau juga tahu apa yang kumaksudkan. Kau cukup pintar hingga masuk jurusan kedokteran. Bukan begitu, Sayang?" Ardian tersenyum, mencubit gemas pipi Ghu.


Ghumaisha menepis tangan Ardian. Menunjuk wajahnya kesal. "Kau harus tahu. Orang gendut, juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Kau paham!"


"Begini saja. Tinggimu paling sekitar 159 Cm, berat badan normal wanita dengan tinggi sepertimu sekitar 50-55 Kg. Sekarang kau punya berat badan 100 Kg. Kau pikir itu normal?" sahut Ardian terkekeh sinis.


Ghumaisha terpaku.

__ADS_1


Ardian menyentil kening Ghu, membuat wanita itu meringis mengusap-usap keningnya sakit.


"Kau ini apa-apaan!" teriaknya kesal.


"Kenapa melihatku seperti itu? Jangan-jangan kau tengah berpikiran aneh-aneh. Aku tak punya minat dengan gajah Eropa sepertimu. Harusnya aku menikah dengan wanita secantik Kimberly."


Ardian berucap dengan tenangnya, tak peduli meskipun hati Ghumaisha langsung tertohok, tersinggung akan perkataannya. Dari dulu Ardian memang menyukai artis Kimberly Ryder. Entah alasannya apa, sampai-sampai mantan kekasih Ardian semuanya mirip bule.


"Jangan bicara padaku lagi! Bukankah kau ingin punya istri secantik Kimberly. Cari saja di luaran sana. Aku tak peduli!" kata Ghumaisha geram, berjalalan memasuki kamar mandi lalu menutup pintunya dengan keras.


Ardian mengangkat bahu tak perduli. "Dia ingin menjadi seorang Dokter, tapi tak bisa menjaga pola makannya sendiri. Mengurus dirinya saja tak bisa. Bagaimana bisa mengurus orang lain? Bisa-bisa semua pasiennya akan terkena masalah berat badan," Ardian menggelenggelengkan kepala heran.


Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Kamar Ghumaisha berwarna putih, ada foto-foto yang terpajang di dinding dan nakas. Di meja belajar juga banyak buku-buku ilmu kedokteran. Kening Ardian mengerut, tertarik dengan salah satu buku bewarna hitam dengan tulisan: Catatan Gendut.


"Ckk, lucu sekali. Seakan-akan gendut adalah kenangan hingga harus di tulis dalam buku harian."


Ardian menggelengkan kepala, tak mengerti dengan jalan pemikiran Ghu.


"Kau tak akan keluar kamar mandi?" teriaknya, khawatir Gajah Eropa itu akan pingsan di dalam.


"Tidak! Sebelum kau keluar dari kamar!"


"Ya sudah, bawa saja kasur ke dalam kamar mandi. Jangan lupa bawa kipas, agar di sana kau tak merasa kegerahan."


Bahu Ardian terangkat cuek. Berbeda dengan Ghumaisha sudah menggerutu.


***


Seorang wanita berambut panjang se-bahu, dengan baju putih ketat selutut sedang melenggangkan kaki untuk mendekati seorang fotografer di sana. Dia sedang memotret model pria yang tengah berpose. Sejenak mereka menghentikan kegiatan, dan pria rupawan itu menoleh ke belakang.


"Siapa kau?" tanya Adonia, menatap wajahnya heran. Ia tak mengenal pria itu sama sekali.


“Ali.”


“Ali?” Adonia mengulang namanya, lalu diberi anggukan setuju oleh pemuda itu. “Nama yang bagus. Seperti orangnya. Maaf, aku tak bisa mengendalikan diri bila bertemu pria tampan,” candanya bermaksud menggoda.


"Saya fotografer baru di sini. Hari ini Ian ijin tak bisa masuk."


Ali menjawabnya ramah, detik kemudian kembali melihat ke depan untuk melanjutkan pemotretan.


"Ok. Jadi kau yang akan memotretku hari ini?" Adonia bersedekap, menatap wajah tampan Ali. Lumayan, untuk sekadar bermain-main pria itu cukup tampan agar bisa ia manfaatkan.


"Saya hanya memotret model pria saja. Untuk wanita ada fotografer lain."


"Hey! Tidak sopan bicara tanpa melihat wajahnya."


"Lebih tak sopan, memandang wanita yang bukan mahramnya."


"Kau menasehati-ku?"


"Ya!"

__ADS_1


"Aku tak suka dinasehati!"


"Jangan dengarkan, kau juga yang rugi." Ali mengacungkan jempol ke arah model pria di depan, karena bisa mengikuti instruksi yang ia perintahkan.


Tidak mau tersulut emosi, Adonia berdehem kembali ingin mendekatkan diri dengannya. Bagaimanapun caranya, ia harus meruntuhkan pertahanan Ali. Tak boleh ada satu pria pun yang menolak pesonanya termasuk Ardian atau Ali.


"Kau muslim?" tanya Ali tanpa menoleh.


"Ya, aku muslim."


"Jarang membaca terjemah kitab suci Al-Qur'an?"


Alis Adonia saling menaut. "Kenapa kau harus menanyakan itu?”


"Kalau sering. Kau pasti tahu di dalam kitab suci Al-Qur'an dijelaskan wanita harus menutup aurat."


"Kau meledekku?" sahut Adonia tersinggung.


"Aku sedang bekerja, Maaf. Alangkah lebih baik kau keluar dulu. Fotografermu akan datang sebentar lagi." Peringat Ali, masih fokus mengarahkan kamera ke model parfum Lavindar yang tak lain milik perusahaan Jimi.


Adonia berdecih. Merasa terhina, ia keluar dari studio foto lalu menutup pintu dengan membantingnya. Siapa yang tak luluh saat melihatnya? Kecuali Ardian dan sekarang di tambah dengan pria so alim itu.


"Aku harus membicarakannya kepada Boss. Kenapa Ardian tak masuk hari ini." Gumam Adonia.


Biasanya pria itu jarang absen untuk bekerja. Setelah pulang kampus Ardian sering pergi ke studio foto, diam-diam menjadi seorang fotografer tanpa sepengetahuan Ayahnya. Hanya Damian dan Haikal saja yang tahu, Ardian sering menyamarkan nama dengan Ian.


***


Sudah cukup lama di kamar mandi, akhirnya Ghu keluar. Matanya langsung terfokus ke atas ranjang, di sana Ardian sudah tertidur lelap. Begitu mudah, padahal dari tadi tak diam mengejeknya karena masih betah di dalam kamar mandi. Dasar, menyebalkan.


Dengan hati-hati ia berjalan ke lemari, menatap wajahnya di kaca, memastikan semua noda-noda hitam di bawah matanya hilang.


Ghu bernapas lega. Matanya telah bersih. Beruntung bisa hilang. Kalau tidak, entah bagaimana akhirnya nanti. Jangan sampai harus jadi panda. Melirik jam, kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Berarti satu jam ia berada di dalam sana, sampai-sampai lupa belum menunaikan salat.


Seesaat ia melirik Ardian, ingin hati membangunkannya untuk menunaikan ibadah bersama. Merasa ragu urung dilakukan. Ia menunaikan salat sendirian. Dalam keheningan malam. Ditemani dengkuran pria itu yang sangat menggangu.


Dering handphone berbunyi beberapakali.


Setengah sadar, tangan lelaki itu meraba-raba untuk mencari keberadaan handphone-nya. Belum ditemukan. Ardian berdecak, lalu mengusap wajah kasar kemudian membuka mata lebar-lebar untuk menemukan suara pengganggu itu. Ternyata berada di bawah bantal.


“Sialan! Siapa yang menelepon jam segini?”


Kening Ardian mengerut, mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Adonia serta pesan watsaap. Mungkin dia ingin menanyakan kenapa tak masuk kerja. Benar saja, dia memang ingin menanyakan hal itu dalam kiriman pertama. Hingga kata-kata terakhir berhasil menarik seluruh kesadaran lelaki itu.


[Kenapa tidak masuk kerja? Aku menanyakanmu pada pegawai lain. Mereka bilang kau minta ijin. Kemana? Tumben tidak bilang dulu.]


[Oh, tadi aku berbicara dengan penggantimu. Dia sombong sekali. Namanya Ali, dia menyuruh agar aku menutup aurat. Apa urusannya? Ini hidupku. Terserah padaku. bukankah dia aneh? Terlalu ikut campur.]


“Ali?”


“Kapan dia kembali dari Mesir?”

__ADS_1


Ardian mengusap rambut frustasi. Melempar ponsel ke sembarang arah. Pandangannya mengedar, dan menemukan sosok wanita sedang tertidur di lantai yang hanya beralaskan selimut. Baru ingat, ia baru saja menikah. Seandainya, Ali tahu kondisi Ghumaisha saat ini. Ia pasti mati di tangannya sekarang juga.


__ADS_2