
Sebuah momen, mustahil untuk dibuat lagi. Kapanpun dan di mana pun itu bisa terjadi, dan Ali mengabadikannya lewat gambar. Memotret setiap kenangan yang menurutnya menarik dan berharga di sebagian hidupnya.
Tatapannya tertuju pada salah satu foto yang di jepit, mengambil, serta memperhatikannya cukup lama. Di sana terlihat dua pria berseragam SMA tengah saling merangkul. Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Ia ingat, saat itu berhasil mendapatkan juara tingkat kabupaten, dan mereka merayakannya bersama.
Sekarang berbeda.
Ali mengembuskan napas berat, ketika persahabatan harus terpisah karena memilih orang yang sama. Kenapa harus bertengkar? Apa ini tak berlebihan? Seharusnya mereka berpikir lebih dewasa, tetapi hati tak bisa di bohongi. Seandainya ia tidak berada dalam situasi rumit, mungkin ia akan dengan senang hati melepaskan tunangannya untuk sang sahabat.
"Kau jangan terus memikirkan perasaan orang lain, Ali. Belum tentu mereka bisa mengerti, apa yang kau rasakan sekarang."
Wanita dengan rambut tergerai panjang, terlihat memasuki ruangan pribadi Ali di rumahnya.
Ali tersenyum miring. “Tidak sopan masuk ke dalam ruangan tanpa ijin. Apalagi kau seorang wanita, harusnya mengerti akan hal itu, Tasya." Nasihatnya, tanpa membalikan badan untuk menatap wanita berparas cantik itu.
"Aku di suruh Mamah untuk menemuimu. Lagian semua orang bisa masuk ke ruangan ini, bukan? Jadi kupikir, kedatanganku tidak akan mengganggu. Aku tunanganmu dan berhak ada di sini," katanya mendekati Ali, kemudian memandang satu-satu foto hasil jepretan tunangannya, Ali Rifki Mumtaz.
Indah.
"Bisakah kau keluar dari ruanganku. Aku membutuhkan waktu sendirian,"
Sendirian? Tasya tersenyum sinis mendengar jawaban darinya.
Tasya membalikkan badan, menatap tunangannya getir. Mengangkat lima jari di depan Ali. "Lima tahun. Apa itu masih tak cukup waktu untuk kau terus tenggelam dalam kesendirian?" bukannya menjawab, Ali malah memalingkan wajahnya ke arah lain. "Lihat aku Ali?! Lima tahun lamanya aku menunggu. Namun, kau, selalu saja menunda-nunda waktu. Pernikahan itu harus di segerakan, bukan di tunda-tunda. Bukankah itu yang sering kau katakan pada Ghumaisha?" ucap Tasya.
__ADS_1
Ali mati kutu, biasanya dulu ia sering mengatakan hal itu pada Ghumaisha. Tetapi sekarang, dia melanggar ucapannya sendiri. Menunda-nunda waktu, hanya mencoba untuk menata hatinya untuk menerima kenyataan kalau Tasya adalah tunangannya saat ini. Namun, sampai kapan?
"Kenapa diam? Kau merasa bersalah karena membuatku menunggu atau malah kau menyesali pertunangan ini terjadi. Ali, aku bisa menjadi Ghumaisha kalau kau mau? Bahkan lebih darinya pun aku mampu."
"Ini salah, Tasya. Kalian berbeda. Kesalahpahaman ini harus diluruskan. Seharusnya bukan dirimu, " akhirnya Ali bersua, tetapi bukan jawaban yang di inginkan Tasya.
"Aku tak peduli! Meskipun ini ke salah pahaman. Yang pasti, kau harus menikah denganku hanya itu yang aku tahu dan kumengerti. Aku tak ingin lima tahun ini menjadi sia-sia." Tukasnya, kemudian memilih pergi sebelum Ali kembali melanjutkan ucapannya.
***
Dua hari telah berlalu, semua berjalan seperti biasa, bukan sebagai pengantin lebih terlihat layaknya tikus dan kucing.
Di dalam mobil hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan, rasanya terlalu malas untuk berdebat di pagi hari. Ghumaisa tak ingin hari pertama masuk kuliah jadi buruk. Begitu pula Ardian. Mereka berangkat bersama menggunakan mobil milik pemuda itu. Meskipun keduanya sempat menolak, nyatanya mereka tak bisa membatah perkataan sang Oma.
Kening Ghu mengerut. Halte bis? Tidak sadarkah dia di luar sedang hujan deras, setega itu dia mau menurunkannya di halte bis hanya karena tak ingin orang-orang tahu tentang pernikahan mereka. Otaknya memang sudah gila.
"Kau tak lihat di luar sedang hujan? Aku tak membawa payung, Ar-di-an."
"Terus?" timpal Ardian tak peduli.
"Terus aku tak mau turun." Lanjut Ghumaisha, kukuh dalam pendirian. Tahu begini, dia akan membawa motor sendiri.
"Pokoknya, kau harus turun!"
__ADS_1
"Aku tak mau!"
"Kau harus mau!"
"Tidak!"
"Ya!"
"Kubilang, Tidak!"
"YA."
"TIDAK TIDAK TIDAK!" jawabnya berturut-turut. "Bagaimana kalau aku sakit nanti?".
"Aku tak peduli. Aku lebih khawatir, kalau semua orang tahu pernikahan kita. Sekarang kau turun, kita sudah sampai." Ardian mendorong pintu, kemudian memandang Ghu seakan memberi isyarat agar dia turun dari mobil. "Turun," perintahnya.
"Aku tak mau. Diluar hujan." Tolaknya ogah.
Tidak mau bicara lagi, Ardian mendorong-dorong tubuh Ghu agar keluar dari mobil. Merasa jengah, akhirnya wanita itu keluar. Setelahnya pintu di tutup, tanpa ba-bi-bu suami tak punya hati itu menghidupkan mobil kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi dan meninggalkannya sendirian di halte.
"Pria jahat!" makinya kepada mobil Ardian yang sudah tak terlihat lagi.
"Bagaimana aku ke kampus?" wajah Ghu menekuk, memandang jalan raya yang sepi. Rasanya ia ingin menangis histeris, apalagi hari ini ia sedang berpuasa. Ya Allah, sabar ‘kan-lah hati ini jangan sampai pahala berkurang karena marah-marah.
__ADS_1