
***
(Ketika kita mencintai, perasaan kita akan merasakan ketakutan; takut kehilangan, takut perpisahan dan takut berbagi. Pujangga Arab)
***
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Happy Reading kawan :)
***
Sejenak pria itu tenggelam dalam pikiran dan masih terhanyut pada suara lembut wanita di depannya. Berharap kalau dia adalah Ghumaisha, istri yang sudah dia tunggu juga dirindukannya berbulan-bulan. Beberapa kali ia tepis prasangka dalam hati, namun ada penolakan di sana. Ya Allah.
"Tuan?" wanita itu kembali bersuara, menarik Ardian dari lamunan panjang.
Ia menghembuskan napas berat, menarik tubuh Jalal agar tak memeluk wanita tak dikenalnya.
"Dia bukan Ibumu, Jalal. Kemarilah,"
Kepalanya menggeleng-geleng. "Aku tak mau, Ayah!" enggan melepaskan pelukannya dari kaki wanita itu.
"Jalal. Kemari." Ardian menarik paksa tubuh Jalal.
Anak itu protes bahkan hampir menangis, sebisa mungkin ia menegurnya secara perlahan. Sampai akhirnya membentak membuat Jalal langsung bungkam. Itu lebih baik.
Ada rasa getir dalam hati Ghumaisha saat pria itu mengatakan kalau ia bukanlah Ibunya, ingin meralat dan menegaskan kalau wanita itu dirinya. Namun suaranya tercekat di kerongkongan, masih belum bisa jujur dengan keadaan sebenarnya. Belum pulih sepenuhnya dari trauma masa lalu.
"Maaf atas tingkah Anakku tadi. Dia merindukan Ibunya, jadi kalau ada suara yang mirip dengannya dia akan bersikap seperti ini." Ardian tersenyum getir, mencurahkan isi hati kepada wanita yang baru ditemuinya tadi. Aneh.
"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu siapa nama Anda?" tanyanya kemudian, menepis rasa sakit dalam dada.
"Maisha Tuan. Tadi saya sudah memperkenalkan diri, setelah Anda menyebut saya dengan nama orang lain,"
Pria itu tersenyum hambar, "Ah, saya lupa. Maaf." Ardian menundukkan kepala merasa bersalah. "Kalau begitu kami pergi dulu."
"Tuan?" cegah Ghumaisha, tak membiarkan Ardian pergi. Dia pun heran sendiri, hanya sekadar mengikuti keinginan hati saja.
"Ya, Nona? Bisa saya bantu?" Ardian langsung membalikkan badan. Dadanya berdebar setiap kali mendengar suara itu.
Ghumaisha mati kutu. Bingung apa yang mau dibicarakannya lagi.
Alasan ia di sini juga karena mengikuti mereka berdua. Sudah berhari-hari ia menjadi paparazi terkadang sendirian atau ditemani Ali bila dia tak sibuk. Mengambil foto mereka diam-diam, lalu memandangnya dalam keheningan malam.
Jika ia hadir, maka Ardian selalu merasakannya. Membuat Ali selalu mewanti-wanti agar berhati-hati karena insting Ardian kuat untuk cepat menyadari kalau selama ini istri-nya tengah mengawasinya dari jauh. Hanya sekarang, dia mau memberanikan diri menghampiri mereka. Tak kuat lagi menahan gejolak rindu kepada Jalal.
"Sepertinya, Nona yang melamun sekarang?"
Setelah sekian lamanya Ardian bisa tersenyum tulus, karena wanita itu malah membisu menatapnya lurus.
Dengan segera Ghumaisha menundukan kepala. Kikuk. "Maaf'kan ketidak sopanan Saya!"
__ADS_1
"Tidak papa."
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Ti-dak ada Tuan!"
Antara heran dan bingung, akhirnya ia hanya membalas dengan anggukan kecil.
"Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Ardian untuk kedua kali. Dan ia tak menahan kepergian lelaki itu.
Mereka berpisah dengan senyuman kecil, sedikit mengobati rindu yang selama ini menyiksa. Walaupun Ardian tak tahu alasan ia bahagia. Berbanding terbalik dengan Ghumaisha, tahu pasti kenapa dadanya terasa lapang saat beban yang menyiksanya sudah menghilang. Itu karena mereka.
***
Sesampainya di rumah, Ghumaisha membuka album foto yang dia kumpulkan selama ini. Kebanyakan foto Jalal, hanya ada beberapa foto suaminya yang tak sengaja ikut terambil. Jika dulu dia akan merobeknya, sekarang malah mengaguminya.
Tersenyum sendirian di dalam kamar, tanpa ada orang yang tahu kalau wanita itu kini sudah kembali.
Perlahan traumanya dulu mulai membaik, mungkin sudah hilang seutuhnya. Buktinya bisa bertemu dengan sang suami. Mengingat masa lalu, pun tak membuat dirinya tepukul. Berbulan-bulan mengobati diri akhirnya membuahkan hasil.
Ia sempat heran saat Ali membawanya ke seorang Psikolog, namun saat dia menjelaskan itu untuk kebaikan dirinya dan keluarga. Pada akhirnya ia setuju.
Selama ini, ia menderita Depresi Kronis. Merasa bosan karena merasakan depresi sepanjang saat. Terjadi dalam bentuk siklus. Rasa depresi itu akan hilang dalam waktu tertentu dan akan kembali lagi. Siklusnya bisa diprediksi kapan depresi itu akan hilang dan kembali lagi. Orang yang mengalami depresi jenis ini akan merasakan bergulat seumur hidup dengan depresinya karena terus datang dan pergi.
"Kau menemui suamimu?"
Seorang wanita berpakaian jas putih memasuki kamar Ghumaisha, lalu duduk di sisinya sambil merebut album foto itu.
"Ternyata sudah pulih, walaupun masih ada rasa sakit hati ketika mengenang masa lalu. Huh. Setidaknya tak seburuk dulu." sambungnya tersenyum tipis.
"Merasa sakit hati itu wajar, karena manusia pasti akan mengalaminya. Cuman tergantung kita sendiri, mampu menerimanya atau tidak. Bisa memaafkan-nya atau malah memenjarakannya menjadi dendam dan akhirnya depresi berkepanjangan. Semua tergantung pada diri sendiri, saat hatimu diselimuti rasa ikhlas. Insyaallah akan baik-baik saja." Seperti biasanya Dokter Coco selalu dewasa, penjelasannya selalu membuat hati merasa lega.
"Sekarang aku percaya kau seorang Psikolog."
Dokter Coco tertawa mendengar perkataan Ghumaisha tadi.
"Setiap orang pasti punya masalah kawan, namun sekali lagi kukatakan. Hadapi semuanya, hadapi, dan hadapi. Jangan lemah, walaupun ujian datang bertubi-tubi. Percayalah ada hikmah dibalik itu semua. Allah tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya. Allah maha penyayang, dan kau tahu itu'kan?"
"Ya, aku tahu." Ghumaisha menganggukan kepala setuju.
"Waktunya kau kembali ke rumah. Apalagi badanmu sudah kurus sekarang, ditambah memakai cadar. Percaya padaku dia tak mengenalimu sama sekali." ucap Dokter Coco menyenggol bahunya.
Ghumaisha tergelak menyetujui ucapannya. Dokter Coco memang selalu tahu apa yang dirasakan seseorang, namun dia sendiri menyimpan luka akibat ditinggalkan calon suaminya pas hari pernikahan. Sampai sekarang dia belum mau membuka hati, sampai berkali-kali dia menjodohkannya dengan Ali. Tetapi dia tetap tak mau.
"Bisa memberikan saran kepada orang, namun tak bisa memakai untuk dirinya sendiri." Itu kata yang sering diucapakannya.
***
Dua hari kemudian, Ghumaisha memberanikan diri untuk mendatangi kediaman Ardian di apartemennya.
Sempat ragu, apalagi ini sudah berbulan-bulan dia meninggalkan pria itu. Namun keyakinannya lebih kuat, merasa tak baik kalau terus menjauhi suami sedangkan dirinya sudah paham betul semua hukum-hukum dan tugas seorang istri. Tepatnya saat Dokter Coco mengajarkan dan merangkulnya lebih erat untuk semakin dekat kepada yang maha kuasa. Lagian, Insyaallah dia sudah sembuh benar.
__ADS_1
"Bismillah!" Ghumaisha mengambil napas, tanganya terangkat lalu mengetuk-ngetuk pintu.
Beberapa menit belum ada sahutan dari dalam, jantungnya semakin berdebar-debar. Tegang. Semua perasaan campur aduk. Rasanya ingin berlari saja, namun sebisa mungkin ia tahan. Tak lama pintu apartemen terbuka, mengeluarkan sorang pria berwajah rupawan.
Dia menyipitkan mata, menyelidik, sampai senyuman hangat muncul dari bibirnya membuat Ghumaisha dibuat salting.
"Nona Maisa, kan?" tunjuknya mengingat-ingat.
Ghumaisha gelagapan. Menyesal mengenalkan diri sebagai Maisha bukannya Ghumaisha. Membenarkan perkataan Dokter Coco kalau Ardian tak akan mengenali, meskipun ini kedua kalinya mereka bertemu.
"Apa Nona mau mengatakan sesuatu?" tanya Ardian karena dia tak menjawab.
"Gajah, gendut, boneka Chuky, mata bulat." Ghumaisha bergumam tak jelas, memberikan kode agar dia sadar kalau ini adalah istrinya.
"Gajah?" Ardian tampak berpikir. "Apa Nona mau ke kebun binatang?" tebaknya.
Kepala Ghumaisha menggeleng. Dia terlalu malu untuk mengakui semuanya. Sadar bukan satu hari dia meninggalkan pria itu.
"Trus?"
"Se-be-nar-nya ...,"
Ucapannya terhenti. Telapak tanganya berkeringat dingin, napasnya tak teratur. Perkataanya tak kunjung selesai-selesai membuat Ardian dibuat penasaran.
"Sebenarnya?" ulang Ardian.
Ia mengambil napas, memejamkan mata hingga akhirnya berucap dengan lantang. "Sebenarnya, saya mau memberi tahu kalau ada kiriman untuk Tuan dari kebun binatang!" Ah, kenapa malah kata itu yang ke luar.
Kening Ardian mengeryit. "Kiriman? Kebun Binatang?" Ia mengingat-ingat siapa tahu memesan sesuatu. Sampai selintas berpikir kalau Jalal sudah mengutak-atik handpondnya.
Dengan gugup Ghumaisha menyodorkan dua keresek besar kepada Ardian. Sejenak ia termenung, khawatir wanita di hadapannya ini salah orang.
"Untukku?" Ardian masih ragu, walaupun menerimanya dengan senang hati. Melihat isinya berisi buah-buahan dan makanan. "Sejak kapan kebun binatang mengirim buah-buahan? Apa No ..,"
Perkataanya keburu terpotong oleh Ghumaisha. "Sebaiknya saya pergi dulu, Tuan. Tolong sampaikan salam saya kepada Jalal. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
Tak mau menunggu jawaban, Ghumaisha segera pergi meninggalkan apartemen. Menahan sesak di dada. Ingin menjerit-jerit di jalan gara-gara tak bisa jujur. Memukul kepalanya sendiri merasa bodoh, tinggal mengatakan kalau ia istrinya apa susahnya. Faktanya itu sulit.
Pikirannya buntu saat berhadapan dengan sang Suami. Nyalinya menciut sampai otaknya jadi error, menjawabnya dengan perkataan tak logis. Ia tak punya muka lagi. Membenarkan ucapan Ardian. Sejak kapan kebun binatang mengirim buah-buahan? Astagfirullah.
"Ghumaisha?"
"Ya!"
Ghumaisha membalikkan badan. Seketika napasnya tertahan mengetahui siapa yang memanggil tadi. Waktu seakan berhenti. Tubuhnya membatu. Bibirnya kelu untuk bersuara. Perlahan angin membawa sosok itu mendekat.
Bersambung ...
Jangan lupa like dan kritikannya 😁
Komentarnya jangan lupa okhe 😉
__ADS_1