
***
"Seperti apa hidup yang di penuhi drama? Apakah kehidupan yang dipenuhi kebohongan dan omong kosong? Sama persis seperti hidupku." Ardian
***
Dalam kamar Tasya hanya berdiam diri, duduk di atas ranjang sambil menatap nanar foto Ali yang berada di tangan. Meskipun berkali-kali Ibunya sudah membuang bahkan sampai dibakar-nya, tetap saja tak akan mengurangi cinta yang sudah berdarah daging.
"Kamu masih melihat foto pria ini?" Bu Hana merebut paksa selembar foto dari tangan putrinya. Merobek-robeknya dan membuangnya ke tong sampah.
Tasya terperangah. "Ibu! Kenapa di buang?" Ia beranjak turun dari ranjang, mengambil serpihan foto Ali di sana. Menyambungkannya di lantai, walaupun tak semuanya bisa kembali utuh. "Ini foto satu-satunya yang kumiliki, biar aku menyimpannya."
Bu Hana berdecak kesal. "Mereka sudah menghinamu, Nak! Menyebutmu wanita tak tahu diri, munafik, iblis. Apalagi yang kau harapkan dari pria itu? Dia bahkan tak membelamu sama sekali. Lebih baik kau lupakan dia! Masih banyak lelaki yang ingin menjadikanmu sebagai istri, tak perlu kau tunggu pria itu lagi. Lima tahun sudah cukup bagi seorang wanita menunggu. Kamu paham?" bentaknya, tak ingin anaknya menjadi gila hanya gara-gara seorang lelaki.
"Ibu, di sini akulah yang bersalah sudah memisahkan Ali dan Ghumaisha. Seharusnya aku tak egois, seharusnya aku membiarkan dia bersama wanita yang dicintainya, seharusnya ...,"
"Seharusnya, apa lagi! Sudahlah. Ibu jengah mendengar ucapanmu. Mulai besok kita kembali ke Surabaya, daripada kau jadi wanita menyedihkan selama empat bulan karena ditinggalkan pria tak tahu diuntung!" ucap Bu Hana tegas. Melihat anaknya menderita sudah membuat kepalanya hampir meledak.
Merasa tak terima. Tasya berdiri, langsung menatap Ibunya marah. Matanya berkilat tajam.
"Ibu! Ali tak seperti itu! Sudah berapa kali kubilang akulah yang bersalah di sini. Tolong jangan salahkan siapapun, termasuk Ardian, Ghumaisha dan Ali. Mereka hanya korban dari keegoisanku. Aku ... sudah sadar dan paham perkataan Ali waktu itu. Dia tak ingin aku jauh dari sang pencipta hanya karena mencitainya berlebihan. Seperti Zulaikha yang mencintai nabi Yusup As. Dia memintaku belajar mencintai seseorang dari Zulaikha. Karena cinta datang saat kita dekat dengan-Nya," terang Tasya mengambil Al-Qur'an pemberian Ali yang masih tersimpan rapih. Kalau pria itu tahu? Akankah hatinya luluh. Maukah dia kembali.
Sesudah pertunangan mereka putus, berhari-hari Tasya mengurung diri di kamar. Ia tak punya muka lagi untuk berhadapan dengan keluarga Ali terutama Ardian. Apalagi saat ada kabar kalau Ghumaisha menjadi gila dan itu disebabkan oleh-nya. Bersyukurlah keluarga mereka masih memaafkan dirinya, tak menjebloskannya ke penjara.
(Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai. Ali bin Abi Thalib)
"Bu, seandainya saja mereka tak kasihan padaku. Mungkin sekarang aku sudah ada di penjara," lirihnya.
"Dengar Tasya! Kalau saja sampai kau di penjarakan oleh mereka! Maka dengan tangan Ibumu sendiri, mereka akan menyesali perbuatannya. Mereka sudah mencoreng wajah ibu dengan tinta hitam. Membatalkan pertunangan sebelah pihak. Kau pikir kami tak malu, heh?"
Tasya memegang tangan ibunya, mencoba untuk menenangkan dirinya yang tengah tersulut emosi.
"Ibu ... kumohon jangan sakiti mereka," pintanya memelas.
Bu Hanum yang sudah pusing dengan jalan pikiran putrinya hanya bisa mendesah berat, memilih meninggalkan ruangan. Membiarkan dia berpikir lebih lama lagi, semoga otaknya kembali berpungsi untuk berhenti mengharapkan cintanya Ali.
"Cinta? Cinta apa yang membuat orang menderita," gerutu Bu Hana di luar kamar Tasya.
***
Sedangkan hidup Ardian tak berbeda jauh dengan Tasya. Lebih buruk dan terpuruk, bagusnya tak dipedulikan sama sekali oleh keluarganya. Tentu saja, mereka sudah bekerja sama untuk menyembunyikan istrinya. Memberikan pelajaran kepada dirinya arti seorang istri bagi suami. Drama apa yang sedang dimainkan? Lucu sekali.
"Kalian lucu!" satu kata yang dia ucapkan terakhir kali pada sang oma, saat ia datang untuk memberitahukan istrinya diculik Ali.
Oma mengeryitkan kening. Heran. "Kau lebih lucu, Ardian? Sudah menyiksa istri sendiri tetapi masih mengharapkan dia kembali. Dari kau kecil keluarga ini tak pernah mengajarkanmu jadi pria tak bertanggungjawab. Entah turunan darimana dirimu? Karena dari buyut sampai ke Ayahmu, tak pernah ada cerita suami menyiksa istri sendiri!" tandasnya.
Pria itu memejamkan mata, menahan jengkel atas tuduhan Oma. Bingung harus membuktikan dengan cara apalagi, kalau ia sama sekali tak melakukan tindakan kekerasan. Apakah namanya sudah di cap buruk oleh semua orang.
"Aku tak pernah menyiksa istriku, Oma. Bahkan tangan ini tak pernah menamparnya sama sekali! Kenapa kalian terus memojokanku seperti ini? Apa kalian memang tak senang melihat kami bersama lagi?!" tuduh Ardian.
Oma menggangguk. "Ya! Kami tak suka. Karena kau hanya bisa menyiksa anak orang!"
__ADS_1
"Aku ingin istriku kembali Oma dan jangan mencoba menghalanginya. Sama saja kalian sudah berdosa!"
"Bukankah kau tak suka dengan kehadirannya? Buat apa memintanya kembali, lebih baik kau cari wanita yang lebih menarik di luaran sana. Jadi playboy dan nikmati hidupmu sampai tua!" sindir Oma. Tangan Ardian menggepal sebisa mungkin menahan emosi yang menggebu-gebu dalam dada.
"Kenapa diam? Kau merasa tersindir?"
Ardian menggeram. "Oma! Aku tak ingin nasibku sama seperti Ayah. Ditinggalkan istri karena Oma terlalu mengatur!" ucapnya tanpa sadar.
Oma tercengang, tak percaya cucunya bisa berkata demikian.
"Ardian?!" bentak Pak Jimi.
Tak mau berdebat, Ardian mengibaskan tangan. "Sudahlah, kalau kalian masih menyembunyikan istriku! Mulai hari ini, lupakan kalau keluarga 'ini' punya anak laki-laki. Aku akan mencari keberadaanya dengan caraku sendiri. Satu lagi, aku kembalikan semua fasilitas kalian. Uang, dompet, kunci mobil, ambil semuanya. Aku tak butuh!" Ardian menyimpannya di telapak tangan Oma. Terlihat jelas kekagetan di wajah wanita tua itu.
"Kalau begitu Ayah menghentikanmu bekerja di perusahaan Ayah. Selama ini kau menyamarkan diri dengan nama Ian'kan? kau pikir kami tak tahu?" ujar Pak Jimi melipat tangan di perut. Menantang sang putra, mampukah dia mencari pekerjaan sendiri?
"Baik! Aku tak masalah. Dengan kerja kerasku sendiri, pasti bisa membiayai kehidupan Jalal. Kita pergi Jalal!" ajak Ardian, menarik tangan anak yang sedari tadi menundukkan kepala takut.
Dari awal ia sudah curiga tak mungkin Ali mau membawa istrinya tanpa sepertujuan dari keluarga. Sama saja dengan menanggung dosa. Selama ini ia sudah jadi boneka, dipermainkan semua orang. Benar-benar menggelikan.
***
Di sinilah Ardian terdampar sekarang menjadi seorang fotografer dari para pengantin, menikmati hidup sederhana dengan Jalal. Mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan dengan lapang dada.
Kelihaiannya dalam memotret cepat menyebar dikalangan para pengantin baru. Apalagi saat tahu kalau Ardian adalah Fotografer 'Ian' yang selama ini menghasilkan gambar-gambar menakjubkan. Sampai disebut potretan tingkat tinggi. Karena hasilnya selalu lebih dari memuaskan.
(Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. Hamka)
"Tuan, Ian? Apa yang harus kami lakukan?" tanya seorang pria berdiri bersama pengantin wanitanya. Mereka akan melakukan prewedding berlokasi di pantai.
"Tuan?" tegur pria itu mulai jengkel. Mereka masih berdiri di bibir pantai. Ombak sesekali menyentuh kaki pengantin baru itu, sedangkan Ardian mematung di tempat tenggelam dalam lamunan.
"Tuan!"
Ardian tersentak, lalu menghembuskan napas berat. Mengusap wajahnya kasar. Sadar dari tadi melamun memikirkan keadaan istrinya yang sampai saat ini belum ia temukan. Keluarganya benar-benar menjauhkan dia dari Ghumaisha, membuatnya semakin prustasi saja.
"Ah, maaf Tuan Hamid. Bisa kita lanjutkan lagi?" ucap Ardian dengan menampangkan raut bersalah.
"Kalau Tuan merasa lelah, kita bisa istirahat dulu. Bagaimana?" tawar pengantin wanita mencoba memahami situasi.
"Tak perlu, Nona. Kita bisa lanjutkan kembali, tadi hanya sedikit mengenang masalalu." Jujur Ardian terkekeh, disambut tawa kecil pengantin wanita. Suasana tegang perlahan mencair.
Di tempat lain seorang wanita berdiri dari jarak jauh. Wajahnya ditutupi cadar, matanya bulat bening, badannya langsing dan perhatianya masih terfokus ke arah pemotretan di sana. Terkadang ia melihat atau lebih mengawasi pergerakan anak kecil yang sedang bermain di bibir pantai. Membangun istana pasir yang tak jelas bentuknya.
Kalau anak itu tertawa dia juga akan tertawa kecil dari balik cadar, seakan di sana ada dirinya ikut membantu membuat istana pasir yang berkali-kali harus rusak gara-gara ombak. Sudut matanya berair, namun dengan segera ia usap.
"Ayo pergi, Maisa. Sebelum mereka sadar," ajak seorang pria, menghalangi pemandangan indah itu dengan tubuhnya.
"Baiklah ... Ali. Kita pergi," Ghumaisa mengangguk pelan, menundukkan kepala lalu berjalan lebih dulu.
Merasakan kehadiran istrinya, Ardian menoleh ke mana Ghumaisha pergi tadi. Untuk kesekian kali ia hanya senyuman getir, tak mungkin istrinya ada di sini. Menemuinya. Membuatnya kembali tak semudah membalikan telapak tangan.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Ghumaisha. Sampai kapan mau bersembunyi?" batin Ardian getir.
(Kau terlalu lama pergi, apa seperti ini menyiksa pria yang berdosa?
Bukankah ini tak adil?
Kenapa kau tak mencoba memaafkan? Dan mencoba kembali membangun rumah tangga. Kita bisa belajar dari kesalahan. Bisa, kan?
Kau tak akan menjawab, aku tahu itu.
Ini hanya bayangan saja)
***
Sepulangnya dari pemotretan seperti biasa ia membawa Jalal jalan-jalan. Memberikan apapun yang dia inginkan, meskipun sudah banyak permainan yang menumpuk di apartemen Ardian. Namun rasanya belum puas, selama anak kecil yang sudah dia anggap anaknya ini masih menginginkan hal lain. Sebagai seorang Ayah ia ingin memberikan terbaik.
"Kamu pilih mainan yang kamu suka," suruh Ardian semangat, membawanya ke tempat khusus permainan anak-anak.
Bukannya berlari mencari permainan, Jalal malah mematung di tempat seperti tak punya niat membeli.
"Ayah? Jalal punya banyak mainan di rumah ...," keluh anak itu selalu saja dibawa belanja. Padahal dia ingin seperti keluarga lain, memasak di rumah bersama orang tuanya dan itu tak bisa diharapkan dari Ardian yang tak bisa memasak sama sekali.
Ardian menggaruk-garuk tengkuknya. "Kalau begitu, bagaimana kita belanja baju saja?"
"Tidak."
"Celana?"
Jalal menggelengkan kepala dengan kesal, "Tidak!"
"Ah, pakaian dalammu?" tanyanya dengan berbisik.
Wajah anak itu menekuk. "Ayahhhhh ...."
"Dia hanya ingin keluarga utuh," ujar seorang wanita bersuara lembut nan menenangkan.
Suara ini?
Deg! Jantung Ardian berdebar mendengar suara yang sama persis seperti istrinya. Sepertinya dirasakan juga oleh Jalal, sampai dia langsung menghambur kepelukan wanita itu. Tak melihat dulu siapa yang dia peluk. Meluapkan rindu yang tertahan-tahan berbulan-bulan.
"Tante ...." Jalal memeluk kaki wanita itu erat.
Perlahan Ardian membalikkan badan, "Ghumais__" suaranya tercekat ketika wanita bercadarlah yang ia temui.
"Maisa, Tuan."
Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah akan menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hinaβ
(Abu Sulaiman Ad Daroni)
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar, π
Saran dan kritikannya di tunggu okhe π