
***
"Kau tahu, tapi pura-pura tak tahu. Akan sampai kapan menutup mata? Kau pikir malaikat tak mengawasi setiap gerak-gerik mu. Takutlah kepada Allah.
***
Ghumaisha membuka gorden, membiarkan cahaya mentari masuk kedalam kamar. Hingga pandangannya beralih kearah balkon. Senyum diwajahnya langsung memudar, ketika mengingat kejadian semalam saat ucapan Ardian lagi-lagi membuatnya sakit hati. Apa yang salah? Mungkinkah Ardian menyesal.
Tidak mau melihat balkon lagi, Ghumaisha menutupnya dengan gorden. Membalikkan badan, melangkah mendekati ranjang, kini hal menyakitkan kembali terasa menusuk hati.
Merasa kecewa, Ghu menarik seprei lalu melemparkannya ke lantai. Dia injak-injak seprei untuk meluapkan emosi yang tertahan dalam dada. Merasa percuma, Ghu menendangnya namun malah dia yang terpeleset .
"Brukkk!"
"Aww!" ringisnya mengusap-usap bokongnya sakit.
"Apa yang kau lakukan?" Ardian yang baru keluar kamar mandi, mengeryitkan keningnya heran.
"T-tidak, hanya ingin mengganti seprei saja," bohongnya gelagapan.
Ardian tersenyum kecut. "Kau berbohong kepada orang yang salah, sama saja seperti mencoba membodohi kancil. Bilang saja kau marah karena kejadian semalam, kan?" tebaknya. Ghu menegak ludah, baginya dia terlalu jujur membuat pipinya langsung merah padam.
"Tentu saja bukan!" elaknya, walau dalam hati mengakuinya.
Ardian mendekati Ghumaisha. Wanita itu sudah mengulurkan tangannya, berpikir suaminya ingin membantunya berdiri. Kenyataannya, tebakannya meleset jauh, dia malah mengambil seprei yang diinjak-injak nya tadi lalu memasukkannya kedalam keranjang cucian.
Bahu Ghu langsung turun seketika. "Sudah kuduga," batinnya, mengusap-usap dadanya sabar.
Sedangkan Ardian hanya terkekeh, melihat wajah kesal istrinya. Terkadang ia suka mengerjai Ghumaisha. Wajahnya selalu menggemaskan saat kesal, matanya yang bulat, bening membuatnya terlihat seperti boneka beruang.
"Gajah Eropa, kalau ada masalah bilang saja. Aku bukan orang pintar yang bisa menebak isi hati manusia. Jangan malah kau lampiaskan kepada barang-barang, itu malah membuatku bertanya. Apa kau masih waras atau tidak," kata Ardian diakhiri kekehan, melihat wajah Ghu kembali cemberut.
"Untuk kejadian semalam, aku hanya ingin mengungkapkan semuanya padamu. Mengingat perkataanmu saat aku pingsan, itu menjadi beban pikiranku beberapa menit ke depan. Kau memang berhak mencintai siapapun, Ghumaisha. Asal jangan mencintai antara Ali dan aku. Jika kau mencintai Ali seperti Tasya, pria itu benar-benar akan mati ditangan ku." Ardian tersenyum, bagai ucapannya tadi bukanlah hal besar. "Kau paham?"
Ghumaisha terdiam, sebenarnya ingin bertanya soal ucapan Ardian namun diurungkannya. Takut dia marah dan menjauh, lalu sikapnya berubah dingin. Tidak, Ghumaisha terlalu terbiasa dengan sikap suaminya, ia tak ingin pria itu berubah.
"Mau ikut tidak?" ajak Ardian sambil menggunakan jaketnya atau mungkin mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ghumaisha bagun dengan memegang pinggulnya yang sakit. "Tidak mau!" tolaknya langsung.
"Yakin? Aku akan jalan-jalan mencari oleh-oleh buat Oma. Kita juga harus berfoto bersama diberbagai tempat, sebagai bukti kalau kau masih hidup." Ucapnya, sambil melihat penampilannya di cermin, memastikan semuanya sudah sempurna.
"Mau tidak?" ajaknya lagi.
Ghumaisha menggelengkan kepala. Mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Ardian, membuatnya sedikit kapok bepergian bersamanya. Jangan lupa, saat kejadian di butik tempo lalu dan itu masih diingatnya sampai sekarang.
"Aku akan pergi sendiri saja," jawab Ghu.
Ardian mengangguk-angguk. "Baiklah ... kalau begitu aku tak jadi pergi." Putus Ardian, membuka jaketnya lalu dia gantung.
"Jangan tanya kenapa? Selain kau bertanya hal lain. Insya Allah, akan ku jawab kalau punya waktu." Kata Ardian, mendekati ranjang lalu membaringkan tubuhnya disana.
Ghumaisha hanya bisa geleng-geleng kepala. Adakah orang yang bisa menjelaskan karakter suaminya? Menjengkelkan, menyebalkan, romantis atau memang dia punya kelainan aneh. Terkadang dia bisa membuatnya sedih, jengkel dan marah. Emosinya benar-benar dicampur aduk setelah mengenal Ardian lebih jauh lagi.
"Kau tak ingin tidur?" tanya Ardian, menyisakan tempat kosong untuk istrinya.
Ghu mendelik, " tidak, terimakasih." Tolaknya. "Aku mau keluar untuk belanja dulu." Ijin Ghumaisha setelah mengambil beberapa uang di dompetnya.
"Kau ini meminta ijin atau memberitahu?" tanya Ardian memiringkan badan, melihat istrinya menoleh kemudian berucap dengan manisnya.
"Ya sudah, jangan lama-lama. Aku tak suka menunggu." Peringatnya sebelum matanya terpejam, kembali tidur.
***
Berusaha dan berdoa hanya itu yang bisa dilakukan Ghumaisha tatkala berharap agar bisa kurus. Mungkin dia juga sudah termasuk salah satu emak-emak pejuang kurus. Untuk terlihat menarik dan cantik didepan suami. Sebelumnya dia merasa biasa-biasa saja, tapi kalau sudah menikah jadi sedikit terganggu saat Ardian terus menghinanya dengan sebutan Gajah Eropa.
Di minimarket Ghumaisha sedang memilah-milah bahan makanan, mana yang boleh dan mana yang tidak. Dari artikel yang ia baca, untuk bisa kurus niatkan semuanya karena Allah, jangan lupa berpuasa sunah, minum air putih, makan secukupnya dan masih banyak lagi, membuat kepala menjadi pusing saat mengingatnya.
"Ah iya, aku tak boleh meminum jus kemasan disana banyak mengandung gula dan kalori. Ini juga tak boleh ... ini juga, yang itu juga, terus aku beli apa?" Ghumaisha menepuk dahi, merasa bingung sendiri.
"Assalamualaikum," salam seorang wanita.
Ghumaisha menoleh, tersentak mengetahui yang tadi bersuara adalah Tasya. Sejak kapan dia disini? Tanyanya dalam hati.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kak, Tasya? Sejak kapan disini?" tanya Ghu gugup.
__ADS_1
Tasya tersenyum, memperlihat belanjaannya kepada Ghumaisha. "Aku beli bahan makanan untuk membuat kueh. Hari ini Ali ulang tahu dan aku berniat merayakannya," serunya senang.
Ghumaisha memangut-mangut, tak heran bertemu Tasya di Pangandaran. Selama ada Ali maka disana juga ada Tasya.
"Tapi ... selama kutahu. Kak Ali, tak pernah merayakan ulang tahun," cicitnya pelan, mencoba memberitahu.
"Benarkah?" Tasya tersenyum tipis. "Sepertinya kau lebih tahu tentang Ali dibandingkan Kakak. Kalau begitu, kamu harus membantuku mencari makanan kesukaan Ali," perintahnya.
"Tapi aku mau pulang ... "
"Kau menolaknya," ujar Tasya kecewa.
"B-bukan begitu, hanya saja ada yang menungguku dirumah."
Tasya menghela napas, "baiklah ... " Ia membalikkan badan ingin pergi.
"Baiklah, kak! Tapi tak bisa lama ... " setuju Ghumaisha, disambut wajah cerah Tasya.
***
Mereka sampai di apartemen Tasya. Banyak foto-foto Ali di atas meja, bahkan hampir keseluruhannya adalah foto Ali. Bila pria itu tahu, mungkin akan marah dan bilang kalau Tasya belum berhak menyimpan fotonya dan melihatnya secara berlebihan.
"Jangan bilang Kak Ali, kalau kakak banyak menyimpan fotonya," ucap Tasya kembali membawa gelas di atas nampan.
Ghu mengangguk, "apa kak Ali tak pernah kesini? Kemarin aku bertemu dengannya di butiknya Jeny."
"Minumlah dulu, kita lanjutkan bicaranya nanti." Tasya menyodorkan minuman kearah Ghumaisha, dengan senang hati ia meminumnya sedikit. "Harus banyak. Kata orang teh sangat bagus untuk diet,"
Mata Ghu berbinar-binar, merasa diperhatikan. "Benarkah?" serunya semangat. Langsung meminumnya sampai habis.
Tasya mengulum senyum.
Bersambung ...
Sekedar info untuk orang yang mau diet he he
Penjelasan : Teh hijau itu bagus untuk memicu penurunan berat badan,
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya, kawan 👍
Kritik dan sarannya ditunggu 😉