ISTRIKU 100KG

ISTRIKU 100KG
Enam


__ADS_3

Setelah berada di perjalanan hampir tiga jam dan berhenti di salah satu mesjid untuk menunaikan ibadah. Akhirnya mereka sampai di Pangandaran, tepatnya di salah satu hotel mewah di sini. Usai memarkirkan kendaraan, Ardian keluar dari mobil diikuti Ghumaisha yang mengekor dari belakang.


Mereka masuk ke dalam hotel, orang-orang yang melihat kedatangan Ardian bersama Ghumaisha langsung membatu di tempat. Ada juga yang sampai menyentuh dadanya. Sakit, dalam hati merasa iri kepada wanita sesederhana Ghumaisha bisa mendapatkan pria bak model majalah internasional.


Ghumaisha yang sadar orang sedang memperhatikannya, hanya bisa menundukkan kepala malu. Merasa tatapan mereka tengah mengejeknya kalau ia memang tak pantas bersanding dengan Ardian. Bila benar, kenapa harus secara terbuka. Itu sama saja menghinanya di didepan umum.


"Kau tunggu disini. Aku akan ke resepsionis dulu," perintah Ardian, di beri anggukan Ghumaisha.


Ardian berjalan mendekati meja resepsionis. Menyadari kedatanganya, wanita bernama Clara tersenyum malu-malu. Ini bukan satu kalinya Ardian datang, biasanya tiap liburan keluarga besar Ardian akan ke Pangandaran untuk berlibur. Sempat ia menjadi teman jalan Ardian, sungguh pengalaman luar biasa.


"Hai, apa kabar?" Ardian bersedekap di atas meja, menatap Clara dengan senyuman manis.


"B-baik. Bagaimana kabar keluargamu?" tanyanya gugup, ingin mengakrabkan diri. Siapa tahu, dia akan menjadi teman jalan Ardian lagi.


"Baik, sekali. Seperti biasa aku ingin memesan kamar,"


"Satu atau dua?" Clara mulai fokus pada komputer, walau sesekali mencuri-curi pandang.


"Menurutmu?"


Clara tampak berpikir." Sepertinya dua. Kau datang bersama wanita itu, kan?" ucapnya melirik kesal wanita bertumbuh gempal di belakang Ardian.


"Kau cemburu?"


"Aku lebih cantik." Bisiknya di balas tawa Ardian.


"Jadi mana kuncinya?"


"Okhe, tunggu sebentar." Clara tersenyum lebar, sempat jengkel juga tahu dia bersama wanita lain. Meskipun yakin, ia lebih unggul dari wanita yang sedang berdiri di sana.


"Ini kuncinya dan selamat bersenang-senang, Sa-yang. Kalau butuh teman, kau bisa meneleponku. Waktuku selalu luang." Clara mengedipkan mata di balas gelak tawa Ardian.


"Tentu saja." Ardian mengambil kunci dari tangan Clara, berbalik, memberikan kode lewat mata kepada Ghumaisha agar mengikutinya dari belakang.


Ghumaisha hanya bisa mengusap dada sabar melihat tingkah Ardian tadi. Rasanya ia ingin mengamuk, mencakar-cakar wajah suaminya hingga rusak. Bila tak ingat itu termasuk dosa besar.


***


Sesampainya di kamar, Ardian langsung membuka kemeja lalu melemparnya asal ke atas ranjang. Tangannya membuka lemari, di sana sudah tersedia baju-bajunya. Sudah jelas, ini kamar khusus Ardian. Perlengkapan Ardian sangat kumplit di kamar yang terbilang cukup luas dan mewah.


"Gajah Eropa! Untuk pakaian, kau beli saja sendiri nanti. Aku akan memberi uang untuk memenuhi kebutuhanmu selama di sini," kata Ardian, mengambil dompet di saku celana kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, dan menyodorkannya ke pada Ghumaisha. "Ambillah,"


"Aku tak tahu daerah sini." Jari-jari Ghu saling menaut, tak berani menatap Ardian.


Alis Ardian naik sebelah. "Jadi maksudmu, aku harus menemanimu belanja?" Ghumaisha mengangguk-angguk.


Ardian mendengus, memijit-mijit keningnya pening. Memikirkan resiko yang terjadi bila mengantar Ghumaisha membeli baju. Mengantar takut ketahuan, tidak di antar khawatir nyasar! Sepertinya itu akan lebih merepotkan. Sang Oma bisa-bisa langsung membunuhnya gara-gara tak membawa Ghu dengan selamat.

__ADS_1


"Baiklah ... hanya sekali ini saja. Lain kali, jangan harap aku akan mengantarmu," jawabnya pasrah. Ghumaisha tersenyum, untuk pertama kali Ardian mau mengalahkan egonya.


***


Senyum Ghumaisha merekah, matanya berbinar-binar tak kala menatap baju gamis yang di pasangkan pada patung mannequen. Cantik, seandainya saja ia bertubuh langsing pasti sudah membeli baju gamis cantik itu. Apa daya kenyataanya pahit, hanya bisa di bayangkan tanpa bisa memakai.


"Bisa kita lanjutkan lagi. Kita sudah jadi pusat perhatian," tegur Ardian berbisik.


Dia memakai jaket dan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung. Mencoba menyamarkan diri supaya tak ada yang kenal. Walau begitu, bagi Ghumaisha Ardian percuma saja menyamar. Dia selalu terlihat tampan mengunakan apapun. Mungkin memakai baju karung pun dia akan masih mempesona. Bukan memuji, itu kenyataan, bukankah berbohong itu dosa.


"Bagaimana kalau tak ada yang muat?"


"Aku akan membunuhmu!."


Ghu terbelalak-kaget." KENAPA BEGITU!" teriaknya.


Spontan Ardian membekap mulut Ghumaisha. Karena sebagian pengunjung sudah memusatkan perhatiannya pada mereka.


"Bisakah kau tak membuatku malu!"


Ghu memangut-mangut, Ardian mendengus. “Ya sudah, aku tahu tempat yang cocok. Semoga saja disana ada ukuranmu," ucapnya melepas bekapan.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, seperti biasa Ardian berjalan di depan dan Ghu akan mengekor dari belakang. Beberapa wanita mencuri-curi pandang ke arah Ardian. Sebenarnya ia ingin membalas sapaan mereka, mengingat sedang menyamar membuatnya harus benar-benar menahan diri.


"Masuklah lebih dulu," perintah Ardian.


"Tunggu di sini, aku akan bertemu pemilik butik untuk mencari baju dengan ukuran pas untukmu." Ardian hendak pergi sebelum ucapan Ghu menghentikan langkahnya.


"Ardian, terimakasih." Cicitnya kecil. Ardian tersenyum mengangkat sebelah tangan ke atas, setelahnya dia pergi begitu saja.


***


Ghumaisha memandang kagum butik yang ia dengar sangat terkenal di Pangandaran. Baju-baju pantai, gaun, gamis, semuanya lengkap. Jangan tanyakan harga, itu cukup menguras uang jajan selama seminggu.


Menunggu beberapa menit, akhirnya Ardian kembali, dia membawa seorang Desainer. Jeny tampak cukup terkejut melihat Ghumaisha dan ia tahu alasan di balik keterkejutannya. Mungkin karena tubuhnya yang kelewat gendut.


Tangannya terulur. "Namaku Jeny. Desainer sekaligus pemilik butik yang tengah kau injak ini," ucapnya memperkenalkan diri. Dengan gugup Ghumaisha membalas sapaan ramah Jeny.


"Ghumaisha." Hampir saja ia keceplosan menambah sebutan istri Ardian, sebelum ia ingat Ardian melarangnya untuk mengatakan statusnya pada siapapun.


Jeny tersenyum, melepaskan tautan tangannya. Seperti desainer pada umumnya, matanya menyelidik pakaian Ghu dari atas sampai ujung kaki. Kepalanya menggeleng-geleng menilai kalau Ghumaisha memang tidak pandai berdandan. Tanpa make-up, baju ke longgarkan dan kerudung yang tak sesuai dengan warna baju gamis yang dia pakai.


"Kau wanita cantik, hanya perlu sedikit di dandani dan bagusnya lagi kalau kau mau menguruskan badan. Aku yakin, kau akan terlihat sempurna, Ardian pun akan cinta setengah mati padamu," ucapnya melirik Ardian masih fokus dengan handpond.


Ghumaisha tersenyum. "Menjadi cantik itu mudah, Mbak Jeny. Lagian pula, aku hanya butuh baju saja. Tak perlu makeup, aku tak terbiasa dengan itu he he"


"Dia memang kampungan! Jadi kau harus maklum." celetuk Ardian sambil memasukan handpond pada saku celana.

__ADS_1


Ghumaisha terdiam enggan menimpali ledekan Ardian. Jeny menghela napas, baginya tak ada wanita jelek di dunia, Allah menciptakan manusia sesempurna mungkin. Hanya saja mereka belum menemukan style yang cocok untuk dirinya sendiri.


Tidak mau berbasa-basi lagi, Jeny membawa Ghumaisha ke sebuah tempat, dimana terdapat banyak baju-baju disana.


"Tolong layani Nona Ghumaisha dengan sebaik mungkin," perintah Jeny di balas anggukan patuh semua pelayan.


"Kau akan di layani pelayan. Jika ada sesuatu kau bisa memanggilku di depan, Okhe."


"Terimakasih, Nona Jeny." Ghumaisha tersenyum riang, wanita yang ramah seperti Tasya.


Jeny tersenyum, sekilas ia melirik Ardian. Pria itu sedang duduk di kursi, kembali fokus pada layar handpond. Pria aneh! Batin Jeny. Mengingat perkataan Ardian saat di ruangannya tadi, semoga saja dia tak bersikap kelewat batas.


"Coba Nona pakai ini," pelayan menunjukkan pakaian bewarna biru dengan lengan terbuka. Ghu tersentak langsung menggelengkan kepala.


"Maaf, aku tak biasa memakai pakaian terbuka seperti ini." tolaknya halus.


"Kalau begitu yang ini," kini baju yang di sodorkan dengan punggung yang terbuka. Lagi-lagi Ghu menolaknya mentah-mentah.


Sedangkan Ardian hanya duduk di kursi, menikmati ekspresi yang di berikan Ghumaisha. Antara kesal, marah dan ingin membentak namun dia tahan-tahan. Sebenarnya banyak baju yang cocok untuk Ghumaisha, tetapi ia malah bilang untuk memberikan baju terbuka untuk Ghu. Niatnya, tentu saja untuk mengerjai.


"Sudahlah! Coba saja pakai satu. Kau juga tak akan kemana-mana kan? Kau pikir mudah mencari baju seukuran dirimu. Susah sekali, Gajah Eropa." Ucapan Ardian sukses menohok relung hati Ghumaisha.


Pelayan mengangguk, membenarkan ucapan Ardian. Kemudian memandang Ghumaisha sinis. "Benar Nona, harusnya Nona merasa beruntung bisa mendapatkan Tuan Ardian. Tuan bahkan sudah repot-repot mencari baju untuk Nona, tapi Nona sendiri sama sekali tak menghargai!"


"A-aku tak bisa!"


"Apakah aku harus memaksanya tuan?” Pelayan memandang Ardian dengan senyuman manis.


"Silakan," Ardian menyeringai.


"Ayo Nona, cobalah pakai satu!" salah satu pelayan menarik-narik tangannya paksa untuk masuk keruangan ganti.


Ghumaisha menggeleng. " Sudah kubilang, kan! Aku tak mau memakai pakaian itu!"


Tak mau menyerah pelayan terus menyeret-nyeret nya. Ardian tersenyum miring melihat Ghu sudah masuk ke dalam.


Ghumaisha menangis, ia tak mau memakai pakaian seksi ini. Kenapa mereka terus memaksanya! lebih baik pakai baju basah dari pada memakai pakaian yang di sodorkan mereka. Pelayan melotot memberikan ancaman kalau Ghu tak ingin memakai maka mereka bertiga akan melakukan jalan paksa.


Sedangkan di luar, pria berpakaian resmi melayang tatapan geram pada Adrian yang tengah duduk santai di kursi. Wanita di sebelahnya menutup mulutnya, terkejut akan kejadian yang barusan saja terjadi.


"Apa-apaan ini!" bentak pria itu geram.


Ardian berdiri, menatap pria itu tengah memandangnya dengan tajam. Auranya mencekam, seakan-akan siap meninju siapa saja.


"Bagaimana bisa mereka ada disini?" Ardian mematung, tak percaya kedua manusia itu ada di sini juga.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2