
#My_Big_Wife_100_Kg
"Apa salahnya, jika dirimu berikan aku kesempatan kedua? Bukankah Allah selalu memberi kesempatan bagi setiap hambanya untuk berubah. Dan kau, kenapa sebagai hamba tak memberikannya, Ghumaisha? Istriku, kau tak sesombong itu."
***
Hening. Ardian termenung akan perkataan istrinya. Antara percaya dan tidak. Berharap tadi hanya salah dengar saja. Semoga semuanya tak benar. Namun ... kenyataanya justru pahit.
"Ceraikan aku, Ardian ...." pintanya untuk kedua kali. Meyakinkan dirinya, kalau telinganya memang tak bermasalah.
Jalal menundukan kepala. Kecewa. Selama ini, tak pernah menginginkan hubungan keduanya sama seperti orang tuanya di rumah. Kandas di tengah jalan. Ia selalu dibuat terheran-heran dengan jalan pemikiran orang dewasa. Kenapa mereka menikah jika akhirnya bercerai?
Sedangkan Ardian terpaku saat mendengar permintaan istrinya. Biasanya ia dengan mudah menolak, tetapi sekarang terasa berat. Sulit mengeluarkan sepatah katapun untuknya. Mungkin karena dirinya sadar sudah berapa banyak dosa yang telah diperbuatnya selama ini.
Masihkah, ia punya muka untuk meminta istrinya tetap bertahan di sisinya.
Tidak! Ardian tak akan sanggup jika mereka menjauh.
Ia menggelengkan kepala, "Aku tak bisa, Ghumaisha. Kumohon jangan pergi saat aku sudah menyadari semuanya. Beri aku kesempatan, jangan jadikan aku suami yang dilumuri dosa. Tolong .... maaf-kan aku." Ia menggenggam tangan istrinya, mencium punggung tanganya lama. Menangis. Kepercayaan dirinya runtuh seketika.
Sedangkan Ghumaisha enggan menoleh, untuk sekadar melihatnya saja.
Ia menarik tangannya. Pegangan lembut Ardian terasa seperti cambuk. Menyakitinya semakin dalam. Mengingat, Tasya pernah mengatakan kalau ia adalah musibah bagi kehidupan suaminya. Terus untuk apa dia meminta hubungan ini tetap dilanjutkan?
"Cukup lama aku menjadi wanita bodoh, Ardian. Kau perlu tahu? Berapa banyak luka yang mesti kutanggung selama ini. Mungkin ... aku sudah termasuk wanita paling menyedihkan di dunia. Sudah tahu dipermainkan, masih saja bertahan. Ckk." Wanita itu berdecak, menertawakan dirinya sendiri.
"Ghu, maafkan___"
Dengan cepat Ghumaisha memotong ucapannya. "Sekarang kau meminta maaf, Ardian! Berharap hubungan kita dipertahankan. Bagaimana bisa? Sedangkan aku tak sanggup melihat wajahmu. Aku musibah, Ardian, hanya musibah." lirih Ghumaisha, melempar pandangan ke arah lain. Air matanya habis untuk menangis, rasa ibanya sudah hancur menginggat perkataan Tasya. Jika pun sekarang dia melihat Ardian, ujung-ujung ia akan berteriak, mengusir pria itu dari hadapanya.
"Dan tolong pergi dari sini!" sambungnya dingin.
Ardian menarik napas berat, mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan bekas air mata di sana. Ini bukan dirinya. Ardian sadar akan hal itu, bahkan ini lebih menyakitkan saat Tasya memutuskan memilih bersama Ali. Kenapa penyesalah harus diakhir? Kenapa menyadari kehadiran Ghumaisha harus saat dia meminta pergi.
"Kau bukan musibah Ghumaisha! Kau istriku. Kau dengar, kan?!" sergah Ardian penuh penekanan. "Jadi, berhenti mengatakan dirimu musibah! Kau bukanlah bencana!"
"Aku musibah, Ardian!" timpalnya getir.
"GHUMAISHA!"
"Aku musibah! Wanita tak berguna! Aku tak sempurna! Tinggalkan aku ... kumohon tinggalkan aku, sekarang! " tangan Ghumaisha bergetar, matanya terpejam, napasnya tak beraturan. Hatinya semakin tersiksa.
Ardian menggeram. "Berapa kalikah harus kukatakan! Aku tak akan bisa melepaskanmu, Ghumaisha! Suka atau tidak sukanya dirimu! Kau tak boleh pergi. Bukankah sudah kukatakan dulu, kalau aku tak akan pernah menceraikanmu, meski kau memelas dan memohon-mohon. Keputusanku tetap sama, tak akan ada perceraian diantara kita!" Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Ingin pergi, setelah menegaskan kata-kata yang tak bisa dibantah. Karena sampai kapanpun, pernikahan mereka takkan dibawa ke meja hijau.
"Sampai kapan?"
Langkanya terhenti di ambang pintu, mendengar perkataan getir dari istrinya. "Aku menderita, Ardian. Hidupku hancur! Kehadiranku hanya musibah bagimu! Jangan membuatnya semakin buruk dengan egomu. Lepaskan aku, biarkan hidupku seperti ini. Sendirian. Aku sudah terbiasa, tak akan mati meski harus kehilangan suami."
"Tapi aku yang mati, Ghumaisa!"
Napas Ghumaisha tercekat, tanganya saling bertautan, air mata merembes ke luar. Tetapi enggan melihat Ardian di sana, sepertinya pria itu pun sudah tak lagi mengharapkan dapat di lihat.
Untuk kesekian kali, Ghu merasakan cinta telah mempermainkan hidupnya. Tolong hentikan! Bertahun-tahun dalam kebodohan rasanya itu cukup. Jangan menambahnya lagi, ia takut benar-benar akan gila.
__ADS_1
"Jadi, jangan meminta perpisahan lagi. Kalau kau tak ingin melihatku mati."
Setelah mengatakan itu Ardian keluar dari ruangan. Tak peduli meski keadaan istrinya semakin terpuruk di dalam, menghiraukan permintaanya dan memilih membiarkan pernikahannya terombang-ambing di lautan lepas. Sampai mereka menemukan tempat berlabuh dan itu kebersamaan, bukan perpisahaan.
Kepala Ghumaisha tertunduk, "Aku musibah, Ardian! Musibah!" berulang kali ia megucapkan hal sama.
Jalal memeluk tubuh gempal Tantenya. Menangis, tak tahu apa yang mesti dilakukan untuk membantunya.
***
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Ardian membawa Ghumaisha pulang. Bukan ke rumah melainkan membawanya ke apartemen miliknya yang sudah satu bulan tidak ia tempati.
Semua ini adalah hasil kerjanya sebagai fotografer, hingga bisa membeli apartemen sederhana. Walaupun begitu, ini membuat pria itu nyaman. Setidaknya dia punya hasil dari kerja kerasnya sendiri, tak terlalu bergantung kepada orang tua. Meski ia bekerja sembunyi-bunyi di kantor sang Ayah, menyamarkan nama dengan Ian, tentu dengan bantuan orang dalam.
Kepindahannya ke apartemen baru tak membuat hati Ghumaisha luluh. Dia sudah membeku, tak ada lagi senyuman, hanya tangis yang terdengar di telinga Ardian ketika dia terbangun di tengah malam. Mengadukan setiap kesakitannya kepada Rabb-nya.
Tersiksakah engkau bersamaku, Ghumaisa? Batin Ardian, setiap kali ia terbangun oleh doa sang istri. Seakan-akan sudah ada yang membangunkan dan mencoba menyadarkan.
"Lihat, Ardian?! Ini hasil yang telah kau lakukan pada wanita malang itu. Dia menderita, tersiksa batinnya saat mengingat setiap kenangannya bersamamu. Adakah kau membuatnya bahagia walau semenit? Tentu tidak, setiap harinya kau berikan dia derita. Tetapi kau memilih menutup telinga. Dan sekarang, kau memaksanya untuk tetap di sisimu? Egois sekali dirimu"
Ardian menangis dalam diam, tak ingin sampai istrinya tahu betapa ia menderita atas kesalahannya selama ini. Maafkan aku, Ghumaisha.
Hari-hari Ardian lalui dengan kehampaan. Ghumaisha tak ingin lagi bicara padanya. Kerjaanya hanya mengurus rumah tangga, Jalal, lalu keperluan dirinya. Memposisikan dirinya seperti pembantu rumah tangga. Jika memecahkan gelas, ia akan memukul tangannya sendiri. Sungguh, Ardian merasa kehilangan sesosok istrinya dulu. Siapapun! Tolong! Bawa Ghumaisa-nya kembali!
"Sampai kapan kau seperti ini, Ghumaisha? Mendiamkanku dan berlaku seolah-olah kau seorang pembantu. Aku lelah. Jangan buat diriku semakin bersalah," ucap Ardian menghentikan langkah istrinya di dapur.
Ghumaisha terdiam, memalingkan wajah ke arah lain.
"Lihat aku, Ghu?"
"Apa kau ingin terus seperti ini? Tak bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi. Menyusun setiap kenangan untuk hari tua kita nanti. Bukankah dulu kau mudah memaafkan orang, punya kesabaran tingkat tinggi, dan gampang melupakan setiap masalah. Lakukan itu untukku, Ghu. Beri aku kesempatan ...." pinta Ardian, entah sudah keberapa kalinya.
"Ceraikan aku, hanya itu yang kumau. Bisa kau kabulkan?" sahut Ghumaisha dingin.
Perlahan pria itu menarik tangannya dari pundak Ghumaisha. "Tidak, Ghumaisha! Aku tak bisa! Lebih baik kau seperti ini! Aku tak sanggup melepaskanmu, sampai kapanpun!" kukuhnya, tetap dalam pendirian. Setelahnya meninggalkan Ghumaisha.
Tanpa Ardian sadar, Ghumaisha menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar. Sampai kapan ia harus makan hati bila terus bersamanya. Tidakkah dia sadar? Setiap kali melihatnya, mengingatkanya akan semua kenangan buruk. Termasuk ucapan Tasya.
"Aku musibah, Ardian!" lirih Ghumaisha.
"Tante?"
Ghumaisha menoleh, di belakang berdiri Jalal. Dia memakai baju koko putih, dengan sarung bewarna hitam.
"Kemarilah," panggilnya tersenyum lembut.
Jalal mendekat, memeluk tubuh Ghumaisha erat. Setelah ditinggalkan ibunya, cuman Ardian dan wanita gempal di depannya ini keluarga satu-satunya.
"Jalal kamu bisa tertawa?" tanya Ghumaisha melepaskan pelukan. Menatap netra hitam anak tampan itu.
Kepala Jalal menggeleng.
"Aku ingin kamu selalu bahagia, Jalal. Bolehkan Tante meminta sesuatu? Jika tante pergi nanti ... buatlah Paman tersenyum. Kamu, paham?" Ghumaisha menangkup pipi Jalal. "Kamu bisa?" ulangnya lagi penuh permohonan.
__ADS_1
"Aku benci Paman!"
"Tidak, Sayang ... dialah yang akan menjadi Ayahmu nanti."
"Tante, tak boleh pergi!"
Ghumaisha tersenyum getir, tak mampu menjawab perkataan Jalal.
***
Prank!
Suara pecahan beling terdengar dari arah dapur. Tangan Ghumaisha kembali bergetar. Saat hinaan, tawa dan cibiran orang-orang kembali mengganggu pendengaran. Berkeliling di sekitarnya mencoba mencomooh dirinya masih bertahan di sisi Ardian.
"Astagfirullah!" Ghumaisha berpegangan pada meja dapur, badannya lemas, kepalanya tertunduk. Dalam hati tak henti-hentinya beristigfar.
Tak mau mendengarkan suara-suara itu lagi, Ghumaisha mengalihkannya dengan membereskan pecahan beling.
Namun pertahannya rubuh, saat suara Tasya terdengar. Musibah! Tanpa sadar Ghumaisa menggenggam beling di tangan, menyalurkan emosi di sana. Jari-jarinya berdarah, tetapi sama sekali tak dia pedulikan.
Dalam hati mulai mengutuki dirinya sebagai musibah dari Ardian. Ucapan Tasya masih terus terdengar sampai sekarang. Menyiksa batin, membuatnya tak bisa melakukan apapun dengan benar.
"Aku hanya musibah bagi hidupnya, hanya musibah!" Ghumaisha terus mengulang-ulang perkataanya.
Luka di jari Ghumaisha kian melebar, beling-beling di tanganya bersusulan membuat tanda di telapak tangan. Darah-darah menetes ke lantai.
Sampai seseorang memegang pergelangan tangannya, memindahkan beling berdarah ke pada genggamannya, membuat telapak tangannya ikut terluka.
"Kau menyakiti dirimu sendiri, Ghumaisha. Berhentilah bersikap seperti ini ... kumohon!" pinta Ardian tak tahan lagi menghadapi sikap istrinya. Membiarkan darahnya berjatuhan, menyatu dengan darah Istrinya di lantai.
"Aku musibah!" lagi, hanya itu jawaban Ghumaisha saat bicara padanya. Jika tak cerai, maka musibah. Apa hanya kepada-Nya dan Jalal istrinya bisa bersikap normal. "Aku musibah, Ardian! Hanya musibah!"
Mata Ardian terpejam, menahan tangis. Sampai kembali matanya terbuka, menatap istrinya sendu.
"Aku ingin dirimu yang dulu, Ghumaisha! Harus berapa kalikah kukatakan, kau bukan musibah! Kau istriku! Dengar? Wanita di depanku ini adalah istriku!" terang Ardian setengah membentak.
Ghumaisha menutup kedua telinganya dengan tangan. "Tidak! Aku musibah, hanya musibah!" teriaknya dengan suara gemetar.
Jengah, Ardian menendang udara kosong.
"Siapa yang mengatakanmu, MUSIBAH! JAWAB!" bentak Ardian. Karena setiap kali bertatapan muka denganya, Ghumaisha terus menyebutkan kata musibah.
Tubuh Ghumaisha bergetar, kembali mengingat ucapan-ucapan Tasya. Di mata Ardian, melihat kondisi istrinya sekarang tak jauh berbeda dengan orang-orang yang sering ada di rumah sakit jiwa.
Mungkin istrinya akan bersikap seperti ini, jika melihatnya saja. Dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
"Paman ...." Jalal yang sedari tadi bersembunyi, mengeluarkan diri.
"Tante," sambungnya gugup.
Bersambung ....
Jangan lupa kritik kan dan sarannya 😁
__ADS_1
Like dan komentar di tunggu yah kawan 😉