
"Sesuai dengan tingkat cintamu kepada perempuan seperti itulah ia cemburu, karenanya, apa saja yang membuat perempuan menjadi gila karena cemburu, itu juga yang membuatnya gila karena cinta."
***
"Paman ...." Jalal yang sedari tadi bersembunyi, mengeluarkan diri.
"Tante," sambungnya gugup.
Ardian menghembuskan napas kasar. Mengusap gusar rambut ke belakang, kemudian menoleh. "Jalal! Masuk ke kamarmu dulu! Ada yang ingin Paman bicarakan kepada Tante!" perintahnya tegas. Sadar anak itu memperhatikan dengan muka sedih. Ia tak ingin namanya terkenang lebih buruk lagi dipikiran Jalal.
Bukanya pergi, Jalal malah berlari memeluk kaki Ardian. Sontak membuat pria itu terkejut. Emosinya luntur seketika, bagaikan api disiram air. Padam.
Pria itu membalikkan badan, darah di tangan masih menetes begitu pula di tangan sang istri, tetapi mereka memilih tak peduli.
Beberapa saat suasana berubah hening. Hanya deru napas berat yang terdengar diantara mereka.
"Paman. Jalal mohon. Jangan marahi Tante Ghumaisha lagi!" pintanya. Menangis. Memelas agar tak lagi membentak Ghumaisha.
Ardian mati kutu.
"Jalal, mohon, Paman ...."
".... Jalal, Paman tak memarahi Tantemu," jawabnya gagap. Ucapan anak itu benar-benar menohok hatinya.
Ardian berjongkok menatap netra hitamnya. Terdapat luka batin di sana, terlalu banyak sampai menjadikan Jalal pendiam. "Pergilah ke kamar, Jalal. Ada beberapa hal yang terjadi antara orang dewasa, dan kamu tak boleh mengetahuinya. Apalagi sampai mengupingnya diam-diam. Itu tak baik." Ia tersenyum tipis, mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Kepalanya menggeleng, "Ibu pernah bilang. Ayah selalu jahat kepada ibu, memukuli, menendang dan menguncinya di gudang. Jalal tak mau Paman melakukannya kepada Tante!" Jalal berlutut di kaki Ardian. Pria itu mundur, terkejut mendapat perlakuan darinya. "Jangan sakiti, Tante. Jalal mohon ...."pintanya lagi bersungguh-sungguh.
Ardian terpaku. Siapa anak di hadapannya ini? Dia bukan keluarga Ghumaisha, tetapi rela berlutut demi kebahagiaan istrinya. Hanya, karena sudah tak tahan melihat dia dalam luka yang berkelanjutan. Sedangkan dirinya? Bodoh!
"Jalal, kemarilah!" Ardian memeluk tubuh Jalal. Memberikan pelukan hangat seorang Ayah. "Maafkan Paman. Tolong maafkan, Pamanmu ini!" pelukannya semakin erat, takut Jalal juga ikut membencinya dan menjauh.
"Kau mau memaafkan, Paman, kan?" tanyanya penuh harap, menangkup wajah anak itu.
Jalal mengangguk membalas pelukan Ardian. Memeluknya senyaman mungkin. Pria itu tersenyum lega, mencium kening anak itu lama, mengucapkan terimakasih berkali-kali.
Tatapan Jalal tertuju pada Ghumaisha yang ikut melihat mereka dengan pandangan kosong. Depresinya kambuh dan ia tahu itu.
"Paman ... Tante Tasya jahat! Dia membuat Tante Ghumaisha gila," lirihnya dengan suara gemetar. Mengingat jelas perkataan wanita itu.
Kening Ardian mengeryit. Menatap Jalal heran. "Tasya? Apa maksudmu?"
Jalal menjelaskan semua kejadian dengan apa adanya, meskipun kata-katanya kurang dipahami tetapi Ardian dapat menyimpulkan. Tasya sudah berkata kasar kepada Istrinya sampai membuatnya seperti ini. Tanganya menggepal, emosi kembali menyeruak masuk ke dalam dada. Ingat akan teriakan Tasya saat istrinya pingsan. Ckk, harus ia panggil apa macan betina itu.
"Kamu jaga Tante dulu! Kotak P3K ada di atas meja, kamu bantu obati luka Tantemu. Paman ada urusan sebentar. Bila lama, berarti sekarang Paman ada di penjara," terang Ardian mati-matian menahan geram.
Meskipun tak paham, Jalal menganggukan kepala.
***
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Tasya, tak henti-hentinya pria itu mengumpat. Menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, tak mempedulikan klakson-klakson mobil yang berbunyi untuk memperingati.
__ADS_1
"Kali ini, aku tak akan membiarkanmu!"
Tak lama rumah Tasya terlihat. Rumah sederhana dengan halaman luas. Ardian turun dari mobil setelah memarkirkannya asal di halaman. Langkahnya tergesa-gesa.
Tanganya terangkat lalu menggedor-ngedor pintu berkali-kali, tak mempedulikan meski itu akan membuatnya rubuh sekalipun.
"Tasya! Keluar!" teriak Ardian semakin keras mengetuk pintu.
"Tasya!"
".... Keluar kau dari rumah!"
Pintu terbuka. Wanita cantik itu tampak datar menyambut kedatangan Ardian yang seenak jidatnya berteriak di depan pintu. Sungguh mengganggu kenyamanan orang.
"Masuklah!" suruhnya dingin. Membalikkan badan, menghiraukan Ardian yang menggeram kesal di sana.
Sedangkan Tasya sudah kembali duduk di kursi, sambil membaca Novel yang tadi tertunda. Di atas meja juga ada Al-Qur'an pemberian Ali.
"Aku tak mau berbasa-basi! Apa yang sudah kau katakan kepada istriku sampai membuatnya gila!" Ardian menggebrak meja. Emosinya meluap. Apalagi ketenangan Tasya semakin menambahnya saja. Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak melayangkan tamparan, karena memukul wanita sama saja menghina dirinya sendiri.
"Mengatakan hal sebenarnya," jawabnya tenang. Tak mengalihkan padangannya dari Novel.
"Kau wanita gila! DENGAR!" teriaknya menunjuk wajah Tasya. "Ibumu bahkan tak pernah mengajarkan kau menjadi wanita hina seperti ini! Lagian, apalagi yang kurang dalam hidupmu, bukankah Ali sudah kau dapatkan. Lalu untuk apa membuat Ghumaisha menderita?! Egois!" tambahnya berang.
Tasya menyimpan novel di atas meja. Balas menatap Ardian, "Dia mengganggu Ali, dan aku tak senang dengan itu. Apapun akan kulakukan demi mendapatkan hatinya, meski harus mengorbankan beberapa orang. Kau tahu sendiri, kan? Aku tak suka berbohong kepada kalian berdua. Ini alasan sebenarnya. Seandainya saja dia tak bermain api, aku tak akan seperti ini!"
"Dia tidak tahu apapun, Tasya! Hanya korban dari keegoisanmu! Menikah denganku sudah membuatnya menderita. Kau tambah dengan perkataan pedas! Kau memang tak punya hati!" Ardian berdecih, jengah akan tingkah Tasya. Waktunya mengakhiri semua drama.
"Bukankah kau menderita hidup bersamanya? Dia bukan wanita yang kau inginkan. Benar? Untuk apa kau lakukan semua ini. Biarkan dia seperti itu. Banyak wanita yang lebih baik dari Ghumaisha yang bisa kau jadikan istri. Aku tahu, dia jauh dari seleramu!" sambungnya.
"Dia istriku! Tak semuanya bisa dinilai dari fisik. Setidaknya dia bukan wanita munafik sepertimu!" tepis Ardian.
Wanita iitu tersenyum sinis, "Aku tak munafik, Ardian. Buktinya mengatakan semuanya padamu. Apa yang kau rasakan selama ini, hanya kukatakan semua pada dirinya. Kurang baik apa aku? Menyuruhnya segera meninggalkanmu karena kau tak akan pernah bisa mencintainya."
"Kau salah! Aku mencintainya!" sanggah Ardian tajam.
"Benarkan? Bagus kalau begitu. Kau dapatkan Ghumaisa dan aku mendapatkan Ali!" timpalnya mengangkat kedua bahu cuek. Tak merasa bersalah sama sekali.
Di tempat lain, Ali mengusap wajahnya kasar. Beberapa kali mengucapkan Istighfar mendengar perdebatan mereka berdua. Ia bersembunyi dibalik pintu, menunggu waktu tepat untuk keluar sampai semua kebenaran terungkap.
(Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid : 20)).
"Kalian sudah melampaui batas!"
Wanita itu terkejut, sama halnya dengan Ardian. Mereka tak tahu sejak kapan Ali bersembunyi dan mendengarkan perdebatan mereka.
"Ali?" lirih Tasya, mulai ketakutan.
"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Ardian, mencoba tenang.
Takut Ali marah, Tasya mendekatinya. "Ali! Kau jangan salah paham!" ucapnya, namun dia langsung menjaga jarak. Menatap keduanya kecewa.
__ADS_1
"Jalal sudah mengatakan semuanya padaku di telepon. Dari mulai ucapanmu, Tasya! dan penderitaan Ghumaisha selama ini!" lalu melihat Ardian yang tak berkutik. "Kalian anggap apa semua ini? Lelucon? Apa mempermainkan hidup seseorang adalah sebuah candaan yang menggelikan. Kau pikir Ghumaisha tak punya perasaan? Aku tahu dia! Sudahlah! Aku tak tahu jalan pikiran kalian berdua!"
Pria itu menghela napas, " Baiklah! Mulai hari ini pertunangan kita batal. Renungkan semua kesalahanmu!" Ali melepaskan cincin pertunangannya, memberikannya kepada Tasya.
"Ali! Kumohon jangan lakukan ini! Aku akan bunuh diri jika kau meninggalkanku!" Tasya memegang tangan Ali namun segera dia tepis.
"Cintamu padaku sudah melampaui batas, Tasya! Belajarlah dari Zulaikha bagaimana dia menemukan cinta yang memang lebih berhak dia cintai dan perjuangkan. Ini juga salahku, tetap mempertahankan hubungan yang seharusnya tidak terjadi sejak awal. Kau memulainya dengan kebohongan. Inilah hasil atas semua perlakuanmu kepada wanita malang itu."
"Kau milikku, Ali!"
"Tidak, Tasya. Dulu kau menghalangi niat baikku melamarnya dengan memfitnah Ghumaisha sudah bezinah. Kau tahu kepergianku ke Mesir hanya untuk menenangkan diri. Siang dan malam aku memikirkan perkataanmu, mengadukannya kepada sang pencipta agar menghilangkan perasaan dalam hati. Ini jawabannya. Aku tahu kenapa perasaanku belum hilang sampai sekarang, karena dia tak bersalah." Ali berucap getir, mengingat masa-masa terpuruknya dulu saat mendengar kabar Ghumaisha dan Adrian. Dibuktikan dengan ucapan Oma yang membenarkan, dan semua ini terjadi karena hasutan Tasya. Astagfirullah.
"Ali aku melakukan ini untukmu! Aku mencintaimu dari dulu. Mengorbankan apapun untuk mendapatkanmu. Kumohon jangan tinggalkan aku!" pintanya memelas. Tak memikirkan apapun selain Ali saja.
"Bagaimana kau mengatakan cinta padaku? Sedangkan dirimu tak tahu cara mencintai Tuhanmu? Ini bukan hanya untukmu saja, tetapi untuk kau juga, Ardian! Memohon ampunlah pada-Nya, jika ingin semuanya baik-baik saja," nasihat Ali, kemudian berlalu pergi. Ya Allah, entah berapa bulan lagi ia harus menata hatinya agar membaik.
Ardian yang menyetujui ucapan Ali hanya diam saja, menyadari kesalahan dan dosanya selama ini. Sedangkan Tasya sudah tertunduk di lantai, menggenggam cincin yang pernah diberikan Ali padanya. Menangis, mengutuk Ardian penyebab semua deritanya saat ini.
***
(Aku tak tahu apa yang mesti kulakukan, untuk menghadapi ujian yang datang bertubi-tubi.
Sempat kuberpikir, ini karena Aku mampu menghadapinya.
Semakin lama ... pertahananku mulai rubuh. Sedangkan orang-orang disekelilingku memilih tak peduli.)
Ghumaisha berdiri di jembatan, menatap lurus sungai yang mengalir deras di sana. Tanganya mencengkram pembatas besi. Ia tahu ini salah, tetapi sungguh ia sudah tak tahan lagi. Kata orang kesabaran tak ada batasnya, benarkah?
Perlahan ia menaiki satu-persatu pembatas besi. Tak ada ketakutan di sana, selain pasrah menerima nasib. Lupa, ada kehidupan lain yang menanti setelah ini.
"Maafkan aku ...." Ghumaisha memejamkan mata. Perlahan-lahan ia melepaskan pegangan tanganya.
Grep!
"Apa yang kau lakukan!" teriak seorang pria menjauhkan Ghumaisha dari jembatan.
"Ali?"
Mata pria itu berembun. "Sedetik saja aku telat, kau akan terbawa hanyut. Kau menderita Ghumaisha? Kenapa tak pernah mengatakannya padaku?" tuntutnya geram.
Ghumaisha diam.
"Ikutlah bersamaku, Ghu. Kita tinggalkan semuanya dan mulai membangun kehidupan baru. Aku akan menjagamu. Tak akan ada luka lagi, kau mau, kan?"
Bersambung ...
Jangan lupa like dan komentarnya 😘
Kritik dan saran di tunggu yah 🙏😄
Maaf telat post, banyak perlu revisi sana sini hihi 😅
__ADS_1