ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Sembilan Belas


__ADS_3

"Sejauh manapun kau berlari, jika kita sudah bertakdir maka akan bersama juga. Lalu kenapa kau bersembunyi?"


***


Ghumaisha terdiam.


"Ikutlah bersamaku, Ghu. Kita tinggalkan semuanya dan mulai membangun kehidupan baru. Aku akan menjagamu. Tak akan ada luka lagi, kau mau, kan?"


Kepala wanita itu menggeleng, di hadapannya sekarang bukanlah Ali yang ia kenal. Pria yang selalu tegar menghadapi semua ujian, dan selalu bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Kenyataanya, dia pria biasa saja. Terkadang bisa lemah karena perasaan, bukan lebay, tetapi memang dia juga punya hati.


Mata Ghumaisha terpejam, menghirup napas dalam-dalam. "Ali ... kumohon jangan seperti ini? Kau tak akan lemah karena dunia, tidak sepertiku yang hancur karena perasaanku sendiri." Ghumaisha berucap getir, menatap jalan trotoar yang dia injak. Apa bedanya dia dengan tanah? Selalu di injak-injak dan tak dihargai selayaknya manusia biasa.


Tak mau menyerah, Ali masih mencoba meyakinkan wanita malang itu. Dalam hati terus berdoa agar dia mau menerima. "Ghu, aku yakin kau sudah tahu perasaanku. Seandainya dulu aku lebih cepat melamar, kau pasti tak akan seperti ini." Ali memukul kepala, merasa geram pada dirinya sendiri. Merasa semua masalah ini berawal karenanya.


"Aku memang pria lemah, dan terlalu banyak menunda-nunda waktu! Seharusnya jika sudah yakin. Aku segera datang ke rumahmu, bukannya malah menunggumu sampai lulus sekolah!" hardiknya kesal, menyesal atas keputusannya dulu.


"... karena kau tak ingin aku putus sekolah, Ali. Kau memikirkan masa depan dan cita-citaku selama ini. Menjadi Dokter dan bisa merawat orang-orang sakit, kau menunggu waktu tepat tanpa harus memutuskan harapanku. Kau pria baik Ali, tak pantas mendapatkan wanita sepertiku. Jelek dan tak menarik. Carilah wanita lain yang sepadan denganmu: cantik, sholehah, berpendidikan dan bisa menjadi Istri dan ibu yang baik bagi dirimu," jelas Ghumaisa lembut, hatinya terenyuh mendengar perkataan pria itu. Merasa derajatnya terangkat sebagai perempuan, setidaknya ada satu orang yang mampu memperjuangkan dirinya tetap hidup.


"Ghumaisha __"


"... Ali, aku tak ingin kau merasakan hal sama. Biarkan saja aku seperti ini. Hidupku sudah hancur. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan. Suamiku tak menginginkan kehadiranku, Kak Tasya juga sangat membenci diriku. Sedangkan orang tua? Semenjak aku menikah mereka tak pernah menghubungiku lagi. Untuk apa lagi aku bernapas, jika mereka tak ingin keberadaanku di sini. Jika aku masih bisa bernapas, pun setidaknya kesendirian adalah tempat yang terbaik untukku." Ghumaisha mengusap wajahnya menghilangkan bekas air mata, wajahnya pasti sangat kusut sekarang. Berpikir tindakkan bunuh diri tadi membuatnya menyesal. Ya Allah, apa sekarang dia benar-benar sudah gila? Kenapa bisa melakukan tidakkan sebodoh itu.


"Aku ini setengah gila Ali! Terkadang aku bisa bicara normal. Lain waktu, bisa saja aku menyakiti orang lain. Setiap kali melihat Ardian, aku selalu merasakan sakit hati. Terkadang saat sendiri pun aku bisa menangis menjerit-jerit karena suara-suara hinaan itu. Aku sudah gila, tak seperti dulu. Aku gila ...." air matanya kembali menetes, meski berkali-kali dia mengusap dan menahannya sebisa mungkin.


Tangan Ali menggepal, dadanya sesak melihat penderitaan wanita yang ia kasihi. Iba akan hidupnya yang selalu di bully dan dijadikan hinaan serta perbandingan orang.


"Ghumaisha. Aku bisa menghargai keputusanmu karena tidak bisa bersamaku, tetapi ijinkan aku membawamu ke suatu tempat yang jauh. Melupakan semua kejadian ini beberapa waktu yang lama, membiarkan mereka berpikir atas dosa yang sudah dilakukan selama ini padamu. Carilah kebahagianmu sendiri dan tenangkan dirimu. Jangan khawatirkan Jalal dia ada dalam pengawasanku," Ali membuka pintu mobil, tersenyum, seakan mengatakan semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku.


"Tapi, Al__"


Ali memutar dua bola matanya jengkel sambil mendengus sebal. "Aku tak akan membawamu kabur, hanya ingin menunjukkan kebahagian yang utuh. Untuk kau bisa menentukan, siapakah yang lebih berhak kau pertahankan dan cintai. Menyadarkan berapa banyak karunia Allah yang telah diberikan padamu. Ghumaisha, aku masih tahu batasan. Tenang saja ... jadi?" tanyanya, menaikan sebelah halis.


"Ba-iklah...." jawab Ghumaisha setengah ragu, kemudian masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ali tersenyum simpul, berharap semuanya akan baik-baik saja setelah ini.


***


Ardian sampai ke rumah saat hari sudah menjelang malam, tak lupa dia menunaikan sholat magrib terlebih dahulu di masjid. Bersujud meminta ampun atas segala dosa yang telah diperbuat. Sadar, kalau selama ini terlalu tenggelam dalam lautan kenikmatan dunia hingga lupa bersyukur.


Bahkan selalu mengeluh akan takdir yang tak bisa mempersatukannya dengan orang yang di cinta, padahal ini merupakan jalan terbaik yang digariskan, tetapi malah keluhan yang dia berikan. Benar, apa yang menurutnya baik belum tentu itu terbaik.


Di dalam apartemen tampak sepi, tak ada Jalal yang biasa berlarian kesana-kemari, membawa buku dan pulpen ingin belajar di ruang tamu. Di kamar tidur juga tak menemukan istrinya Ghumaisa, biasanya dia duduk di atas ranjang, sambil memeluk lutut. Entah melamunkan apa, karena ia mulai terbiasa akan hal itu. Begitu pula di kamar sebelah dan ruangan-ruangan lain, ia tak menemukan siapapun.


"Jalal? Ghumaisha?" panggil Ardian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mulai panik, khawatir mereka berdua sudah meninggalkan dirinya sendirian.


"Jalal? Kau di mana?!"


Berkali-kali Ardian memanggil-manggil nama mereka berdua, mengelilingi setiap ruangan memastikan mereka ada.

__ADS_1


"GHUMAISHA?!" kini Ardian berteriak di ruang tamu. "JAWAB!" bentaknya seperti orang gila, berharap salah satunya akan menyahut.


"GHUMAISHA?!"


.


.


.


(Kumohon jangan pergi. Sungguh, tanpa kalian hidupku hambar. Jangan berikan aku hukuman dalam kesendirian, aku tak akan sanggup.


Kalian adalah salah satu bagian terpenting dalam kehidupanku, pewarna dan alasan kebahagiaanku saat ini.


Jangan pergi, kumohon. Beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki setiap luka, menggantinya dengan senyuman yang tak akan pernah luntur sampai kapanpun.


Kumohon ... jangan pergi.)


"Paman?"


Ardian memutar badannya ke belakang. Seorang anak berdiri di ambang pintu masuk, memeluk tas hitam kecil bergambar spiderman. Pria itu menghembuskan napas, berlari, langsung mendekap tubuh Jalal erat.


"Kau ke mana saja? Paman cemas dan takut kalau kalian akan pergi. Jangan lakukan ini lagi. Kau paham?" Ardian mencium kening Jalal, kembali menarik tubuh anak itu dalam pelukan.


Tak terasa air mata Ardian jatuh. Ketakutannya kehilangan mereka berdua lebih besar di bandingkan kehilangan harta. Keluarga segalanya, ya, keluarga adalah segala-galanya. Percuma harta berlimpah, jika keluarga tak harmonis, hanya ada duka saja. Seperti kehidupannya kini.


"Paman tak akan sedih selama kalian ada di sini," Ardian tersenyum, mencium punggung tangan Jalal. "Kalian hidupku sekarang."


"Tapi, Tante pergi ...." wajah Jalal menekuk, dan ucapannya itu bagaikan petir yang menyambar tubuhnya. Membeku.


"Tante pergi? Kemana?!" tanya Ardian panik, menguncangkan-guncangkan bahu Jalal.


"Tante bilang akan pergi, dan Jalal harus menjaga Paman," jawabnya jujur.


"Bersama siapa?"


"Paman Ali."


"Kenapa kamu tak mencegahnya, Jalal?!" bentak Ardian prustasi.


Jalal ketakutan lebih memilih diam. Sedangkan Ardian mengacak rambutnya gusar.


***


Setelah mendengar ucapan Jalal tadi, dia segera pergi ke rumah Ali. Tak peduli meski hujan turun disusul suara petir yang menyambar-nyambar.


30 menit berlalu ketika dia sudah sampai di rumah Ali. Berbeda dengan Jalal yang tidur di dalam mobil, Ardian memilih menembus lebatnya derasnya air hujan membiarkan semua pakaiannya basah. Asal istrinya bisa kembali, apapun akan ia lakukan.

__ADS_1


"Ali? Keluar kau?!" panggil Ardian, mengedor-ngedor pintu.


"Ali kembalikan, Ghumaisha!"


"Aliiiiii!"


Dari dalam, Ali hanya mematung di depan pintu, membiarkan pria itu melakukan tugasnya sebagai suami. Memperjuangkan agar istrinya bisa kembali, bukannya dia tega. Hanya saja ada banyak pembelajaran yang perlu di dapatkan Ardian, agar sadar betapa pentingnya seorang istri dalam keluarga.


"Ali! Kembalikan istriku!" teriak Ardian, masih belum mendapatkan sahutan dari dalam.


Sekali lagi, Ali hanya mendengarnya tanpa berniat untuk membukakan pintu. Malah dia beranjak pergi kembali masuk ke dalam kamar. Yakin kalau pria itu akan pergi dalam waktu beberapa menit lagi.


***


Hari-hari berikutnya Ardian terus datang ke rumah Ali, karena pria itu belum kunjung memberikan jawaban. Pernah sampai ia menginap di halaman, memastikan pria itu tak lolos seperti sebelum-sebelumnya.


Satu minggu berlalu dan sampai saat ini, ia belum bertemu dengannya. Membuat Ardian dibuat depresi. Sebenarnya tahu, kalau lelaki itu sedang menguji dirinya sejauh mana bisa memperjuangan sang istri agar bisa kembali.


Namun dampak yang di timbulkan kepadanya amat berat, sampai membuat semua tugas terbengkalai, makan tak nafsu, kesehatan menurun, mungkin hanya menemani Jalal sarapan saja yang tak pernah ia lewatkan. Selebihnya dia kembali ke sini untuk menemui Ali.


"Aku akan tetap di sini, menunggu sampai kau mau membukakan pintu! Ali, keluar kau dari dalam rumah!" teriak Ardian, sudah persis seperti orang kurang waras.


Seperti biasanya, Ali tak peduli. Penderitaan Ghumaisha melebihi ini dan Ardian harus merasakannya agar tak pernah meremehkan orang lain lagi.


"Teruslah berjuang. Sampai kau sadar, tindakanmu sekarang belum ada apa-apanya dibandingkan luka yang diterima Ghumaisha selama ini," ucap Ali, menghembuskan napas berat.


***


(Kau akan menemukan diriku, disaat kau mengerti setiap luka yang kurasakan.


Ini bukan dendam Ardian, aku mencoba memberimu kesempatan dengan kehilangan.


Aku terus melihatmu, memperhatikan dan mengawasimu dari jauh. Berharap seiring berjalannya waktu, trauma ini juga bisa sembuh.


Maafkan aku.)


Suara debur ombak lautan terdengar, burung-burung berterbangan di langit senja. Angin meniup-niup khimar hitam yang ia kenakan. Mata wanita itu terpejam, merasakan setiap kesejukan alam, seakan mencoba memberikan energy positif agar pikirannya lebih tenang.


“Tenangkan pikiranmu, rasakan dan nikmati alam ini. Pikirkan hal-hal yang menyenangkan, setiap kenangan yang membuat hatimu berbunga-bunga, sampai ingin kembali ke sana. Lupakan hal buruk dan syukuri hidup,” ujar seorang Dokter seperti tengah memperngaruhi pikiran Ghumaisha agar tak terus terkurung dalam duka.


“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya, setelah Ghumaisha menyunggingkan senyuman tipis. Mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, dan itu membuat hatinya lebih tenang. Setelah kembali membuka hati dan lebih menerima setiap luka dengan lapang dada. Karena Allah tak akan memberikan cobaan, melebihi batas kemampuan hambanya.


“Ardian dan Ali,” lirihnya, ada kerinduan menyergap masuk ke dalam hati saat mengingat mereka berdua.


Bersambung ....


Apa yang terjadi selanjutnya? Lihat part berikutnya hehe

__ADS_1


Jangan lupa komentar dan sarannya, likenya jangan lupa okhe 😉


__ADS_2