ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Empat


__ADS_3

Ghumaisha memandang rintikan air dari langit dengan pilu, mengulurkan tangan dan membiarkannya basah oleh hujan. Kepalanya menanggah, menatap langit mendung di sana. Terkadang langit turut merasakan kesedihannya sekarang.


[Mungkin aku selalu tersenyum, memperlihatkan selama ini baik-baik saja.


Di balik itu semua, ada luka yang kusimpan dan tak bisa kutanggung sendiri. Sayangnya, meskipun aku bicara tak akan ada yang mengerti]


Ghu menghela napas, membalikkan badan lalu duduk di kursi. Satu jam lamanya ia di halte bis, dinginnya hujan mulai menggigit kulit. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain berharap ada orang yang dikenalnya dan mau bersenang hati mengantarnya ke kampus.


"Udaranya dingin, kan?" seorang wanita ikut duduk di kursi. Ghumaisha tersentak serasa mengenal suara tadi.


Ghumaisha menoleh, spontan matanya membulat sempurna ketika mendapati sosok wanita berwajah cantik tengah menatapnya. Tasya tersenyum tipis, memandang Ghu hangat. Tak sengaja ia melihatnya sedang duduk sendirian di halte, merasa kalau dia membutuhkan bantuan. Tanpa berpikir dua kali, ia turun dari mobil untuk menghampiri Ghumaisha.


"Kau pasti kedinginan. Pakai jaketku, saja. Jangan sampai kau sakit.” Tasya membuka jaket, memberikan ke padanya. "Pakailah,"


"Tapi nanti Kakak kedinginan. Sebaiknya Kakak saja yang pakai," tolaknya halus, kembali menyerahkan jaket Tasya padanya. Dia memang wanita sempurna, selain baik, dia juga sangat ramah kepada semua orang.


Tasya tersenyum manis. "Hey, aku tak akan sakit. Bukankah sekarang kau berada di semester akhir, jadi harus benar-benar menjaga kesehatan. Paham, Ghu?" layaknya seorang adik yang penurut, ia mengangguk kemudian memakai jaket milik Tasya.


"Boleh aku bicara," ucap Tasya, sambil menatap jalanan aspal yang terus di serang rintikan hujan.


"Apa?"


"Aku iri padamu," jujurnya disertai kekehan hambar.


Ghumaisha tergelak hanya menganggapnya gurauan. Apa kelebihan dirinya sehingga bisa membuat wanita sesempurna Tasya iri.


"Aku lebih iri melihat Kakak. Fisik sempurna, cantik, baik, Kakak itu paket komplit." Ghumaisha mengacungkan jempol, dari dulu sungguh sangat mengaguminya. Tak pernah sombong dengan apa yang dimiliki, hanya ingin dicintai Ali saja. Sesederhana itu.


Tasya tersenyum tipis. "Cantik bukan segalanya, Ghumaisha. Buktinya sekarang Ali masih bersikap sama. Tidak peduli. Masih menggantungkan hubungan kami pada ketidakpastian.”


Ghumaisha menggaruk-garuk tekuk lengan yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa. Tidak mendapatkan jawaban, wanita itu menghela napas, mencubit gemas pipi Ghu, membuatnya meringis karena sakit.


"Kau itu sangat beruntung, mampu membuat Ali melewatkan waktu beberapa jam hanya sekadar mendengar keluhanmu tentang Ardian. Kalau aku, mana mungkin seberani itu bicara lama padanya. Dia terlalu serius saat bicara padaku, membuatku terkadang merasa dia selalu menjaga jarak."


Wajah Ghu berubah cemberut sambil memegang pipinya yang di cubit Tasya tadi." Mungkin Kak Ali terlalu gugup bicara sama Kakak. Jadi dia menjaga jarak, grogi saking terpesonanya melihat bidadari dunia ha, ha, ha," tawa Ghu pecah, sedangkan Tasya hanya geleng-geleng kepala.


"Kamu masih dibully Ardian?"


Tawa Ghu terhenti, suasana hatinya langsung memburuk mengingat sikap Ardian tadi. Dia menimang-nimang harus membicarakannya atau tidak, sebenarnya dia hanya mengancam Ardian saja dengan membawa-bawa nama Ali. Kalau sudah bertemu Ali, mana bisa ia menceritakan keburukan Ardian padanya bila tak dipaksa untuk mengaku.


"Emz … tak sesering biasanya."


"Ardian itu anak baik. Dia mengerjaimu hanya agar bisa melupakan sakit hati yang tengah dia rasakan," gumam Tasya, memikirkan sikap buruk Ardian semakin menjadi-jadi.


"Sakit hati? Sakit hati karena apa?" tanya Ghu, ingin mendengar lebih jauh tentang Ardian. Mengingat Ali, Tasya dan Ardian sudah berteman dari kecil. Tentu sudah mengenal sifat dan karakternya masing-masing.

__ADS_1


Tasya tersenyum. "Sudahlah, lupakan saja. Ayo, Kakak antarkan ke kampus. Kebetulan kantor Kakak sejalur dengan kampusmu."


Ia beranjak dari tempat duduknya, berbeda dengan Ghu sudah tenggelam dalam pikiran. Kenapa Tasya mengalihkan pembicaraan? Apa ada rahasia di antara mereka.


***


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di kampus. Semua orang memandang kagum Tasya, kecantikannya mampu merengut semua perhatian hingga memusatkan pandangan hanya pada wanita itu saja. Seperti biasa, saat beralih padanya mereka langsung memalingkan muka. Tidak tertarik.


"Selamat pagi gentong!” sapa seorang pria sembari melambaikan tangan. Disambut kekehan lucu teman sebelahnya.


Ghumaisha menghiraukannya begitu saja. Sudah biasa.


"Kakak, lebih baik sampai disini saja. Kakak tak perlu mengantarku sampai ke dalam,"


"Kenapa? Bila kamu tidak enak dengan perkataan orang-orang, Kakak minta maaf." Tasya menampangkan wajah bersalah, membuat Ghu merasa tak enak hati.


"Bukan begitu, hanya saja aku mau ke kantin kampus dulu. Kakak juga harus bekerja kan? Ghu akan baik-baik saja di sini." Ghumaisha tersenyum lebar, sebisa mungkin harus terlihat bahagia di hadapan Tasya.


Tasya mengangguk. "Baiklah, kalau ada apa-apa. Kamu telepon Kakak, yah. Kakak tak ingin Ali terus mengkhawatirkan keadaanmu tiap hari," ucapnya tulus. "Ali sudah menganggapmu adik sendiri, jadi Kakak juga akan menganggapmu Adik. Jadi jangan ragu untuk memberitahu. Kalau ada yang menjahilimu, aku akan datang untuk menjewer telinga orang itu." Katanya tertawa, dengan memperagakannya dengan menjewer telinga Ghu.


"Kakak... Sakit!" keluhnya mengusap-usap telinga.


Tasya tertawa, setelah memberi nasihat panjang lebar layaknya ibu yang memperingati anaknya, jangan lupa makan, berkawan dengan baik, belajar yang serius dan masih banyak lagi.


Tasya di mata Ghu, benar-benar terlihat dewasa. Kesekian kalinya Ghu merasa iri, Tasya terlalu sempurna untuk ukuran manusia.


***


Adrian menghabiskan waktu dengan bermain basket. Damian merasa, kalau dia tengah menumpahkan kekesalan dibandingkan tengah berlatih. Terlihat, ia bermain secara tak sehat sampai menyenggol lawan main hingga jatuh. Tidak peduli meski sudah melanggar aturan beberapa kali. Terpenting bisa menang.


Sedangkan gadis-gadis yang menonton bertepuk tangan meriah, meneriakkan nama Ardian kagum. Sesekali pria itu tersenyum, melambaikan tangan ke arah mereka membuat semua penggemarnya mabuk kepayang.


“Dia memang luar biasa!” puji kagum salah satu perempuan melihat otot-otot Ardian tercetak jelas di balik kaos putih yang ia kenakan. “Dia masih jomlo, nggak, yah?”


“Nggak boleh ada yang dekati dia. Ardian hanya milik gua!” sahut Adonia sinis.


Lelah, Adrian duduk di lantai. Mengambil botol mineral yang di sodorkan salah satu wanita, sejenak dia mengedipkan mata memberikan tanda terimakasih.


Adonia memutar dua bola matanya jengah, ia sudah sangat terbiasa dengan sikap lelaki itu. Penebar harapan palsu pada semua gadis kampus. Begitu pula dengan Damian dan Haikal. Mereka geleng-geleng kepala atas tingkahnya selama ini. Otaknya harus cepat-cepat diperbaiki sebelum beneran koslet.


"Mau jalan?" bisik Ardian di telinga Adonia.


Keningnya mengerut bingung. Tumben mau ngajak, biasanya harus ia dulu yang meminta. “Jalan? Denganmu?” tanyanya memastikan.


"Ya, tapi ada syaratnya," katanya tersenyum miring.

__ADS_1


"Apa?" tanya Adonia penasaran.


Adrian mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu hingga membuat Damian dan Haikal saling pandang. Mereka curiga Ardian akan melakukan ulah pada salah satu mahasiswi kampus. Wanita itu mengangguk, mengerti, tanpa berpikir lebih lama lagi berdiri lalu memanggil temannya untuk ikut bersamanya menjalankan rencana yang sudah tersusun rapih di benak kepala.


***


Hari menjelang siang, awan tak lagi mendung, matahari kini sudah berada di atas kepala. Panas sekali, Ghu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, matanya masih fokus membaca buku di taman kampus. Sahabatnya Kamelia tak masuk karena sakit, lengkap sudah, ia benar-benar merasa sendirian sekarang.


"Ghu!" sapa seorang wanita kemudian duduk di sebelah.


Ia mendongakkan kepala." Ya," jawabnya kikuk.


"Ngomong-ngomong, sedang baca buku apa?" tanya wanita itu, Haila. Teman Adonia. Aneh, tak biasanya mereka mau mengajaknya berbicang-bincang.


Ghu tersenyum, memperlihatkan buku yang tengah ia baca. "The Checklist Manifest oleh Atul Gawande," jawabnya.


"Buku apa itu?"


"Buku ini menjelaskan, bagaimana menjadi seorang Dokter profesional dengan tanggungjawabnya yang berat serta bagaimana cara menangani kesalahan. Buku ini mengajarkan bagaimana melihat sebuah kesalahan dari sudut pandang lainnya. Meskipun situasi berubah menjadi sangat rumit, alasan sebuah kesalahan bisa saja sangat sepele," jelas Ghu lancar.


Haila menjetikkan jari. "Kebetulan sekali. Adonia ingin bertanya sesuatu padamu? Tapi dia ada di belakang kampus. Dia mau bertanya banyak hal soal jurusan kedokteran. Kurasa kau orang yang tepat. Bisakah kau ke belakang?" tanyanya hati-hati berharap Ghu menyutujui.


Ghu tampak berpikir, menimbang-nimbang ajakan Haila. Walau dia anggota Adonia, sekalipun tak pernah membully siapapun. Sepertinya ia akan aman kalau ikut bersamanya. Tidak baik pula menolak pertolongan sedang kita mampu membantu.


"Baiklah." Setujunya.


***


"Dimana Adonia, Haila?"


Ghu berjalan di halaman belakang kampus, mengedarkan pandangan untuk mencari wanita itu. Di belakang kampus memang sejuk. Banyak pepohonan rindang, bahkan kolamnya pun berair jernih. Melihat ada wanita sedang duduk di pinggir kolam, Ghu mendekat, semakin dekat dan akhirnya wanita itu berbalik.


"Dorong!”


Panik. Ghumaisha hendak berbalik, sebelum merasakan dorongan kuat dari belakang. Tubuhnya tak seimbang, buku terlempar bersamaan dengan badannya terjun bebas ke kolam. Adonia yang sedari tadi duduk segera beranjak sebelum terkena cipratan air.


"Rasain lu!" Haila tertawa terpingkal-pingkal, melihat Ghu sudah basah kuyup.


Adonia tersenyum puas. "Ayo, pergi! Biarkan gajah itu berenang di kolam." Ia memberi instruksi ke pada teman-temannya, mereka langsung pergi, meninggalkan Ghumaisha yang sedang berjuang keluar dari kolam.


"Aku tak bisa naik, Ya, Rabb!"


Sekuat tenaga, Ghu menahan air mata. Menegarkan diri. Jangan lemah! Itu hanya akan memperburuk keadaan. Meskipun begitu air matanya tak bisa diajak kerja sama. Berulangkali dia mencoba naik ke atas, hasilnya percuma, usahanya selalu saja gagal.


Menyerah, Ghu berjongkok di kolam, menenggelamkan tubuhnya sampai dada. Memejamkam mata rapat-rapat berharap ada orang lewat. Kejadian ini bukan untuk satu kalinya. Terlalu sering membuatnya semakin terbiasa dilukai.

__ADS_1


[Terkadang aku bisa menghadapi semua masalah.


Namun, ada saatnya, aku membutuhkan seseorang yang mau melindungi dan menenangkanku saat terluka]


__ADS_2