ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
DELAPAN


__ADS_3

Malam semakin larut. Mata pun sudah terkantuk-kantuk, tak bisa menahannya lagi Ghumaisha naik ke ranjang untuk tidur. Jangan tanyakan Ardian, dia sudah pergi ke alam mimpi. Entah mimpi apa, karena bibirnya senyam-senyum sendiri dari tadi. Benar-benar persis seperti orang gila.


Ghumaisha berbaring disebelah Ardian. Ditengah-tengah ada guling sebagai pembatas wilayah, khawatir pria cap gayung pasar itu akan melakukan macam-macam.


Merasa tak nyaman tidur, Ardian memiringkan badan jadi berhadapan dengan Ghumaisha. Tangannya terangkat lalu jatuh tepat di wajahnya, dan dengan susah payah juga Ghu memindahkan tangan Ardian. Sekarang kakinya terangkat, melilit layaknya ular ditubuhnya. Mulai jengah! Ghumaisha merubah posisinya jadi duduk.


Matanya mendelik kearah Ardian. "Sudah mendengkur! tak bisa diam. Selain bangun, saat tidurpun kau ini masih sama menyebalkannya," gerutunya kesal.


Setiap malam ia tak bisa tidur tenang gara-gara dengkuran Ardian, walau halus tetap saja mengganggu.


"Ardian! Berhentilah mendengkur," pinta Ghumaisha menggoyang-goyangkan badan Ardian.


Ardian menggeliat, beberapa detik berhenti mendengkur. Selanjutkan suara menyebalkan bin menganggu itu kembali terdengar.


Tidak bisa tidur, akhirnya Ghumaisha memilih membaringkan badannya di kursi. Dan ranjang sudah dikuasai sang musuh. Ardian berguling kesana-kemari mencari posisi nyaman, hingga ia mendapatkannya dengan sebelah kaki dan tangan kanannya menjuntai kebawah.


"Beginilah nasib istri yang malang ..." batin Ghumaisha getir, mengusap-usap dada sabar. Lalu memejamkan mata, ingin segera beralih ke alam mimpi.


***


Pagi harinya, Ardian terlihat fokus memilah-milah pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Jas bosan, kemeja juga sudah keseringan. Tak mendapat jawaban Ardian menggaruk-garuk belakang kepala. Ghumaisha yang sadar akan kebingungan suaminya memilih mendekat, melihat lemari pakaian dan membantunya mencarikan baju.


"Tumben mau bantuin. Biasanya cuek-cuek aja," sindir Ardian tak dipedulikan Ghumaisha. Dia mengambil baju putih dengan garis-garis kotak didada, akan terlihat bagus bila dipakai Ardian.


"Pakai yang ini saja. Akan cocok untukmu," katanya sambil menyodorkan baju kehadapan Ardian.


Ardian tampak berpikir, hingga memutusakan mengambilkannya." Emmzz. Selera bagus untuk anak kampungan sepertimu," ucapnya tenang.


"Tinggal bilang terimakasih. Apa susahnya, sih?!" gerutu Ghu kecil, dongkol juga lama-lama.


"Ini memang tugas istri. Lagian sebagai istri, harusnya kau ini membahagiakan suami. Dimulai menyiapkan pakaian, makanan, dandan dan mengurus rumah tangga. Karena kita belum punya anak, jadi kau harus merawatku dulu dengan sebaik mungkin." Jelas Ardian panjang lebar, hanya dibalas senyuman kecut Ghumaisha.


"Memang kau bayi harus dirawat." Cibirnya mengejek perkataan Ardian, dengan menggerak-gerakkan bibir.


Merasa gemas, Ardian mencubit bibir Ghumaisha." Kau ini ... diberitahu malah mengejek." Ghumaisha meringis, disambut gelak tawa Ardian.


"Mungkin aku akan pulang malam. Kau jangan menungguku," kata Ardian sambil memakai bajunya dihadapan Ghumaisha.


Ghumaisha mengeryitkan kening. " Memang mau kemana?" tanyanya penasaran.


"Aku mau pergi bersama Haila ke pasir putih. Kalau kau bosan, bunuh diri saja dari atas balkon." Sarannya terkekeh-kekeh.


Hati Ghu rasanya terbakar, namun sebisa mungkin dia menahannya dengan jawaban yang tentu berbanding terbalik dengan isi hatinya sekarang. "Aku masih punya otak. Kalau aku bunuh diri, bagaimana dengan jodohku nanti?"


Alis Ardian naik sebelah, menatap Ghu lekat-lekat. Hingga kembali bersuara, "Untuk apa menunggu jodoh? Sudah jelas, suamimu adalah aku." Katanya tersenyum.


"Aku yakin, ini ada kesalahpahaman. Tidak mungkin jodohku play boy cap dua kelinci sepertimu!" cetusnya.


"Owh, jangan sampai aku menyebutmu Istri durhaka dan mengutukmu jadi patung pancoran." Timpal Ardian menyipitkan matanya tajam.


Ghumaisha tersenyum paksa. "Iya, Ardian."


"Bagus, untuk kejadian kemarin aku benar-benar minta maaf. Tapi memintamu menjauhi Ali, itu masih berlaku sampai sekarang."


"Iya." Untuk yang terakhir, Ghumaisha menjawabnya setengah hati tak bisa janji kalau bertemu Ali bisa menghindar.


***


Seperti janjinya kepada Haila tadi malam lewat WA, mereka akan bertemu di Caffe. Ardian melangkahkan kakinya memasuki Caffe yang berlokasi di pantai Pangandaran.

__ADS_1


Seorang wanita cantik berambut panjang melambaikan tangannya kepada Ardian. Dengan langkah berwibawa dia mendekati meja lalu duduk berhadapan dengan Haila. Mata wanita itu berbinar-binar, mengagumi ketampanan Ardian. Hah ... seandainya Adonia tak menyukai Ardian sudah pasti ia akan merebutnya sekarang juga.


"Mau pesan apa?" tanya Haila melihat daftar menu.


"Terserah mu saja."


"Baiklah. Kau minum?"


Ardian menggeleng. Haila cengo, tak menyangka pria dianggap play boy itu tak pernah minum. "Kenapa? Itu menyenangkan dan akan membuat pikiranmu menjadi tenang."


"Ada banyak cara membuat pikiran tenang. Tak perlu dengan minum."


Kepalanya memangut-mangut. Kemudian berucap pasrah, "Oke ... tak masalah. Aku akan pesankan dulu." Haila beranjak dari kursi untuk memesan.


Ardian mengambil napas, mengeluarkan handphone dari saku celana. Merasa bosan, dia membuka WA lalu mengangkat handphone dan bergaya sok cool. Sudah bagus, dia kirim kepada sang Istri.


#Ardian


Baru sadar gue tampan. Lo harusnya kesini dan lihat bagaimana respon orang-orang saat melihat gue ;-)


Menunggu beberapa menit akhirnya Ghumaisha membuka pesan. Ada bacaan sedang mengetik tapi anehnya tidak muncul-muncul. Sepanjang apa dia mengetik pesan untuknya?


Ting


Dengan semangat Ardian membuka pesan.


#GARO(Gajah Eropa)


Owh.


"Cuman OWH doang?!" pekiknya tak percaya, memandang layar ponsel dengan kesal.


#Ardian


#Garo


"Udah tahu."


#Ardian


"Nggak jadi pulangnya besok aja. Lo jangan ngadu Oma!"


#Garo


Iya.


#Ardian


"Lo lagi sariawan, yah?"


#Garo


"Nggak."


#Ardian


"\=_\="


Setelahnya hanya tanda ceklis biru dua dari Ghumaisha, tanpa ada balasan. Ardian menyimpan ponsel di atas meja dengan jengkel. Berdecak tak percaya, bisa diperlakukan sedingin itu oleh Gajah Eropa. Ternyata begini rasanya dicuekin cewek, nggak enak!

__ADS_1


Tak lama Haila kembali membawa makanan dan minuman. Tanpa banyak bicara ia mengambil lemon tea, lalu meminumnya sedikit. Keningnya mengeryit, merasakan rasa tak biasa.


"Alkohol ... kau mencampurkan alkohol kepada minumanku?" tanya Ardian menyimpan minumannya di atas meja dengan kasar.


Haila terhenyak. "Tidak. Mungkin hanya perasaanmu saja," jawabnya berkelit. Walau sebenarnya tadi ia memberikan alkohol dengan campuran obat bius berjenis depresan.


"Jawab dengan jujur! Kau masukan apalagi selain alkohol!" Ardian mengebrak meja. Semua pengunjung langsung menoleh kepada mereka.


Haila gelagapan.


"Jawab, Haila!"


"Depresan." Haila menjawab takut.


Bola mata Ardian membulat sempurna. Ia segera beranjak dari kursi dan memilih pergi, memasuki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi. Obat depresan, terutama obat penenang, dapat digunakan untuk membius minuman. Obat ini biasanya digunakan untuk membuat tubuh lemas atau membantu seseorang tertidur.


"Aku harus segera pulang kerumah sebelum 30 menit. Kecuali bila memang ingin mabuk dan pingsan dijalan." Gumam Ardian, ia benar-benar menyesal bertemu dengan Haila." Wanita kurang ajar!" umpatnya, memukul setir mobil.


***


Didalam kamar hotel, Ghumaisha sedang membaca buku tentang rumah tangga. Mengingat merasa tersindir akan ucapan ardian tadi pagi. Walau dia tak menyukai pria itu, bukan berarti dia ingin menjadi istri durhaka.


"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu (suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kamu,” (QS. Ath Thalaaq: 6)."


Kepala Ghu memangut-mangut, membaca terjemahan ayat Al-Qur'an.


“Sebaik-baik istri ialah yang menyenangkan jika engkau (suami) melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi,” (HR. ath-Thabrani).


"Sepertinya aku lebih sering membuatnya kesal daripada senang." Batin Ghumaisha menimang-nimang, mengingat mereka lebih banyak berdebat daripada romantis-romantisan.


Tok tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar terdengar beberapa kali. Ghu menyimpan buku di atas meja, lalu beranjak dari kursi dan melangkah ke arah pintu. Dengan bismillah, setelah memutar kunci ia menarik handle pintu kedalam.


Dihadapannya seorang pria terlihat berdiri dengan lunglai. Sadar itu suaminya, wajah Ghu langsung mengguratkan kecemasan.


"Ardian?! Kenapa denganmu?" tanyanya panik, melihat tubuh Ardian akan ambruk kelantai.


"Bantu aku kekamar." Pintanya lirih.


Ghu mengangguk, melingkarkan tangan Ardian pada pundaknya. Membantunya berjalan menyusuri ruang tamu dan akhirnya memasuki kamar. Ia membaringkan tubuh Ardian di ranjang, membuka sepatu dan kaos kaki lalu disimpannya di lantai.


"Ada apa denganmu?" tanya Ghu, menempelkan punggung tangannya di atas kening Ardian.


"Haila memberikanku obat bius dan alkohol."


"Apa?! Obat bius akan semakin kuat bila ditambah alkohol. Kau bisa pingsan hampir 8 jam." Ghumaisha tambah panik. "Tunggu sebentar, aku ambilkan air putih dulu."


Mata Ardian perlahan terpejam, bersamaan dengan Ghumaisha yang kembali sambil membawa segelas air putih. Melihat Ardian sudah terlelap, ia menyimpan gelas di atas nakas. Kemudian duduk di pinggiran ranjang, perlahan tangannya terulur mengusap-usap rambut Ardian.


"Ardian, kau sudah tidur?" tanya Ghumaisha, tapi tak mendapat respon dari Ardian


Ghumaisha mengambil napas berat. "Entah kenapa, aku merasakan kalau kau memang sedang menyakiti dirimu sendiri. Kau seperti ingin balas dendam, tetapi ke pada siapa? Aku tak tahu luka apa yang tengah kau hadapi sekarang Ardian," ucap Ghumaisha, ingat perkataan Tasya tentang Ardian yang sakit hati. Lalu penjelasan ayat suci Al-Qur'an akan tugas-tugas seorang istri.


"Huh ... aku masih jauh dari kata sempurna. Seandainya kau menerimaku apa adanya, mungkin aku akan lebih percaya diri untuk menunjukkan kalau aku bisa menjadi istri baik dengan segala kekurangan fisik yang kupunya." Kepala Ghu menunduk, merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


Dibalik matanya yang terpejam, Ardian tersenyum hambar, meski itu tak disadari Ghumaisha. Kepalanya memang pusing tetapi tak cukup kuat untuk membuatnya pingsan, karena tadi ia cuman meminumnya sedikit .


"Jadi, kau ingin menjadi istri sesungguhnya?" tanya Ardian tersenyum penuh arti. Ghumaisha tersentak, bagaimana bisa dia bangun?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2